
Caraka membuka jendela besar di kamarnya. Ia menatap lurus ke arah halaman belakang dimana suasana masih sedikit gelap.
Pagi ini, ia sengaja lebih cepat bangun. Bukan karena ada pekerjaan di waktu weekend seperti ini, tapi karena malam tadi Ray memintanya datang tepat jam 7 pagi.
"Kenapa om Ray minta aku untuk datang ke rumahnya pagi-pagi, ya?" gumamnya dengan melipat tangan didada.
Malam tadi, ia tak sempat menanyakan alasannya dan Ray juga tak mengatakan untuk apa mengundangnya ke sana.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Apa ini menyangkut hubungan antara aku dan Chiara?"
"Huuh!" Caraka menghembuskan nafas melalui mulutnya.
"Mana hubungan masih stuck disini-sini aja lagi..." keluhnya karena ia dan Chiara masih belum ada tanda-tanda akan melaju ke jenjang yang lebih serius meskipun ia sudah jago menembak saat ini.
"Apa Chiara memang gak bisa menerimaku?"
"Dan kira-kira apa ya yang membuat dia masih belum mau diajak bicara serius mengenai kelanjutan hubungan kami?" Caraka berjalan mondar-mandir di depan jendela kamarnya.
"Apa karena dia takut kalau masa depannya tidak terjamin?"
"Apa dia merasa kalau kami memang tidak sebanding?"
Drrtt... drrttt...
Ponselnya bergetar. Dan dengan cepat ia melihat layar persegi itu.
"Rumah sakit?" gumamnya saat ada panggilan masuk dari rumah sakit.
Ia memang sudah biasa mendapat panggilan dari pihak rumah sakit jika ada pasien meski di waktu libur seperti ini, terlebih jika dalam keadaan darurat.
"Hallo..."
"Hallo Dokter..." suara suster yang Caraka dengar.
"Ya, ada apa Sus?" tanya Caraka.
"Ada pasien yang membutuhkan penanganan dari Dokter. Dua pasien kecelakaan yang mengalami cidera di area rahang dan wajah dok."
"Baik, Sus. Saya akan segera kesana."
Caraka segera bersiap. Hal seperti ini sering ia hadapi. Pasien tidak mungkin menunggu weekday untuk ditangani sementara kondisinya tidak memungkinkan.
"Caraka kerumah sakit, Ma, Pa!" pamitnya pada kedua Sora yang sedang memasak dan Abi yang sedang duduk menonton tv di ruang keluarga yang letaknya tak jauh dari dapur.
"Ada keadaan darurat, Cak?" tanya Sora.
"Iya ma! Dua orang korban kecelakaan mengalami cidera parah di area rahang. Belum jelas juga sih seperti apa keadaan yang sebenarnya."
"Pergilah!" perintah Abi. "Hati-hati di jalan!"
Caraka mengangguk. Ia melebarkan senyum. Hatinya menghangat saat mendengar perintah Abi. Jelas terasa terselip rasa bangga dalam kata "pergilah" yang papanya itu ucapkan.
Caraka tahu, papanya selalu merasa bahagia dan bangga saat ia berhasil menolong satu nyawa yang membutuhkan pertolongannya.
Caraka melaju dengan kecepatan tinggi. Jalan raya yang masih sunyi membuatnya sampai lebih cepat.
"Dokter, pasien sedang berada di UGD." Suster langsung menyambut kedatangannya dan ia segera menangani pasien.
__ADS_1
****
Rumah Danadyaksa...
"Dia belum datang, Pi?" tanya Rion yang pagi itu susah hadir di rumah kedua orang tuanya.
Ray menggeleng. "Mungkin masih di jalan." jawab Ray pada putranya.
"Gak biasa-biasanya dia terlambat begini." gumam Rion.
"Untuk apa mengundang Caraka, Pi?" tanya Rion lagi. Ia sebenarnya heran, mengapa tiba-tiba Ray mengundang Caraka dan juga memintanya untuk datang.
"Kita tunggu dia saja, ya."
Rion mengangguk pelan. Karena Caraka yang belum juga datang, sementara Sania dan Bintang sedang menyiapkan sarapan, akhirnya Rion naik ke langai dua untuk menemui Chiara.
Rion mengetuk pintu kamar gadis itu. "Abang boleh masuk, Chi?" tanya Rion.
"Masuk aja, Bang! Gak aku kunci kok!" sahut Chiara dari dalam kamar.
Rion membuka pintu dan berjalan masuk. Perlahan ia duduk di atas kasur sementara Chiara sedang duduk menghadap laptop di meja kerjanya.
"Masih terlalu pagi untuk menatap layar itu, Chi!" tegur Rion saat melihat adiknya tetap bekerja meski di hari libur seperti ini.
