Drama

Drama
Preview


__ADS_3

Peluhku yang bercucuran, dan napasku yang memburu seakan sia-sia ketika melihat orang yang kukhawatirkan sepanjang jalan, saat ini sedang menikmati segelas es coklat. Dia terlihat baik-baik saja, tidak seperti bayanganku saat mendapat telepon darinya satu jam lalu.


"Sian!" Dia, Hae Na. Melambaikan tangannya padaku. Wajahnya terlalu cerah untuk orang yang baru saja dicampakkan. Aku merasa sedikit kesal dan banyak bersyukur melihat dia baik-baik saja. Kesal karena saat di telepon, dia seolah tak memiliki semangat hidup lagi, dan membuatku khawatir hingga harus berlarian dari rumahku ke caffe ini. Bersyukur karena setidaknya dia tidak semenderita seperti dalam bayanganku.


Dengan napas yang masih memburu, aku menghampirinya. Namun, belum jauh aku melangkah, tiba-tiba kakiku menjadi berat ketika kulihat seorang wanita cantik nan anggun menghampirinya dan duduk di sampingnya. Dia..., mungkin itulah alasan mengapa Hae Na terlihat baik-baik saja usai mengatakan padaku bahwa Jay, tunangannya, menikahi wanita lain.


Hae Na nampak berbisik pada wanita itu, dan sepersekian detik setelahnya, wanita itu menoleh padaku, tersenyum, dan ikut melambaikan tangannya padaku.


Sejujurnya, saat ini juga aku ingin sekali pergi. Lagipula rasa khawatirku pada Hae Na sudah hilang sejak aku melangkahkan kakiku ke dalam Caffe ini, ditambah lagi ada wanita itu di sampingnya. Hae Na lebih mumbutuhkan keberadaannya daripada aku. Namun, aku memiliki etika, aku tidak mungkin pergi begitu saja ketika mereka sudah melihatku.


"Sian, kemarilah!" Hae Na kembali memanggilku. Ada banyak kecanggungan dalam diriku, tapi aku memutuskan untuk tetap menghampiri mereka.


"Annyeong, Seo Hyun-ah. Aku tidak tahu kalau kau ada di sini," kataku kaku. Kemudian duduk di hadapannya. Sebenarnya, sama seperti Hae Na, Seo Hyun adalah teman semasa SMA ku. Kami bertiga sangat dekat sampai akhirnya saat itu tiba, saat di mana Gook Heon, lelaki yang kusukai selama tahun-tahunku di SMA, menyatakan cintanya pada Seo Hyun di hari kelulusan kami. Aku tidak, dan tidak pernah menyalahkan Seo Hyun atas itu —siapa orang di dunia ini yang dapat mengatur perasaan orang lain selain dirinya sendiri? Tapi, semenjak hari itu aku mulai mengulas balik masa-masa yang terjadi di SMA, di mana Seo Hyun selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak iri, hanya saja hal itu membuatku mulai membanding-bandingkan diriku dengannya. Dia cantik, dari keluarga terpandang, memiliki suara lembut yang selalu syahdu untuk di dengar, dia baik, perhatian, pintar, dan bisa bermain piano. Sedangkan aku? Aku bahkan tidak memiliki seperempat dari apa yang dia miliki. Menyadari betapa kurangnya diriku bila di sandingkan dengannya, membuatku mulai menjaga jarak darinya.


"Sebelum menghubungimu, aku lebih dulu menghubungi Seo Hyun."


Perkataan Hae Na cukup menyinggungku. Bahkan orang yang kuanggap sahabat, lebih dulu memikirkan Seo Hyun daripada aku. Aku sungguh ingin pergi dari tempat ini. Haruskah kukatakan bahwa aku ada urusan? Tidak! Urusan apa yang dimiliki orang sepertiku? Orang yang tidak kuliah maupun bekerja! Sial! Aku tidak memiliki alasan untuk pergi!


"Sebelum asik dalam pembicaraan, bagaimana jika kupesankan sesuatu untukmu?" Seo Hyun menawarkan. Dia tidak berubah, selalu baik, dan perhatian. Terkadang aku bingung pada diriku sendiri, kenapa aku menjaga jarak dari orang sepertinya hanya karena persepsi bodohku? Atau mungkin karena itulah sifat alami manusia, tidak ingin terlihat rendah di hadapan orang lain? Entahlah.


