Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 52 Gak Modal


__ADS_3

Mobil yang Caraka kemudikan tiba di rumah besar milik keluarga Dandyaksa. Ia yang baru saja turun, langsung disambut ceria oleh dua keponakan yang selalu memanggilnya uncle dokter.


Meski Queen sedang fokus dengan i-pad nya dan Prince sedang asyik bermain mobil-mobilan, tapi deru suara mobil Caraka membuat mereka meninggalkan aktivitas itu sejenak.


Hal kecil yang selalu Bintang ajarkan untuk tetap bersosialisasi meski sedang asyik bermain sekalipun.


"Hai juga Ratunya ayah Rion!" Caraka membalas Queen terlebih dahulu. Ya, supaya si kakak tidak merasa tersaingi oleh Prince, jika bocah laki-laki itu lebih dulu disapa.


"Makin besar, makin cantik. Bunda Bi sekali kamu, sayang!"


Caraka mengerlingkan matanya membuat gadis kecil berusia 10 tahun itu tersipu malu sambil berkata, "Thank you uncle."


"Uncle juga semakin keren!" balasnya.


Ia senang jika dikatakan mirip dengan bundanya. Queen memang menjadikan bundanya sebagai role mode, karena wanita bersahaja iti selalu berbicara lembut meski sedang marah sekalipun. Tidak pernah memukulnya meski berbuat salah.


Bundanya itu hanya akan menghukumnya, seperti berdiri di sudut ruangan selama beberapa menit atau tidak mendapat fasilitas berupa i-pad selama beberapa hari.


Lalu Caraka beralih pada Prince yang sedang bermain mobil-mobilan. Bocah laki-laki itu sudah tersenyum padanya.


"Halo pangeran ganteng!" Caraka menyodorkan telapak tangannya dan...


"Toss dulu, dong!"


Prince memberikan telapak tangannya sambil tertawa.


"Langsung masuk saja! Sudah ditunggu Papi, Cak!" perintah Bintang yang baru saja datang dari arah dalam rumah.


Selama makan siang berlangsung, Caraka terus menebak-nebak tujuan dirinya diundang ke rumah ini.


Ia sesekali melirik Bintang, berharap sepupunya itu memberi satu isyarat. Tapi tidak sesuai harapannya. Sepupunya itu makan dengan tenang.


Rion, apa lagi. Dia sama sekali tidak menunjukkan gestur akan ada hal penting yang akan disampaikan orang tuanya.


Chiara? Huuh! Gadis itu juga sama saja. Dia makan dengan begitu tenang. Sesekali menawari dirinya untuk menambah lauk atau sayur.


Mengapa aku merasa seperti seekor sapi yang diberi makan banyak sebelum dipotong, ya? Batin Caraka khawatir. Karena setelah makan siang ini, ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.


Ia coba mengingat, apakah ia memang melakukan satu kesalahan?


Apakah ia membuat kecewa keluarga ini?


Mereka tidak bergeser dari meja makan saat makan siang telah selesai dan para asisten rumah tangga membereskan piring-piring di meja.


"Melihat dari ekspresi kamu, sepertinya ada hal yang kamu ingin tanyakan, Cak," ucap Ray memulai pembicaraan.


Rion dan Bintang seketika menatap Caraka. Keduanya bahkan tidak terlalu memperhatikan wajah Caraka dengan seksama. Mereka mengira wajah yang memang tampak sedikit gelisah itu akibat kelelahan saat menangani pasien pagi tadi.


Caraka menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia tertawa dalam hatinya. Apakah begitu kelihatan?


Seharusnya keluarga ini yang menjelaskan alasan mengapa ia diundang. Bukan malah berbalik bertanya padanya. Membuat dirinya semakin bingung saja.


Caraka mengangguk. Ia tak ingin berbasa-basi karena begitu penasaran.

__ADS_1


Caraka menautkan jemari tangannya dan meletakkannya diatas meja. Ia tersenyum menatap Ray.


"Jujur saja, saya memang bertanya -tanya tentang tujuan Om mengundang saya ke rumah ini!"


Ray tersenyum kecil.


"Dan, seorang pria yang menemui saya beberapa jam lalu membuat pertanyaan demi pertanyaan muncul."


Bintang, Rion, Ray, Sania dan Chiara mengerutkan kening mereka. Kelima orang dewasa tersebut menebak-nebak, siapa pria yang Caraka maksud.


"Delvin!" tegas Caraka. "Dia berhasil membuat saya bertanya-tanya. Dengan obrolan singkat yang menurut saya sangat dalam makna dan tujuannya. Tapi, saya tidak tahu apa."


