Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 46 Jangan Sakiti!


__ADS_3

"Chiara kasih kesempatan untuk hubungan kami," ucap Caraka pada keluarganya pagi ini.


Mereka yang tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama mendadak diam mematung. Waktu terasa berhenti berputar karena ucapan Caraka yang cukup mengejutkan.


Abi sampai menatap Caraka penuh selidik. Putranya itu malah dengan santai mengambil dua lembar roti dan mengolesnya dengan selai.


Sora juga melakukan hal yang sama, menatap putranya itu penuh selidik. Was-was kalau Caraka tengah mengigau atau sedang bercanda. Sementara Syakilla memicingkan mata menatap curiga.


"Pasti abang mimpi indah ya tadi malam?" tanya Syakilla. "Sampai kebawa di meja makan." ucap Syakilla sambil tertawa mengejek.


Rasanya tidak mungkin Chiara menerima Caraka begitu mudah sementara kemarin malam keduanya sangat terlihat canggung.


Caraka menatap adiknya. Tangannya yang sedang mengoles selai berhenti bergerak. "Aku serius, Sya!" Caraka menatap adiknya.


"Terserah kamu, mau percaya apa gak!" Caraka mengangkat bahunya. Ia tak peduli jika adiknya itu tak percaya. Baginya yang terpenting ia sudah mengatakan yang sebenarnya supaya gadis itu tak lagi berusaha untuk membuat dirinya dekat dengan Chiara.


"Chiara sih bukan nerima aku dan bersedia nikah sama aku dalam waktu dekat." Caraka menatap wajah kedua orang tuanya yang masih menunggu penjelasan.


"Chiara cuma kasih kesempatan buat hubungan kami." Ia menghela nafas.


"Dia mau belajar mencintaiku dan terbiasa dekat denganku." Caraka senyum-senyum sendiri sampai membuat Syakilla bergidik ngerih.


"Dan aku juga mau lebih meyakinkan dirinya kalau aku pantas mendapatkan cintanya."


Caraka kembali mengoles selai dan langsung memakan roti ditangannya itu.


Abi menghela nafas. "Kalau papa sih, terserah kamu, Cak! Kamu yang menjalani dan kelak kamu juga yang akan menanggung segala resikonya, mau itu suka ataupun duka."


"Kamu sudah dewasa, dan kamu berhak mengambil keputusan apapun itu, yang menurut kamu baik." ucap Abi. Selama gadis itu tak membawa pengaruh buruk pada putranya, ia tak mau terlalu ikut campur.


"Kenapa papa bilang begitu? Papa gak suka kalau aku memiliki hubungan dengan Chiara?" tanya Caraka.


"Bukan papa gak suka. Tapi gadis itu Chiara loh, Cak!" ucap Abi lagi.


"Anak dari besannya om Akhtar."


"Dia masih keluarga kita. Dia anak kebanggaan om Ray."


"Dia pewaris dan dia orang hebat." Abi menyebut satu persatu mengenai siapa Chiara, gadis yang dicintai putranya.


"Diluar sana, banyak pria saling berebut untuk bisa bersama Chiara."


"Dari keluarga kaya dan terpandang." lanjut Abimanyu.


"Keluarga kita juga bukan keluarga sembarangan, Pa."


"Bisa dikatakan kalau keluarga kita cukup disegani dan dipandang oleh masyarakat."


Semua itu karena status Abimanyu yang merupakan pensiunan angkatan darat sementara Sora adalah pemilik sekolah TK yang cukup terkenal.


Abi mengangguk pelan. "Papa cuma mau memastikan satu hal sama kamu," ucap Abi penuh tegas.

__ADS_1


"Jangan sakiti dia!"


"Sekali kamu sakiti, sekali terjadi pertengkaran hebat, maka hubungan keluarga kita gak akan harmonis lagi."


"Om Akhtar akan sulit mengambil sikap, mana yang harus ia utamakan. Keluarga kamu atau keluarga besannya!"


"Papa gak tau harus bersikap bagaimana pada om Ray."


"Kalau kamu bertekat untuk bersama dia. Minimal, jangan sakiti!"


"Jangan lirik wanita lain apa lagi memberi tempat istimewa seperti..."


"Hah! Kamu tahu lah!" Abi tak melanjutkan kalimatnya karena ia tahu, Caraka mengerti orang yang di maksud adalah Sabella.


"Iya, Pa. Aku janji. Aku gak akan buat Chiara kecewa dan tersakiti karena sikapku."


"Bertahun-tahun aku menunggu dia, gak akan mungkin aku menyianyiakan kesempatan ini," tegas Caraka bersungguh-sungguh.