"Tidak perlu, aku akan pesan sen...,"


"Jangan begitu, lagipula kita jarang bertemu," katanya. "Tunggu sebentar." Dia beranjak dari tempatnya, dan pergi ke meja kasir.


"Yaa! Kenapa kau menghubungiku jika sudah menghubunginya?!" Tanyaku skeptis pada Hae Na.


"Apa ada alasan kenapa aku tidak boleh menghubungimu?"


"Tidak ada, hanya saja aku...,"


"Berhentilah menghindarinya, Sian-ah. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau berusaha keras menghindari Seo Hyun?" Hae Na menyela perkataanku untuk pertama kalinya, biasanya meskipun dia tidak mengerti topik pembicaraan yang tercipta, dia akan selalu mendengarkan sampai selesai. Namun, lebih dari itu, yang membuatku tertohok adalah fakta bahwa dia mengetahui aku menghindari Seo Hyun.


"Kau tahu, tapi kau tetap melakukan ini? Apa maksudmu?!" Nadaku mulai tinggi, kurasa amarahku akan meluap bahkan jika Hae Na melontarkan kata maaf.


"Kau...,"


"Apa yang kalian bicarakan? Kelihatannya serius sekali."


Hae Na belum selesai dengan perkataannya, tapi Seo Hyun yang baru saja datang, menyelanya. Serempak, aku dan Hae Na terdiam, kurasa kami memiliki pikiran yang sama, tidak ingin Seo Hyun mendengar pembicaraan kami tentangnya.


"Bukan apa-apa," kataku.


Seo Hyun tersenyum, sembari meletakkan nampan minuman dan tiga potong Choco Lava di atas meja, dia berkata, "kupikir ada apa, kalian kelihatan sangat serius." Lalu dia duduk di tempatnya semula.


Kesunyian akan menggerogoti kami jika saja Seo Hyun tidak memecahnya dengan berkata, "aku akan mempertemukanmu dengan Jinan oppa segera."


Hae Na sumringah. Sungguh, sama sekali tak terlihat bekas dia di campakkan, dan itu membuatku penasaran dengan topik pembicaraan mereka.


"Jinan? Siapa dia?" Tanyaku.


"Ah, dia seniorku di kampus, orangnya sangat baik, dan...,"


"Maksudku, kenapa kau mengenalkannya pada Hae Na?" Selaku.

__ADS_1


"Lalu? Kau ingin Seo Hyun mengenalkannya padamu?" Hae Na terdengar seperti menghardik. Aku cukup tercengang, susah payah aku datang ke sini untuknya, dan sampai di sini dia membuatku bertemu dengan wanita yang selama 2 tahun terakhir kuhindari, bahkan aku masih merasakan beban dari kecanggunganku berada di dekatnya. Tapi, inikah balasan Hae Na? Jahat sekali. Aku sungguh menyesal mengkhawatirkannya.


"Aku pergi!" Tukasku.


Aku hendak pergi ketika Seo Hyun meraih tanganku, "hei, ada apa? Kenapa tiba-tiba mau pergi?" Wajahnya menampakkan banyak tanda tanya. Aku melirik Hae Na, dia mengalihkan pandangannya dariku, dan memilih memandang jalan di luar jendela. Menyebalkan!


"Tidak ada apa-apa, hanya ada sedikit urusan," kataku.


"Urusan untuk menghindarimu," sahut Hae Na, membuat Seo Hyun menoleh padanya.


"Menghindari siapa?" Tanya Seo Hyun.


"Yaa Bae Hae Na!" panggilku memeringatinya.


Hae Na tak menyahuti, dia hanya terus memandang jalan di luar jendela. Waahhh aku sungguh menyesal karena begitu mengkhawatirkannya!


Perlahan kulepaskan tangan Seo Hyun yang menahanku, kemudian aku pergi meninggalkan caffe ini. Seumur hidup aku tidak mau lagi mengkhawatirkan Hae Na!


♡♡♡


Jika saja aku diperbolehkan main tangan dengan adikku, aku pasti sudah memukulnya berkali-kali. Aku merelakan kuliahku karena dia, karena ibuku tidak bisa membiayai sekolah kami sekaligus. Tapi dia yang diutamakan malah bertingkah seperti ini, tidak mau belajar! Yang dilakukannya di sekolah hanyalah bersenang-senang, dan menikmati kepopulerannya di antara para siswa. Aku mengetahui ini dari Kang Jae, temannya. Melihatnya membuatku merasa kasihan pada ibuku, demi biaya sekolah adikku, dia harus membuka toko lebih awal, dan menutupnya paling akhir di antara semua toko bunga yang ada di jalan Gwanghwamun.


