
Cukup lama Clara terdiam memandang Styfen ..
Mereka berdua saling bertatapan di bawah pohon rindang itu.. ditemani hembusan angin sepoy dan bunyi burung bersautan.
"Jadi kamu g ada di rumah karena berduaan sama Styfen di sini? " Rey tiba- tiba berada di depan mereka.
Clara dan Styfen menoleh bersamaan, melihat ke arah Rey.
"Opa.. kok sudah pulang? " Clara nampak biasa saja melihat Rey yang baru saja mempergokinya bersama Styfen.
Melihat reaksi Clara.. cukup membuat Styfen kaget dan bingung.. ia melihat wajah Clara dan kemudian melihat ke arah Rey.
Sebenarnya Styfen yang menjadi sedikit salah tingkah.
"Jadi kamu sengaja datang kemari diam- diam.. agar aku tidak tahu?" Rey mendekati Clara.
Clara yang masih duduk mendongak ke atas dengan santainya ia menjawab iya.. Clara membenarkan pernyataan Rey tentang dirinya.
" Kamu memang hebat.. ayo pulang.." Rey menunduk dan menyodorkan tangannya.. sambil melihat wajah Clara.
Clara yang sengaja ingin menggoda Rey , malah berdiri begitu saja.
"Ga mau.. aku mau jalan- jalan dulu.." Clara mengeluarkan tongkat sihirnya dan kemudian membuat sayap lalu pergi terbang.
Rey berdiri tegak kembali.. ia memandang Clara yang terbang naik ke awan.
Rey membalikkan badannya dan melihat Styfen di belakangnya.. ia menatap Styfen sangat tajam.. penuh dengan aura perselisihan.
"Apa.. ?! aku memang ada rasa dengan tunanganmu.. harusnya kamu sudah tau itu bukan?" Styfen sedikit tersenyum.
Senyum Styfen seakan menyiratkan pernyataan perang.
"Beraninya kamu.. dia tunanganku.. denger ya.. ini peringatan untuk mu.. akan lebih baik jika kamu menjauh darinya .." Rey pun menatap sinis sekarang.
"Hem.. Semua terserah kepada Clara.. dia berhak untuk memilih bukan?" Styfen tersenyum lagi dan kemudian melangkah pergi.
Rey yang sangat marah dibuatnya.. langsung mengeluarkan tongkat sihirnya.. ia menyerang Styfen dengan sihirnya.. Styfen yang menyadari pergerakan Rey juga mengeluarkan tongkatnya dan menepis serangan Rey.
Karena di sana ada banyak pelayan kerajaan.. Styfen tidak meladeni Rey. Styfen pergi masuk ke dalam istana.
Rey pun akhirnya pergi terbang mencari Clara dengan perasaan kesal. Ia menggunakan sihirnya untuk menemukan keberadaan Clara.
__ADS_1
Rey mengikuti Cahaya biru kecil dan sampailah di Air Terjun Pria dan Wanita.. cahaya itu hilang di sana.
Rey tau jika sudah di tempat itu .. tak ada yang dapat dilakukannya selain menunggu Clara keluar dari pohon wanita.
Rey pun memutuskan untuk menunggu Clara di sebuah batu besar.. yang terdapat di depan pohon pria.
Clara sengaja datang ke tempat itu.. karena hanya tempat itu yang dapat menghindarkan nya dari pertengkaran dengan Rey. Clara tidak mau di tanya panjang lebar, jadi ia memilih menghindar.
Clara ingin mencari ketenangan sebentar.. sambil bersantai, ia berendam di air Terjun yang hangat.. memandangi tumbuh- tumbuhan hijau dan bunga- bunga cantik yang bermekaran.. tempat itu sungguh luar biasa.. suasana hati yang g karuan jadi lebih baik setelah berada di sana.
Tiba- tiba datang dua penyihir untuk berendam juga.. mereka menganggukkan kepala untuk memberi salam kepada Clara.. Clarapun membalas anggukan itu ..
Dua Penyihir itu membicarakan seorang pria tampan yang duduk di depan pohon pria yang mereka lihat ketika masuk tadi.. mereka bahkan bergunjing, kenapa pria tampan itu tidak masuk dan mandi atau berendam.
Mendengar hal itu Clara langsung keluar dari air dan menyihir bajunya agar kering...
