
Clara mencoba menanyakan hal sama kembali kepada Rey.. dan dengan tegas dan serius Rey menjawab sama pula.
"Opa.. apa kamu tidak merasa aneh? harusnya tidak seorangpun mendengarnya opa.." Clara semakin bingung..
Rey terdiam.. ia berfikir sejenak.
" Kalau suara biola yang menyedihkan tadi juga berasal dari sana? " Rey bertanya dengan santainya.
"Apa? opa juga dengar itu? aku pergi kesana karena mendengar suara biola Styfen.. karena lagunya berbeda makanya aku memutuskan untuk melihatnya.." Clara mulai panik jantungnya berdebar kencang.
" Tadi aku berfikir itu hanya suara biola dari tetangga.. tapi setelah aku mendengar kalian bertengkar tadi .. aku jadi tau kalau biola itu juga pasti dari sana.." Rey duduk dan memandangi Clara.
" Ayo kita cek opa.. kita turun sekarang.. cepet.. " Clara menurunkan kakinya dan meraih kursi rodanya.. kemudian berusaha duduk.
Rey yang melihat Clara sedikit panik.. memegang tangannya dan mencoba menenangkannya.. ia membantu Clara duduk perlahan dan kemudian mereka berdua pergi ke pintu rahasia.
"Opa tunggu di sini ya ... aku akan mencoba berbicara.. kita lihat opa bisa mendengarnya lagi atau tidak ya..." Clara turun dari kursi roda dan merangkak.
"Peri.. kenapa harus merangkak? kursi roda tidak bisa masuk ke sana?" Rey bertanya karena penasaran.
"Nanti aku jelasin.." Clara langsung masuk ke dalam tembok begitu saja.
Baru sampai ke negeri sihir Clara terperanjat.. ternyata Styfen lagi- lagi tidur di kamar kakaknya..
Mendengar suara.. Styfen terbangun..
"Clara.. ngapain kamu di sini.. sana pulang.. aku tidak mengizinkanmu ada di sini.." Styfen masih marah.
"Ayolah.. kita teman.. bukan tapi sahabat.. " Clara tersenyum.
Sebenarnya Clara menjaga pembicaraannya karena takut terdengar oleh Rey.
"Apa maksudmu.. ? tadi kamu berbohong tentang memiliki tunangan.. sekarang kamu bicara sembarangan? " Styfen semakin marah.
Styfen sungguh tidak mengerti dengan sikap Clara. Jelas- jelas mereka ini sepasang kekasih yang sedang bertengkar.. tetapi dengan mudahnya Clara bilang mereka teman.. bahkan sahabat..
"Pokoknya kita sahabat mulai sekarang.. aku pulang.. da..." Clara langsung merangkak pulang.
Belum sempat Clara memasuki tembok, Styfen mendekat dan menariknya.. ia mengendong Clara, Clara didudukkan di atas ranjang.
"Aku tidak mengizinkanmu pulang.. kamu kenapa? kamu sungguh ingin aku hidup dengan Joya.. dan melupakan cintaku terhadapmu?" Styfen menggenggam tangan Clara.
__ADS_1
" Iya.. hubungan kita sudah berakhir.. kamu harus menjalani hidupmu dengan baik mulai sekarang.." Clara melepas genggaman Styfen.
"Tapi aku tidak bisa Clay.. aku harus bagaimana? tidakkah kamu memahamiku?" Styfen melemas ia duduk di bawah ranjang.. dan bersandar di tepian ranjang.
"Maaf kan aku.. tapi hubungan kita sungguh tidak mungkin Styf.. Sekarang hatiku milik orang lain" Clara menunduk melihat cincin di jarinya.
"Baik.. jika itu maumu kita akhiri ini.. sekarang kita hanya teman.. tapi aku akan menjadikanmu selirku.. " Styfen berdiri dan mengeluarkan tongkat sihirnya.
"Selir? Apa yang mau kamu lakukan Styf..? " Clara melihat Styfen.
Styfen merubah baju dan penampilan Clara lalu berusaha menggendongnya.. Styfen ingin pergi membawa Clara keluar dari kamar itu.
"Styf.. aku peringatkan kamu ya.. jangan berani mendekat.." Clara mengeluarkan tongkat sihirnya.
"Hem..😏 kamu ingin berduel sihir denganku..? coba saja Clay.. aku akan menang karena aku seorang raja sekarang.." Styfen mundur 2 langkah.
"Tunggu.. memangnya ada pengaruhnya?" Clara penasaran.
" Tentu saja.. mahkota yang aku pakai ini bukan hanya aksesoris Clay.. ada kekuatan berlipat ganda didalamnya.." Styfen tersenyum.
