
Clara lemas dan duduk di ruang keluarga, ia memutuskan untuk tidak bercerita kepada siapapun tentang hal ini, karena pasti keluarganya merespon sama seperti mbak Ani. Ujung - ujungnya malah ntar dia di bawa ke salah satu temen mamanya yang jadi psikiater😞ðŸ˜.
Clara menundukkan kepalanya, begitu ia melihat jaket yang ia pakai, ia teringat bahwa pria di balik pintu sedang menunggunya. Clara lari begitu saja menuju ke pintu rahasia, ia melihat pintu masih terbuka, tadi ia lupa menutupnya karena terburu-buru, tanpa berfikir panjang ia masuk ke dalam tembok itu lagi.
Sekejab Clara berada kembali di kamar.
" Aku kira kamu g bakal balik kemari karena takut.. " pria itu tiba- tiba bicara dari atas tempat tidur.
Ternyata Pria ini menunggu Clara sambil tiduran.
" Sekarang kamu sudah liat sendiri kan.. aku g bohong..." Clara bicara sambil melepaskan jaketnya.
" Kenapa di lepas memangnya kamu g butuh lagi?" tanya pria itu sambil mengganti posisinya yang tadinya tiduran menjadi duduk.
" Enggak.. dinginnya bentar tok, aku bisa nahan.. 2 langkah doang" jawab Clara sambil menaruh jaket itu di tempat tidur.
Pria itu berdiri lalu menjentikkan jarinya, sebuah gaun panjang berwarna merah muda terbang keluar dari dalam lemari pakaian menuju pria itu. Kemudian ia mengambil baju itu dan meletakkanya di atas tempat tidur..
" Kamu harus ikut aku ke suatu tempat.. tapi gantilah dulu bajumu, sepertinya itu tidak nyaman, aku akan menunggu di luar " kata pria itu sambil melangkah keluar.
__ADS_1
Clarapun penasaran kenapa pria itu menyuruhnya ganti baju, ia pun kemudian bercermin.
" 😦kok jadi gini baju aku, mana kancingnya nyaris lepas...😣😠pantes aja di suruh ganti, n dia bilang kyak g nyaman.." Clara sangat malu.
Clara cukup lama berkaca, ia bingung kenapa tubuhnya menjadi sedikit berisi dan meninggi pula, rambutnyapun yang tadinya panjang sebahu jadi nyaris sampe kaki. Karena Clara ingat berada di tempat yang aneh dengan biola yang hilang, dan gaun terbang maka segalanya mungkin terjadi... ia pun tak berfikir panjang, ia segera mengganti bajunya dan mencari jepit rambut di meja rias. Ia menemukan sebuah tusuk rambut cantik berwarna merah muda, kemudian ia mengepang rambutnya lalu ia ikal dan ia beri tusuk rambut itu. Setelahnya Clara keluar dari dalam kamar.
Pria itu melihat Clara.. ia melamun dan tidak mengedipkan matanya karena terpesona dengan kecantikan Clara.
" Hallooo..." Clara melambaikan tangannya di depan pria itu.
Setelah tersadar, lagi- lagi pria itu hanya diam saja dan ia menggandeng tangan Clara, membawanya pergi dari kamar.
" Masuklah kedalam, dan tunggu aku di sana.. jangan pergi kemanapun, jika kamu pergi aku pasti bisa nemuin kamu.. dimanapun itu, selain dari tempatmu datang" pria itu menunduk, dan kemudian pergi.
Clarapun masuk ke dalam ruangan, ia mengamati tempat itu.. di sana ada meja panjang untuk pertemuan, ada sofa, ada meja kecil dengan beberapa buku terletak di atasnya dan pensil bulu, untuk menulis dengan tinta.
"Astaga.. sebenernya tempat apa ini.." Clara bergumam sambil melihat pensil bulu itu.
Belum selesai Clara melihat- lihat, tiba- tiba pintu terbuka.
__ADS_1
" Kamu.. kamu sungguh keluar dari dinding di balik meja rias itu bukan?" seorang wanita yang cantik dan anggun, berbicara sambil menangis dan memegang pundak Clara.
Belum sempat Clara menjawab, seorang pria separuh baya yang sangat gagah masuk bersama pria tadi.
" Jangan membuatnya takut.. tidak perlu terburu-buru kita bisa menanyakannya dengan pelan-pelan" kata pria gagah itu.
" Dengar nak maafkanlah kami, kami menunggu seseorang dan akhirnya ada yang datang.. walau bukan orang yang kami tunggu, kedatanganmu memberi kami harapan" kata pria gagah itu.
" Iya.. tidak papa om, kalo boleh tau sebenernya ada apa ? dan siapa yang kalian tunggu..? aku sungguh tidak mengerti" Clara bertanya tentang kondisi yang sebenarnya terjadi.
" Mari duduk.. kamu sekarang ini berada di negeri sihir. Ini kerajaanku, aku rajanya, itu ratuku, dan pria yang bersamamu tadi adalah putraku Styven" sang raja merangkul Clara dan mengajaknya duduk.
" Jadi pria itu namanya Styven.. " Clara berbicara dalam hati, sambil memandang pria itu.
"Emm... kalau boleh tau siapa yang kalian tunggu?" Clara kemudian bertanya karena penasaran.
Clara tidak terkejut jika dia berada di negeri sihir, pasalnya semenjak ia datang banyak hal aneh yang ia lihat dan alami.
" Putri kami, kakak Styven... " belum selesai bicara sang ratu menangis tersedu- sedu.
__ADS_1
Bersambung.....