
Syakilla sedang berjalan menuju gerbang kampus dimana ia mengajar. Dosen muda yang kerap kali tampil sederhana itu, memang jarang membawa kendaraan sendiri.
Salah satu hal yang paling ia tidak sukai adalah mengemudi, baik itu mobil atau sepeda motor. Sampai-sampai ia tak ingin punya kendaraan sendiri.
Untuk berangkat ke kampus, biasanya ia bersama Caraka-abangnya. Terkadang juga diantar papanya atau tak jarang ia juga naik ojek atau taksi online. Begitu pun saat pulang dari kampus.
Namun hari ini, ada bestie yang rela menjemputnya. Ia sengaja menunggu di luar gerbang karena orang yang akan menjemputnya masih dalam perjalanan.
Syakilla menunggu tak terlalu lama. Ia melihat mobil berwarna putih yang ia kenali sudah berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil terbuka dan seorang pria tampan melambaikan tangan padanya. "Masuk, Sya!" Ucap Shaka.
Syakilla mendekat dan segera masuk ke dalam mobil. "Gak ngerepotin ini, Shak?" Tanya Syakilla.
"Enggak lah!" Jawab Shaka. "Lagian besok sore aku harus balik ke Kalimantan!"
"Kapan lagi bisa jemput kamu!" Lanjutnya.
"Senin udah harus masuk karena ada jadwal meeting yang gak bisa di rescedule lagi."
Shaka melajukan mobil dengan kecepatan sedang. "Gimana? Jadi nge-comblangin Bang Cak sama Chia?" Tanya Shaka karena Syakilla sudah menceritakan mengenai hal itu.
Syakilla mengendikkan bahu. "Belum nyusun rencana sih! Masih sibuk ngurusin kampus!"
"Perlu perencanaan yang matang, Shak!" Gadis itu menatap Shaka.
"Chiara itu sahabatku. Aku gak mau dia salah faham. Aku gak mau dia beranggapan, mentang-mentang Caraka abangku, dan dia sahabatku aku jadi sesukanya menjodohkan mereka berdua."
"Bisa hancur persabahatan kami, Shak!"
Shaka mengangguk. "Minimal kamu tahulah, gimana perasaan Chiara sama bang Cak!"
"Chiara sih gak pernah ngomong apa-apa! Kita juga gak pernah bahas soal itu meskipun aku tau abangku suka sama dia sejak dulu."
"Aku gak mau dia gak nyaman temenan sama aku cuma gara-gara bang Cak."
Shaka mulai berfikir. "Gimana kalau kita ajak mereka berdua nonton atau jalan?" Ajak Shaka.
Syakilla mengembangkan senyum. "Boleh juga sih! Tapi kemana, Cak?" Tanya Syakilla.
"Coba deh, cari film apa yang akan tayang malam ini!" Perintah Caraka.
Chiara mulai mencari informasi di mesin pencarian di ponselnya. "Ada nih, genre komedi-romatis!" Syakilla menunjukkannya pada Shaka.
"Mulai tayang jam 7 malam." Lanjutnya.
"Pesen tiket untuk 4 orang, Sya!" Perintah Shaka.
"Pake hp ku aja!" Shaka memberikan ponselnya.
"Biar mereka gak curiga, termasuk Chiara."
***
__ADS_1
"Bang Cak! Nonton yuk!" Ajak Shaka yang sudah tiba di rumah Syakilla setelah sholat magrib.
"Astaga! Nih anak gak punya rumah atau gimana sih?"
"Tiap hari nongol terus di sini!" Keluh Caraka yang terkejut karena Shaka tiba-tiba membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu.
"Ck!" Decak Shaka. "Ayolah, Bang Cak!" Bujuknya.
"Tiket udah ku pesan via online!" Shaka duduk di ranjang milik dokter yang tak muda lagi itu.
"4 kursi lagi!" Shaka menunjukkan 4 jari tangannya. "Sayang banget kalau hangus!"
"Enggak ah!" Tolak Caraka.
"Ayolah bang!" Bujuk Shaka lagi. "Ya kali aku cuma berdua sama Syakilla!"
Caraka menatap Shaka tajam. "Gak boleh berduaan di gedung bioskop yang gelap!" Sambar Caraka. "Ntar ada setan yang ikutan!"
Shaka nyaris tak bisa menahan tawanya. Astaga! Udah tua fikirannya masih jorok aja kayak bocah baru puber! Batin Shaka sambil mengu-lum senyum.
"Makanya, ayo ikut!"
"Males ah! Udah deh, batalin aja! Duit kamu juga gak bakal berkurang cuma karena 4 tiket itu hangus!" Caraka malah memainkan game di ponselnya.
"Lagian, kamu rencananya mau ajakin siapa aja, sampai pesen 4 tiket segala?"
