
Karena Clara tidak membalas pesan Rey hingga malam tiba.. Rey menyuruh Rio mengurus restoran itu.
Clara tidak makan malam di hari itu.. begitu juga dengan Rey.. Rey menghawatirkan Clara.. ia berfikir kalau semua ini adalah kesalahannya.. menurutnya ia menjadi kekanak- kanakan dihari itu.
Rey terus berusaha membuat Clara berbicara kepadanya hingga jam 3 pagi..
Clara yang sudah tertidur sejak jam 9 malam tadi terbangun karena suara hpnya yang berdering..
Clara membuka hpnya, ternyata itu Rey.. dan tercatat ada 35 panggilan tidak terjawab dari Rey.
"Hallo.. opa.. tidurlah.. katanya mau ke negeri sihir pagi- pagi..?" Clara menguap.
"Maafkan aku peri.. jangan marah lagi ya.." Rey berbicara sangat lemas.
"Aku tidak marah.. Tidurlah opa.. " Clara menutup telponnya.
Rey berusaha tidur setelah itu tapi tidak bisa... hingga akhirnya pukul 4 pagi ia baru tertidur.
Alarm di hp Rey berbunyi.. Rey terperanjat mendengar bunyi hpnya itu.. ia meraba- raba hpnya.. tapi tak ketemu juga.. ternyata hpnya ada di lantai terjatuh karena Rey menyenggolnya.
Rey tak punya pilihan lain ia pun berdiri dan mengambil hpnya.. alarm itu di matikan dan ia duduk di ranjangnya sambil masih menutup mata.
Rey tak sadar mengletakkan dirinya lagi.. tertidur pulas lah ia kali ini.
Clara yang telah siap mengetuk pintu kamar Rey.. tapi tak terdengar suara.. akhirnya Clara membuka pintunya.. untung saja pintu itu tidak di kunci.. Clara masuk dan mendapati Rey masih tidur.. karena tidak tega kalau harus membangunkan Rey, Clara keluar perlahan dan menutup pintunya dengan hati- hati.
Clara pergi ke negeri sihir sendirian.
Sesampainya di kamar Putri Laura.. Clara langsung terperanjat ia hampir menabrak Styfen yang berdiri tepat di depan pintu rahasia.
"Akhirnya kamu datang juga Clay.. " Styfen menarik Clara dan membawanya pergi begitu saja.
"Dimana ini? o y ngomong- ngomong selamat y.. lihat dirimu.. kamu ganteng banget dengan pakaian ini.." Clara memegang hiasan baju yang menempel di pakean pernikahan Rey.
"Sekarang kita berada di kamarku Clay.." Styfen memandangi Clara yang sedang melihat ke sana- kemari.
"Heh.. ngapain kamu bawa aku kemari Styf.. kalau Putri Joya tau bisa runyam.. ayo keluar.." Clara mendorong pintu kamar.
Pintu itu tidak dapat di buka..
"Ada apa ini? " Clara menoleh ke Styfen.
__ADS_1
"Aku sudah bilang kalau ini kamarku Clay.. tanpa izinku tak ada seorangpun yang dapat masuk atau keluar .." Styfen lemas dan murung.
"Sebenarnya ada apa Styf..?" Clara mendekati Styfen.
"Maafkan aku Clay.. aku sungguh sudah berusaha.. " Styfen berlutut di depan Clara.. tubuhnya sangat lemas.. seakan ia sangat lelah dan putus asa.
"Katakan padaku.. masalah apa yang menjadikanmu seperti ini? Clara langsung berlutut juga di depan Styfen dan memegang pundaknya.
"Ini sungguh di luar kendaliku Clay.. aku mohon padamu jadilah istriku dan jangan menikah dengan Rey.." Styfen menggengam tangan Clara ia meneteskan air mata.
"Apa maksudmu.. ? bukannya kamu sendiri yang menyuruhku untuk hidup bahagia bersama Opa..? kenapa tiba- tiba berubah.." Clara melepas tangan Rey dan berdiri melihat ke luar jendela.
"Aku tak sanggup.. aku bisa mati karena merindukanmu Clay.." Styfen masih berada di tempatnya.. ia memandangi Clara dengan penuh harapan.
"Tapi ini tidak mungkin.. jika kita menikah.. aku akan melukai hati putri Joya dan juga opa.." Clara melihat Styfen dari tempatnya.
