
Seoul National University. Gedung F, Fakultas Teknik Sipil.
Meskipun Dong Hyi sakit hati terhadap Seok Jin, hingga meminta sang kakak untuk menerornya, tapi Dong Hyi tak dapat memungkiri bahwa dirinya masih memiliki perasaan pada pria itu. Ada perasaan tak terima, serta tak percaya dalam dirinya saat mendengar dari sang kakak bahwa Seok Jin telah menikah, dan telah berubah.
Dong Hyi memutuskan untuk mengikuti Seok Jin yang kini bisa berlenggang dengan nyaman seperti biasanya, setelah terbebas dari teror Kang Dong Ho.
"Sunbae (senior), kau sudah selesai mengisi kartu rencana studimu?" Tanya Jere. Wanita itu bucin parah terhadap Seok Jin. Dia bahkan selalu menyamakan kartu rencana studinya dengan Seok Jin, dan rela memberikan hadiah jam tangan mahal pada pria itu.
"Iya," jawab Seok Jin sekenanya. Mungkin! Jika tidak ada kejadian dengan Kang Dong Ho, Seok Jin akan memacari Jere. Namun, masalah dengan Dong Ho membuatnya takut, dan lelah. Takut kalau-kalau para wanita yang dipacarinya memiliki saudara atau kenalan seperti Dong Ho, dan lelah jika harus berurusan dengan orang seperti itu.
"Sunbae." Jere menggenggam tangan Seok Jin, membuat langkah lelaki itu terhenti.
"Apa?"
Sejenak Jere terdiam, hingga perlahan dia berkata, "tentang rumor yang beredar, apakah itu benar? Sunbae sudah menikah?"
Rumor pernikahan Seok Jin memang sudah tersebar keseluruh penjuru kampus.
"Eoh, kenapa memangnya?" Tukas Seok Jin, membuat mata Jere berkaca-kaca.
"Ania! (Tidak!) Dong Hyi sunbae pasti sengaja menyebarkan rumor itu untuk menyingkirkan semua saingannya, 'kan? Rumor itu tak benar, 'kan?" Jere tak terima.
Saingan? Bahkan kalian tidak pantas bersaing denganku! Hardik Dong Hyi dari balik dinding pembatas antara lobby dan lorong kampus.
Seok Jin mendengus, "terserah saja kau mau percaya atau tidak, lagipula bukan urusanku!" Tukasnya, kemudian dia pergi meninggalkan Jere yang kini menangis.
♡♡♡
Jungang University. Gedung A, Fakultas Ilmu Matematika. Ruang 5 lantai 1.
Mungkin karena dirinya harus menunda kuliah hingga 2 tahun, sehingga Sian merasa tersisihkan dari para peserta ujian lainnya, yang notabennya adalah lulusan baru.
Tidak apa-apa, Sian. Bahkan di London, Inggris. Ada wanita 70 tahun yang baru mendapatkan gelar sarjana. Dalam hati, Sian mensupport dirinya.
"Boleh kutahu apa yang kau sukai?"
Awalnya Sian mengabaikan pertanyaan itu, karena dia menganggap pertanyaan itu tak diajukan untuknya. Namun, ketika sang empunya pertanyaan menepuk bahunya, barulah Sian menyadari.
"Aku bertanya padamu, kau tidak dengar?" Tanyanya lagi.
Sian menunjuk dirinya. Seraya berkata, "aku?"
__ADS_1
Pria itu mengangguk, "jadi apa yang kau sukai?"
Sian mengeryit, dia menganggap betapa anehnya pria yang duduk di sampingnya itu, mengingat pertanyaan yang seharusnya muncul pada pertemuan pertama adalah 'siapa namamu?'
Tak mau ambil pusing, Sian mengabaikan pria itu, dirinya lebih memilih untuk diam, sembari menerka-nerka soal ujian yang akan diujikan nanti.
"Kalau aku, aku menyukaimu."
Perkataan itu membuat Sian tertegun, matanya membulat menatap pria itu. Sepagi ini dia sudah mabuk? Pikir Sian dalam hatinya. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan seseorang yang bicaranya melantur seperti itu setelah Seok Jin.