Mereka semua saling tatap. Tak menyangka Delvin juga menemui Caraka.


Chiara menghela nafas. Apa yang pria itu katakan pada Bang Caraka?


"Apakah datangnya Delvin kepada saya, itu murni demi tujuan pribadinya atau memang atas perintah dari Om?"


"Apakah saya melakukan kesalahan, Om?""


Ray menggeleng. "Tidak. Justru itu Om mengundang kamu, Cak!"


"Tadi malam, Delvin datang dan mengatakan secara terang-terangan bahwa ia menyukai Chiara," ungkap Ray membuat Caraka menarik satu sudut bibirnya.


Sudah ku duga, Delvin menyukai Chiara hingga ia datang menemuiku. Tapi, mengapa ia malah memintaku untuk menjaga Chiara. Apa jangan-jangan...


"Dan Chiara menolaknya!" tegas Ray.


Caraka menatap Ray tanpa ekspresi. Apa itu artinya Chiara benar-benar sudah jatuh cinta padaku?


"Apa alasan kamu sehingga kamu menolak dia, Chi?" tanya Caraka lembut.


"Dia tampan, dewasa dan punya karier yang bagus," lanjut Caraka.


Ya, Delvin adalah seorang polisi bertubuh atletis dengan karier yang terbilang bagus.


"Lalu apa bedanya sama kamu, Cak? Kamu juga dewasa dan punya karier yang bagus," potong Rion.


"Jangan bilang kalau kamu merasa kecil jika bersaing dengan Delvin," sambung Rion.


Caraka menarik sudut bibirnya. "Tentu tidak."


"Aku percaya, apa yang sudah Allah takdirkan untukku tidak akan pernah tertukar dengan milik siapapun, Yon."


"Lalu, mengapa tanya begitu?"


"Ya... bukan apa-apa."


"Aku hanya sedang mempertanggung jawabkan keputusanku!" ucap Chiara membuat semua orang menatapnya.


"Aku sudah berkomitmen untuk memulai hubungan dengan kamu, Bang!"


"Jadi, aku tidak akan membiarkan orang ke tiga, ke empat atau keberapapun untuk masuk."

__ADS_1


Caraka tersenyum lebar. Rasa percaya dirinya semakin besar. Ia yakin, Chiara memang sudah memantapkan hati untuk bersamanya.


"Kalau begitu, secepatnya menikahlah denganku!" sahut Caraka.


"Brak!" Rion menggebrak meja dengan ekspresi menahan kesal sekaligus sakit karena meja makan yang terbuat dari kayu jadi kualitas terbaik.


"Astagfirullah!"


"Sayang!"


"Abang!"


"Rion!"


Mereka secara tak sadar berteriak kencang karena terkejut.


"Ditolak!" Teriak Rion keras mengabaikan yang lainnya.


"Rion!" tegur Ray karena Rion mengacaukan suasana yang sedang tegang tapi ada manis-manisnya ini.


Putrinya sedang di lamar dihadapannya. Tapi, putranya malah membuat kegaduhan.


"Jaga sikap kamu!"


"Gak bisa, Pi!"


"Kamu!" Rion menuding Caraka. Bintang langsung menurunkan tangan Rion yang terasa kaku hingga wanita itu mengalami kesulitan.


"Sebentar, Bi...."


"Kamu! Lamar yang bener!" Marahnya pada Caraka.


"Modal dikit!"


"Dinner kek! Healing kek!"


"Bukan malah di meja makan! Di rumah calon mertua pula!" Kesalnya.


"Gak modal!" gerutu Rion dan ia meninggalkan Caraka dengan perasaan tak menentu.


Jika dulu ia mempersiapkan lamaran untuk Bintang dengan perencanaan yang matang, kali ini ia tidak rela jika adiknya dilamar dengan cara seperti itu.


"Pi, Mi, Bi kejar Rion dulu!" Bintang segera menyusul Rion yang berjalan ke halaman belakang.


Caraka dan Chiara masih syok. Sementara Ray dan Sania sudah lebih tenang.


"Oke, sampai mana tadi, Cak?"


Caraka menatap Ray dengan perasaan gugup dan sedikit tidak enak hati. Entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Sebenarnya, jika Chiara menjawab ya, dia akan menyiapkan kejutan manis untuk gadis itu meski harus meminta bantuan Syakilla dan Shaka.


"Sampai mana tadi, Cak?" ulang Ray karena Caraka tampak melamun.

__ADS_1


Caraka terkesiap. "Chiara, menikahlah denganku!" Ia menatap ke manik mata Chiara yang duduk di depannya.


__ADS_2