Chiara tertawa pelan. "Bukan untuk bekerja, Bang!"
"Lalu, untuk apa?" tanya Rion.
Chiara berdiri dan berjalan kearah ranjang. "Cuma iseng-iseng aja lihat data dari rumah sakit."
Ia duduk di samping Rion.
"Haaaa!" Rion ternganga. "Lagi...?" tanyanya tak percaya. Maksud kata lagi adalah, adanya pria lain lagi yang melamar adiknya itu.
Chiara mengangguk. "Ini akan lebih bikin kacau dari sebelumnya."
"Dari Danu?" tanya Rion.
Chiara tertawa pelan. "Danu belum masuk daftar."
"Daffin?" tanya Rion lagi.
"Tepat!" jawab Chiara membenarkan. "Kali ini akan buat situasi jadi runyam lagi, Bang!"
"Kenapa gitu?"
"Aku dilamar sama seorang anggota kepolisian."
"Keren!" puji Rion. "Kalau tersandung kasus seenggaknya kita punya backingan!" Rion tertawa.
"Ck! Dengar dulu!" kesal Chiara.
"Dia anak teman papi..."
"Oh ya? Siapa?" Rion makin penasaran.
"Siapa anak teman papi yang menjabat sebagai anggota kepolisian..." Rion sedikit berfikir keras.
"Anj****ir! Delvin!" teriaknya dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
Dan sialnya Chiara mengangguk lemah.
Flashback On
"Om... Sebenarnya saya kesini untuk menanyakan satu hal pada Om, Tante dan Chiara." ucap Delvin saat tak ada angin tak ada hujan ia bertamu ke rumah Ray.
Delvin sedang ada urusan pekerjaan yang mengharuskannya datang ke Jakarta. Dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjawab rasa penasarannya mengenai gadis yang selalu ia kepoin di sosial medianya.
"Ada apa, Vin? Sepertinya kamu main ke rumah om bukan tanpa tujuan."
"Om benar."
"Saya ingin tahu, apakah Chiara sudah memiliki kekasih atau belum?"
Ray dan Sania saling pandang dan keduanya juga bergantian menatap Delvin, putra dari sahabat mereka.
Delvin merasa pertanyaannya terlalu mendadak. "Ehm... maaf om kalau pertanyaan saya terlalu lancang."
"Tapi, jujur saja. Saya tertarik pada putri Om."
"Aku punya perasaan sama kamu Chia!"
Chiara dan kedua orang tuanya juga saling tatap untuk waktu yang lumayan lama.
"Maaf sebelumnya, Bang! Tapi Chia gak bisa memulai hubungan baru untuk saat ini." Jawab Chia tegas karena ia tak ingin memberikan harapan palsu pada pria yang merupakan sahabat abangnya itu.
"Apa sama sekali tidak ada kesempatan, Chi?"
"Bulan depan aku akan dipindah tugaskan di Jakarta."
"Kita bisa bertemu lebih sering, Chi."
"Maaf Vin, bukannya om mau ikut campur, tapi tolong hargai keputusan Chiara."
Flashback off
Rion langsung berdiri dari duduknya. Ia masih tak percaya. Delvin, sahabat masa kecilnya. Putra pertama dari sahabat papinya, Dion dan Diana. Sepasang suami istri yang berprofesi sebagai guru. Mereka tinggal di Bali dan sangat jarang sekali datang ke Jakarta.
"Terakhir ketemu Delvin itu... saat lulus SMA."
"Eh, bukan! Tapi saat dia liburan dua tahun lalu dan kami bertemu di R Cafe."
Rion menatap Chiara yang terduduk lemah. "Terus gimana, Chi?" tanyanya sambil mengusap bahu Chiara.
Gadis itu mengangkat bahu. "Intinya, aku udah nolak. Dan papi kayaknya gak keberatan sama keputusanku."
"Kamu gak mau coba mikir-mikir lagi? Ganteng loh dia. Dari keluarga baik-baik, dan juga dia seorang polisi. Kali aja mau cari yang profesinya sedikit berbeda."
Chiara menggeleng. "Bang Caraka mau dikemana'in Bang?"
"Cieeeee....!" Rion malah memasang wajah jahil dan mengejek adiknya.
"Oh... Jadi kamu sedih bukan karena dilamar mendadak sama Delvin toh!"
Chiara mengerutkan kening. "Tapi kamu takut Caraka mundur atau papi berubah fikiran dan lebih milih abang polisi itu kan?"
Chiara diam saja.
Rion faham akan keresahan adiknya. "Tenang ya... abang udah bilang kok sama Allah. Ya Allah, pastikan jodohnya Chiara tetap Caraka apapun yang terjadi."
__ADS_1
"Astagfirullah, Abang!" Chiara mencubit perut Rion.