
Makan malam dengan keluarga besar membuat Caraka di hujani dengan rasa simpati dan nasehat.
Hampir semua keluarga turut hadir hanya untuk melihat langsung kondisinya yang kemarin malam selamat dari maut. Sementara Raihan sudah di rawat oleh orang-orang Ray di mess khusus karyawannya.
Akhtar orang yang paling gencar menyemangatinya. Sosok Om yang kadang membalut nasehat dalam guyonan.
"Semua ini pasti akan selesai dengan baik, Caraka!"
"Berhentilah khawatir berlebihan!"
"Kami semua tahu kamu masih memikirkan bagaimana keajaiban itu terjadi pada kamu."
"Lolos dari ledakan mobil. Lolos dari kejaran musuh dan sekarang, kamu lolos dari kecelakaan."
"Syukuri semua yang kamu dapat. Anggap ini adalah kesempatan untuk kamu menyelesaikan semua masalah ini!"
"Tetaplah berdiri tegak ditengah peperangan yang kamu mulai sendiri."
"Yang mendukung kamu banyak!" Akhtar menunjuk semua orang di meja makan yang besar itu.
"Ada Ray, Rion, Orang tua kamu, Om, dan banyak lagi."
"Keep your head up!" Akhtar menepuk bahu Caraka dua kali.
Caraka tahu akan hal itu. Tapi tetap saja dirinya tampak seperti kehilangan semangat hidup. Entah karena mentalnya yang terlalu lemah atau memang dirinya yang tak siap dengan keadaan seperti ini.
Sejak dulu ia tidak pernah mengalami hal luar biasa ini. Dulu, masalahnya hanya tentang pekerjaan dan beberapa kali tentang perdebatannya dengan keluarga karena Sabella.
Masalah percintaannya dan Chiara yang sejak dulu masih belum ada kata jadian membuatnya tak ambil pusing. Ia hanya perlu menunggu sampai gadis itu selesai dengan pendidikannya.
Namun sekarang? Huuuh! Entahlah.
Caraka masih ingin menyendiri. Ia juga terus mengikuti perkembangan berita mengenai kematian Abraham melalui media sosial.
"Kadang kala, cinta memang membuat kita berkorban diluar batas kemampuan, Cak!" Nath, sepupu yang tergabung dalam tiga setan serangkai duduk di sampingnya.
Caraka menatap saudara sepupunya itu. "Jangan sok jadi pujangga!" Sindir Caraka karena belum apa-apa, Nath sudah mengeluarkan kata-kata indah sebagai nasehat untuknya.
Nath tertawa. "Bener loh kataku!"
"Gak nyangka kan bisa segil* ini dan berkorban sejauh ini cuma karena cinta kamu sama Chiara?"
Nath menatap lurus ke depan dan ia bersandar di kursi besi itu. Tangannya bertautan dipangkuannya. Ia teringat dengan apa yang pernah ia lakukan hingga akhirnya bisa bersama Tiara, istrinya.
"Aku dulu, pergi ke Jojga tanpa pamit, tanpa perbekalan demi apa?"
"Demi mengejar Tiara!"
"Padahal aku gak pernah sebelumnya ke luar kota sendirian, loh!"
"Ck!" Caraka berdecak malas. Ia melirik Nath sekilas. "Bukan karena cinta, tapi karena Tiara hamil anak kamu!"
__ADS_1
Nath tertawa hambar. "Tapi akhirnya jadi satu pengorbanan luar biasa bagiku!"
"Didiamkan papa sama mama, dan dihajar bang Zra." Nath menghela nafas mengingat penyesalan terindahnya.
"Sungguh! Dalam mimpi pun aku gak ingin, Cak!"
"Salah kamu juga, Nath!" tuding Caraka.
Nath mengangguk. "Memang salah aku."
"Dan aku memilih untuk maju, menanggung resiko dan berjuang untuk memperbaiki semuanya."
"Dan lihat!" Nath membuka telapak tangannya kedepan. "Aku bahagia sama Tiara, sampai sekarang!"
"Tuhan itu punya cara untuk membalas semua niat baik hambanya, Cak!"
Keduanya saling diam.
"Kamu cinta sama Chiara makannya kamu sepeduli ini sampai menanggung resiko sebesar ini demi menyelamatkan masa depan Chiara." Caraka menatapnya.
"Kalau aku jadi Chiara, ah... udah besar kepala aku, Cak!" Nath tertawa kecil.
