
"Dari mana kau mendapatkan uang untuk itu?" Tanya Sang ibu. Beberapa menit lalu sang ibu tanpa sengaja mendengar percakapan Sian dan Do Hyun terkait ujian masuk Universitas yang akan Sian ikuti minggu depan.
"Itu...," Sian menanggalkan perkataannya. Entah karena Sian tak pandai berbohong, atau sang ibu memang hebat dalam mendeteksi kebohongannya, sehingga dia harus membuat otaknya bekerja lebih keras mencari jawaban untuk pertanyaan ibunya daripada soal trigonometri yang membuat teman-tamannya saat di sekolah mumat.
"Noona mengikuti jalur beasiswa," Do Hyun menyela. Sang adik cukup peka untuk menyadari ketidakmampuan sang kakak mencari jawaban atas pertanyaan ibunya.
"Beasiswa? Benarkah?" Tanya sang ibu, meyakinkan diri.
"Tentu saja benar! noona kan pintar, eomma," tukas Do Hyun. Sebenarnya, Sian memang pintar. Namun, kepintarannya tidak berada di level di mana dia bisa mendapatkan beasiswa. Jika benar dia sepintar itu, maka tentunya dia tidak akan menerima kesepakatan gila Seok Jin.
"Omona! Kenapa tidak memberitahu eomma sejak awal?" nampak kebahagiaan di wajahnya yang mulai keriput dibeberapa bagian itu.
"Noona sengaja melakukannya untuk memberi kejutan pada eomma, hebat, 'kan? Eomma terkejut, 'kan?" Seru Do Hyun.
Sian merasa sulit menelan salivanya ketika dia menyadari betapa lihainya lidah sang adik merangkai kata.
"Sian-ie, eomma sangat senang mendengarnya, chukkahae. Malam nanti, ayo kita berpesta untuk merayakannya!" sang ibu ikut berseru.
Sian tersenyum getir, dia belum bisa berkata-kata karena merasa bersalah pada ibunya, serta merasa takjub dengan kebohongan adiknya.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Sian merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari sana. Ada sebuah pesan masuk dari Seok Jin.
[Seok Jin: Sian, kau tahu persimpangan di dekat rumahmu? Temui aku di sana!]
Sian mendengus, dia benar-benar membenci Seok Jin, jika saja dia tidak berada di posisi di mana dia harus menuruti semua perkataan Seok Jin, pastinya dia sudah memaki pria itu.
"Eomma, aku akan keluar membeli beberapa cemilan untuk pesta malam ini." Sian berbohong untuk kelima kalinya selama 20 tahun hidupnya. Kebohongan pertamanya dia lakukan di usia 12 tahun, saat dia menghancurkan plakat penghargaan ayahnya. Namun, dia menyalahkan Do Hyun atas itu. Kebohongan keduanya terjadi di usia 15 tahun, saat dia pergi ke bioskop setelah mengaku ada tugas kelompok kepada ibunya. Kebohongan keempat dan kelimanya adalah saat dia membelikan Gook Heon hadiah dengan uang sewa toko ibunya, dan mengatakan pada sang ibu bahwa rumah mereka kerampokkan. Tapi lucunya, semua kebohongan Sian berhasil dideteksi oleh sang ibu, hingga membuatnya harus bertanggungjawab. Kini, mungkin karena sang ibu sedang bahagia atas kabar gembira yang Do Hyun sampaikan, sehingga dia kehilangan kehebatannya untuk mendeteksi kebohongan itu.
♡♡♡
Sian melirik ponsel dalam genggamannya, sudah sepuluh menit dia menunggu di persimpangan yang Seok Jin maksud. Namun, pria itu belum kelihatan batang hidungnya. Ya! Mungkin baru sebentar Sian menunggu. Namun, bukankah waktu terasa lama bila kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai?
"Oughh dia menyebalkan sekali! Membuatku harus menunggu dibawah terik matahari seperti ini!" Sian terus menggerutu. Matahari saat ini memang berada tepat di tengah petala langit, sinarnya yang keterlaluan cerahnya membuat kepala Sian seolah mendidih, menambah emosinya terhadap Seok Jin.
Sian mendengus kesal ketika dia melihat mobil Seok Jin berhenti di dekatnya. Dia hendak memaki sang empunya mobil. Namun, dia lekas mengurungkannya ketika Seok Jin keluar dari mobil dengan wajah lebam, serta empat pria bertubuh besar yang ikut keluar dari mobilnya.
"S-Seok J-Jin-ah." Sian tergagap. Dia cukup tercengang melihat empat pria bertubuh besar dan berwajah agak seram itu. Apakah mereka rentenir? Seok Jin bangkrut? Lalu bagaimana dengan kuliahku? Atukah..., mereka intel? Mereka ingin menangkap kami karena dokumen palsu? Tunggu! Kami bahkan tidak memalsukan apapun, yang kami lakukan hanyalah kebohongan verbal. Begitu banyak pertanyaan dalam kepala Sian.
"Sian-ah." Seok Jin menghamburkan diri memeluk Sian. Wanita yang masih tercengang itu tanpa sadar membalas pelukkan Seok Jin.
"N-nugu (siapa)?" Sian masih tergagap. Salah satu pria besar itu menghampiri mereka, membuat Seok Jin memeluk Sian semakin erat.
