Drama

Drama
Take 26


__ADS_3

Langit mendung seolah menggambarkan apa yang saat ini aku rasakan. Aku mengalihkan pandanganku dari jendela kamar, menatap Do Hyun yang sudah empat hari ini tidak sadarkan diri. Jika saja dia sadar, dan mengetahui bahwa saat ini kami berada di rumah ayah. Do Hyun pasti akan sangat sedih. Ini adalah hari kedua kami di rumah ayah setelah ayah mengubah data pasien Do Hyun menjadi rawat jalan. Ayah bilang itu akan lebih memudahkan kami menjaga Do Hyun. Rumah ayah mungkin sangat besar dan indah. Namun, aku tidak bisa merasakan cinta di sini. Di sini, yang kurasakan hanya kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, dan rasa marah. Aku merasa akan segera gila jika terus berada di sini. Sebenarnya, aku bisa saja menolak hak asuh tersebut, mengingat aku bukan lagi bocah di bawah umur. Namun, aku tidak bisa meninggalkan Do Hyun sendirian, apalagi dengan keadaannya yang seperti ini.


"Maafkan aku, Do Hyun-ah, ini semua salahku." Tidak ada yang dapat kulakukan selain menangis. Sejak pindah ke sini, aku merasa bahwa diriku adalah orang paling malang di dunia ini. Aku harus tinggal dengan ayahku dan isterinya, wanita yang sungguh aku benci di dunia ini, dan membuatku lebih tertohok adalah...,


"Sian-ah, aku...,"


"Bukankah sudah kukatakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk?" Selaku. Kenyataan bahwa Changkyun adalah adik dari wanita yang paling kubenci di dunia ini, menambah beban kehancuranku.


Tidak seperti romansa antara pemeran utama wanita dan pemeran utama pria kedua, hubunganku dan Changkyun bahkan harus berakhir sebelum kami memulainya, ini menyiksaku. Changkyun adalah pria yang kuharapkan dalam hidupku, tapi, aku baru menyadari, bahwa kebencianku pada gundik ayahku lebih besar daripada perasaanku terhadap Changkyun.


"Maafkan aku, aku hanya...,"


"Keluarlah!" Titahku. Sungguh, aku tidak ingin melihatnya, karena itu hanya akan mengingatkanku pada perasaanku terhadapnya.


"Aku akan taruh makan siangmu di lemari es, ambillah jika kau merasa lapar," katanya. Kemudian, aku mendengar langkahnya, disertai pintu yang ditutup, dia pergi.


"Ini membuatku gila!" Aku menangis, kupeluk tubuh Do Hyun yang tak berdaya, menangis sepuasnya di sana. Ini mungkin terdengar aneh, tapi aku merindukan Seok Jin.


♡♡♡


Changkyun keluar dari kamar Sian dengan perasaan bercampur aduk. Sama seperti Sian, Changkyun pun merasa hancur. Dia bahkan belum memulai segalanya, tapi semua itu harus dia akhiri. Dia sadari diri bahwa kesalahan kakaknya bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan seperti semilir angin di musim semi, itu kesalahan yang terlalu besar hingga sulit untuk di angkat.


Changkyun meneteskan airmata. Sang ibu yang melihat airmata itu ikut bersedih untuk puteranya. Sang ibu tahu betapa anaknya menyukai Sian, mengingat dia selalu tersenyum tiap kali membicarkan Sian, dan menatapnya.


"Changkyun-ah," panggil sang ibu, membuat Changkyun segera menghapus airmatanya.


"E-eoh, ibu."


Sang ibu menghampirinya, dan menariknya ke dalam dekapan hangatnya, "maafkan ibu, ibu tidak bisa melakukan apapun untukmu," lirihnya.


Changkyun kembaki meneteskan airmata, dia mulai menangis dalam diam di dalam dekapan ibunya.


♡♡♡


Seok Jin memeriksa semua ruangan dalam apartmentnya. Dia tidak menemukan Sian maupun Do Hyun di sana.


"Apa mereka belum pulang?" Tanyanya pada diri sendiri. Dia melirik jam tangannya, sudah pukul 8 malam, ini terasa aneh bagi Seok Jin.


