Dokter Cantik, Marry Me!

Dokter Cantik, Marry Me!
Bab 36 Selamat


__ADS_3

"Braakk!" Benturan keras di bagian depan mobilnya membuat Caraka juga terbentur dashboard mobil.


Caraka tak bergerak untuk beberapa saat. Tapi perlahan ia mulai sadar, saat ini ia sedang dalam bahaya. Caraka langsung memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Ia perlahan menatap ke depan dan tampak mobilnya berhenti dengan posisi miring kebelakang.


Mobilnya masuk ke parit kecil dan bagian depan mobil menabrak sebuah pohon lumayan besar.


Ia tak tahu mengapa bisa ada di posisi seperti ini. Ia melihat ke samping dan tampak Raihan yang tidak bergerak dengan darah mengucur deras dari keningnya.


"Han!" Panggil Caraka dengan suara lemah. Ia dengan susah payah menelan salivanya melihat kondisi Raihan yang sangat memprihatinkan.


Caraka menggerakkan tubuh yang seperti kelihalangan tulang-tulangnya. Ia membuka sabuk pengaman dan mengguncang tubuh Raihan. "Han! Han! Bangun Han!"


Caraka bisa melihat mata Raihan terbuka sedikit saat Caraka berusaha menegakkan duduknya dan menyandarkan Raihan pada jok mobil.


"Tetaplah sadar, please!" Caraka membuka pintu disisi kanan Raihan.


Ia berusaha keluar dari mobil bersamaan dengan beberapa orang warga yang datang mendekati mobil mereka.


"Mas! Bisa Mas?" tanya salah satu pria saat melihat Caraka berusaha keluar dari mobil dengan melompati tubuh Raihan.


"Hei, ayo bantu!" ucap pria itu pada warga yang lain.


Mereka membantu Caraka turun. "Mas, hati-hati!"


"Ini parit, Mas. Melangkah sedikit!"


Caraka akhirnya bisa keluar dari mobil dan di susul Raihan yang dengan susah payah diangkat oleh beberapa orang warga.


Caraka terduduk lemas di pinggiran aspal menunggu mobil ambulance datang, karena warga mengatakan telah menghubungi rumah sakit terdekat dan juga pihak kepolisian.


Caraka tak sanggup menahan rasa sesak saat melihat kondisi mobil yang tadi mengejar mobilnya. Mobil itu ringsek dan terbalik serta truk yang juga rusak parah dibagian depannya.


Caraka melihat warga yang berusaha mencari celah untuk mengeluarkan pria di dalam mobil itu.


"Tunggu polisi saja!"


"Sudah meninggal!"


"Kasihan, sudah tua!"


"Ayo, maju!"


"Pelan-pelan!"


"Hei... jangan berhenti di tengah jalan!"


Riuh suara orang orang. Ada yang mengomentari kondisi pria di dalam mobil. Ada juga yang sedang mengatur jalan agar tidak macet. Jalan raya yang hanya ada dua jalur dan tidak terlalu lebar ini harus di atur warga agar tidak terjadi kemacetan.


Badan truk yang berhenti agak di pinggir membuat jalanan masih bisa dilewati.


Caraka berjalan pelan dan mendekati mobil yang mengejarnya tadi. Caraka menyelinap dibalik kerumunan warga.


Ia menunduk dan mengintip di balik kaca mobil yang pecah. Dan Caraka menutup matanya sebentar lalu menghela nafas panjang.


"Abraham..." lirihnya lemas.

__ADS_1


Ia sudah menduga yang mengejarnya adalah musuh. Tapi tak disangka, Abraham langsung turun tangan ingin melenyapkannya.


Suara sirene ambulance dan mobil polisi terdengar semakin mendekat. Caraka segera berdiri dan mengurus Raihan yang sedang di kerumuni warga.


Caraka mengambil ponsel di saku celananya. Ia butuh bantuan dan tidak bisa menangani semuanya sendiri.


"Papa!" gumamnya menyebut nama orang yang akan ia hubungi untuk pertama kali."


"Pa..." ucapnya saat panggilan dijawab.


"Caraka kecelakaan, Pa."


"Di daerah xxx. Tolong cepat ke sini. Raihan terluka parah. Nanti Caraka kabari lagi di rumah sakit mana Raihan dibawa."


Caraka langsung masuk ke dalam ambulance bersama Raihan.


Pihak kepolisian dan ambulance lain juga langsung mengevakuasi Abraham. Supir truk dan keneknya sudah kabur entah kemana. Mungkin masuk ke dalam semak perkebunan.


Caraka tiba di rumah sakit dan ia langsung ditangani. Raihan juga langsung masuk ke IGD dan segera ditangani.


