
"Apa sebenarnya maksud kakek..?" Clara menjadi sedikit cemas.
"Dasar bodoh.. berhati- hatilah dalam mengambil keputusan.. nasib anak itu ada di tanganmu.. " kakek menunjuk ke arah Rey.
"Ingin ikut mati dengan Styfen.. lalu aku harus menyihir 1 pohon lagi agar dapat ia tinggali? " kakek melirik ke Rey.
"Dan kamu .. hemm.. Yang Mulia.. bersikaplah bijak.." kakek memberi hormat dan menghilang begitu saja.
Styfen langsung berubah fikiran.. meski berat untuknya.. ia tidak ingin Clara bersedih..
Styfen meminta maaf kepada Clara dan kemudian melangkah pergi ke aula tempat diadakannya pernikahan kerajaan.
"Hadirlah bersama Rey.. aku pergi duluan.." Styfen berpamitan kepada Clara.
Clara mengangguk dan keluar dari kamar menuju ke taman..
"Opa.." Clara berlari dan melompat memeluk Rey.
"Ada apa ini? " Rey penasaran..
"Maaf opa.. karena aku hampir saja kamu selamanya tinggal di negeri sihir.." Clara memandang Rey dengan mata yang berkaca- kaca.
"Hem.. " Rey bingung dan menatap Clara tajam.
"Ayo.. acaranya akan segera dimulai.." Clara mengandeng Rey dan menyeretnya ke aula.
Rey dan Clara duduk di bangku khusus keluarga kerajaan .. tempat itu memang sudah disiapkan untuk mereka berdua.
Putri Joya yang tampil begitu cantik dengan mahkota, gaun berwarna putih dan sepatu kaca, mengandeng Styfen yang tampil sempurna dengan pakaian serba putih memasuki aula.
Mereka pasangan yang nampak serasi..
Acara demi acara berjalan dan sampailah pada janji pernikahan.. Styfen mengucap janjinya, tapi ia tak kuasa untuk memandang Clara.. Styfen mengucapkan janjinya dengan menghadap ke Clara bukan putri Joya.
Rey menyadari hal itu.. Rey memandang Clara yang berada di sampingnya begitu melihat Styfen memandangi Clara.
Clara yang menatap mata Styfen terkejut.. kemudian ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum, seakan memberi restu kepada Styfen dan Joya.
Ternyata Putri Joya juga menyadari hal itu.. ia menundukkan kepalanya.. ketika gilirannya mengucap janji pernikahan, ia tidak berani memandang Styfen . Ia mengucapkan janjinya dengan memandang kaki Styfen.
Styfen menyadari jika ia melakukan kesalahan..
"Maaf Joya.. jadilah teman hidupku.. sekarang dan sampai aku tiada.." Styfen menyematkan cincin di jari Putri Joya, ia memandang matanya.
Putri Joya tersentuh dengan ucapan Styfen.. ia pun mengangguk dan menyematkan cincin juga di jari Styfen..
__ADS_1
Akhirnya acara pernikahan pun selesai.. seluruh keluarga dan tamu undangan berpindah ke tempat hidangan di sajikan.
Setelah raja dan ratu negeri sihir mempersilahkan tamu dan seluruh kerabat untuk berpindah tempat.. Styfen dan Joya sengaja tinggal di aula..
Mereka menyempatkan diri untuk menemui Clara dan Rey.
Clara dan Rey mendekati kedua pengantin baru itu.
"Selamat ya.. semoga kalian hidup bahagia dan banyak anak.." Clara tersenyum dengan santainya ia mengulurkan tangan.
Rey melirik Clara tajam.. dan melempar senyum kepada Styfen dan Joya.
Styfen juga hanya menatap Clara.. ia bingung bagaimana bisa Clara bisa bertingkah begitu biasa.
"Amin.. terimakasih Clay.. " Putri Joya yang ingin mencairkan suasana menjabat tangan Clara.
Clara yang mulai menyadari jika tingkahnya tidak natural pun akhirnya hanya tersenyum saja.. sambil melihat kepada Rey dan Styfen.
"Seandainya kalian dapat datang ke dunia kami.. kami akan sangat senang jika kalian dapat hadir di acara pernikahan kami.. " Rey berbasa- basi.
"Hem.. iya tentu kami juga akan sangat senang.. tapi sayangnya itu tidak terjadi.. " Styfen menunduk.
