
Caraka dan rombongannya tiba di kediaman Ray yang mulai dipenuhi beberapa tamu undangan.
Banyak iringan mobil yang memenuhi area parkir yang sudah disediakan. Ada rombongan Akhtar, Langit, Nath, Nair dan Keluarga Satya yang menjadi bagian dari iringan mobil itu.
Caraka merapikan jasnya sebelum turun dari dalam mobil. Ia juga menarik nafas panjang karena semakin mendekati waktunya, semakin ia deg-degan pula.
"Jangan tegang, Cak!" bisik Abimanyu yang berjalan di samping putranya. "Rileks... Semua akan berjalan lancar kalau kamu bisa tetap tenang."
"Tegangnya buat entar malam aja. Biar cepat cetak gol," bisik Akhtar sambil menepuk bahu Caraka.
"Mas! Supportnya yang bener dong! Dia mau akad, bukan mau tanding di piala dunia," protes Lintang pada suaminya yang tampak sangat gagah diusia yang sudah kepala enam itu.
"Jangan dengarkan Om kamu," Sora menggandeng tangan putranya. "Gugup itu hal biasa, tapi malu-maluin jangan!"
Caraka tertawa. "Mama yang terbaik," bisiknya.
"Terima kasih anak kesayangan mama."
Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Meski tak terlalu banyak, tapi cukup membuat ruang tamu di rumah ini penuh.
"Dia cantik!" bisik Akhtar sambil melirik kearah tangga saat Chiara turun dari lantai dua rumah itu.
Caraka mencuri pandang dan benar saja, jantungnya dengan memompa darah keseluruh tubuh. Dia semakin deg-degan karena sebentar lagi, ia akan sah menjadi suami dari bidadari cantik itu.
Chiara duduk di sampingnya. Semerbak parfum gadis itu membuatnya nyaris tak bisa bernafas. Ia sulit mengendalikan dirinya. Ia berdebar, bahkan tangannya pun gemetaran.
"Rileks!" tepukan lembut dibahunya dengan bisikan merdu itu membuatnya menghela nafas panjang.
"Berdoa semoga diberi kelancaran, Nak!" bisik Sora.
Caraka berdoa dalam hatinya, supaya akad nikah ini berlangsung tanpa hambatan.
Acara hampir dimulai, Ray sudah mengulurkan tangan agar keduanya saling berjabat.
"Pak, izin ke toilet sebentar," ucap Caraka pada pak penghulu, membuat semua orang tercengang. Bahkan ada yang menutup mulut menahan tawa.
"Cak! Bukan saatnya!" bisik Akhtar selaku saksi dalam pernikahan itu.
"Tapi, om. Kali ini harus," balasnya.
"Silahkan!" Penghulu mempersilahkan. "Dari pada kebocoran di sini, kan malah merepotkan!"
Beberapa orang melepaskan tawa. Caraka tak peduli. Ia langsung berjalan kearah kamar mandi.
Ia segera buang air kecil. Hal yang tiba-tiba ingin ia lakukan. Caraka memandang wajahnya di cermin.
"Huuh!" Ia membuang nafas. "Aku gugup sekali."
Caraka segera keluar dari kamar mandi. Dan ia bertemu dengan Nair yang mungkin sengaja menunggunya.
"Minum dulu, Cak. Kamu pasti gugup sekali."
"Terima kasih, Nair!" Caraka menerima gelas dari tangan pria itu. "Rasanya gak karuan."
"Ayo! Bismillah!" Nair menepuk bahu Caraka dan membawa pria itu ke meja akad.
Akad nikah dimulai. Percobaan pertama, gagal. Ia salah menyebut nama Chiara.
Percobaan ke dua gagal karena salah menyebut nama Ray.
Percobaan ke tiga. "Saya terima nikah dan kawin Chiara Arrayan Danadyaksa binti Arrayan Danadyaksa dengan emas kawin tersebut tunai...."
"Saaaaaah."
***
__ADS_1
"Akhirnya..." Pelukan erat datang dari Nath saat acara tersebut telah selesai dan para tamu satu persatu pulang.
"Dokter muda penuh pesona, si jomblo papan atas akhirnya menikah juga!"
"Gas! Sat-set-sat-set! Jadi lah baby botol infus!"
Caraka mendorong tubuh Nath sambil tertawa. "Bapaknya ganteng begini." Caraka menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk Chiara yang sedang dipeluk oleh Tiara. "Dan Emaknya cantik mempesona, gak mungkin anaknya botol infus, Nath!"
Nath tertawa. "Doaku sih cuma satu!"
"Apa?"
"Semoga samawa."
Caraka kembali memeluk Nath. "Nah, tumben bener!"
"Proyek untuk desain interior rumah baru kasih ke aku dong!" ucap Nath menaik turunkan alisnya. Dasar Nath! Selalu saja mencari keuntungan!
"Siala*n! Ada maunya!" umpat Caraka kepada sepupunya yang merupakan seorang arsitek itu.
"Emas kawin segitu banyak, lebih baik diinvestasikan ke Bramantyo grup, Chi!" ucap Shaka menggoda pengantin baru itu.
