
"Bi... Papa dan mama sudah datang!" Seru Rion dari lantai bawah karena istrinya tak kunjung turun. Sudah entah berapa lama Bintang bersiap, karena malam ini adalah syukuran hari jadi pernikahan mereka yang ke 10 tahun.
Sebagai ipar yang baik, Caraka justru tak ingin ikut campur. Ia malah asyik bermain dengan Prince yang kini sudah berusia 5 tahun.
"Ayah kamu selalu teriak-teriak, seperti tarzan," bisik Caraka pada putra kesayangan Rion itu.
Prince tertawa sambil menutup mulutnya. "Uncle Dokter, tidak boleh bicara seperti itu. Kata bunda, itu tidak sopan!"
Bisa aja nih bocah menasehati orang tua. Memangnya dia tau tarzan itu apa? Batin Caraka.
"Bunda kamu memang yang terbaik." Tak urung, Caraka juga memuji sepupunya itu.
"Bang, bantuin dong! Malah ngobrol terus sama Prince!" Suara wanita yang sudah biasa ia dengar hampir 24 jam dalam sehari itu membuatnya menoleh.
Chiara tengah membawa dua piring yang penuh dengan cake. Wanita yang tengah hamil muda itu ternyata sedang ingin makan cake.
"Astaga! Untuk apa cake sebanyak itu sayang?"
"Aku ingin menghabiskan semuanya."
"Ya Tuhan." Caraka menghampiri Chiara dan mengambil dua piring di tangan istrinya. "Kamu sanggup menghabiskan semua cake ini?"
Biasanya Chiara akan terus muntah apalagi saat makan makanan beraroma kuat.
"Akan ku coba, karena aku menyukai warnanya yang beraneka ragam, Bang!"
Caraka mengalah. Mungkin ini yang dinamakan ngidam. Ia sendiri pernah merasakannya. Tiba-tiba saat tengah malam, ia ingin makan es krim stroberi.
"Berapa lama gak makan?" bisik Nath menyenggol lengan Caraka saat pria itu baru datang dan ikut duduk bergabung dengannya. Nath memberi kode bahwa yang dimaksud adalah Chiara.
Caraka menempelkan telunjuknya di bibir agar Nath tidak bicara lagi. "Jangan ganggu, atau seluruh meja disini akan terbalik," bisiknya di telinga Nath.
Satu persatu tamu datang ke rumah itu. Bukan acara besar, hanya sebuah acara kumpul bersama keluarga.
Bintang dan Rion menerima tamu dan menyalami mereka satu persatu. Sudah ada seluruh keluarga Akhtar, Ray, Josep, Langit, dan Satya.
Bisa dibayangka seramai apa rumah Rion saat ini. Acara yang diadakan siang hari itu tentu kian ramai dengan hadirnya anak-anak mereka.
"Istri kamu sudah hamil juga, Shak?" tanya Ray pada Shaka yang selalu melihat kearah Syakilla meski pria itu tengah berkumpul dengan para bapak-bapak lintas generasi.
"Belum tahu, Om. Doakan semoga segera hamil. Supaya kelak bisa ku jodohkan dengan Prince," jawab Shaka diiringi gelak tawa.
Jujur saja, pria itu belum tahu apakah istrinya sudah hamil atau belum karena mereka baru saja pulang bulan madu beberapa hari yang lalu.
Caraka tersenyum miring. "Yang tajir makin tajiiiirrr!" teriaknya agak keras.
Bisa dibayangkan jika pewaris Orion Danadyaksa itu menikah dengan pewaris Shaka Bramantyo akan sekaya apa mereka. Asalkan perushaaan tidak bangkrut maka dua kerajaan bisnis akan bersatu.
Rion tertawa. "Aku gak berharap Prince menikah sama anak kamu."
__ADS_1
"Aku mau besanan sama Nair aja. Lebih kalem dan,-"
"Heei, sembarangan! Masa iya sepupuan menikah?" potong Nath tak suka saat Rion ingin menikahkan putranya dengan putri Nair.
"Gak apa-apa, Nath. Kan, bukan pernikahan sedarah!" balas Akhtar.
"Papa setuju?" tanya Nath membulatkan mata.
"Kalau memang jodohnya ya gak masalah. Dari pada cucu papa dapat jodoh yang gak jelas asal usulnya."
"Kalau begitu, nikahkan dengan cucu Om aja, Shak!" ucap Langit.
Shaka mencebikkan bibir. "Gak deh."
"Kenapa?" tanya Langit.
"Kasihan anakku, punya Opa mertua gak waras."
"Kurang ajaaar!" Langit maju beberapa langkah dan menjepit leher Shaka yang sedang duduk di kursi dengan lengannya.
"Kenapa berebut, nikahkan saja dengan cucuku?" Josep membuat semua orang menatapnya.
"Enggak!" Semua orang kompak berteriak.
Dan seketika mereka semua terbahak. Bukan uang yang menjadi alasannya, tapi keyakinan mereka yang berbeda.
"Jangan dilihat terus, Cak! Anak papi gak akan kemana-mana!" Kali ini giliran Ray yang menggoda menantunya.
