
"Bukanya kamu sedang sebal ? kenapa membantuku?" Rey bertanya sesampainya mereka di kamar Putri Laura.
"Aku khawatir opa" Clara duduk di sofa.
"em.. kamu takut aku mati kalo jatuh y.." Rey menggoda dan duduk di samping Clara.
"Siapa bilang.. ?" Clara balik menggoda Rey.. dia sedikit tersenyum.
" Teganya kamu peri.. kamu sungguh ingin berpaling?" Rey memegang tangan Clara.
"Apa sih opa.. aku tu kawatir.. walaupun Styfen lebih muda dari opa.. tapi dia seorang raja sekarang.." Clara melepas tangan Rey dan menggeser tubuhnya sehingga berhadapan dengan Rey.
"La.. emang kenapa kalo dia raja? aku juga bisa kok main sihir- sihiran.. malah ga pake mantra segala, tinggal sebut aja" Rey mengeluh.
"Raja negeri sihir memiliki kemampuan yang luar biasa opa.." Clara menggeser badannya lagi menghadap ke tempat semula, sambil mendekapkan kedua tangannya.
"Masak sih peri..?" Rey tidak percaya.
"Iya opa.. apalagi tadi dia terlihat sangat marah.. untung opa baik- baik saja.." Clara tersenyum.
" Aku jadi penasaran ingin berkelahi dengannya.. akan aku cari dia sekarang" Rey berdiri dan hendak pergi meninggalkan kamar Putri Laura.
"Heh.. opa ini kenapa sih.. kayak anak kecil aja.. berantem segala.. ayo pulang aja" Clara menyeret lengan Rey.
"Ngak mau peri.. lepasin.. " Rey melepas tangan Clara yang memeganginya.
"Jadi ga mau pulang? ya uda aku pulang sendiri aja.." Clara melangkah pergi ke dalam pintu.
Rey yang melihat Clara pergi akhirnya mengikutinya.
Ketika Rey dan Clara baru saja masuk ke pintu rahasia. Styfen yang mengejar mereka sampai di kamar Putri Laura.
Rey yang masuk terakhir ke dalam pintu.. kembali masuk ke kamar Putri Laura, ia menyadari ada seseorang yang datang.
Sementara Clara terus berjalan hingga sampai ke kamarnya. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia sangat yakin kalo Rey pasti mengikutinya pulang.
Saat Clara ingin menutup pintu kamar. Ia tersadar jika Rey tidak berada di belakangnya.
Clarapun mulai panik dan segera berlari ke kamar Rey.
Clara membuka pintu kamar Rey dan mencari Rey kesana- kemari. Di toilet, balkon, dan ruang kerjanya.
__ADS_1
Sementara itu di negeri sihir, Rey dan Styfen saling berhadapan.. Styfen menatap sangat tajam bagaikan pisau daging yang baru diasah.. dan Rey menatap biasa saja dengan tatapan meremehkan lawan.
"Aku pikir kamu tidak mengejar kami?" Rey berkata dengan santainya.
"Dengar y.. aku tidak pernah main- main dengan sihir.. begitu juga dengan cintaku.. Ayo kita lihat siapa yang lebih pantas untuk Clara" Styfen menantang Rey.
"Ayo.. siapa takut.." Rey terbang keluar mengikuti Styfen yang terbang terlebih dahulu.
Mereka terbang ke pinggir hutan. Styfen sengaja mencari tempat yang aman bagi warga desa dan tentu saja yang terletak jauh dari orang- orang, perkelahian ini tidak boleh ada seorangpun yang tahu.
Rey menyerang Styfen dengan sihir semburan api.. dan Styfen menepisnya dengan semburan es.
Rey menyerang dengan air bah.. Styfen menepisnya dengan gundukan tanah.
Rey menyerang dengan ribuan panah.. Styfen terbang ke langit menghindarinya. Panah- panah itu berhamburan jatuh ke tanah karena saling bertabrakan.
Styfen terbang turun dengan sangat cepat .. tiba- tiba ia berada tepat di depan Rey.
Styfen meninju wajah Rey begitu saja.
"Hemm.. ternyata kamu tidak ingin mengunakan sihir? baik" Rey yang terpelanting ke kananpun akhirnya berdiri.