Dengan segera Seok Jin mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dan menghubungi Do Hyun. Namun, telepon Do Hyun tak aktif. Kemudian, dia beralih menghubungi Sian, dan sama seperti Do Hyun, telepon Sian juga tidak aktif.


"Mereka ke mana?"


Tanpa Seok Jin tahu, baik telepon Sian maupun Do Hyun, keduanya sudah dibuang oleh ayahnya. Ayahnya beralasan melakukan itu agar Sian dan Do Hyun tidak bisa menghubungi ibu mereka. Namun, kenyataannya, dia melakukan itu agar Sian dan Do Hyun tidak bisa berhubungan dengan dunia diluar kehendak ayahnya, yang lebih tepatnya, agar Sian dan Do Hyun tidak bisa mengadu jika terjadi apa-apa.


Seok Jin berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Dia masih mengalami jetleg sehabis penerbangannya.


"Mereka pasti akan menyukai ini," Seok Jin bergumam, sembari menatap dengan senyuman buah tangan yang sengaja dia bawa untuk Sian dan Do Hyun.


Sembari menunggu kepulangan Sian dan Do Hyun, Seok Jin memutuskan untuk beristirahat guna menghilangkan jetlegnya. Dia memejamkan matanya, dan perlahan tapi pasti, dia tertidur pulas.


♡♡♡


Seok Jin terbangun dari tidurnya, dan mendapati jarum pendek pada jam menunjuk ke angka 2.


"Sudah selarut ini? Aku pasti sangat lelah," racaunya. Dia beranjak dari sofa, dan berjalan ke kamar Do Hyun.


"Do Hyun-ah...," Seok Jin terdiam saat tak mendapati Do Hyun di kamarnya.


"Eoh. Dia tidak ada?" Seok Jin kemudian ke kamar Sian, dengan perlahan dia membuka kamar wanita itu. Namun, nihil. Sian juga tidak ada di sana.


"Ke mana mereka? Apakah menginap di rumah ibunya?" Tanya Seok Jin. Dia hendak menghubungi Sian ketika mengingat ini sudah terlalu larut, dan mungkin telepon darinya akan mengganggu istirahat Sian.


♡♡♡


Sian menuruni anak tangga dengan hati-hati. Namun...,

__ADS_1


#brakkk


Tubuhnya terguling di sisa anak tangga. Dia terkapar di lantai, dan meringis kesakitan.


"Akhhh." Dia menatap sosok ayahnya yang berlarian menuruni anak tangga dan menghampirinya.


"Kau tidak apa-apa, Sian-ah?" Tanyanya, terdengar cemas, padahal dialah yang secara sengaja menubruk punggung Sian, hingga membuatnya terjatuh.


"Ayah tidak sengaja, maafkan ayah," katanya.


"Sian-ah," Changkyun yang baru saja keluar dari kamarnya segera menghampiri Sian. "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"


"Aku tidak apa-ap..., akhhh, tanganku," ringis Sian. Changkyun begitu cemas. Namun, dalam sepersekian detik senyuman puas terlukis di wajah ayahnya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Changkyun-ah, siapkan mobil." Titahnya.


♡♡♡


"Kami turut berduka atas apa yang menimpa anak-anak anda," kata Choi Taehyung, staff asuransi.


Sung Kyun memasang wajah sedihnya, "terimakasih. Aku tidak mengerti kenapa keluarga kami mendapatkan musibah secara berturut-turut, aku merasa sangat bersalah karena mereka harus sakit di saat aku tidak memiliki daya. Aku ingin sekali membawa mereka berobat di tempat terbaik."


Taehyung merasa iba. Sebenarnya ada beberapa langkah untuk bisa mengklaim uang asuransi. Namun, Taehyung merasa bahwa keadaan Lee Sung Kyun begitu mendesak.


"Tidak perlu khawatir, aku akan mempermudah proses pencairan uang asuransi mereka. Jadi pastikan mereka mendapat pengobatan yang terbaik."


"Tentu saja, terimakasih banyak."


♡♡♡


Sudah tiga hari berlalu. Seok Jin sudah sangat merindukan Sian dan Do Hyun. Biasanya dipagi hari, mereka akan meributkan hal yang sepele. Namun, sekarang semua terasa sepi.


