
Melihat Clara duduk di lantai Styfen bergegas mendekat..
"Aku tau kamu pasti juga mengalami kesulitan hingga tidak dapat datang.. maafkan aku.." Styfen memeluk Clara.
"Aduh.. " Clara menarik kakinya yang tak sengaja tertekan oleh Styfen.
Styfen melihat kaki Clara, Clara tidak memperbolehkannya tetapi Styfen terus memaksa.. akhirnya Styfen melihat kedua kaki Clara yang terbungkus perban..
"Aku benarkan.. kamu terluka.. apa kamu baik- baik saja..? apa yang terjadi padamu?" Styfen menggenggam tangan Clara.
"Aku baik- baik saja.. ini bukan apa- apa dibandingkan kesulitan yang kamu hadapi.." Clara menggenggam balik tangan Styfen.
"Tapi kamu.. ha.." belum selesai Styfen berbicara Clara mempererat genggamannya. Styfen memandang mata Clara.
"Kamu seorang raja sekarang.. dan kamu juga telah memiliki calon istri yang sangat cantik dan baik.. lupakanlah apa yang sudah terjadi di antara kita.. selama aku masih bisa datang kemari.. aku akan tetap datang.. kita akan tetap menjadi teman.. lakukanlah tugasmu dengan baik, semangatlah.. kamu pasti bisa.. " Clara mencoba meyakinkan Styfen..
"Tidak.. tidak bisa Clay.. hanya kamu yang aku cintai tidak ada orang lain di dalam hatiku.. " Styfen memegang pundak Clara.
"Kamu harus bisa .. aku telah memiliki seseorang juga di duniaku.. lakukanlah yang terbaik.. aku akan melakukan hal terbaik juga.." Clara melepaskan tangan Styfen.
"Apa maksudmu? " Styfen bingung tentang perkataan Clara.
Selama ini Clara tidak pernah memberi tau Styfen tentang Rey.
"Aku sudah memiliki seorang tunangan juga Styf.." Clara menjelaskan.
" Tidak mungkin... kamu membohongiku bukan?" Styfen berdiri dan melihat Clara.
"Aku tidak berbohong.. namanya Rey.. dia anak dari teman papaku.. kami di jodohkan sejak lama" Clara merangkak sedikit maju mendekati Styfen...
"Lalu kenapa baru bilang sekarang.. kamu jelas membohongiku.. aku tidak mau dengar lagi.." Styfen pergi begitu saja meninggalkan Clara.
Melihat Styfen yang marah dan pergi meninggalkannya .. Clara menjadi semakin bingung harus melakukan apa. Akhirnya Clara memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.. ia berfikir akan kembali ke negeri sihir jika sudah memiliki cara untuk memperbaiki keadaan yang semakin rumit karena ulahnya.
Clara merangkak masuk kembali kerumahnya..
__ADS_1
"Sudah puas kangen- kangennannya? " Rey berbicara dari samping pintu, Rey yang terkejut melihat Clara keluar dari tembok.. berusaha tenang.
Rey sudah menunggu setengah jam di depan pintu rahasia, ia duduk di kursi roda Clara sambil bermain game dengan hpnya.
"Aku memang baru pertama kali ini melihatmu benar- benar keluar dari sana.. tapi aku tidak begitu terkejut.. " Rey berdiri.
"Bener opa? tapi kayaknya opa terkesima.." Clara merangkak naik ke kursi.. berusaha untuk duduk.
"Enggak! siapa bilang..." Rey pergi meninggalkan Clara.
"La... mau kemana opa? bantuin? opa..opa.." Clara meminta bantuan Rey.
Rey yang merasa kesal pergi begitu saja.. Clara berusaha keras untuk duduk di kursi roda, ia berfikir ketika turun dan naik, lebih mudah ketika turun dari kursi itu ..
Setelah bersusah payah akhirnya Clara dapat duduk.. ia menghela nafas dan melihat ke lorong sambil menjalankan kursinya perlahan.. di sepanjang lorong.. ia bergumam kenapa hari itu menjadi hari yang tidak menyenangkan baginya.. Dua orang pria marah bersamaan kepadanya.
Clara akhirnya sampai di dapur.. karena merasa sangat lelah Clara memanggil Mbak Ani untuk membantunya.
