
Hubungan Rey dan Clara akhirnya sampai di tahap akhir.. hari pernikahan tinggal 1 bulan lagi..
Rey dan Clara masih saja sibuk dengan banyak hal.
Rey mengurus masalah pekerjaan hingga sering harus bolak - balik terbang ke luar negeri.
Sementara Clara sibuk dengan persiapan wisudanya.
Hari wisuda dan pernikahannya hanya berselang dua hari.
"Opa.. " Clara memangil Rey yang sedang duduk di taman sambil meminum kopi.
Rey diam saja ia melihat Clara dari tempatnya dan memberi kode dengan kepalanya yang mengangkat.. mengisyaratkan sebuah pertanyaan. Kenapa Clara memangilnya..
Clara menunjuk ke lorong.. ia bermaksud mengajak Rey pergi ke negeri sihir karena hari itu adalah hari Sabtu.. mereka memiliki banyak waktu senggang untuk berjalan- jalan dan bermain sihir.
Mengerti dengan maksud Clara.. Rey menghabiskan kopi Moca Cino nya dan kemudian pergi menghampiri Clara.
"Ayo.. lagian kita juga uda lama g kesana.. mungkin Styfen juga lagi sibuk persiapan pernikahan jadi kita bisa bantu dia.. " Rey mendahului Clara berjalan menuju lorong.
"Opa.. tunggu.." Clara mengejar di belakangnya.
Clara membuka pintu rahasia dan mereka berdua masuk ke negeri sihir bersama. Ketika masuk Rey mengandeng tangan Clara.
Sesampainya di negeri sihir Clara dan Rey mengeluarkan tongkat mereka dan kemudian merubah penampilan mereka.
"Ini kok kayak sepi banget pada kemana ya opa...?"Clara penasaran melihat di istana tidak ada seorangpun yang terlihat.
Clara dan Rey pun akhirnya pergi berjalan- jalan ke taman.. dan kemudian ke hutan.. tak di sangka mereka berada di pohon ajaib.
"Eh.. opa jangan.. ga boleh kita kan uda punya tongkat sihir.. " Clara menarik tangan Rey, ia menghentikan Rey yang baru saja ingin masuk ke pohon ajaib.
"Ga apa- apa peri.. aku cuman pengen ngobrol aja sama kakek yang di dalem.." Rey tetap melangkah masuk.
Mengetahui ada orang yang datang kakek penjaga pohon pun berubah menjadi manusia..
"Sudah ku duga bukan orang negeri sihir yang datang.. ternyata benar.. kenapa kalian masuk kemari?" kakek duduk di sebuah akar pohon yang muncul tiba- tiba dari bawah tanah.. ia menggunakan tongkatnya untuk memunculkan akar itu.
"Maaf mengganggu kek.. kami ingin bertanya kenapa sepi sekali disini? " Rey memandang kakek itu.
__ADS_1
"Kalian datang di hari yang salah.. hari ini raja sedang di kurung.. Baginda tidak boleh pergi atau keluar dari kamarnya selama satu Minggu.. hari ini adalah hari terakhir" kakek menjelaskan.
"La kok gitu kenapa kek?" Clara penasaran.
"Besok hari pernikahan Baginda Raja dengan putri Joya.. kalian tidak tau? " kakek tersenyum.
Rey dan Clara terkejut mereka saling bertatapan.
"Em.. baiklah kek terimkasih banyak.. kakek sudah memberi tahu kami tentang hal ini.. kami cukup terkejut karena bingung dengan perbedaan waktu antara dunia kami dengan dunia kakek.." Rey tersenyum.
"Ini belum apa- apa nak.. dari 5 tahun menjadi 5 bulan, dari 5 bulan menjadi 3 bulan kemudian 1 bulan dan berakhir sama.. " kakek termenung.
"Maksud kakek..?" Rey bingung..
"Dunia kita dan dunia ini pada akhirnya akan berjalan sama.. di waktu yang sama.." kakek kembali berubah menjadi patung kayu.
Clara dan Rey semakin bingung.. merekapun memutuskan untuk pulang..
"Sebenarnya ada apa ini opa.. ? walaupun selisihnya 5 tahun.. harusnya sama dong masih kurang 1 bulan lagikan berati pernikahan mereka.. kenapa jadi besok..? " Clara menggerutu di sepanjang lorong rumahnya.
