
Abraham dan Daffin sedang berada di rumah. Dengan susah payah, Abraham menyeret Daffin untuk pulang. Setidaknya ada sepuluh orang bodyguard yang ditugaskan untuk membawa pria bernama Daffin itu.
"Sekarang, kamu mau apa?" Tanya Abraham pada putranya yang sedang duduk melipat tangan di dada seolah tak terjadi apapun.
Keduanya duduk berhadapan di ruang kerja Abraham dan mulai membahas langkah apa yang akan mereka ambil karena sudah puluhan orang menghubungi mereka meminta penjelasan mengenai berita yang telah beredar.
Para pemegang saham merasa terancam karena berita ini dikhawatirkan akan mempengaruhi bisnis mereka. Abraham faham akan hal itu sehingga ia harus segera bertindak.
"Daddy sewa hacker untuk menghapus semua video yang telah beredar," pinta Daffin.
"Sudah daddy lakukan tanpa kamu minta!" Jawab Abraham tegas. Setelah berita mengenai gagalnya pertunangan itu, Abraham berupaya untuk menghentikan berita dengan menghapus semua video yang sudah terlanjur menyebar.
"Baguslah!" Jawab Daffin tenang. "Sekarang, laporkan saja Caraka itu ke polisi." Perintah Daffin.
Abraham menatapnya tajam. "Sepertinya terlalu banyak menikmati paha dan dada membuat otakmu semakin bod*h!"
"Bagaimana bisa kamu melaporkan pria itu tanpa bukti?"
"Aku punya bukti. Ini jebakannya dengan Sabella, Dad! Pasti terekam di cctv cafe itu."
"Beberapa hari lalu, aku dan Chiara sedang di cafe X. Dan entah mengapa pria sialan itu datang bersama Sabella, dan akhirnya semua terjadi seperti yang ada di video itu!"
"Dasar gegabah!" Marah Abraham. Putranya itu sungguh sudah menghancurkan semua rencana yang telah ia susun dengan rapi.
Hanya karena kegilaan Daffin terhadap Sabella, semuanya hancur berantakan. Abraham sedang bingung menghadapi semua masalah ini.
"Jadi, rekaman itu memang asli?"
Daffin mengangguk. "Jadi, menurut Daddy kita harus bagaimana?" Tanya Daffin.
"Entahlah! Kalau kita laporkan pria itu ke kantor polisi, sudah pasti dia punya rekaman asli dan itu semakin membuat kita terpojok."
"Kita damai saja dengan keluarga om Ray!" Ucap Daffin. "Kita lepaskan saja Chiara dan lupakan pertunangan ini."
Abraham setuju. Tapi reputasi yang sudah terlanjur rusak tetap harus dipulihkan. Ia harus membawa Ray ke media untuk meyakinkan masyarakat bahwa semua ini hanya salah faham dan untuk membuktikan bahwa hal ini tidak akan berpengaruh pada bisnis mereka.
"Dad, berita ini akan hilang dengan sendirinya. Percayalah!"
"Tapi Daddy akan tetap bertemu Ray besok pagi."
***
Kediaman Ray.
Setelah lewat waktu magrib, Ray akhirnya mempersilahkan awak media untuk masuk ke dalam halaman rumahnya.
Para wartawan sudah sejak siang tadi berkerumun di depan pagar rumahnya. Namun, ia masih enggan menemui mereka karena Ray tetap menunggu bukti lain.
Setelah orang-orangnya berhasil memperkuat bukti dengan rekaman cctv cafe dan bukti keaslian video yang Caraka berikan, Ray akhirnya mempersilahkan awak media masuk.
__ADS_1
Disana, Ray dan Sania serta kuasa hukum mereka duduk di depan para wartawan yang sudah siap meliput berita.
"Selamat malam semua." Sapa Ray.
"Saya akan menjelaskan tentang kabar yang beredar di sosial media dan tv tentang pertunangan putri saya yang mendadak batal karena satu atau beberapa hal."
"Benar adanya bahwa pertunangan ini terpaksa saya batalkan."
"Video yang beredar di jagad dunia maya, itu benar adanya."
"Jadi, benar adanya pria dalam video di layar itu adalah Daffin?"
Ray diam saja. "Bukan hak saya menjawab itu semua. Silahkan kalian tanyakan pada pihak yang bersangkutan."
"Yang pasti, saya bersyukur ada orang baik yang mengungkapkan semuanya tepat waktu."
"Lalu siapa orang baik itu, pak? Apakah benar orang yang di tuduh oleh Daffin?" Tanya dalah satu wartawan.
