
Rey terus saja menggunakan sihirnya.. ia membuat berbagai macam benda.. mulai dari jam tangan, sapu tangan, dasi, merubah- rubah pakaian dan lain sebagainya.
Clara dan putri Joya hanya duduk di batu dekat dengan pohon rindang. Mereka berdua memandangi Rey dari tempat itu.
Styfen yang masuk ke dalam tidak mendapatkan jawaban apapun dari kakek itu.. ia hanya di beritahu kalau hal itu tidak membahayakan bagi negeri sihir. Kakek itu juga tidak bicara banyak.. setelah mengatakan hal itu ia langsung kembali berubah menjadi patung.
Styfen langsung kembali keluar dan kembali bergabung dengan Clara, Rey dan putri Joya.
"Bagaimana? apa ada masalah?" Rey sedikit menghawatirkan Styfen.
"Tidak.. kakek bilang tidak membahayakan negeri sihir.. sudahlah.. ayo kamu mau kemana lagi biar aku temani.." Styfen tersenyum.
"Wah.. aku terkesan.. sikapmu berubah begitu cepat.. " Rey melihat tajam Styfen.
" Aku hanya bersikap selayaknya seorang raja.." Styfen memalingkan pandangannya.
"Ayo kita pergi ke makam raja saja.. maksudku makam papanya Styf.. aku ingin menyapa beliau.. " Clara terbang mendekati Styfen dan Rey.
"Boleh.. ayo aku antar.. " Styfen menyihir sebuah sayap untuknya.
Rey dan putri Joya juga membuat sayap untuk mereka.
Akhirnya mereka ber4 terbang bersama menuju makam raja.
"Tunggu aku ingin menyihir buket bunga untuk ku bawa opa.. " Clara yang terbang di sebelah Rey menyihir seikat bunga mawar merah yang cantik.
"Ini tempatnya.. yang itu bunga warna biru tua emas itu milik Baginda raja.." Styfen turun dan menghilangkan sayapnya sambil menunjuk ke arah sebuah bunga.
Mereka sampai di suatu tempat yang penuh dengan bunga aneh dengan berbagai macam bentuk dan warna..
Pintu masuk tempat itu di penuhi dedaunan dan bunga mawar merah yang merekah.
"Jadi ini makam raja.. makam di sini aneh.. tidak ada nama dan tanda.." Clara mengerutu.
"Tempat ini pemakaman Kerajaan ada banyak makam di sini.. dan lihat ini.. ada nama di tangkai bunganya.. lihatlah.." Styfen mendekati makam ayahnya dan menunjuk sebuah nama.
Rey melihat bunga di sebelah ayah Styfen.. dan memang terdapat nama di sana.
"Jadi bunga- bunga ini makam dari raja- raja terdahulu?" Rey penasaran.
__ADS_1
" Tidak.. bukan hanya raja.. ratu, putri, pangeran.. semua yang merupakan kerabat raja di makamkan di sini.." Styfen menjelaskan.
" Bunga- bunga ini berbeda jenis dan bentuk juga warnanya karena mereka tumbuh sesuai dengan kepribadian orang yang dikuburkan.." putri Joya menambahkan.
"Wah.. hebat.. lalu bagaimana jika bunganya layu atau mati.. bukankah akan sulit mengenali letak makam seseorang.." Clara bingung.
" 😊 Bunga ini abadi.. mereka tidak layu ataupun mati.. Keturunan raja memiliki darah yang istimewa" Putri Joya menjelaskan.
" Tunggu apa itu.. kenapa itu berbeda? bukankah itu.. batu.." Clara melihat sebuah batu di tengah makam.
" Itu makam leluhurku.. kakek ku ada di sampingnya.. bunga berwarna hijau tua itu miliknya.. batu itu milik nenekku ada namanya juga tertera di sana.. " Styfen menghela nafas.
"Entah kenapa hanya makamnya yang tak tumbuh bunga, ayah tak memberitahu sebabnya .. ayahku menyihir sebuah batu dan mengukir nama nenek di sana.." Styfen melihat ke langit.
"Apa mungkin dia bukan keturunan kerajaan? maksudku dia bukan dari kalangan bangsawan.. " Rey menyahut.
