
Kenapa waktu cepat sekali berlalu? Aku merasa sangat sebentar waktuku bersama Changkyun, tapi sekarang kami sudah harus berpisah. Aku sedikit menyayangkan otak cerdas Changkyun, jika saja dia tidak secerdas itu, pasti butuh waktu lama baginya untuk mengerjakan tugas di perpustakaan tadi.
"Sian-ah, kau sibuk?" Tanyanya.
"Tidak!" Jawabku lugas. Ada harapan dalam diriku, dia mengajakku pergi ke suatu tempat. Hei!! Bukankah jika mendapat pertanyaan seperti itu, artinya orang itu mau mengajakmu pergi? Setidaknya itu yang kutahu dari drama.
Changkyun terkekeh, mungkin karena responku.
"Kau ingin nonton film bersamaku?" Tanyanya.
Terbukti, bukan cuma khayalan fans drama, tapi ini sungguh terjadi, dia mengajakku pergi setelah menanyakan itu.
"Mau!" Jawabku antusias.
"Kalau begitu kita naik taksi saja agar cepat sampai," sarannya.
"Jangan!" Cegahku. Bukan tanpa alasan, jika kami cepat sampai di tujuan, maka aku hanya akan sebentar bersama Changkyun. Aku ingin berlama-lama dengannya.
"Kenapa?"
"Itu..., naik bus saja, biar hemat."
"Tapi butuh waktu agak lama jika naik bus," katanya. "Tidak apa-apa, aku yang akan bayar taksinya."
Sebelumnya dia peka, kenapa sekarang tidak? Menyebalkan! Keluhku.
"Terserah saja," jawabku, agak malas.
Aku mendengar dia tertawa. Kemudian..., "baiklah, kita naik bus saja, agar aku bisa lebih lama bersamamu," katanya.
Seperti orang bodoh yang dipenuhi harapan, bibirku secara otomatis melengkungkan senyuman. Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang mudah di goda atau rayu, aku juga tidak pernah mengharapkan adanya sebuah romansa dalam hidupku, tapi sosok Changkyun entah bagaimana aku menjabarkannya, dia berbeda. Dia tidak seperti Seok Jin yang seringkali sikapnya berubah-ubah, dan juga senang mempermainkan wanita. Dia juga tidak seperti Sejong yang selalu menggodaku, dan berbicara sesuka hatinya. Tidak seperti ayahku yang selalu merasa paling benar! Dan tidak juga seperti Do Hyun yang pandai bersilat lidah. Changkyun memerlakukan sekelilingnya dang cara yang manis, dan entah dia menyadarinya atau tidak, tapi seringkali dia melakukan hal sederhana yang kurasa dia lakukan untuk melindungi harga diriku. Contoh kecilnya seperti kejadian di toilet saat masa orientasi, jika saja pria itu bukan Changkyun, mungkin aku tidak berani ke kampus untuk beberapa waktu. Dan seperti kejadian di atas, di mana aku menyadari bahwa dia mengetahui keinginanku yang ingin naik bus untuk bisa berlama-lama dengannya, tapi dia mengatakannya seolah itu adalah keinginannya. Dia..., benar-benar seorang pria.
♡♡♡
Seolah pekerjaannya di kantornya adalah hal remeh, sejak siang yang Seok Jin lakukan hanyalah mengikuti Sian. Ada sedikit rasa lega dan banyak rasa kesal pada Sian. Lega, karena setidaknya ada yang melindungi Sian, dan kesal karena menurutnya, wanita itu keterlaluan! Bagaimana bisa dia bersama pria lain di saat aku mengkhawatirkannya?!
"Ternyata kau seorang penguntit?!" Pertanyaan ketus itu membuat Seok Jin mengalihkan pandangannya dari Sian yang sedang tersenyum riang bersama seorang pria.
"Penguntit? Kau gila?!" Umpat Seok Jin, agak berbisik, karena jaraknya dan Sian tidak terlalu jauh, dia takut jika Sian sampai tahu bahwa dia membuntutinya.
__ADS_1
Pria itu, Sejong, menyunggingkan ujung bibirnya, "lalu apa yang kau lakukan sejak di perpustakaan, huh?" Tuding Sejong.
"Itu..., aku...," Seok Jin terdiam barang sejenak, kemudian dia menyadari sesuatu, "tunggu dulu? Bagaimana kau tahu aku mengikutinya sejak di perpustakaan? Apa kau...,"
"Ehmmm, itu..., aku..., a-aku sedang mencari referensi untuk tugasku, dan tidak sengaja melihatmu!" Kata Sejong, kaku. Sebenarnya, usai menjenguk temannya yang sedang di rawat di RS Sindorim, tanpa sengaja dia melihat Sian dan Changkyun saat di halte, niatnya dia ingin menghampiri mereka saat itu juga. Namun, ada perasaan cemburu yang menahannya ketika melihat rona dipipi Sian saat berbincang dengan Changkyun, karena itu, alih-alih menghampiri mereka, Sejong justru membuntutinya.
"Referensi? Apa kau juga mencari referensi di mall?" Hardik Seok Jin, membuat Sejong berdehem berkali-kali, mencoba untuk menstabilkan nada suaranya.
"Itu..., aku hanya sedang mencari udara segar," Sejong berdelik.
Seok Jin mendecih, "cih! Jika mencari udara segar, seharusnya kau pergi ke ladang, perkebunan, atau gunung, bukan di mall!" Tukas Seok Jin.
