
" Clay.. ayo duduk sini jangan gitu Clay.. Rey pasti baik- baik saja.. dia pasti sembuh.. pernikahan kalian sudah tidak lama lagi dia harus baik- baik saja" ibu Rey menghibur sambil berkali- kali mengusap air matanya.
Clara tidak berkomentar.. ia terpaku diam dan terus meneteskan air mata.. tanpa tau alasannya .. Clara tak menyangka perasaan gelisah yang ia rasakan sejak bangun tidur, ternyata tentang Rey.. air mata Clara terus berjatuhan.
Satu jam kemudian tiba- tiba dokter dan perawat berlarian masuk ke ruangan Rey.. Rey mengalami kejang.. bunyi alat yang terpasang mulai terdengar.. kali ini Rey benar- benar berada di ujung maut.. Clara mulai sadar betapa pentingnya Rey bagi dirinya.
Clara bersandar di kaca ruangan, melihat petugas medis menangani Rey.. ia berdoa jika Rey dapat siuman maka ia berjanji untuk melepas Styfen.. dan tidak akan menduakan Rey lagi..
Belum lama Clara berhenti mengucap doa.. kondisi Rey kembali membaik.. usaha para dokter membuahkan hasil.
Clara dan ibu Rey tersenyum lega..
Tiga hari telah berlalu tapi Rey belum siuman juga.. ibu Rey dan Clara bergantian menjaga Rey.
7 hari telah berlalu, pagi ini.. Rey sudah di pindahkan ke ruang VIP .. Clara dan ibu Rey duduk bersama menemani Rey. Mereka berdua selalu menemani Rey dan setiap sore ibu Rey pulang ke rumah, Clara sendirian menjaga Rey di malam hari.
" Clara..." suara nyaring Rey terdengar.
Ini pukul 12 malam.. Clara tertidur di samping Rey sambil menggenggam tangannya.
"Peri kecil..." Rey kembali memanggil dengan suara lirih.
"Opa!.. dokter.. dokter.." Clara langsung berdiri dan berlari memanggil dokter.
Dokter pun tiba dan memastikan bahwa kondisi Rey baik- baik saja, kemudian pergi dari ruangan setelah memeriksa. Dokter hanya mengatakan kalau Rey butuh pelatihan bertahap sampai ia bisa kembali berjalan kepada Clara ... kaki Rey mengalami patah yang serius yang membutuhkan minimal 3 bulan untuk kembali mencoba berjalan. Untuk bagian tubuh yang lain tidak begitu serius.
"Opa syukurlah.. aku pikir kamu mengalami masalah.." Clara kembali duduk di samping Rey dan menggenggam tangannya begitu erat.
" Aku memanggilmu karena merasa haus.. kamu malah berlari keluar...😊" Rey tersenyum lebar walaupun masih merasa lemas.
" Maaf aku khawatir opa... kamu membuatku takut.. 😠" Clara meneteskan air mata.
__ADS_1
Rey menghapus air mata Clara.. dengan tangannya yang sedikit gemetar karena lemas.
Clara menggenggam tangan Rey.. dan mengambil segelas air putih di meja yang terdapat disebelahnya. Melihat kondisi Rey.. Clara menangis tersedu- sedu.. ia mengusap air matanya sambil memberi Rey minum.
"Apa yang kamu lakukan peri.. aku tidak mati kok.. aku ingin memelukmu tapi g bisa gerak badan aku.. gimana y peri..? " Rey menggoda Clara..
"Hihh.. apa sih opa... opa.. jangan ngomong tentang mati lagi y.. nanti aku marah ke opa.. opa tidak tau bagaimana khawatirnya aku?" Clara menggerutu sambil menghapus air matanya yang masih menetes.
" Aku panik ketika datang, opa penuh dengan perban.. hanya wajah saja yang kelihatan.. aku sangat takut jika terjadi sesuatu kepada opa..! semua tulang opa patah.. kaki, tangan kiri, tulang rusuk, dan kepala bagian belakang mengalami sedikit benturan.. lihat kondisimu sekarang.. kamu masih bisa tersenyum.. " Clara terus mengomel.