"Baiklah ayo kita mulai.." Clara bersiap dan mengeluarkan sihirnya.
Tiba- tiba petir menyambar..
"Berhenti.." Rey berkata dengan lantang.
Clara yang melontarkan sebuah pisau buah berhasil di hindari oleh Styfen.. sementara Clara mendapat sebuah mahkota cantik yang tertancap di rambutnya. Clara tak sempat menghindar.. tetapi ternyata Styfen tidak bersungguh- sungguh menyerang Clara.
Clara dan Styfen terperanjat.. Rey berdiri tegak di depan pintu rahasia.. ia berada di negeri sihir.
"Opa.. kkkamu.. masuk?" Clara yang duduk di atas ranjang tercengang memandang Rey.
Clara tidak percaya Rey dapat masuk ke negeri sihir .. Styfen juga menjadi bingung..
"Kamu siapa? bagaimana kamu dapat masuk kemari?" Styfen mendekati Rey.
"Hem.. 😏.. Perkenalkan Rey tunangan Clara.." Rey mengajukan tangannya, hendak mengajak Styfen berjabat tangan.
"Styfen.. Raja negeri sihir" Styfen menjabat tangan Rey..
Rey dan Styfen bertatapan.. terpancar aura perselisihan yang kental antara mereka berdua.
__ADS_1
Rey melihat Styfen dengan seksama.. dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Begitu juga dengan Styfen.. ia mengamati Rey dengan sangat teliti.
Menurut Rey .. Styfen memang terlihat luar biasa, tampan, berwibawa, penuh aura bintang.. hal wajar yang dimiliki seorang raja.
Styfen berfikir sebaliknya.. Rey nampak biasa saja.. ia memakai pakaian aneh.. hanya kaus abu- abu tanpa kerah dan celana pendek.. wajahnya tampan.. tetapi memiliki muka yang serius.. sungguh sangat nampak dewasa.
Melihat Rey dan Styfen berjabatan cukup lama Clara mencoba mencairkan suasana..
"Opa.. bagaimana opa bisa masuk?" Clara mengalihkan pandangan Rey.
Rey yang melihat Clara duduk sambil mengenakan gaun melepas tangannya dan berjalan melewati Styfen begitu saja... ia mendekati Clara dan duduk disebelahnya..
"Kamu baik- baik saja?" Rey memegang tangan Clara.
"Opa jawab dulu pertannyaanku.." Clara melepaskan tangannya dari genggaman Rey.
"Y lewat begitu saja.. sama seperti caramu masuk peri.. " Rey menjelaskan.
"He? apa yang opa lakukan sehingga bisa masuk?" Clara penasaran.
"Entahlah .. aku mendengar kalian bertengkar dan akan beradu ilmu.. aku hanya menghawatirkan mu .. lalu melompat masuk begitu saja .. sampai di sini.." Rey menjelaskan lagi.
" Opa merasakan sesuatu ketika masuk?" Clara penasaran apakah yang Clara rasakan di rasakan juga oleh Rey.
" Em.. rasa dingin yang sangat .. menusuk hingga ke tulang.. dan kelembutan yang luar biasa.. tidak bisa di jelaskan dengan kata- kata pokoknya.." Rey bingung menjelaskan.
"Sepertinya kalian ini memang sepasang kekasih yang sudah di takdirkan untuk bersama.. bahkan yang satunya dapat menyusul masuk kemari.. " Styfen mendekat.
" Itu sudah jelas.. maka jauhilah belahan jiwaku mulai dari sekarang, jika tidak aku tidak akan segan melukaimu.. paham..?" Rey mengancam Styfen.
"😆 Sudah seperti ini aku bisa apa.. ? Tetapi ketahuilah .. hatiku terikat oleh tunanganmu.. untuk saat ini, sebagai raja yang baik aku akan mundur.." Styfen tertawa menyembunyikan kekecewaan yang sangat dalam...
" Kenapa kamu tertawa.. ?" Rey bertanya kepada Styfen karena tidak mengerti maksud dari tertawanya itu.
"Karena kamu ada di sini aku akan menjamumu sebagai tamuku.. aku tunggu kalian di taman.. Clay kamu tau apa yang harus di lakukan bukan?" Styfen melihat Clara dan melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Rey.
" Sekarang aku tau kenapa kamu sering kemari peri.. dia tidak buruk.. sangat tampan.. " Rey menyindir Clara.
"Apa maksud opa? hati dan jiwaku ada padamu..." Clara memalingkan wajahnya karena malu.
Bersambung...
__ADS_1