Ibuku adalah pemilik toko bunga, hanya toko kecil, tidak seperti toko bunga lainnya di Gwanghwamun. Hidup kami hanya berada di level cukup, tidak pernah menjadi mewah. Karena itu aku berusaha menjadi mandiri untuk bisa membiayai kuliahku, dan membantu meringankan beban yang di tanggung ibuku. Namun, belum lama ini aku dipecat dari toserba tempatku bekerja, Kang Jong Woon, si pemilik toserba sialan itu! Dia memecatku karena ada seorang wanita cantik bertubuh aduhai yang melamar pekerjaan di tempatnya, alih-alih memertahankanku yang sudah berpengalaman, dia justru memecatku untuk memberikan posisiku pada si dada montok itu! Arghhhh dunia ini sangat menjengkelkan!


"Lee Do Hyun-ah, saat kau melakukan ini, tidakkah kau memikirkan ibu? Dia bekerja keras untukmu!" Tukasku.


"Justru aku melakukan ini karena ibu. Noona, dengarkan! Channel Youtube ku akan menjadi terkenal, dan kita akan mendapatkan uang yang banyak."


"Akhhhhh noona lepaskan! Lepaskan!" Dia meronta. Namun, aku menahannya dengan kuat, bersyukur karena dulu aku mengikuti kelas Taekwondo, meskipun hanya empat bulan saja, tapi setidaknya aku bisa membuat diriki menang dalam hal ini.


"Astaga, apa-apaan kalian?!"


Suara itu..., Ibu?


Spontan ku tarik tanganku dari rambut cokelat kehitaman adikku. Kemudian, aku memutar tubuhku, menghadap ibuku yang berdiri diambang pintu kamar adikku.


"Hai, eomma. Mau makan malam? Aku memasak makanan kesukaan eomma hari ini," kataku.


"Jangan alihkan pembicaraan! Apa yang tadi kalian lakukan? Bertengkar?"


Aku memang berniat mengubah topik pembicaraan. Namun, sepertinya ibuku tidak bisa termakan begitu saja oleh pengalihan yang kubuat.


"Tidak! Kami tidak bertengkar. Iya, 'kan. Do Hyun?" Kataku, sembari menyikut adikku yang masih mengelus-elus kepalanya.


"O-oh benar sekali, tidak mungkin kami bertengkar," adikku menimpali. Bahkan meskipun nyatanya kami sering berkelahi, kami tidak pernah mau jika ibu mengetahuinya. Kami tahu betapa menderitanya ibu sebelum, maupun sesudah bercerai dari ayahku. Pertengkaran kami hanya akan menambah luka dari masa lalu yang diterima ibuku.


Dulu, kami adalah keluarga yang sempurna. Ada ayah, ibu, aku, dan Do Hyun. Namun, semua berubah semenjak ayahku diangkat menjadi direktur di perusahaan tempatnya bekerja, tepatnya 5 tahun lalu, saat aku berada di kelas 3 SMP. Benar apa yang dikatakan tetua, jabatan, harta adalah sesuatu yang sulit ditangani. Ayahku yang sudah memiliki jabatan tinggi, dan gaji besar, mulai sering pergi ke PUB, di sana dia bahkan "main" dengan wanita yang jauh lebih muda 24 tahun darinya. Gila!


Ibuku yang mengetahui hal itu mulai sering menasehati ayahku, mengingatkannya agar tidak melangkah terlalu jauh ke dalam hingar bingar kehidupan. Namun, alih-alih bersyukur memiliki isteri sebaik dan setabah ibuku, ayahku justru mulai memukulinya. Awalnya ibuku ingin tetap memertahankan pernikahannya dengan ayah karena kami. Namun, kami tidak bisa terus menerus menutup mata atas perlakuan ayah terhadap ibu, karena itulah, aku dan Do Hyun meyakinkan ibuku untuk berpisah dari ayah. Saat itu ayah memenangkan hak asuh kami, karena ayah memiliki finansial tetap dan mempuni. Namun, kami lebih suka tinggal bersama ibu, karena itu meskipun ayah mengancam tidak akan membiayai hidup kami bila pergi menemui ibu, kami tetap memilihnya, karena kami tahu, ayahlah yang membuat keluarga indah kami menjadi hancur.