"Entahlah peri.. setiap dunia memiliki rahasia masing- masing.." Rey mengelus rambutnya.
"Hem.. tapi tetep bingung aku jadinya opa.." Clara termenung.
Rey dan Clara duduk di taman mereka berada di bawah pohon rindang.
"Clay.. " Rey melihat Clara yang duduk di sampingnya.
"Kenapa opa manggilnya gitu? opa sakit? " Clara menoleh dan memegang kening Rey.
"Enggak peri.. aku boleh nanya sesuatu g?" Rey memegang tangan Clara dan menggenggamnya.
"Hem.. ? nanya ya tinggal nanya aja opa.. kayak sama siapa.. jadi aneh opa ini.." Clara menarik tangannya lalu meminum teh yang ada di depannya.
Clara menoleh dan melihat Rey lagi.
"Tanya apa sih opa?" Melihat Rey cukup serius Clara menjadi sedikit menjaga sikap.
"Tinggal satu bulan peri.. kita bakalan jadi suami istri.. tapi aku takut.. jangan - jangan ntar kita kayak kakak adik gimana? " Rey memandang Clara.
__ADS_1
"Ayolah opa.. kamu tidak akan memperlakukanku seperti adikmu.. kamu menghawatirkan hal yang tidak penting.." Clara mengambil biskuit.. dengan santainya ia makan di sebelah Rey.
"Aku tidak kawatir tentang diriku peri.. tapi kamu..!" Rey sedikit memelototi Clara.
Clara yang bingung memandangi mata Rey tanpa berkata- kata.
"Tidak penting katamu.. ? tu lihat dirimu sekarang.. kamu seperti adik yang sedang di marahi kakaknya.. " Rey berpaling dan mengambil biskuit juga.
"Sebenernya maksud opa tu gimana sih.. aku g ngerti?" Clara semakin bingung.
Rey langsung melihat tajam mata Clara .. ia memegangi leher Clara dan ia dekatkan kepadanya.. Rey mencium bibir Clara secara tiba- tiba...
"Opa.. ! " Clara yang kaget, langsung menjauhkan dirinya dari Rey.
"Opa ini tempat terbuka.. ga bener gitu opa.." Clara melihat kekanan dan kekiri.. ia sangat gugup.
"Ini yang aku takuti peri.. kamu tak pernah bertingkah romantis kepadaku.. " Rey meminum tehnya.
"Apa maksud opa?.. jadi opa pengennya aku gimana?" Clara mulai sedikit marah.
"Ya yang romantis.. gitu aja nanya.." dengan santainya Rey memakan biskuit lagi.
Clara mendekatkan bibirnya ke bibir Rey.. Clara mencium Rey dengan sangat agresif. Clara memegang erat kepala Rey dengan tangan kirinya.. sementara tangan kanannya memegang pipi Rey.
"Gitu maksud opa? Kalo iya.. itu namanya nafsu bukan romantis.." Clara menjauhkan dirinya dari Rey.. dan kemudian pergi masuk ke dalam rumah.
Rey yang kaget karena tidak menduga Clara akan melakukan hal itu, hanya terdiam.. ia memandangi Clara yang berjalan pergi meninggalkannya.. nafasnya terengah- engah seperti habis lari maraton.. dan jantungnya berdegup sangat kencang.
Rey melihat ke kanan dan ke kiri setelah merasa sedikit tenang.. ia pun akhirnya menyusul Clara.
Rey mencoba membuka pintu kamar Clara tetapi tidak bisa.. pintunya di kunci oleh Clara dari dalam.
Rey mengetuk dan memangil Clara beberapa kali.. tapi Clara diam saja.
Karena putus asa akhirnya Rey pergi ke kamarnya dan membuka hp.. ia mencoba menelepon Clara.. lagi- lagi Clara mengabaikannya.
Rey pun memutuskan untuk mengajak Clara makan malam di luar.. ia memesan meja di sebuah rumah makan kesukaan Clara, lalu mengirimi Clara pesan.
Clara membuka pesan itu tapi sengaja tidak membalasnya.. ia masih sebal kepada Rey.. disamping itu, Clara sendiri ternyata juga merasa malu.. ternyata ia dapat melakukan hal berani seperti tadi.
__ADS_1
Bersambung...