"Saya tidak bisa sebutkan disini. Karena saya harus melindungi privasinya. Demi keselamatan, keamanan dan ketenangannya."
"Lalu bagaimana dengan keadaan putri anda? Apakah mengalami stress atau tidak."
Ray tersenyum kecil. "Tentu tidak. Dia tidak stress ataupun sedih berlebihan."
"Dia hanya merasa bersalah pada kami. Dan untuk saat ini, ia tidak ingin ikut karena sedang beristirahat."
"Apakah semua ini akan dibawa ke jalur hukum?"
"Bagaimana jika pak Abraham menuntut atas pasal pencemaran nama baik."
"Ya, kita akan hadapi. Biar bagaimanapun saya harus taat hukum."
"Lalu, apakah kemungkinan kelak pertunangan ini akan tetap berlangsung, pak?"
"Saya rasa tidak."
"Lalu bagaimana dengan kerja sama perusahaan? Kami dengar, perusahaan pak Abraham terikat kerja sama dengan rumah sakit Danadyaksa?"
Ray tertawa pelan. "Saya bisa profesional kok."
"Masa depan putri saya bukan bisnis. Bagi kami sekeluarga, sejak awal tujuan pertunangan ini bukan karena bisnis. Jadi, batalpun pertunangan ini, saya rasa tidak ada sangkut pautnya dengan kerja sama kami."
"Baiklah, saya rasa cukup sampai disini yang bisa kami jelaskan."
"Terima kasih!"
Ray dan Sania serta kuasa hukum mereka masuk dengan dibantu beberapa pengawal karena wartawan masih terus bertanya.
Ray hanya ingin meluruskan semuanya, agak tak ada lagi berita yang simpang siur.
__ADS_1
***
Devi memeluk Sabella saat keduanya menonton tv mengenai berita heboh itu.
"Dev, kenapa Mas Caraka tega bikin video itu tersebar?"
"Aku... aku bahkan gak tau kalau kejadian itu direkam." Sabella sadar itu adalah dirinya dan Daffin.
Sabella menatap Devi dengan mata sembabnya. Air mata kembali menetes tanpa diminta.
"Apa mas Caraka sengaja menjebak aku sama Daffin?"
"Apa selama ini dia tahu kalau aku sama Daffin punya berhubungan?"
"Dan dia manfaatkan itu untuk membatalkan pertunangan Daffin dengan gadis itu?"
"Ya..." Sabella berusaha mengatur nafasnya yang mulai terengah karena ia begitu merasa terpukul. "Chiara itu, gadis yang mas Caraka cintai, Dev!"
"Kenapa semua orang jahat padaku, Dev!" Lirihnya dalam pelukan Devi.
"Ku kira mas Caraka orang baik. Tapi ternyata dia memanfaatkan aku untuk kepentingannya."
"Ssssttt! Tenanglah Bel. Caraka terpaksa melakukan ini semua demi kamu."
"Dia harus membuat Daffin sibuk menyelamatkan nama baiknya agar tidak mencarimu!"
"Kamu harus mengerti hal ini, Bel."
"Dan dengan adanya video itu, rekaman dirimu yang ada pada Daffin gak akan berguna lagi."
"Daffin gak akan menyebarkan video itu karena kalau sampai itu tersebar, sudah pasti itu sama saja kalau dia membenarkan hubungan kamu sama dia."
Sabella menatap Devi. "Jadi...?"
"Jadi, ini semua memang rencana Caraka?" Tanya Sabella.
Devi mengangguk dan tersenyum kecil. "Aku sudah menghubunginya dengan nomor baru dan dia sudah menjelaskan semuanya padaku."
"Sekarang, kita cukup melihat perkembangan berita ini dari tv. Kalau keadaan mulai membaik, kita akan pergi ke luar negeri."
"Tapi, bagaimana dengan dataku, Dev."
"Kamu lupa, Bel? Sabella kan cuma nama palsu demi karir kamu."
"Kamu akan pakai data asli kamu. Aku akan berusaha bagaimana caranya agar kita bisa pergi ke luar negeri."
"Bagaimana kalau pihak kepolisian meminta keteranganku soal video itu?"
"Jangan fikirkan apapun dulu ya... Biar itu menjadi urusanku dan Caraka nanti."
__ADS_1
Sabella memeluk Devi. "Terima kasih, Dev. Kamu selalu ada disampingku meski aku sedang terpuruk seperti ini."
"Kamu udah ku anggap saudara, Bel. Kamu banyak membantuku dan sekarang ku rasa saatnya untuk membalas semua kebaikan kamu."