Drama

Drama
Take 35


__ADS_3

"Aku sudah menghubungi semua kenalanku untuk membantu, dan aku mendapatkan ini," kata So Ram, sembari memberikan amplop cokelat kepada ibu Seok Jin.


Ibu Seok Jin menerimanya, dan membuka amplop tersebut, kemudian membacanya.


"Itu adalah data klien di PT. Hyangyang asuransi. Dan benar! Lee Sung Kyun memang mengasuransikan kedua anaknya sejak sepuluh tahun lalu, di PT itu, dan jumlah uangnya besar sekali," kata So Ram. "Di sana juga ada dokumen terkait kasus korupsi, serta hutang yang dilakukan oleh Lee Sung Kyun. Dia terlibat banyak sekali masalah, kurasa Seok Jin benar tentang ini."


Ibu Seok Jin mendesah, dia merasa dirinya jahat terhadap Seok Jin. Namun, ternyata ada orangtua yang lebih jahat daripada dirinya.


"Orang gila itu menjadikan anaknya sebagai ladang uang! Makhluk mengerikan!" Umpatnya. "Terus kumpulkan bukti-buktinya, dan serahkan pada pihak berwajib! Hanya dengan menangkap si brengsek ini, kita bisa membersihkan nama Seok Jin."


Meskipun sudah selesai. Namun, kasus penerobosan dan pencemaran nama baik yang dilakukan Seok Jin sudah terlanjur diketahui oleh banyak orang terutama kolega dari perusahaannya. Hal ini berdampak pada saham perusahaan yang belakangan menjadi menurun. Karena itu, ibu Seok Jin memutuskan untuk mengusut kasus penipuan asuransi yang Lee Sung Kyun lakukan untuk bisa mengubah keadaan, agar masyarakat tahu bahwa ada alasan mengapa anaknya menerobos masuk ke rumah Sung Kyun, dan bahwa anaknya tidak asal berbicara.


"Mungkin akan sulit!" Tukas So Ram. "Lee Sung Kyun dan Changmi sudah meninggalkan Korea setelah kita memberinya uang untuk menarik tuntutannya kepada Seok Jin."


Ibu Seok Jin terkekeh, "yaa, Jang So Ram, apakah kau seorang amatir? Bagaimana bisa kau bilang itu sulit, eoh? Buat apa kita memiliki diploma di sana jika mereka tidak bisa mengusut kasus ini, hah?!" Bentak ibu Seok Jin.


"Masalahnya, kurasa mereka menggunakan identitas palsu. Aku sudah mencari data keberangkatan mereka, tapi tidak menemukan nama mereka dalam daftar penerbangan hari itu."


"Yaa! Jang So Ram! Kau tidak ingat bekerja dengan siapa, huh? Itu bukanlah hal sulit, jadi jangan risau, kau cukup kumpulkan bukti tentang si brengsek itu, kemudian aku akan mengurus sisanya!" Titah ibu Seok Jin.


♡♡♡


Seok Jin berdiam diri di depan rumah ibu Sian, dia di sana untuk berjaga-jaga kalau-kalau Sian dan Do Hyun ternyata kembali ke rumah ibunya. Namun, sudah hampir dua Jam, Seok Jin tidak melihat tanda-tanda keberadaan Sian dan Do Hyun, dan bahkan rumah ibunya pun terasa tak berpenghuni.


"Maaf, sedang apa kau di sini?!" Tanya seorang pria paruh baya yang berpakaian petugas keamanaan.


"A-aku?" Seok Jin balik bertanya, sembari menunjuk dirinya.


"Ada laporan kalau kau mengawasi rumah ini selama dua jam, jadi mari ikut ke pos untuk introgasi!" Tukas petugas keamanan itu.


"A-aku tidak berniat buruk, aku hanya...,"


"Bawa saja dia! Dia sudah menatap rumah Sian Eomma sejak dua jam lalu, dia pasti berniat buruk!" Seorang wanita paruh baya yang datang bersama petugas itu, ikut menimpali. Sebelumnya, dia memang memerhatikan gelagat Seok Jin yang hanya berdiam diri di depan rumah ibu Sian, wanita itu curiga dan segera menghubungi petugas keamanan mengingat beberapa hari lalu ada kasus perampokkan di lingkungan ini.


"A-ahjumma, ini tidak seperti yang ahjumma pikirkan, aku hanya...,"


"Mana ada penjahat yang mau mengakui kejahatannya, huh?!" Tukas wanita paruh baya itu.


"Yaa ahjumma...,"

__ADS_1


"Aku mengenalnya," sela ibu Sian yang baru saja pulang dari toko bunganya.


"Anda mengenalnya?" Tanya petugas itu, menegaskan.


"Eoh."


"B-begitukah? Astaga aku tidak tahu, maafkan aku yaa anak muda," kata wanita paruh baya itu. Kemudian, dia dan petuga keamanan itu berpamitan.


"Ada perlu apa kemari?" Tanya ibu Sian.


"I-itu, aku...,"


"Terimakasih banyak," sela ibu Sian. Membuat Seok Jin bingung.


"Ehh?"


"Berkatmu aku menyadari betapa buruknya aku sebagai orangtua, sampai-sampai putriku harus menjalani kebohongan gila hanya demi bisa kuliah!" Tukas ibu Sian.


