
"Mbak itu siapa yang main biola?" Clara bertanya ke Mbak Ani.
"Mana sih non..? g ada suara lo ya.." Mbak Ani menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Jangan- jangan... " Mbak Ani melihat ke Clara begitu juga dengan Clara, mereka jadi saling menatap.
"Pintu Rahasia... " Clara dan Mbak Ani berbisik bersamaan.
"Aku coba periksa ya Mbak... soalnya suaranya beda.. ga kyak biasanya..." Clara mencoba mengerakkan kursi rodanya.
" Non.. saya bantu sampai bawah non.. tapi apa ga apa- apa non?" Mbk Ani memegang kursi roda Clara.
"Iya ga pa pa Mbak ... ayo.. cepet.. jangan bilang opa ya.. kasihan, udah seminggu dia kurang tidurnya Mbak.. " Clara mengkode dengan mengerakkan kepalanya.
Mbak Ani mengantar Clara hingga di depan pintu rahasia. Clara menyuruh Mbak Ani pergi sebelum ia masuk ke pintu itu.
Clara masuk tanpa membawa kursi rodanya.. ia merangkak masuk ke dalam pintu.. sesampainya di kamar, Clara melihat Styfen sedang berdiri di tempat biasa.. tempatnya bermain biola.
Sebelum Clara mendekati Styfen .. Clara mengeluarkan tongkat sihirnya dan kemudian menganti bajunya, ia bahkan membuat sayap untuk dirinya agar Styfen tidak tau kalau kakinya sedang terluka.. ia pun akhirnya terbang mendekati Styfen..
" Styf... " Clara memanggil Styfen.
Styfen berbalik dan melihat Clara.. saat melihat wajah Styfen Clara terperanjat.. mata Styfen bengkak.. ia bahkan masih menangis saat itu.. Clara bingung melihat Styfen.. Ia penasaran sebenarnya apa yang terjadi..?
Clara terbang mendekat.. ia langsung memeluk Styfen yang terlihat sangat sedih dan tak berdaya.. Clara mencoba menghibur Styfen.
Styfen semakin menangis tersedu- sedu..
"Apa yang terjadi? apa semua baik- baik saja? " Clara melepas pelukannya dan menggenggam kedua tangan Styfen..
Styfen menghentakkan tangan Clara..
"Kemana saja kamu? kemana?! dimana kamu saat aku harus bertunangan? di mana kamu saat Ayah Handa meninggal? dimana kamu saat aku harus mengambil alih tahta?!" Styfen berteriak dan mundur menjauh dari Clara.
__ADS_1
Clara tak sanggup berkata apapun.. ia hanya diam sambil melihat Styfen..
"Aku pikir kamu sudah tidak dapat datang kemari, sama seperti kakakku.. dan aku terus mencoba menerima keadaan itu.. tapi lihat dirimu sekarang? ternyata kamu dapat kemari.. tetapi tidak pernah datang melihatku? " Styfen melemas.. biolanya terjatuh dari genggamannya.
"Dimana kamu, saat aku membutuhkan seseorang? dimana...?" Styfen duduk di lantai.. ia menangis dan kemudian mengusapnya.
Styfen mencoba tegar ia melempar biolanya ke atas untuk menyimpannya. Perlahan ia mencoba berdiri..
Melihat Styfen.. Clara mendekat dan mencoba membantu Styfen.. Clara memegang lengan Styfen.
" Lepas !.. aku bisa sendiri.. " Lagi- lagi Styfen menghempaskan tangan Clara.
Clara yang di perlakukan seperti itu oleh Styfen.. tidak dapat membendung air matanya... mata yang sejak tadi berkaca- kaca akhirnya meneteskan air mata..
" Maafkan aku Styf .. aku sungguh menyesal.. "Clara segera menghapus air matanya.. dan kembali mencoba membantu Styfen.
Belum sempat Clara membantu Styfen berdiri.. seorang gadis datang dan membantu Styfen.. ia memapah Styfen dengan lembut dan mesra..
Styfen didudukkan di punggung burung itu.. dan putri terbang dengan sayap di samping Styfen.. sambil memeganginya.
Clara sedang menunggu putri itu.. ia duduk di bangku taman dan terus saja menangis.. ia bahkan tidak dapat menghentikan laju air matanya walaupun berusaha keras untuk berhenti menangis.
