Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 38 Pemakaman Abraham


__ADS_3

Daffin melirik tajam saat melihat Ray dan keluarganya hadir di rumah duka, tepatnya di kediaman Abraham.


Ia tak suka, pria yang sempat menjadi calon mertuanya itu datang. Terlebih saat ia mulai mendapat informasi bahwa daddynya sempat melayangkan tembakan ke arah mobil Caraka setalah ia menonton berita di Tv.


Jenazah Abraham langsung bisa dibawa pulang untuk dimakamkan karena pihak kepolisian sudah memastikan bahwa meninggalnya pria itu, murni karena kecelakaan dan tidak ada indikasi rencana pembunuhan.


Bahkan tuduhan itu mengarah pada Abraham. Tapi, Caraka dan Ray tetap meminta pihak kepolisian untuk mendalami kasus ini agar jika Daffin terlibat, pria itu tak akan bisa mengelak lagi dan diharap tidak akan mengganggu kehidupan Caraka lagi.


"Pergi dari sini!" bisik Daffin saat Ray menyampaikan ucapan duka padanya.


Ray tetap tersenyum karena media yang meliput, lumayan banyak. Kecelakaan tragis yang menimpa seorang pengusaha yang putranya baru saja gagal bertunangan pasti menjadi berita panas bagi awak media.


Terlebih ada dugaan penyerangan yang dilakukan almarhum menjadi berita yang mereka cari-cari kebenarannya.


"Keep calm Daf!" Balas Ray berbisik sambil memeluk Daffin. "Media ngezoom wajah kamu, bisa semakin kacau semuanya!" Ray tersenyum kecil menepuk bahu Daffin dua kali.


Ia lantas duduk bergabung dengan pelayat lain. Managemen rumah sakit juga tampak beberapa orang yang hadir. Mungkin mereka bergantian datang, karena tidak mungkin membiarkan kantor di rumah sakit kosong.


Daffin terduduk di depan peti jenazah daddynya. Ia sudah tidak ingin melihat lagi wajah orang tua satu-satunya yang ia punya.


Mommynya sudah meninggalkan mereka sejak ia masih kecil dan sekarang entah dimana rimbanya. Sejak saat itu, Daffin menganggap wanita yang melahirkannya itu sudah mati.


Dad! Aku memang sering kesal pada Daddy! Aku memang suka menentang Daddy! Aku memang belum bisa menuruti semua perintah Daddy! Aku belum bisa jadi apa yang Daddy mau.


Tapi, percayalah Dad! Aku kosong tanpa Daddy. Aku sendiri Dad. Siapa yang akan melindungiku?


Daddy, kenapa Daddy terlalu gegabah untuk membunuh pria itu? Tidakkan Daddy memikirkan resiko ini?


Lalu, bagaimana aku akan menghadapi pihak kepolisian terkait kasus peledak itu?


Lalu, siapa yang akan membelaku, Dad?


Daffin menyandarkan kepalanya di peti dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Ia terisak. Dan untuk pertama kalinya ia terlihat begitu lemah.


Ia tak peduli menjadi tontonan bagi jutaan rakyat negara ini jika dirinya tersorot kamera media.


"Selamat jalan, Dad!" isaknya saat peti akan segera dibawa ke pemakaman setelah selesai di sholatkan.


Di pemakaman.


Daffin masuk ke dalam liang lahat dan ikut meletakkan jenazah Daddynya. Ia tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Ia terduduk lemas saat sedikit demi sedikit tanah menutup liang lahat itu.


Semua pelayat sudah pulang. Dan tinggallah Daffin sendirian di sana.


Ia menatap nisan itu. "Dad!" Ia tersenyum. "Sekarang hanya papan bertuliskan namamu yang bisa ku lihat, Dad! Bukan lagi wajah Daddy yang selalu meremehkanku. Bukan lagi, makian Daddy karena aku berbuat sesukaku."


"Apa yang harus ku tukar agar Daddy kembali, Dad?"


"Tanya pada Tuhan, Dad!"


"Harta? Atau apa Dad!" Daffin tergeletak dan memeluk gundukan tanah itu.

__ADS_1


***


Sementara itu, di rumah Caraka.


Caraka duduk di kursi taman dan memandang lurus ke depan. Ia hanya bisa melihat berita di Tv tanpa bisa hadir di rumah duka dan di pemakaman.


Ray dan Rion melarangnya untuk mencegah terjadinya keributan. Baik antara dirinya dan Daffin atau antara peliput berita.


Ray dan Rion tak ingin suasana duka kacau hanya karena ia yang dikejar media untuk mendapatkan informasi terkait keceakaan itu.


Caraka menghela nafas. Tak menyangka, buntut dari kenekatannya untuk menggagalkan pertunangan Chiara malah berakhir seperti ini. Seseorang bahkan sampai meregang nyawa dan dirinya sendiri yang juga berkali-kali nyaris tewas.