"Meleleh hati adeeek, Bang!" ucapnya dengan gaya feminim.
Caraka meletakkan telapak tangannya ke wajah Nath. "Gak usah centil! Chia gak begitu!"
Nath tertawa lepas.
"Stop murung-murungnya!" Nath menepuk bahu Caraka.
"Siapa yang mau disidang?" tanya Caraka. Pelakunya saja belum tertangkap, bagaimana bisa sidang akan dimulai.
"Dalam waktu dekat, Daffin akan tertangkap. Jadi siap-siap saja!"
"Semua akan dibongkar mulai dari video milikmu itu!"
"Sok tau!" lirik Caraka tajam.
"Hahaha... feelingku sih bilang begitu!" jawab Nath sambil tertawa.
"Nj****rrr!" Mak* Caraka kesal. Ia bahkan mendorong bahu Caraka pelan. "Cuma feeling!"
Nair terkekeh saat saudara kembarnya didorong pelan oleh Caraka.
"Ck! Abang apaan! Adik tersiksa begini malah diketawain!" ucap Nath pada Nair.
"Nasehatnya jangan diambil pusing, Cak!"
"Allah masih kasih kamu kesempatan untuk hidup, itu artinya dia punya rencana besar untuk kamu!" Nair duduk di samping Caraka.
"Anggap aja pria bernama Abraham itu meninggal karena memang sudah ajalnya."
__ADS_1
"Perjalanannya sudah selesai di dunia ini!"
"Sang pemilik skenario terbaik sudah mengaturnya, Cak!"
Caraka menatap Nair yang tersenyum padanya.
"Allah pasti akan kasih kemudahan disetiap kesulitan kamu!"
"Allah pasti akan berikan hasil yang baik selama niat kamu baik."
"Cak!" Suara Rion yang tiba-tiba datang ke halaman belakang membuat mereka menoleh.
"Ada apa, Yon?" tanyanya.
"Daffin diciduk polisi di rumahnya."
"Alhamdulillah!" Seru Nath dan Nair bersamaan.
Caraka segera berdiri dan menatap ketiga orang sepupunya itu. Senyum merekah tampak diwajah mereka bertiga.
"Bersiap! Perang one on one akan segera di mulai!" Rion membuat Caraka menghela nafas panjang.
Maksudnya adalah, kali ini Caraka dan Daffin akan benar-benar satu lawan satu di persidangan.
Mereka akan sama-sama mengeluarkan fakta dan bukti untuk saling menjatuhkan dan membela diri. Dan yang paling penting, Rion dan Ray sudah menyusun rapi semua peluru yang akan mereka tembakkan kearah lawan saat di sidang pengadilan nanti.
"Jangan khawatir! Pengacara papa akan urus semuanya!" Rion berdiri di depan Caraka.
"Kamu bisa banyak ngobrol sama dia, Cak! Nanti coba kamu atur jadwal aja sendiri."
"Percayalah! Kita akan menang!"
Rion memeluk Caraka. "Ini udah terlalu panjang dan melebar entah kemana-mana, Cak!"
"Dan sekarang saatnya untuk kamu akhiri, apa yang udah kamu mulai!"
"Berjuanglah, Caraka!" Rion menepuk bahu Caraka.
Rion berkata seolah Caraka akan berjuang ke medan perang. Padahal Caraka hanya akan menjalani proses hingga ke persidangan.
Rion padahal juga akan menjadi salah satu orang yang diperiksa dan dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi terkait meledaknya mobil Caraka di depan cafenya.
"Terima kasih, Yon! Berkat kamu, Om Ray dan Raihan aku masih bisa bernafas hingga kini!" Huuuh! Satu hal yang paling Caraka syukuri.
"Kalian selalu ada di belakangku dan melindungiku."
"Entah balasan apa yang harus ku berikan terhadap keluarga kalian."
Rion tersenyum. Ia memandang Caraka tanpa mengatakan apapun. Ia hanya menggeleng pelan dan menepuk bahu Caraka beberapa kali sebagai jawaban.
Dengan terus mencintai adikku sedalam ini, Cak! Kelak, aku harap kalian akan bersama. Dan perjuanganmu menantinya gak sia-sia.
__ADS_1
Sabella udah gak ada lagi disisimu. Dan semoga dengan begini, kamu bisa menjadikan adikku satu-satunya wanita spesial dalam hidupmu.
Setelah ini, benar-benarlah berjuang meraih hati Chiara. Batin Rion.