Wajah ibuku mulai tenang, "hahh, ibu pikir kalian bertengkar. Ibu sangat khawatir." Ibu memang sering mengkhawatirkan ini, karena menurutnya, dirinya tidak dapat berlaku adil padaku, maka dari itu dia takut jika aku bertengkar dengan adikku sebagai bentuk protes.


"Tentu saja tidak," jawabku dan Do Hyun bersamaan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu," sahutnya. "Oh iya, Sian-ie, diluar ada Hae Na, sepertinya dia sudah sedari tadi di sana."


"Heh?" Aku terkejut, sedari tadi aku tidak mendengar ada yang mengetuk pintu. Lagipula apa alasan dia ke sini? Maksudku, pertengkaran kami tadi siang bahkan belum memudar dari ingatanku. Aku bergegas membuka pintu rumah, dan mendapati Hae Na sedang duduk di teras rumahku.


Kenapa dia di sini? Sejak kapan?


"Eoh, Sian-ah." Sapanya.


Aku yang berdiri di ambang pintu, mulai melangkah menghampirinya.


"Ada perlu apa?" Tanyaku, tanpa menatap wajahnya.


"Kau tidak mau duduk?" Dia balik bertanya.


"Katakan saja apa maumu," tukasku.


"Ini." Dia memberikan sebuah undangan padaku, mataku membulat dan seketika rasa kesalku padanya menghilang ketika kulihat nama yang tertera di undangan itu. Di sana tertera nama Uhm Jay, dan Shin Hae Soo, yang akan melaksanakan pernikahan mereka pada 22 Desember tahun ini.


"Aku lupa memberikan itu padamu tadi," dia melanjutkan. Aku menatap wajah Hae Na dengan perasaan cemas. Aku tahu pasti sangat sulit baginya menerima kenyataan ini. Pandangan Hae Na lurus ke depan, seolah dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya padaku. Jika di ingat kembali, aku merasa lebih senang melihat wajah Hae Na saat di caffe siang tadi.


Aku menarik Hae Na ke dalam pelukkanku, "maaf Hae Na-ah, tadi siang aku sangat egois."


"Tidak, salahku karena melakukan itu padamu," katanya, dia melepaskan pelukkanku. "Saat mendapat undangan ini dari Jay, aku tidak bisa memikirkan apapun selain masa-masa SMA kita, aku merindukanmu dan Seo Hyun, karena itu aku menghubungi kalian berdua."


Penyesalanku semakin mendalam ketika mendengar penjelasan Hae Na.


"Aku sungguh minta maaf, aku tidak tahu bahwa kau berpikir seperti itu, karena saat di cafe kau tampak baik-baik saja," sesalku.


"Ayolah, kau tahu bagaimana sikap Seo Hyun, dia akan menjadi orang yang paling khawatir jika salah satu diantara kita terluka. Karena itu aku bersikap seolah baik-baik saja, bahkan memintanya untuk mengenalkanku pada pria kenalannya."


Benar! Itulah Seo Hyun yang kukenal, dia sungguh seperti malaikat. Namun, hal itu jugalah yang membuatku semakin ingin menghindarinya, dia terlalu sempurna.


"Tapi, Sian-ah, tidak bisakah kau memberitahuku alasanmu menghindari Seo Hyun? Maksudku, kita adalah teman, bahkan aku tidak pernah melihatmu bertengkar dengannya."


"Itu, kurasa karena aku pengecut."


"Maksudnya?"


"Entahlah," jawabku. "Bagaimana jika kita pergi karoke?"


"Karoke? Hmmm boleh juga, haruskah kuajak Seo Hyun juga?"


Seketika aku terdiam, rasanya seperti aliran darahku berhenti mengalir ketika nama Seo Hyun di sebut.


Hae Na terkekeh, "ayolah, aku hanya bercanda."


"Yaa jangan begitu."


"Iya, iya. Ayo," serunya. "Aku ingin bernyanyi sekeras-kerasnya, Jay benar-benar membuatku gila, dasar pria sialan! Aku menjaga dan merawatnya dengan baik, tapi dia malah menikahi wanita lain. ARGHHHH!!"


Aku agak terkejut mendengar geraman Hae Na. Namun, itu bisa di maklumi mengkngat dia baru saja ditinggalkan. Hampir di semua kasus, orang yang ditinggalkan akan lebih menderita dari pada orang yang pergi.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2