"Ayolah.. aku akan membawa foto pernikahan kami.. akan aku lihat kan kepada kalian nanti.." Clara menepuk pundak Styfen.
"Itu tidak perlu Clay.. cukup hiduplah dengan bahagia.. aku juga akan melakukannya iya kan Joy..? " Styfen melihat ke arah Putri Joya.
Setelah beberapa saat mereka mengobrol.. Putri Joya Menganti pakaiannya dengan gaun yang lebih simpel, ia mengunakan tongkat sihir.. dan Styfen mengganti pakaiannya dengan menjentikkan jarinya.
Setelah siap mereka berempat pergi untuk menyantap hidangan yang telah di sediakan.
Mereka duduk di meja yang sama .. bercakap, bercanda tawa bersama.. untuk sesaat mereka melupakan betapa rumitnya ikatan hubungan di antara mereka.
"Aku rasa kami harus pamit sekarang.. sekali lagi selamat untuk kalian berdua.." Rey mengulurkan tangannya.
"Iya.. terima kasih Rey.. Tetap sering- seringlah berkunjung.. jangan sungkan.." Styfen menjabat tangan Rey.
Clara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Rey dan Clara kemudian pergi kembali ke dunia mereka.. Rey dan Clara berjalan perlahan menuju kamar Putri Laura.
Ketika sampai di depan pintu.. lagi- lagi Clara mendengar suara Styfen dari batinnya.
"Sampai jumpa lagi Clay.. jangan pernah lupakan aku.. Hatiku milikmu selamanya.. muacchh" Styfen bahkan memberikan kecupan.
Clara langsung melihat Rey yang berada di depannya.. Rey memandang Clara.. tanpa tau apa yang terjadi Rey menarik tangan Clara dan membawanya pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah.. Rey menutup pintu rahasia dan kemudian berjalan menelusuri lorong bersama Clara.
Clara diam saja .. ia terus berjalan di samping Rey.
"Apa terjadi sesuatu? kamu sedikit aneh Clay.." Styfen melihat Clara.
"Apa maksud opa.. aku baik- baik saja kok.." Clara melihat Rey sambil menyibakkan poninya.. dan kembali melihat ke arah depan.
Rey terus melihat Clara sambil terus berjalan.
"Opa sampai kapan kamu akan melihatku.. nanti jatuh.." Clara melihat ke Rey.
"Kamu sungguh baik- baik saja? baru saja orang yang kamu suka menikah dihadapan mu.." Rey melihat ke depan sambil sedikit tersenyum.. ia sengaja ingin menggoda Clara.
" Apa maksud opa.. ? menjengkelkan.. " Clara melangkah lebih cepat dan meninggalkan Rey.
"Heh.. peri.. jangan marah dong.. peri.." Rey menyusul Clara.
"Apa ? kalau opa mau bercanda g usah ngomong sama aku.. aku mau minum jus.. " Clara masuk ke dapur menemui mbak Ani.
"emm.. iya bener minum jus biar adem.. " Rey tersenyum sambil melirik Clara.
" 😏" Clara tau apa maksud Rey.. ia hanya memandang sinis tunangannya itu.
"Mas Rey mau juga.. ?" Mbak Ani yang melihat tingkah mereka berdua, hanya tersenyum.
"Iya mbk.. jus jeruk ya Mbk.. biar g panas.." lagi- lagi Rey melirik Clara.
"Aku jus alpukat aja mbk.. biar kenyang.." Clara memanyunkan bibirnya.
"Iya- iya nanti mbk buatkan.. sana non sama aden tunggu di ruang tamu atau meja makan saja dulu y.." mbk Ani mengambil jeruk dan alpukat.
Clara pergi meninggalkan dapur dan pergi melihat televisi di ruang keluarga..
"Kring- kring- kring.." Tiba- tiba telfon rumah berbunyi.
Rey yang baru saja ingin duduk di sebelah Clara tidak jadi duduk dan pergi mengangkat telfon itu ..
Ternyata itu dari papa Clara.. ia ingin berbicara dengan Clara.. ia sudah menghubungi handphone Clara tetapi tidak ada jawaban.
Rey pun memanggil Clara..
Clara mendekat dan mengambil telfon itu dari Rey..
Clara bercakap cukup lama dengan papanya di telfon.. Clara diminta untuk menerima dan mengecek sampel undangan yang telah jadi..
__ADS_1
Bersambung..