"Gak ada yang harus diratapi!"


Caraka menatap seorang gadis yang sedang berdiri di sampingnya. Gadis berpakaian serba hitam khas orang yang melayat itu duduk disampingnya.


Caraka tersenyum kecil. "Sama siapa Chi?" tanyanya pada Chiara yang baru saja datang bersama keluarganya.


Mereka ingin melihat kondisi Caraka setelah malam tadi ia tak lagi melihat Caraka yang sedang diperiksa pihak kepolisian.


"Papi, Mami." Jawab gadis itu singkat.


"Mungkin ini udah jadi takdirnya om Abraham!" lanjut Chiara.


"Bukan salah abang atau siapapun."


"Dia dendam sama aku, Chi!" potong Caraka.


"Dia berbuat salah, dengan merencanakan hal jahat dan saat rencananya terbongkar, dia malah dendam ke orang yang udah membuka kebenarannya?"


Chiara tertawa sinis. "Lucu banget, kan?"


Chiara menepuk bahu Caraka dan pria itu melihat tangan putih nan mulus itu.


"Sekarang, tinggal sedikit lagi, Bang!" Chiara memberikan semangat.


"Kalau Daffin terlibat dalam setiap kejahatan Abraham, maka semua masalah selesai." Chiara bersandar dan menatap lurus ke depan.


"Seenggaknya dia akan dipenjara."


"Dia masih bisa meminta antek-anteknya untuk tetap melanjutkan balas dendam." Hal yang paling ditakutkan Caraka.


"Hahaha... jadi abang berharap Daffin game over juga, kayak daddynya?" Chiara tertawa pelan.


"Ya gak gitu, sih Chi!" elak Caraka.


"Berdoa aja, Daffin tobat!" balas Chiara.


"Berdoa dia gila atau amnesia!"


"Ck!" Decak Caraka. "Awalnya doain yang bagus, supaya Daffin tobat."

__ADS_1


"Ujung-ujungnya doain yang buruk!" Caraka tertawa kecil.


Chiara tertawa. "Jadi harus gimana doainnya?"


Caraka diam dan ia menatap Chiara. Pandangan keduanya saling bertemu. Ini untuk pertama kalinya mereka sedekat ini setelah rencana pertunangan Chiara kala itu.


"Pandangin teruuuusssssss!" Suara kurang ajar dari arah atas membuat keduanya menoleh. Dari jendela besar itu, Syakilla tampak sedang terbahak.


"Biarin aja!" Caraka memegang kepala Chiara dan meminta gadis itu tak lagi melihat keratas.


"Jangan dilihat!" perintah Caraka. "Anggap aja suara kucing minta makan."


"Dia baru pulang dari kampus?" tanya Chiara. "Soalnya aku gak lihat dia, tadi."


Caraka mengangguk. "Iya."


"Yang lain udah pada kesini, Bang?" tanya Chiara.


Caraka menatapnya sekilas.


"Maksudnya?"


"Ya... kayak Bang Nath, Nair, Ethan dan yang lain?"


Caraka menggeleng. Biasanya saudara-saudaranya pasti datang saat salah satu dari mereka mendapat musibah.


"Cuma om Akhtra sama tante Lintang, tadi pagi," jawab Caraka. "Itu pun cuma sebentar karena mereka harus kemana gitu.. Aku gak terlalu dengerin tadi."


Chiara mengangguk.


"Udah dapat kabar dari Sabella?" tanya Chiara pada Caraka.


Pria itu tertawa hambar dan menggeleng. "Gak harus dapat kabar darinya."


Chiara tersenyum kecil. "Papi bisa bantu kalau abang mau!"


Caraka menggeleng. "Biar dia hidup dalam lembaran baru. Tanpa aku dan Daffin. Karena kalau aku hadir, dia akan kembali mengingat Daffin."


Chiara mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. "Lihat!" pinta Chiara.


Caraka melihat layar ponselnya. Sebuah padang rumput yang terbentang luas dan taman bunga yang tampak cantik membuat Caraka tersenyum kecil.


"Lihat rumah ini?" Chiara menunjuk rumah yang tampak kecil karena terlalu jauh dari kamera sang fotografer.


"Itu rumah yang Sabella tinggali!"


Caraka menatap Chiara tak percaya. Gadis itu terkekeh. "Gak percaya banget mukanya!"


"Ini tuh kiriman dari orang suruhan Papi yang berhasil bawa Sabella kesana."


Caraka mengangguk pelan. Ia tahu, Ray pasti melakukan segala sesuatunya tidak tanggung-tanggung. Pria itu bahkan memberikan jaminan hidup yang lebih baik pada Sabella.

__ADS_1


__ADS_2