"Itu sih maunya kamu, Shak!" potong Caraka kesal.
"Hahaha... sebelum keduluan bang Rion!" lanjut Shaka.
"Nair, peluk aku dong!" Caraka malah minta peluk saat melihat Nair yang sama sekali belum mengucapkan selamat. Biar bagaimana pun, pria itu yang menyemangatinya tadi.
"Semoga bisa jadi imam yang baik. Sehingga bisa membawa rumah tangga kalian hingga ke surga!"
"Subhanallah..." Caraka melepas pelukannya. "Dari sekian banyak doa, entah mengapa ini yang paling bener!"
"Terima kasih, Nair!"
"Ethan!" Caraka memanggil Ethan yang sedang sibuk melihat hasil jepretannya. "Sini kamu!"
"Kamu gak ngucapin selamat?"
"Astagfirullah!" Teriak Nair, Nath dan Shaka kompak.
"Nih orang maksa banget ya, pengen banget diucapin selamat!" gelak Nath heran.
Caraka dan Ethan tertawa.
"Selamat bang!" Ethan memeluk Caraka.
"Thanks ya, Than!"
Nath dan Shaka menutup mulut mereka menahan tawa karena pengantin pria yang begitu menginginkan ucapan selamat dari semua tamu yang datang.
"Kalian gak bisa maklum banget sih! Aku menunggu momen ini selama 33 tahun loh !" ucap Caraka mengacungkan tiga jemarinya.
"Wajar dong kalau aku bahagia banget."
"Weh! Dari orok udah pengen kaw*in dia!" bisik Shaka pada Nath.
"Diam kamu! Calon adik ipar lakna**t!" Ternyata Caraka mencegatnya meski hanya berbisik.
"Ampun abang ipar! Mohon maaf!" Shaka menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Nah, gitu dong! Yang sopan!" Balas Caraka.
"Sebagai adik ipar yang baik. Aku akan kasih pilihan destinasi bulan madu untuk kalian berdua!"
"Bang Rion udah urus semuanya, Shak!" Balas Chiara.
__ADS_1
"Ya, siapa tahu kalian mau lanjut kemana gitu?" tanya Shaka lagi.
"Cuti kami terbatas, Shak!"
"Oke.." Shaka mengeluarkan ponselnya. "Aku kasih duit jajan aja ya. Siapa tahu pengen beli cendol pas honeymoon!"
"Di Paris ada cendol, Chi?" bisik Caraka pada Chiara.
Chiara tertawa sambil mengangkat bahunya. "Kurang tahu bang! Nanti kita cari ya... "
Ya, tujuan bulan madu mereka adalah ke Paris. Sebenarnya itu adalah usul dari Rion dan keduanya setuju saja, karena mereka memang tidak punya rencana apapun tentang bulan madu.
Ting!
Notifikasi ponsel Caraka berbunyi. Sebuah SMS banking masuk ke ponselnya.
"Wah, cepat nih..." Namun, tiba-tiba Caraka terbengong.
"Li... lima puluh juta?" tanyanya menatap Shaka dengan mata membulat karena tak menyangka jumlahnya sebanyak itu.
Shaka tertawa. "Kenapa? Gak mau?"
"Balikinlah!" pintanya.
"Gak ikhlas berarti?" Caraka malah menantang calon adik iparnya itu.
"Aku ikhlas! Tapi abangnya kayak mau nolak gitu."
"Yakin ikhlas? Soalnya aku alergi sama uang haram!"
"Banyak gaya!" Cibir Nath pelan. "Dah, terima aja. Lumayan buat beliin oleh-oleh kita."
"Hahaha... Iya. Beliin kita oleh-oleh ya Bang Cak!" dukung Tiara.
"Beres. Kalian mau apa? Coba buat list nya dari sekarang."
Tiara menatap takjub. "Benaran nih?"
Caraka mengangguk. "Iya... sekalian uangnya!"
"Astagfirullah!" Pekik Tiara. "Itu mah namanya nitip. Bukan dibelikan!"
"Nanti ku belikan Ti," Tiara menatap Syakilla heran.
"Aku sama Shaka juga akan ke Paris. kita mau foto prewedding!"
"Kalian ikut?" tanya Caraka terkejut.
Shaka mengangguk. "Iya."
"Barengan?" tanya Caraka lagi.
Shaka mengangguk lagi. "Iya."
"Ganti jadwal lah!" perintah Caraka karena tak ingin keduanya ikut. "Masa iya, bulan madu diekorin. Yang ada aku malah jagain Sya dari kamu!"
"Gak bisa, Bang!"
"Kalau gak bareng kalian, entar siapa yang fotoin kita berdua?" Shaka merangkul bahu Syakilla.
"Sial*n! Aku bukan fotografer! Gak mau!" tolak Caraka.
"Oke. Balikin yang 40 juta, biar Ethan yang berangkat," ancam Shaka bercanda.
"Asik... ke Paris guys!" Ethan bersorak senang.
__ADS_1
"Gak perlu, Than! Aku bisa kalau cuma ambil foto pakai kamera!" Ucapan Caraka membuat mereka tergelak karena Caraka lebih memilih jadi fotografer dengan imbalan uang 40 juta.