"Mungkin saja.. aku juga sedang menyelidiki tentang hal itu.. baiklah cepat ucapkan salammu kepada ayah Clay .. aku dan Joya akan menunggu di paviliun.." Styfen mengeluarkan tongkatnya dan kembali membuat sayap untuknya.
"Tapi tunggu mau kamu apakan bunga itu? " Styfen menunjuk buket bunga yang di bawa Clara.
"Untuk papamu.. " Clara meletakkan buket bunga itu di bawah bunga ayah Styfen.
" Hem.. pelit kamu.. " Clara kembali mengambil bunga itu.
Belum sempat di hilangkan oleh Clara.. Rey mengambil buket bunga itu. Ia menyihirnya menjadi hiasan rambut untuk di pakaikan kepada Clara.
Melihat Rey memasangkan hiasan rambut kepada Clara.. Styfen terbang pergi begitu saja. Putri Joya mengikuti Styfen di belakangnya.. putri Joya tahu jika tunangannya itu sedang cemburu.
Clara mengucap salam kepada ayah Styfen dan kemudian pergi mendekati makam batu itu.
"Heh peri jangan main- main di makam orang.. " Rey mengikuti Clara.
"Aku tidak main opa.. aku hanya penasaran.. tidakkah kamu juga? " Clara meraba nama di atas batu itu.
" Ratu Anna.. " Clara melihat Rey setelah membaca nama yang tertera di atas batu itu.
"Pasti ada sebabnya kenapa makamnya tidak tumbuh bunga .. Ayo pulang peri.. kita sudah terlalu lama berada di sini.." Rey mengeluarkan tongkatnya dan menyihir sayap lagi untuknya.
Clara mengangguk.. dan mereka berdua pergi menemui Styfen dan Joya untuk berpamitan.
__ADS_1
"Styf.. putri Joya.. " Clara memanggil dari atas sambil terbang kesana kemari.
" Terima Kasih telah memperbolehkan kami berkeliling dan melihat- lihat.. aku rasa ini waktunya kami kembali.." Rey berpamitan.
"Iya kami pulang ya Styf.. putri.. sampai jumpa lagi..." Clara melambaikan tangan.
" Jangan bosan dengan wajah kami karena aku pasti akan sering datang bersama Clara.. " Rey tersenyum.
" Tentu saja.. kembalilah kapanpun kalian mau.." Styfen tersenyum.
Clara dan Rey terbang kembali ke kamar Putri Laura... Styfen dan Putri Joya melambaikan tangan mereka.
Sesampainya di kamar.. Clara menghilangkan sayapnya dan duduk di lantai.. ia merubah bajunya dan kemudian menyimpan tongkatnya lalu hendak merangkak masuk kembali ke rumahnya.
Styfen yang melihat Clara tersenyum.. lalu ia mengikuti cara Clara.. ia menghilangkan sayap, merubah bajunya kembali seperti semula dan menyimpan tongkatnya..
Clara yang baru ingin merangkak masuk di hentikan oleh Rey.. Rey memegang tangan Clara dan meletakkannya di belakang lehernya.. sehingga Clara merangkul Rey.. dan kemudian Rey menggendong Clara melewati pintu rahasia itu.
Sesampainya di rumah Rey meletakkan Clara kembali di kursi roda dan mendorongnya menelusuri lorong.
" Hari ini sungguh menyenangkan peri.. pantas saja kamu betah sekali jika sudah berada di sana.." Rey sangat bahagia..
Rey terus bicara sambil mendorong Clara.. sementara Clara diam saja sambil senyam- senyum.
" Besok kesana lagi ya peri.. " Rey sangat bersemangat.
"iya opa.." Clara tersenyum lagi.
Sesampainya di kamar Rey membantu Clara berpindah ke ranjang.. dan ia ikut duduk di sebelah Clara.
"Wah bagus ya peri.. sekarang kita kayak punya tato couple.." Rey melihat tato di pergelangan tangannya.
"Iya opa.. sama persis.. kamu juga bisa menyimpan hal lain opa.." Clara mendekatkan tangannya.
"Iyakan? apa saja? " Rey penasaran.
"He'em... semua bisa .. apa saja.." Clara mengangkat kedua tangannya.
"Tapi akan jelek jika ada lebih dari 1 gambar peri.. aku pikir dulu benda apa yang akan aku simpan agar terlihat bagus peri.. 😁" Rey tersenyum lebar sambil merebahkan badannya..
__ADS_1
Bersambung.....