"Berisik! Lalu bagaimana denganmu, huh? Kenapa membuntuti Sian? Apa kau pria mesum?!" Sejong mengubah alur percakapan.
"Sembarangan! Siapa yang mesum, aku hanya..., eohh..."
Seok Jin terkejut ketika Sejong menariknya untuk bersembunyi di balik dinding.
"Yaa apa-apaan kau ini?!" Protes Seok Jin.
"Diam! Mereka sedang ke sini," bisik Sejong.
"Apa aku harus menyerah? Sepertinya Sian sangat menyukai Changkyun," gumam Sejong. Namun, dapat terdengar oleh Seok Jin yang kini terlihat murung.
Tidak! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku merasa gundah seperti ini karena takut jika ada salah satu mantanku yang melihatnya bersama pria lain. Bisa-bisa mereka mengetahui kebohongan status kami! Tukas Seok Jin dalam hatinya.
Tapi...,
FLASHBACK ON
24 November, 2013.
6 tahun lalu.
*Menginjak usia 14 tahun —15 dalam hitungan korea— Seok Jin merasa dirinya sudah cukup dewasa untuk merayu Hyura, kakak kelasnya yang juga ketua osis. Gadis yang berada di level yang sama dengan Seok Jin, alias di gila-gilai banyak orang.
Seok Jin telah memersiapkan setangkai bunga mawar yang kini dia sembunyikan dibalik tubuhnya. Dia hendak menghampiri Hyura yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya di taman ketika seorang gadis menubruknya, dan tanpa sangaja menginjak mawar yang lepas dari tangan Seok Jin.
"Eoh, maaf," kata gadis itu, Lee Sian. Dia memungut bunga itu, dan membersihkannya dari kotoran.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak sengaja," lagi, Sian mengutarakan penyesalannya.
Seok Jin hendak marah. Namun, airmata yang mengalir dikedua pipi Sian, membuatnya mengurungkan niat tersebut, dan justru menjadi khawatir.
"Lee Sian, kau tidak apa-apa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa!" Tukas Sian. Dia mengembalikan bunga mawar Seok Jin, dan kemudian berlari meninggalkan Seok Jin yang menatap kepergiannya dengan khawatir.
"Tidak biasanya," gumam Seok Jin. Biasanya Sian selalu terlihat kuat dan seakan tidak ada yang bisa mengganggunya. Namun, sekarang, gadis ini menunjukkan berapa lemahnya dirinya.
Seok Jin mengikuti Sian alih-alih menghampiri Hyura yang ternyata sudah bersiap menunggu kedatangan Seok Jin. Dia mengikuti Sian sampai ke kelas, kebetulan saat ini sedang jam istirahat, kelas sepi, dan Sian menggunakannya untuk menangis sekencang-kencangnya.
"Aku tidak tahu kalau kau cengeng," tegur Seok Jin, yang membuat Sian segera menghapus airmatanya.
Seok Jin duduk di samping Sian, "di mana Sian yang sok hebat, dan sok kuat itu? Kau tidak cocok menjadi wanita cengeng!" Tukasnya mencoba untuk menghibur Sian.
"Jangan sok menghiburku, pergi sana!" Titahnya, membuat Seok Jin terperangah.
"Wahhh... siapa juga yang berniat menghiburmu? Cih!" Seok Jin berdalih. "Tapi, kau kenapa? Tidak biasanya," lanjut Seok Jin.
"Jangan berlagak perhatian padaku, saat ini yang kubutuhkan adalah seseorang untuk kubenci, bukan teman untuk berkeluh kesah!" Tukas Sian.
"Heh?!" Seok Jin agak terkejut. Sebenarnya dia ingin mendeklarasikan perdamaian dengan Sian, mengingat beberapa hari lalu Sian menolongnya, meskipun tidak sengaja. Namun, perkataan gadis itu membuatnya tak habis pikir, di saat dalam keadaan sedih dan gundah biasanya seseorang akan membutuhkan orang laon untuk curhat, tapi kenapa Sian kebalikkannya?
"Kenapa begitu?" Tanya Seok Jin pelan.
"Sebab aku belum cukup mampu membenci ayahku, karena itu aku membutuhkan orang lain untuk kubenci, dan sepertinya kau yang terbaik. Seok Jin sialan!"
"Yaa, kau...," inginnya Seok Jin marah. Namun, ada satu perasaan yang membuatnya tidak bisa melakukan itu. Di tambah lagi, Seok Jin sungguh ingin menghibur Sian.
"Baiklah. Lagipula kita memang lebih cocok menjadi musuh. Dasar Sian cengeng!" Seok Jin menjulurkan lidahnya, meledek Sian, dan mencoba untuk kabur.
"Yaa jangan kabur!" Teriak Sian. Kemudian, dia mengejar Seok Jin dengan sekuat tenaga. Anehnya saat dia mengejar Seok Jin, dia merasa lebih lega, seolah hal menyebalkan itu menghiburnya dari kesedihannya terhadap sang ayah yang terciduk olehnya jalan bersama wanita lain, dan merangkul pinggangnya dengan mesra.
**FLASHBACK OFF***
Tapi..., kenapa aku merasa menyesal telah mengatakan itu? Jika saja saat itu aku tidak menuruti permintaannya. Seok Jin segera menghapus pikiran itu dalam kepalanya.
Berhentilah memikirkan hal gila, Seok Jin-ah! Tukas dirinya dalam hati.
__ADS_1