"Awalnya mau sama ayah sama bunda! Tapi mereka malah dinner romantis, berdua lagi! Gak ngajak aku!" Shaka cemberut.
Caraka tertawa. "Lagian, udah gede juga mau ikut orang tua yang lagi nostalgiaan!" Ejek Caraka.
Ceklek!
Pintu kamar di buka dan tampaklah Syakilla yang sudah siap.
"Ayo Shak! Chia udah nunggu nih!" Syakilla pura-pura melihat ponsel ditangannya.
"Oh! Oke! Kita bertiga aja, Sya! Abang kamu gak mau ikut!"
Caraka menatap keduanya. "Satu tiket lagi untuk Chiara?" Tanyanya.
"Iya!" Sahut Shaka singkat.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih! Aku ikut!" Ucapnya semangat.
Ia langsung melompat dari atas ranjang dan mencari kemeja di lemarinya.
Caraka melihat dua orang yang menahan tawa dan menonton dirinya yang tengah bersiap.
Caraka mendorong bahu Shaka dan Syakilla, agar keduanya keluar dari kamar itu. "Keluar dulu kek! Kalian mau lihat aku ganti celana?"
Shaka tertawa.
"Jangan ketawa!" Ketus Caraka. "Tunggu di mobil aja, sana! Lima menit lagi aku turun!"
__ADS_1
Brak!
Caraka menutup pintu kamarnya. Ia segera bersiap dan merapihkan penampilannya.
Sementara itu, di sepanjang jalan menuju halaman depan rumah. Shaka dan Syakilla terus terbahak.
"Begitu dengar nama Chiara, dia langsung oke loh!" Ucap Shaka yang masih speachless melihat respon Caraka yang menurutnya tampak lucu.
"Jadi, kamu gak bilang dari awal kalau kita sama Chiara?" Tanya Syakilla.
Shaka menggeleng. "Enggak."
Syakilla tersenyum remeh. "Padahal kemarin malam, dia tuh pasrah banget, Shak!".
"Ikut arus aja deh!" Syakilla menirukan ucapan Caraka kemarin malam. Lalu ia tertawa.
Keduanya menunggu di dalam mobil. Saat Caraka masuk ke dalam...
"Gil*, wangi kembang tujuh rupa!" Celetuk Shaka karena pria di kursi belakang sepertinya menghabiskan sebotol parfum malam ini.
"Manusia ini, Shak! Bukan dedemit!" Ucap Caraka sinis.
"Lagian lebay banget! Mau nonton aja begini banget wanginya!" Sambar Shaka.
Caraka memang seperti ini. Ia selalu wangi dan rapih. Rambut klimis yang ditata sedemikian rupa membuatnya tampak fresh. Wajah 33 tahunnya sedikit tertolong. Hahahah...
"Siapa tahu dapat gebetan nanti di mall!" Jawab Caraka merapihkan lengan kemejanya.
"Dih! Mau nge-gebet yang di mall apa yang mau kita jemput nanti?" Tanya Shaka mencebikkan bibir.
"Kalau bisa dia, gak apa-apa juga sih!"
"Beneran mau maju nih?" Tanya Shaka meyakinkannya.
"Gak takut dicuekin apa lagi sampai di tolak?" Goda Shaka.
"Nyetir aja yang bener, Shak!" Perintah Caraka.
"Kemarin Syakilla nyemangetin buat maju dan sekarang kamu malah ngoong begini!"
"Ya abang maunya maju atau mundur?" Tanya Shaka.
"Gak bisa loh maju mundur. Soalnya Chiara bukan mobil yang cari posisi buat parkir!"
Syakilla tertawa. "Udah ah! Kamu nih buat abangku ragu, tau Shak!"
"Oke... oke... aku diem nih!"
Sepanjang perjalanan Caraka merasa aneh dengan dirinya. Tadi, saat nama Chiara disebut ia langsung mengatakan ya. Secepat itu ia berubah fikiran hanya karena adiknya menyebut nama gadis itu.
Entah mengapa, Caraka merasa ini adalah kesempatan untuknya bisa dekat dengan Chiara. Caraka sempat ingin mundur, tapi bagaimana dengan perasaan yang sudah ia rasakan selama bertahun-tahun?
Dulu, ia belum yakin dengan perasaannya hingga ia menjalin hubungan dengan Sabella. Namun, saat sudah bersama dengan Sabella, ia malah merasa telah menghianati hatinya sendiri.
__ADS_1
Ia mencoba menerima Sabella karena sadar, Chiara tak akan mudah di raih. Tapi, nyatanya hubungannya dengan Sabella tak berlangsung lama. Dan sekarang, tidak ada lagi Sabella ataupun Daffin.
Apa ini sebagai pertanda kalau aku harus terus maju? Ucap Caraka dalam hatinya.