Dia mendekati Styfen dan memegang bajunya.. lalu Rey hendak menjatuhkan tinjunya di muka Styfen.
Clara sangat terkejut, untung saja dia dapat terbang secepat kilat dan berhasil menghentikan Rey.
"Lepas opa.. " Clara berusaha melepas tangan Rey yang menggenggam pakaian Styfen begitu kuat.
Rey pun akhirnya menyerah.. ia melepas tangannya yang mencengkram Styfen.
"Kalian ini sebenernya ngapain sih? Uda pada gede gini.. masih berantem kayak anak kecil.." Clara membuat dirinya berada di antara Rey dan Styfen.
"Kamu sungguh tidak tahu..? itu karena kamu Clay... " Styfen berbisik di telinga Clara .
Clara memandang wajah Styfen.. orang di hadapannya ini sungguh - sungguh menjadi orang yang berbeda.
Rey seketika melewati Clara .. ia memegang pundak Styfen dan menjatuhkan tinjunya di muka Styfen.
"Aku sudah bilang kepadamu.. jauhi dia mulai dari sekarang.." Rey melepas tangannya dan mendorong Styfen hingga terjatuh.
"Opa.. aduh kalian ini" Clara mendekati Styfen dan membantunya berdiri...
__ADS_1
Rey menggengam tangan Clara dan menariknya menjauh dari Styfen.
"Lapaskan!" Clara menghentakkan tangannya.
"Aku tidak ingin ini terjadi.. kalian harus berteman.. jika seperti ini aku tidak mau bicara dengan kalian lagi.." Clara menatap kedua pria itu.
"Kamu.. kamu ini raja.. kenapa harus meladeni orang seperti dia ini.. " Clara menunjuk ke Rey.
"Dan kamu.. kamu ini masuk kesini dengan keajaiban kenapa malah cari musuh?" Clara mendekat dan memandang wajah Rey.
"Kita ini dari dua dunia yang berbeda seratus sembilan puluh derajat.. beda banget.. kenapa ga temenan aja? " Clara melangkah ke tengah.
Styfen dan Rey hanya diam saja sambil melihat Clara yang berjalan mondar- mandir di tengah- tengah mereka.
"Jika sebabnya menang aku.. maka aku tidak akan kembali lagi.. " Clara duduk di sebuah batu yang ada di depannya.
"Aku juga tidak akan menikah dengan opa.. biar aku hidup sendiri saja selamanya.." Clara menunduk.
"Heh.. apa yang kamu katakan.. tinggal 2 bulan lagi peri.. dan kamu mau batalin..? " Rey terkejut dengan pernyataan Clara.
"Pernikahanku juga di tetapkan 3 bulan lagi.." Styfen yang mendengar itu berjalan mendekati Clara.. Tidak bisakah kamu menentukan pilihanmu sekarang? aku sungguh frustasi.. " mata Styfen berubah.. yang tadinya penuh dengan kemarahan menjadi penuh kesedihan.
Styfen berlutut di depan Clara.. satu kakinya ditekuk hingga menyentuh tanah.
Rey diam saja di tempatnya.. ia juga ingin tau siapa sebenarnya yang akan di pilih Clara..
"Baik akan aku jawab.. tapi baikan dulu.." Clara berdiri lagi dan melangkah menjauhi Styfen .
"Lihat muka kalian.. ada ungu- ungunya.. jelek tau.." Clara menuding luka di pipi mereka.
Styfen duduk di batu yang tadi di duduki oleh Clara lalu menjentikkan jarinya.. clinkkk.. seketika wajahnya jadi tampan berseri lagi..
Rey juga mencoba menjentikkan jarinya.. tapi tak terjadi perubahan apapun pada wajahnya . . ternyata ia tidak dapat mengunakan sihir tanpa tongkatnya.
Rey pun akhirnya menggunakan tongkat sihirnya dan berubahlah wajahnya seperti semula.
"Nah gitu kan enak di pandang.. di negeri sihir ga ada yang mustahil ya.. sakit hilang seketika" Clara tersenyum.
"Hemm.. enak di pangang. ? tetep aja terasa sakit..." Rey memegang pipinya.
Styfen berjalan mendekati Rey dan menjentikkan jarinya.. rasa sakit yang dirasakan Rey hilang seketika.
__ADS_1
Bersambung...