"Kalau begitu bunuh saja aku Clay.." Styfen menunduk kebawah.
"Tidak.. kamu tidak boleh seperti ini.. ini tidak benar.." Clara mendekati Styfen lagi dan menghapus air matanya.
"Ayo.. kita hadiri acara pernikahanmu.." Clara mencoba membuat Styfen berdiri.
"Tidak Clay .. jika kamu tidak mau membunuhku.. maka aku akan melakukannya sendiri.. "Styfen mendorong Clara dan menempelkan ujung tongkat sihir di lehernya.
Clara berusaha tegar.. ia mengusap air matanya dan mencoba mendekati Styfen..
"Baik aku akan melakukannya.. " Clara berjalan perlahan.
Clara mengeluarkan tongkat sihirnya dengan cepat.. dan mencoba melepaskan tongkat Styfen dari tangan Styfen.
Tapi Clara gagal melakukannya.. semenjak menjadi raja Styfen dapat membaca pergerakan seseorang.
"I love u Clay.." Styfen tersenyum.. dan kemudian mulai merapal mantra.
"Kita mati bersama saja.." Clara berlari dan memeluk Styfen.
Tiba- tiba sebuah kilat masuk melalui jendela.
Kakek penjaga pohon datang.. ia berhasil merebut tongkat Styfen tepat sebelum mantra itu melukai mereka berdua..
Clara yang memejamkan matanya mendongak ke atas, dan membuka matanya.. ia melihat kedua mata Rey yang sedang memandanginya.
__ADS_1
Clara menoleh melihat kakek yang berdiri di sebelah Styfen.
Clara mempererat pelukannya.. ia lega Styfen baik- baik saja.
"Terimakasih kakek.." Clara melepas pelukannya dan mendekati kakek.
"Bodoh!" kakek melewati Clara dan memukul kepala Rey dengan tongkatnya.
"Apa kamu ini bukan raja? bertingkah seperti anak kecil .." kakek memelototi Styfen.
"Sekarang dengarkan perkataanku.. kalian berdua harus sunguh- sungguh mendengarkan ini.." kakek duduk di sofa..
Clara dan Styfen mengikuti.. mereka duduk di depan kakek.
"Kalian tau siapa Anna?" kakek memandang Clara dan Styfen.
"Jika yang kakek maksud nenekku.. aku tentu tau.." Styfen bingung.
kakek menganguk- angukkan kepalanya.
"Anna membuat kesalahan dahulu.. dan aku tidak ingin ada yang mengalami hal sama sepertiku.." kakek menunduk ke bawah.
Clara dan Styfen diam saja.. mereka saling melihat satu sama lain karena bingung..
"Aku berasal dari dunia yang sama dengan Clara dan Rey.. cukup dengarkan dan jangan bertanya.." kakek mengode Styfen yang ingin berbicara.
"Anna dan aku adalah sepasang kekasih.. kami dapat masuk kemari karena Anna mengikutiku.. " kakek berdiri dan berjalan mendekati jendela.
"Kami bertemu dengan kakekmu Jonatan.. Anna memiliki perasaan kepadanya.. begitu juga dengan Jonatan.. perasaan itu tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu.. hanya saja aku tidak peka dan menganggap kedekatan mereka hanya sebatas teman saja" kakek memandang keluar jendela.
"Di hari pertunangan kami.. Anna tiba- tiba menghilang.. aku tau di mana ia lalu pergi mencarinya.. ketika sampai, aku mendapati ia telah menerima lamaran Jonatan..
Jonatan menyematkan sebuah cincin kepadanya..
tanpa menemuinya aku memutuskan kembali ke rumah.. tapi tak di sangka.. pintu ajaib itu menghilang.. aku berniat memberi tau Anna .. tapi ketika melihatnya tersenyum bahagia aku memilih tinggal di negeri sihir tanpa sepengetahuannya" kakek menoleh.
"Hati kami terikat.. jika satu memutuskan tinggal maka yang lain juga.." kakek memandangi Clara dan Styfen.
"Anna tak dapat pulang hari itu.. ia menagis beberapa hari dan kemudian membaik.. ia mulai terbiasa hidup di negeri sihir.. tapi ia tidak tau jika keputusannya juga mengikatku di tempat ini.." kakek menghela nafas.
Kakek kemudian menyihir sebuah kaca ajaib dengan tongkatnya.. nampak Rey sedang berjalan di taman kerajaan.
__ADS_1
Bersambung....