"Tidak, ahjumma! Tidak seperti itu! Aku...,"


"Kau tidak perlu merasa bersalah, karena aku mengatakan ini bukan untuk menghardikmu, melainkan berterimakasih padamu," kembali ibu Sian menyela perkataan Seok Jin. "Terimakasih telah menyadarkanku, bahwa Sian dan Do Hyun lebih pantas hidup bahagia bersama ayah mereka." Ibu Sian membungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan pada Seok Jin, membuat Seok Jin merasa sangat canggung dan bersalah.


Ibu Sian hendak masuk ke rumahnya ketika Seok Jin berkata, "kau salah, ahjumma! Sian dan Do Hyun, mereka..., mereka sangat mencintaimu, dan bahagia bersamamu. Aku tidak bermaksud menggurui, hanya saja...,"


"Aku tidak memiliki cukup bukti untuk menyampaikan ini padamu, ahjumma. Hanya saja aku ingin memberitahumu, bahwa Sian dan Do Hyun..., mereka menghilang."


"Apa?!"


Di dalam rumah, Seok Jin menceritakan semua yang terjadi kepada ibu Sian. Wanita itu merasa sesak, dan tak berhenti menangis. Dia merasa amat sangat menyesal, karena dirinyalah yang mengantarkan kedua anak tercintanya pada bahaya.


"Apa yang harus kulakukan? Anak-anakku~" dia meraung-raung, sembari memukuli dadanya yang terasa amat sesak. Sedang airmata seolah tak mau berhenti mengalir.


Seok Jin menarik ibu Sian ke dalam pelukkannya, dia ikut menangis, "maafkan aku, ahjumma. Seharusnya aku bisa menjaga mereka, maafkan aku."


"Anak-anakku~" ibu Sian terus terisak, sampai akhirnya dia kehilangan kesadarannya.


"Ahjumma!"


♡♡♡

__ADS_1


Seok Jin kembali ke apartmentnya untuk kali pertama setelah Sian dan Do Hyun pergi. Dia terduduk lemah di sofanya, dan terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki pegangan hidup. Sesekali dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, mengingat-ingat kenangan yang tercipta di setiap sudut itu.


"Jika kalian tidak di Swiss, lalu di mana kalian? Setidaknya tolong hubungi aku," Seok Jin mulai terisak ketika dia mendapatkan pesan dari Hyun Woo di ponselnya.


[Hyun Woo: tuan, ibu dari nona Sian dan tuan Do Hyun sudah sadar, hanya saja beliau tidak mau makan ataupun minum. Beliau terus menanyakan tentang nona Sian dan tuan Do Hyun]


Seok Jin membalas pesannya,


[Aku akan segera ke sana. Jagalah dia sampai aku datang]


Seok Jin beranjak dari tempatnya, dia meraih kunci mobilnya yang dia letakkan di atas meja, hendak pergi ketika ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak dia kenal.


"Halo?" Katanya, setelah dia menerima panggilan tersebut.


♡♡♡


Dengan tertatih-tatih Sian melangkah, dengan menggendong Do Hyun dipunggungnya. Perut lapar, kaki lemas, kepala sakit, dan tubuh yang masih terasa sedikit kaku tidak menjadi halangan bagi Sian untuk membawa adiknya keluar dari hutan.


Sian tidak ingat cerita lengkapnya, yang dia tahu hanyalah dia dan Do Hyun sudah berada di tengah hutan ketika dia sadar. Padahal sebelumnya dia ingat bahwa dia dibawa masuk ke mobil oleh ibu Changkyun.


"A-aku a-akan menyelamatkan k-kita, Do Hyun-ah, a-aku janji." Dia menangis tersedu-sedu. Sudah 2 hari dia berjalan. Namun, rasanya dia tak kunjung menemukan jalan keluar dari hutan ini.


"Akhhhh," Sian memekik. Dia tergelincir, dan terjatuh.


Sian segera beranjak dan menghampiri adiknya. "Do Hyun-ah, kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Kau terluka?" Cecar Sian. Namun, dia sadar bahwa Do Hyun tidak akan bisa menjawabnya.


"M-maafkan ak-aku, aku b-bodoh sampai menjatuhkanmu. Maafkan aku Do Hyun-ah, aku janji tidak akan menjatuhkanmu lagi, eoh. S-sekarang n-naiklah ke punggungku ya?" Kata Sian dengan sesegukkan. Dia tak bisa berhenti menangis. Dia mengangkat tubuh adiknya, dan menaikkan tubuh adiknya di atas punggungnya.


"Aku janji tidak akan menjatuhkanmu lagi, maafkan aku," dia terus menangis sesegukkan.


Sian terdiam barang sejenak ketika melihat cahaya yang terang. Namun, tidak seterang cahaya rembulan.


"Mungkinkah?"


Sian melanjutkan jalannya yang tertatih-tatih. Menuju ke arah cahaya itu berada. Dan mendapati sebuah jalan raya di bawah bukit tempatnya berdiri. Dia tidak bisa turun dengan membawa Do Hyun, dengan perlahan dia menyandarkan Do Hyun pada sebuah pohon besar.


"Do Hyun-ah, aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya akan pergi untuk mencari bantuan, tunggu di sini, ya?" Tanya Sian. Dia hendak beranjak dari tempatnya, ketika dia berdelusi.


"Apa? Kau tidak mau di tinggal?" Tanya Sian, seolah dia berbicara dengan Do Hyun.

__ADS_1


"Aku akan segera kembali, aku janji. Aku tidak bisa membawamu turun ke sana, jadi aku akan meminta bantuan orang lain, tunggulah, aku...," Sian menangis lagi. "Aku akan kembali padamu, Do Hyun-ah," lirihnya.


TO BE CONTINUE


__ADS_2