Caraka juga sudah menghubungi orang tuanya untuk datang ke rumah sakit ini.


***


"Caraka kenapa, Mas?" tanya Sora tak sabaran.


Abi menatap istri dan putrinya. Ternyata kekhawatiran keduanya terhadap Caraka terjawab sudah.


"Caraka..."


"Caraka kenapa, Mas?"


"Caraka kecelakaan dan kita harus segera kesana!"


"Ya Allah!" Air mata Sora sudah mengalir deras. Abi dan Syakilla memeluk wanita yang masih memakai mukenah itu.


"Caraka baik-baik saja. Dia masih sadar dan bisa menghubungiku!"


"Sekarang, bersiaplah! Kita akan langsung menyusulnya kesana!"


***


"Papiiii!" Chiara segera turun dari lantai dua rumahnya. Ia berlari cepat mencari keberadaan Ray dan Sania.


Ray dan Sania sudah duduk di meja makan setelah sholat magrib tadi. Keduanya menoleh ke arah suara langkah kaki yang berlari cepat.


"Ada apa, Sayang? Kenapa lari-lari begitu?" tanya Sania heran karena putrinya berlari cepat dengan wajah yang agak pucat.


"Pi, mi... Bang Caraka kecelakaan!"


"Apa?" Ray berdiri dari kursi.


"Kata siapa, Chi?" tanya Ray.


"Kamu tau dari mana sayang!" Sania juga menanyakan hal yang sama.


"Ini, Syakilla baru aja menghubungiku. Dia sama orang tuanya lagi dijalan menuju rumah sakit."

__ADS_1


"Kondisi Raihan yang lebih parah, Pi!" Chiara menyampaikan informasi yang ia dapat dari Syakilla beberapa saat lalu.


"Kita kesana sekarang!" Ray segera berjalan masuk ke kamar. Ia mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Ia juga berganti pakaian karena rasanya tidak mungkin pergi dengan celana pendek dan kaos saja.


Sania segera menyusulnya. Begitu juga Chiara yang segera bersiap. Ia tak ingin berdiam diri sendiri di rumah seperti orang bodoh.


"Ray, ini kecelakaan biasa atau rencana jahat Daffin?" tanya Sania yang juga sedang bersiap.


Ray menghubungi supirnya untuk standby di depan. Ia juga menghubungi Rion untuk segera bersiap karena ia akan menjemput putranya itu.


"Aku belum tahu, San! Aku udah minta anak buahku berangkat kesana lebih dulu!"


Ray duduk di sebelah supir dan ia terus mencoba menghubungi Caraka.


Di percobaan yang entah keberapa, Caraka baru menjawab panggilannya.


"Cak! Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ray to the point.


"Mobil kami kecelakaan, Om."


"Raihan masih ditangan dokter dan alhamdullilah aku baik-baik aja." Ray bernafas lega karena keduanya masih selamat.


"Apa ada dugaan kalau ini penyerangan, Cak?" tanya Ray.


"Iya, om!"


Ray menghela nafas berat. Ia tak menyangka, mereka menyerang dalam kurun waktu yang tak terlalu lama. Sore tadi, Daffin malag Daffin sendiri yang membuntuti mobil Chiara.


"Om Abraham yang mengejar kami dan dia sepertinya meninggal dalam kecelakaan ini, om."


"Astagfirullah!" Pekik Ray tak percaya.


"Ada apa, Pi?" tanya Rion penasaran.


"Oke. Kamu tenang disana! Om minta tolong, urus Raihan dulu, ya Cak! Om sedang dalam perjalanan kesana!"


"Om akan bantu untuk mengurus semuanya."


Panggilan diakhiri. Ray melihat kebelakang dimana ada istri dan kedua anaknya yang menunggu penjelasan darinya.


"Abraham di duga tewas dalam kecelakaan itu."


Chiara menutup mulutnya tak percaya. Bahu Sania dan Rion perlahan merosot. Suasana tegang seketika hening. Mereka sama-sama menghela nafas berat.


"Segitu gil*nya mereka sampai harus turun tangan sendiri!" Rion tak mengerti apa yang ada dalam fikiran ayah dan anak itu.


"Nama baik mereka udah kembali pulih dengan pelaku palsu."


"Kerja sama dengan kita masih terjalin."


"Bisnis hotelnya gak goyah sedikitpun."


"Kenapa mereka gak udahin aja sih balas dendamnya." keluh Rion.


"Ngotot banget pengen habisi Caraka!"


Chiara menghela nafas. "Apa ini ada hubungannya sama bang Caraka yang bantu Sabella buat pergi dari Daffin?"

__ADS_1


Ray menggeleng. "Cuma mereka yang tahu jawabannya, Sayang!"


__ADS_2