Caraka menggaruk tengkuknya. "Hanya memastikan dia baik-baik saja, Pi."
Ray tersenyum. "Khawatir adalah hal yang wajar saat kita tahu, istri kita tengah hamil."
"Tapi beri dia ruang, supaya ia bisa melakukan apapun yang ia sukai, termasuk makan banyak seperti itu."
Akhtar tertawa. "Sok iya sekali anda!" Candanya. Ia tahu Ray dan Sania memang menjalani kehidupan rumah tangga dengan begitu santainya. Mungkin karena keduanya merupakan sahabat baik.
Ray tertawa. "Terbukti, hubungan kami baik-baik saja, Tar!"
"Dulu bahkan Sania memilih untuk kuliah lagi saat Rion masih sangat kecil."
"Aku mendukung istriku. Dan dia bahagia menjalankan pekerjaan serta melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu."
Caraka mengangguk. "Aku juga akan melakukan hal yang sama, Pi. Jika kelak, Chiara ingin melanjutkan pendidikannya."
"Bagus!" potong Akhtar. "Asal jangan kamu menitipkan anak-anak kamu seperti saat dia menitipkan Rion di rumah kami."
Rion malah tertawa. "Kenapa gitu, Pa. Rion kan gak bandel waktu kecil dulu."
Caraka membatin, Gak bandel? Lah, yang tiap hari adu mulut sama adu jotos sama Nath itu siapa?
__ADS_1
Caraka menggeleng pelan. Ia tahu seperti apa Rion saat kecil dulu karena usia mereka terpaut sekitar 4 tahunan.
"Gak bandel, tapi malah suka sama kakaknya sendiri itu gimana ceritanya, Rion!" balas Akhtar penuh penekakan.
Semua orang tergelak, terlebih lagi Ray yang menyadari putranya memang nakal.
"Astaga! Bilang aja kalau trauma, Tar!" ejek Satya.
Akhtar tertawa, "Pusing, Sat! Kalau begitu ceritanya akan ada kejadian, dimana anaknya Caraka bakalan nikah dengan salah satu cucuku!"
Ray tertawa. "Gak terbayangkan sih, kalau akhirnya keluarga kita hanya berputar-putar disini sini saja."
"Mungkin akan semakin seru, ya."
"Orang tuanya sepupuan, anaknya saling jatuh cinta."
"Asal jangan, anaknya Rion nikah sama anaknya Caraka!" Ray terbahak. "Cucuku merupakan cucu menantuku!"
Mereka tergelak. "Kenapa gak sekalian, kedua anakku besanan!" potong Langit.
Rion dan Caraka saling tatap, dan keduanya sama-sama bergidik ngerih. Tidak bisa dibayangkan kalau sampai semua itu terjadi.
"Woi para bapak-bapak!"
Yang dipanggil bapak-bapak melihat ke sumber suara, dimana Sania yang berusia 60-an tahun itu yang berteriak.
"Nih!" Tunjuk Sania pada beberapa wanita dengan wujud berbeda-beda. Ada yang tua, ada yang muda. Ada yang masih memangku balita, ada yang tengah hamil, dan ada pula yang sedang melihat putra-putrinya bermain. Tak lain dan tak bukan, wanita-wanita itu adalah istri para bapak-bapak.
"Kita yang hamil, kita yang lahirin. Kenapa bapaknya yang sibuk jodoh-jodohin!"
"Karena kita yang nafkahin!" Balas Ray.
"Kalau gitu, hitung berapa banyak ASI yang harus kalian bayar untuk-"
"Stop!" Ray mengangkat satu tangannya. Semua orang menegang, karena takut akan terjadi pertengkaran.
Tak lama, Ray mengangkat kedua tangannya. "Nyerah!" Lalu ia tergelak.
Ya, Ray menyerah karena tak ada nilai yang bisa membayar ASI yang diberikan untuk anak-anaknya. Tidak ada yang bisa menggantikan berapa banyak tetesan keringat yang keluar saat istrinya melahirkan anak-anaknya.
Caraka, sebagai calon ayah, ia tahu apa yang dimaksud oleh Ray. Ia pun setuju, tidak ada nilai yang mampu membayar tiap tetes ASI, tiap tetes keringat, tiap tetes air mata dan tiap detik saat seorang ibu menimang bayinya meski matanya sendiri terasa berat.
Namun, bagi Caraka, pengorbanan seorang ayah pun tidak terkira besarnya. Tiap tetes keringat, tiap waktu yang terbuang untuk bekerja, tiap kali kehilangan kesempatan untuk bisa berkumpul dengan keluarga, juga merupakan hal yang tak bisa dibayar dengan rupiah.
Selama perjalanan hidupnya, Caraka sadar, peran Abimanyu dan Ray sungguh luar biasa. Satu demi satu masalah bisa ia lewati hanya untuk bisa ada di titik ini, hidup bahagia bersama Chiara.
Harapannya hanya satu, semoga keluarga besar ini akan terus menjadi keluarga besar yang hidup akur dan rukun. Dan semoga, perjalanan cintanya dan Chiara selalu langgeng hingga maut yang memisahkan mereka.
*End*
__ADS_1