"😊 aku sudah sadar dan sekarang bisa ngobrol dengan kamu kan.. Uda tidurlah lagi ini masih terlalu pagi.. aku juga akan tidur lagi.." Rey menghibur Clara.
"Baiklah.. " Clara menyandarkan kepalanya di samping tubuh Rey..
" Jangan tidur di situ.. tidurlah disana.. Rey melihat kesebuah sofa yang cukup lebar.
" Tidak mau.. aku mau di sini saja..." Clara menggenggam tangan Rey dan kembali meletakkan kepalanya di tempat tidur Rey.
Rey lega karena Clara ternyata sangat memperdulikan nya. Sejak mereka di jodohkan dan hubungan menjadi semakin akrab Clara hanya terus memuja dunia lain, yang secara ajaib menjadikannya seorang penyihir.. Rey hanya dapat mendengar cerita Clara dan mendoakan yang terbaik untuknya, karena memang itu hal yang luar biasa..
Mukjizat nyata dari Tuhan. Rey bersyukur tentang anugrah yang diberikan Tuhan untuk Clara. Clara dapat mengalami hal- hal ajaib di luar nalar manusia zaman now.
Rey mengelus rambut Clara..
"Opa.. mau sampai kapan kamu memandangi aku? make ngelus rambut aku segala.. kamu bilang mau tidur juga.. ayo tidur opa...?" Clara berbicara tanpa membuka matanya, ia ingin agar Rey segera kembali beristirahat.
Rey tersenyum dan kemudian tidur.
Pagi harinya.. Rey terbangun tapi dia tidak melihat Clara di sana..
" Kamu sudah bangun Rey..? " ibu Rey bertanya ketika keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Clara kemana ma?" Rey mengangguk dan bertanya tentang Clara.
" Dia ada kuliah.. nanti pasti dateng lagi.. gimana perasaan kamu Rey? kamu baik kan?" ibu Rey bertanya.
"Iya aku baik ma.. hanya sedikit merasa berat mengerakkan tubuh saja.." Rey mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
" Tentu saja.. kamu mengalami kecelakaan yang cukup parah Rey.. mama bahkan sampai tidak bisa tidur berhari- hari.. setelah jam 4 pagi tadi ketika Clara menelepon, mama baru bisa terlelap tidur sampai pagi" ibu Rey tersenyum.
"Mama takut?" Rey menggoda ibunya sambil menyeringai.
"Tentu saja Rey.. kamu ini anak laki- laki, satu- satunya mama.. bagaimana mama tidak cemas.. Clara yang hanya tunanganmu saja begitu cemas, bagaimana mama yang melahirkanmu bisa baik- baik saja Rey? " Ibu Rey mengomel .
" Apa Clara sungguh menghawatirkan aku ma? " Rey penasaran.
" Iya.. Rey.. Clara bahkan terus menangis hingga matanya bengkak, ia sangat khawatir bahkan tak mau pulang untuk menjagamu.. mama memaksanya untuk beristirahat, jadi kami bergantian menjagamu.." ibu Rey menceritakan keadaan mereka ketika Rey koma.
Rey tidak berkomentar tentang perkataan ibunya.. ia hanya tersenyum bahagia.
" Mama rasa, papamu memilih orang yang tepat untuk menjagamu Rey.. Mama bisa lega sekarang.." ibu Rey tersenyum sambil mengelus tangan Rey.
Begitu selesai kelas.. Clara langsung datang ke rumah sakit. Ia ingin segera bertemu dengan Rey.. Clara membawa seikat bunga mawar untuk di letakkan di kamar VIP .
"Opa..." Clara langsung diam begitu melihat ibu Rey duduk di samping Rey .
Percakapan Rey dan ibunya pun berakhir.
" Tante.. Tante bilang ada urusan, jadi menitipkan ko Rey kepadaku untuk hari ini.. apa Tante tidak jadi pergi?" Clara bertanya.
" Jadi Clay.. tapi nunggu kamu dateng dulu, kasihan Rey sendirian kan..." ibu Rey tersenyum kepada Clara.
"Karena kamu uda dateng.. Tante pergi ya.... jangan nangis lagi lo.." ibu Rey memegang pundak Clara.. tersenyum, mengedipkan mata dan kemudian pergi.
__ADS_1
Bersambung...