Hingga akhirnya seorang pelayan yang datang membuatnya berhenti meneteskan air mata.
"Putri Clara silahkan dinikmati putri.. " pelayan itu menyodorkan secangkir teh dan beberapa camilan khas kerajaan kepada Clara.
"Kamu mengenalku?" Clara menerima cangkir itu dan meletakkannya di atas meja.
"Tentu saja Putri.. siapa pelayan kerajaan yang tidak mengenal anda..? jangan bersedih putri.. Yang Mulia tak pernah sedetikpun tidak memikirkan anda..." pelayan itu menggenggam tangan Clara.
Seluruh penghuni kerajaan tau jika Clara dan Styfen memiliki suatu hubungan khusus sudah sejak lama.. Tetapi karena Clara lama tidak terlihat.. banyak yang mengira jika Clara telah mencampakkan Styfen. Terlebih adanya perayaan pertunangan antara pangeran Styfen dan putri Joya.. kandidat terpilih dari Raja terdahulu.
Semua orang berfikir Raja melakukan hal itu untuk membantu pangeran Styfen melupakan Clara.
__ADS_1
Tetapi sesungguhnya hal itu tidak benar.. Awalnya Raja hanya ingin menggoda Clara agar menyatakan perasaannya kepada Styfen setelah terbakar api cemburu.. Tapi tiba- tiba Clara tidak datang lagi.. Raja pun menjadikan hal cari jodoh ini menjadi sungguhan.. Tapi karena Raja melihat Styfen terus bersedih dan tidak dapat melupakan Clara, raja hendak merubah keputusannya.
Belum sempat Raja membuat pengumuman.. ia terkena penyakit parah dan akhirnya meninggal.
Tiba- tiba putri Joya datang.. pelayan yang kaget .. langsung melepas tangan Clara dan kemudian pergi dari sana.
" Hai.. aku Joya.. tunangan Raja Styfen.." putri Joya mengulurkan tangannya.. ia berbicara sangat lembut sambil tersenyum.
"Emm.. Clara.." Clara mengulurkan tangannya juga, dan merekapun berjabatan.
Clara tidak membalas senyuman Putri Joya saat itu.. Putri Joya duduk di sebelah Clara.
"Aku tau ini sulit untukmu.. tapi mau bagaimana lagi.. kamu berasal dari dunia yang berbeda dengan Yang Mulia.. hubungan kalian akan sulit, kalian bahkan tidak dapat terus saling menjaga" Putri Joya memandang Clara.
"Tenanglah Putri jangan salah paham.. diantara kami tidak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan.. " Clara mencoba menenangkan perasaan Putri Joya.
"Kamu tidak perlu menyembunyikannya.. sejak kami bertunangan, yang mulia sudah memberi tahuku semuanya.. bahkan tentang perasaannya terhadapmu.. ia bahkan meminta maaf kepadaku.. " Putri Joya menggenggam tangan Clara.
Clara diam saja dan memandang putri yang cantik jelita itu.
"Aku bilang kepadanya bahwa aku tidak keberatan, aku mau jadi yang ke 2.. Bagiku kebahagiaan Yang Mulia adalah segalanya" Putri Joya tersenyum.
"Putri Clara.. aku tau kalian sudah lama saling kenal.. dan kamulah cinta pertama Yang Mulia.. sejak pandangan pertama bahkan hingga detik ini, hatinya tidak pernah goyah.. karena kamu telah kembali.. tinggallah dan buat dia bahagia.. " Putri Joya melepas tangan Clara dan berjalan maju ke depan.
"Putri Joya.. bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu.. aku tidak dapat tinggal, kami ditakdirkan hanya untuk menjadi teman.. dunia kami berbeda.. " Clara terbang mendekati putri Joya.
" Tetapi aku tau betul jika hati Yang Mulia hanya milikmu.. " Putri Joya melihat kelangit.
"Jangan Khawatir putri.. aku akan memperbaiki ini.. untuk saat ini aku pamit dahulu.." setelah berpamitan Clara terbang kembali ke kamar.
Clara menyihir pakainya kembali dan ia duduk di lantai.. baru saja ia ingin merangkak.. pintu kamar terbuka. Styfen datang ia membuka pintu kamar Putri Laura yang tergembok.
Bersambung....
__ADS_1