Mbak Ani baru saja akan membawa Clara ke kamar, tapi tiba- tiba Rey datang dan mengambil alih pegangan kursi roda yang di pegang Mbak Ani. Tanpa berkata apapun Rey mendorong Clara hingga sampai ke kamarnya .
Ternyata Rey sangat menghawatirkan Clara. Clara pergi begitu saja tanpa pamit, hal itu membuat Rey sangat panik dan kesal.
"Opa maafkan aku.." Clara memegang erat tangan Rey yang baru saja ingin pergi.
Rey melihat Clara dan melepas genggamannya. Ia masih tidak mau bicara dengan Clara. Rey pergi begitu saja meninggalkan Clara di kamarnya.
Clara yang duduk di ranjang berdiam diri.. ia merasa lemas dan malas untuk beraktifitas. Clara membaringkan tubuhnya di ranjang dan akhirnya tertidur.
Rey datang ke kamar Clara, untuk memberikan obat yang Clara lewatkan.. ia mengetuk pintu beberapa kali.. tetapi tidak terdengar suara, Rey memutuskan untuk masuk dan melihat keadaan Clara.
Melihat Clara tertidur, Rey tidak membangunkan Clara ..
Rey menaruh obat dan air putih di atas meja yang terletak disebelah tempat tidur Clara. Kemudian Rey menaikkan kaki Clara yang masih berada di samping ranjang lalu menyelimuti Clara.
Rey menemani Clara dengan tidur di atas sofa.
__ADS_1
2 jam Clara tertidur.. ketika bangun ia melihat Rey. Clara tidak tega membangunkan Rey.. maka ia meminum obatnya sendiri..
Mendengar suara plastik yang terbuka, Rey terbangun.. tapi masih saja ia tidak mau bicara .. Rey hanya melihat Clara dari tempatnya berada.
Clara yang melihat Rey.. juga hanya diam.. ia bingung harus bagaimana.. Setelah selesai meminum obat Clara berbaring lagi, sementara Rey bergegas pergi.
" Kamu tidak mengajakku bicara?" Rey yang baru sampai di pintu.. berbalik dan melihat ke Clara.
Clara yang melihat Rey berbalik dan akhirnya mengeluarkan suara pun tersenyum.. kemudian duduk.. matanya yang berkaca- kaca, dan muka yang nampak murung akhirnya berseri.
"Aku sangat ingin marah kepadamu.. tapi apa dayaku tubuh dan hatiku tidak membiarkanku marah.. " Rey menghela nafas dan duduk di sebelah Clara.
"Maaf opa.. aku janji tidak akan datang ke negeri sihir lagi.." Clara menunduk.. ia cukup kecewa dengan kata- katanya yang baru saja ia ucapkan sendiri.
"Siapa yang tidak memperbolehkanmu pergi ke sana? " Rey melihat Clara.
"La.. terus opa marah kenapa? "Clara bingung.
"Peri.. aku marah karena kamu pergi tidak bilang kepadaku, terlebih dengan kondisimu saat ini.." Rey merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Jadi opa marah karena itu.. opa g cemburu?" Clara semakin penasaran.
"Cemburuku sudah sejak lama.. kamu kesana berkali- kali dan selalu membanggakan Styfen.. tapi kamu tidak menyadarinya, aku bisa apa coba?" Rey duduk lagi.
" Maaf opa.. aku pikir kamu tidak cemburu.. aku dan Styfen tidak ada hubungan apa- apa kok opa.. dia juga punya tunangan.. namanya Joya.." Clara memandang Rey sambil menjelaskan.
" yang bener... tadi aku dengernya beda?" Rey mendekatkan tubuhnya dan memandang Clara tajam..
' Apa maksud opa? memangnya opa bisa dengar percakapan kami? " Clara bingung dan kaget.
"Tu.. benerkan ada hubungan apa kamu sama dia hayo..?" Rey menggoda Clara.
"Opa.. aku pikir opa beneran denger.. g ada apa- apa.. emm.. anggep aja cinta monyet opa..😁" Clara menunjukkan giginya.
"La memang aku denger kok.. semuanya.. dari A sampai Z" Rey berbaring lagi.
__ADS_1
Clara yang mendengar perkataan Rey kaget.. ia memandang Rey tajam..
Bersambung....