"Apa meraka masih di rumah ibu mereka? Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menghubungiku? Aku rindu," keluhnya, sembari memandangi layar ponseonya yang gelap.


Selama beberapa menit Seok Jin berada di posisi itu, terus berharap dan menunggu adanya pesan atau penggilan masuk dsri Sian atau Changkyun, sampai akhirnya dia merasa bosan, dan memilih untuk pergi ke rumah ibu Sian.


Butuh waktu satu jam bagi Seok Jin untuk sampai di rumah Sian, dia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah Sian. Dia tidak keluar dari mobilnya, hanya berdiam diri di sana, sembari memasang kedua matanya kalau-kalau melihat Do Hyun ataupun Sian keluar dari rumah.


*Satu menit ...


Tigapuluh menit ...


Satu jam* ...


Seok Jin tidak melihat Do Hyun maupun Sian. Rumah minimalis itu masih tertutup rapat, sampai akhirnya dia melihat ibu Sian keluar dari sana.


"Eoh, itu ibunya Sian dan Do Hyun," gumamnya. "Haruskah aku bertanya padanya?"


Dengan meyakinkan dirinya Seok Jin hendak keluar dari mobilnya ketika melihat ibu Sian menangis saat membuang beberapa barang yang sepertinya milik Sian dan Do Hyun.


"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" Terka Seok Jin. Dia meraih ponselnya yang dia letakkan di dasbor mobil, kemudian menghubungi orang-orang yang diperintahkannya untuk mengawasi Sian dan Do Hyun.


"Joo Heon-ssi, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Sian dan Do Hyun saat aku pergi?" Tanyanya, setelah teleponnya terangkat.


"Tidak ada yang terjadi, tuan. Orang-orang yang mengikuti tuan Do Hyun dan nona Sian tidak lagi terlihat."


"Benarkah?"


"Aku yakin. Tapi, beberapa hari lalu tuan Do Hyun dilarikan ke rumah sakit, sepertinya cukup serius. Aku tidak bisa mencari tahu alasannya, pihak rumah sakit tidak bisa memberikan detailnya kepada orang lain selain keluarga."


Seok Jin tekejut, "di rumah sakit mana?!" Tanya Seok Jin.


"Untuk sekarang, tuan Do Hyun sudah tidak lagi di rawat di rumah sakit. Ayahnya mengubah data pasiennya menjadi rawat jalan."


Seok Jin membulatkan matanya, dia tertegun, "maksudmu, Do Hyun dan Sian..., mereka tinggal bersama ayah mereka?"

__ADS_1


"Iya."


Seok Jin menjatuhkan ponsel dari telinganya. Dia syok, khawatir, cemas, gelisah, risau. Segala perasaan suram menyelimutinya. Dia tahu betapa busuknya ayah Sian dan Do Hyun.


"Tidak! Seharusnya aku tidak pernah meninggalkan mereka. Seharusnya aku...," Seok Jin terdiam, dia memukul stir mobilnya berkali-kali.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


♡♡♡


Sian meringkuk di dekat Do Hyun. Tangannya yang di gips, serta perutnya yang belakangan ini terasa sakit, membuat Sian merasa sakit tiap kali dia menggerakkan tubuhnya.


"D-Do Hyun-ah, b-bangunlah," lirih Sian, dengan napas terengah-engah. "Aku sakit, dan aku kesepian." Airmata mengalir dipelipisnya. Tangannya yang tanpa gips dia gunakan untuk memeluk tangan Do Hyun.


"A-aku ingin pulang ke rumah S-seok Jin, aku merindukannya," lirihnya.


"Sian-ah, ayah membawakan obat untukmu," kata sang ayah, sembari memasuki kamar Sian dan Do Hyun.


Sian mencoba untuk duduk dengan dibantu oleh ayahnya.


"Pasti sangat menyakitkan, 'kan? Kau sampai menangis," kata ayahnya, sembari menghapus airmata Sian. "Minumlah, agar kau cepat sembuh."