Sian hendak menegur pria itu ketika seorang pria paruh baya datang dengan membawa map cokelat.
"Kita akan memulai ujiannya," kata pria dengan map cokelat itu.
Dalam waktu satu jam, Sian dan peserta lainnya telah menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi, Jungang. Mereka berbondong-bondong keluar dari gedung tersebut. Di tengah keramaian, Sian merasa dirinya diikuti oleh pria yang sebelumnya mengganggunya.
Sian mendengus kesal, dia menghentikan langkahnya, dan memutar tubuhnya menghadap pria itu.
"Kau mengikutiku?!" Tanya Sian, sarkastik.
Pria itu tersenyum kecil, "kau ingin aku mengikutimu?" Dia balik bertanya.
"Mwo? (Apa?)"
Pria itu hendak pergi, ketika dia berkata, "ah iya, sekedar memberitahumu, namaku Hwang Sejong."
Sian mendengus, menatap kesal punggung pria itu yang kini menjauh. Dia sungguh tidak percaya akan bertemu pria seperti itu di kampus sebesar ini.
"Dia gila," gumamnya.
Drrrttt drrrttt drrrtt
Getar ponsel dalam tasnya dapat Sian rasakan. Wanita itu merogoh tasnya, dan mengeluarkan ponsel tersebut dari sana. Terdapat panggilan masuk dari Seok Jin.
"Ada apa?" Tanya Sian, setelah dia menerima panggilan tersebut di ponselnya.
"Yaa, ujiannya sudah selesai?"
"Eoh, kenapa memangnya?"
"Aku ada di depan gerbang kampusmu, cepat keluar!" Titah Seok Jin sebelum dia menutup teleponnya.
__ADS_1
Sian mendesah, dia tahu bahwa pasti ada masalah yang menimpa Seok Jin, hingga dia sampai menjemputnya.
"Apa lagi masalahnya?" Gumam Sian. Dia berjalan malas menuju gerbang kampusnya. Dia mendapati Seok Jin sedang berdiri di dekat mobilnya, dan menjadi perhatian beberapa wanita.
"Eihh, menyebalkan sekali!" Umpat Sian, kemudian dia menghampiri Seok Jin.
"Kau tidak kapok terkena masalah karena sikapmu yang suka tebar pesona itu?!" Tegur Sian.
"Cepat masuk!" Tukas Seok Jin, dia membukakan pintu mobilnya untuk Sian, membuat wanita itu tercengang atas sikapnya.
"Apa ada sesuatu? Ada yang mengikutimu?" Terka Sian.
"Eoh," sahut Seok Jin pelan dan sekenanya.
Keduanya masuk ke mobil. Seok Jin memanaskan mesin mobilnya barang sejenak, sebelum akhirnya melajukan mobinya.
Dalam perjalanan, Seok Jin seringkali menyempatkan diri melirik kaca spion dalam. Memeriksa masihkah mobil Dong Hyi dan Jere mengikutinya.
"Sebenarnya siapa yang mengikutimu?" Tanya Sian.
"Fans!"
"Cih!" Ejek Sian.
Untuk beberapa saat mereka hanya mengelilingi jalan Heukseok-dong disertai keheningan yang menyelimuti mereka.
"Sampai kapan kita akan terus berputar di sini?" Tegur Sian.
Seok Jin masih terus melirik spionnya, dan mendapati dua mobil itu masih mengikutinya.
"Aishhh, tidak bisa terus begini," gumam Seok Jin. "Yaa, Lee Sian, ayo tinggal bersama."
Mata leci Sian membulat, "heh?! Kau gila?! Shireo! (Tidak mau!)" Tukas wanita itu.
"Tapi mereka...,"
"Shireo!" Sian menekankan jawabannya. "Lagipula perjanjiannya hanyalah aku mengaku sebagai isterimu!"
"Tapi masalahnya...,"
"Dipertigaan nanti belok ke kanan, di sana ada jalan kecil untuk satu arah, mungkin kita bisa menghindari orang yang mengikutimu jika lewat sana," sela Sian. Dia enggan melanjutkan pembicaraan Seok Jin yang melantur.
__ADS_1
TO BE CONTINUE