"Jaga kehormatannya!" Ucap Sora kemudian.


Caraka mengangguk. "Pasti, Ma."


"Lindungi dia dari dosa, terurama dari syahw*atmu sendiri!"


Caraka mengangguk lagi.


"Kalau kamu sampai menyakiti dan merusak gadis itu, sama saja kamu menyakiti hati mama. Dan kamu punya adik perempuan, Cak! Anggaplah kebaikanmu pada gadis yang kamu cintai, suatu saat akan berbalik pada adikmu sendiri."


"Gak kebayang, ya kali besan mama sama besan om Akhtar adalah orang yang sama!" ucap Syakilla dengan nada malas.


"Lebih aneh lagi, om Ray. Besannya kakak-beradik," Syakilla menahan tawanya.


Ketiganya kompak menatap Syakilla yang tengah bertopang dagu. "Kak Bi, yang tadinya sepupu kita, malah jadi kakak ipar Bang Cak."


"Huh! Pusing ah!" Syakilla berdiri dari kursinya setelah meminum segelas susu diatas meja.


"Ma, Pa. Sya berangkat dulu!" Ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati, Sayang," ucap Sora pada putrinya.


"Selamat bang!" gadis itu menepuk bahu Caraka.


"Jangan sakiti bestieku..." Syakilla mengacungkan jari telunjuknya sebagai tanda peringatan bagi Caraka.


"Iya... iya... bawel!" kesal Caraka.


Syakilla keluar lebih dulu. "Kamu gak bareng abang, Sya?" tanya Caraka.


"Gak! Aku udah dijemput sama Shaka!" teriak Syakilla.


Caraka tersenyum miring. "Ntar lama-lama suka baru tahu rasa!"

__ADS_1


"Huss!" Sora mengibaskan tangannya. "Kamu bicara apa, Cak!"


"Shaka sama Syakilla itu bersahabat, Nak!"


"Sahabat juga bisa jadi cinta ma..."


"Sering ketemu, lama-lama cinta juga bisa tumbuh."


Sora dan Abi saling tatap. Dan tak berselang lama, Caraka pamit pada kedua orang tuanya.


"Ra, gak bisa ku bayangkan kalau kita juga besanan sama Kak Satya." ucap Abi pada istrinya.


Sora tersenyum kecil. "Kalau memang jodohnya anak-anak kita bisa apa, Mas?"


"Anak-anak juga bukan orang yang gagal dalam hidup."


"Caraka seorang dokter spesialis. Sedangkan Syakilla seorang dosen."


"Kalau mereka ditakdirkan bersama dengan orang yang sama hebatnya, ku anggap itu rejeki buat mereka."


"Shaka juga, kan kita udah kenal lama."


"Ya, tapi aku masih gak bisa membayangkan kalau Syakilla sama Shaka akhirnya..." Abi tertawa. Ia tak pernah membayangkan sedikitpun, putrinya itu bersanding dengan Shaka.


Keduanya bersahabat, hubungan mereka sama sekali tidak terlihat akan mengarah ke status pacaran. Tapi entahlah, Abi bukan peramal yang bisa melihat akan seperti apa hubungan mereka kedepannya.


"Kamu pilih mana, Mas? Seorang pria asing tiba-tiba ngelamar putri kamu atau Shaka yang datang meminta Syakilla dari kamu?"


Abi diam saja. Ia menggeleng lemah dan akhirnya tersenyum kecil. "Shaka lah!"


"Kalau dia menyakiti Syakilla setidaknya aku gak takut untuk menarik telinganya."


***


"Makan siang bareng, Dok?" ajak Dokter Danu pada Chiara yang baru saja keluar dari ruangannya.


Chiara menggeleng. "Tidak, terima kasih, Dok!" jawabnya sopan.


"Saya bawa bekal hari ini, dan saya akan makan nanti."


"Saya harus melihat pasien di ruangannya."


"Tapi ini jam makan siang, Dok. Apa tidak sebaiknya dokter makan siang dulu," ucap Dokter Danu.


Chiara menatap mata pria di depannya. Ia menggeleng lemah. "Selamat menikmati makan siang, Dok! Saya duluan!"


Chiara meninggalkan dokter Danu yang mematung di tempatnya. Chiara tidak suka pada pria yang sok kenal dan sok dekat dengannya.


Sementara sikap Chiara yang acuh membuat pria bernama Danu itu semakin penasaran.


"Yang mahal, memang susah di dapat!" gumam pria itu sambil tersenyum melihat punggung Chiara yang mulai menjauh.

__ADS_1


__ADS_2