Sang ayah memberikan obat padanya, dan tanpa prasangka Sian menerima obat itu dan meminumnya. Padahal, nyatanya obat itu adalah obat penghambat regenerasi organ, alih-alih membaik, jika meminum obat itu keadaannya malah akan memburuk.


"Ayah, tidak bisakah ayah mengembalikan ponselku? Aku mau menelepon ibu," lirih Sian pelan.


Sang ayah tersenyum kecil, "bukankah sudah ayah katakan? Ibumu tidak lagi mau berhubungan denganmu. Ayah berkali-kali mencoba menghubunginya, tapi dia tidak merespon."


"Tapi, ayah...,"


"Istirahatlah, emm?" Sang ayah menyela. "Ayah lupa mengambilkan infus untuk Do Hyun. Ayah akan kembali lagi." Sang ayah beranjak dari tempatnya, meninggalkan Sian dan Do Hyun.


Saat itulah Changkyun masuk, "Sian-ah, kau baik-baik saja?" Tanyanya, sembari berjalan menghampiri Sian.


"Bagaimana menurutmu? Apa kau melihat aku dan adikku baik-baik saja?" Sian berkata tegas. Namun, nada suaranya bergetar karena menahan rasa sakit ditubuhnya.


"Sian-ah, aku hanya...,"


"Melihatmu membuatku semakin sakit, Changkyun-ah, jadi kumohon, berhentilah melanhkah masuk melewati pintu itu," lirih Sian. "Kalaupun kita bertemu di ruang tamu, dapur, kampus, atau di manapun, tolong abaikan aku."


Changkyun merasa sedih mendengarnya, "jika itu dapat membantumu, maka akan kulakukan. Maafkan aku, Sian-ah." Changkyun melangkah pergi dari kamar Sian dan Do Hyun —mereka berada di kamar yang sama karena Sian tidak ingin meninggalkan adiknya sendirian—


"Apa kau tidak bosan? Dia sudah mengusirmu berkali-kali!" Tegur Changmi, kakak Changkyun. "Cih, dia belagak seperti ini rumahnya, kurang ajar sekali!"


Changkyun mendesah, "mungkin ini bukan rumahnya, tapi menurutku dia pantas melakukan itu!" Tukas Changkyun, ada sorot kebencian dimatanya. Dulu, Changkyun berpikir bahwa kakaknya bukanlah seorang gundik, dia berpikir bahwa kakaknya secara kebetulan mencintai seorang pria yang lebih tua darinya. Tapi, setelah kenyataan dilemparkan ke hadapannya, Changkyun mulai memupuk rasa benci pada kakaknya. Jika dia tahu sejak awal kenyataan bahwa kakaknya adalah seorang gundik, dia pasti sudah akan melarang pernikahan itu terjadi.


"Yaa! Im Changkyun!"


"Jangan merasa tersinggung, karena noona tidak pantas merasakan itu!"


"Yaa! Kau...,"


"Kalian sedang apa?" Tanya Lee Sung Kyun. Dia melirik dua kantung infus yang ada ditangan Changmi. "Kenapa belum kau berikan infusnya? Kau tahu, 'kan, Do Hyun tidak boleh terlambat mendapat infusnya."


"Iya, ini mau kuantar," katanya.


Sung Kyun mengalihkan pandangannya pasa Changkyun, dia tersenyum, "apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya.


Changkyun mengabaikannya, dia hendak pergi ketika melihat botol obat di lantai. Sepertinya itu tidak sengaja di jatuhkan oleh Changmi. Changkyun hendak memungutnya, ketika Lee Sung Kyun lebih dulu memungut botol obat itu. Membuat Changkyun terkejut.


"Mengagetkan saja," tegurnya.


Lee Sung Kyun tersenyum ketir, "aku harus memeriksa Do Hyun dan Sian," katanya. Kemudian masuk ke kamar Sian dan Do Hyun, menyusul Changmi.


Changkyun memandang aneh pada pintu kamar yang sudah tertutup itu. Sejak Sian dan Do Hyun datang, sikap Lee Sung Kyun dan kakaknya memang menjadi sedikit aneh, terlebih lagi kakak iparnya tersebut jadi jarang masuk kerja.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Gumamnya.


TO BE CONTINUE


__ADS_2