Clarapun keluar.. ia yakin jika itu adalah Rey .. tunangannya.. karena jika Styfen yang ada di sana.. tidak mungkin kedua penyihir itu tidak menyebut namanya..
"Opa menungguku? ayo pulang opa.." Clara menghampiri Rey dan tersenyum.
Seperti tanpa dosa, Clara tidak membahas hal yang baru saja terjadi.. seakan tak ada apapun.
*Haduh...🤦 kalau di duniaku.. biasanya yang gini ni yang cowok.. tiap sehabis nglakuin kesalahan ntar ujung- ujungnya bilang.. u knpa? kok marah to? haduh.. bener g?? kalian juga pernah ngalami yang kayak gitu g?*
" Apa kamu sakit peri?" Rey memegang kening Clara untuk mengecek suhu tubuh Clara.
"Emm.. tidak.." Clara memandang Rey dan mengedipkan matanya beberapa kali, sambil menggelengkan kepalanya.
" Lalu apa ini..? kamu aneh.. " Rey mengamati wajah Clara dengan sangat dekat.
Clara langsung menghindar dan menyihir sepasang sayap untuknya.. ia hendak terbang pergi.
"Heh.. mau kemana..? jangan kabur dariku lagi Peri.... " Rey memegangi sayap kiri Clara sehingga ia tidak dapat terbang.
"Lepas Rey.. " Tiba- tiba Styfen datang ia terbang turun dari langit.. dan melepaskan tangan Rey dari Clara.
"Kamu lagi? sebenarnya apa maumu? " Rey memandang Styfen sinis.
"Aku tidak tau bagaimana kamu memperlakukan Clara di duniamu.. Tapi ini duniaku kamu tidak boleh memperlakukan Clara seenaknya seperti itu.. dia punya hak untuk pergi sesuai kemaunnya.." Styfen menarik Clara lebih dekat dengan dirinya.
Clara diam saja.. ia bingung harus bagaimana...
__ADS_1
"Em.. jadi gitu.. tapi Clara tunanganku.. dan tiga bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan" Rey mencoba bersikap tenang.. mengingat ia sedang menghadapi orang yang lebih muda darinya.
"Tapi Clara tak terlihat ingin berada dekat kamu.. kenapa kamu tidak membiarkannya pergi saja.. " Styfen memandang sinis Rey.
Tatapan mereka berdua seperti petir yang menyambar- nyambar.
"Kamu sungguh membuatku gila.. ayo peri kita pulang saja... " Rey menarik tangan kiri Clara sehingga Clara mendekat padanya.
" Jangan Clay.. ikut aku jalan- jalan saja.." Styfen menarik tangan kanan Clara sehingga Clara mendekat padanya.
Rey menarik Clara lagi.. Styfen juga menariknya lagi.. Clara jadi seperti benda yang di tarik- tarik oleh dua orang yang sedang berebut.
Clara melihat Rey setiap Rey menariknya dan kemudian melihat Styfen setiap Styfen menariknya..
Clara pun akhirnya lelah karena ditarik kesana kemari.. ia mengibaskan tangan Rey dan Styfen yang menggengam tangannya.
"Apaan sih kalian ini..? kayak anak kecil.." Clara langsung terbang ke langit.
Rey terbang mengikuti Clara.
"Tunggu Clay .. " Styfen juga mengikuti Clara.
Di langit yang biru berangin di hari itu.. Rey dan Styfen juga berdebat.
"Heh.. pulang lah sana.. biarkan Clara disini.." Styfen yang terbang di samping Rey berbicara.
"Kamu saja yang pergi.. " Rey melirik Styfen ia menjawab dengan ketus.
"Beraninya kamu.. ayo kita berduel sihir.. " Styfen mulai marah.
"Aku tidak mau.. pergilah.." Rey terbang mendahului Styfen.
"Kamu.." Styfen kehilangan kesabarannya lalu ia mengayunkan tongkat sihirnya.
Rey yang terkena mantra sihir jatuh ke bawah.. Clara yang mengetahui hal itu langsung terbang memegangi Rey.
Clara menarik tangan Rey dan meletakkannya di pundak.. lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Rey, kemudian ia menopang tubuh Rey dengan memegangi panggul Rey.
" Kenapa opa tidak menghindar.. bodoh sekali opa ini.." Clara mengomel sambil melihat ke bawah.
Rey sedikit tersenyum.. sambil melihat ke bawah juga.
__ADS_1
Bersambung...