"Apa kau Lee Sian?" Tanya pria besar itu, Kang Dong Ho.
"I-iya, a-ada p-perlu apa?" Balas Sian.
__ADS_1
"Kau benar isteri dari ba#ingan ini?!"
Sian menatap Seok Jin, yang kemudian di balas Seok Jin dengan tatapan memelas. Sian merasa iba melihat tatapan itu. Dia menyadari bahwa pria dipelukkannya sedang berada dalam masalah.
"Iya, kenapa memangnya?!" Sian bertingkah berani daripada yang dia rasakan sebenarnya. Jika digambarkan, Sian bagaikan Sung Seung Hoo dalam drama Black, di mana dia merupakan seorang polisi dari unit tindak kriminal. Namun, takut terhadap jenazah.
Kang Dong Ho menajamkan pandangannya, "kau tidak sedang berkomplot dengannya untuk menipu kami, 'kan?" Tanyanya, untuk lebih meyakinkan dirinya.
Sian tertegun, bagaimana dia bisa tahu? Pikirnya. Sian kembali menatap Seok Jin yang kini memberikan aba-aba kepadanya dengan mengedipkan mata. Seolah mengatakan, habislah kita jika jawabanmu tidak memuaskan!
"Itu...," barang sejenak Sian terdiam. "Apa kalian yang melakukan ini pada wajah tampannya?!" Kemudian mengubah topik pembicaraan
"Itu...,"
"Wahhhhh, keterlaluan sekali! Apa kalian tidak tahu siapa dia, huh? Dia ini pemilik perusahaan elektronik terbesar di Asia, wajahnya harus selalu ada di majalah bisnis, tapi kalian malah melakukan ini, huh?!" Sela Sian, mata lecinya dia buka selebar mungkin untuk memberikan kesan menakutkan. Namun, dalam dirinya, nyalinya hanya sebesar biji durian. "Ayo ikut denganku ke kantor polisi, kita akan selesaikan di sana!"
"Aku sudah melihat wajah kalian, bahkan jika kalian tidak mau ikut denganku ke kantor polisi, aku tetap akan ke sana dan memberikan detail sketsa wajah kalian!" Sian terus berbicara untuk menutupi kegugupannya.
Kang Dong Ho dan ketiga temannya tertegun. Mereka bukanlah gengster ataupun mafia, mereka hanyalah pekerja kantoran yang kebetulan memiliki postur tubuh besar dan tinggi, serta wajah yang seram seperti layaknya gengster. Mereka juga tidak melakukan apapun pada Seok Jin. Sebelumnya, saat mereka mengejar Seok Jin untuk meminta penjelasan darinya, Seok Jin tanpa sengaja terjatuh, dan wajahnya terbentur hingga lebam.
"J-jangan begitu," pinta Kang Dong Ho. "Kami tidak melakukan apapun padanya, dia sendiri yang membuat wajahnya lebam karena terjatuh."
"Ehh?" Mata yang sengaja Sian buka selebar mungkin, perlahan menyipit seperti biasanya mata itu terlihat padanya. Sian merasa sedikit malu karena kenyataan yang berbanding terbalik dari ekspektasinya. Dia berpikir bahwa empat pria itu adalah gengster yang mengeroyok Seok Jin hingga lebam, ternyata bukan.
"T-tapi kenapa kalian mengejarnya?" Tanya Sian kaku.
"Yaa! Sudah kukatakan aku tidak memiliki hubungan dengan Dong Hyi, dan Seo Hyun bukanlah kekasihmu!" Tukas Seok Jin barang sejenak, sebelum dia mendapat tatapan tajam Dong Ho dan kembali memeluk Sian.
"Dong Hyi? Seo Hyun?" Sian bergumam.
"Dia...," belum selesai Dong Ho berbicara, salah satu pengikutnya menghampirinya, dan berbisik, "Manager, jam makan siang sudah habis, Direktur akan marah jika kita tahu kita tidak ada di kantor."
"Yaa Han Seok Jin, sebaiknya mulai sekarang kau jaga sikapmu! Jika aku mendapatimu bermain-main dengan wanita lagi, aku akan mengejarmu, mengerti?!" Tukas Dong Ho, yang kemudian beralih pada Sian, "dan kau, kau boleh mengadu padaku bila dia menyakitimu." Dong Ho memberikan kartu namanya pada Sian.
"I-iya," jawab Sian kaku, sembari menerima kartu nama itu.
Dong Ho dan keempat temannya pergi. Seok Jin melepaskan pelukkannya dari Sian, melongok kepergian Kang Dong Ho dan ketiga temannya.
Seok Jin menghela napas, "syukurlah," katanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sian, ikut melihat kepergian Dong Ho.
"Bukan urusanmu!" Tukas Seok Jin, dia bersikap menyebalkan seperti biasanya dia lakukan. Padahal beberapa menit yang lalu, dia memelas meminta bantuan Sian.
"Kupikir mereka memukulimu."
Seok Jin menoleh, dia membenarkan kemejanya yang agak kusut. Seraya berkata, "itu..., ehmm...," dia terhenti. Harga dirinya sudah jatuh saat dia berlarian memeluk Sian, dan ketika Dong Ho mengatakan luka lebamnya berasal dari kesalahannya sendiri, bukan karena dipukuli.
__ADS_1
"Mau kubantu mengobatinya?"
Pertanyaan itu membuat Seok Jin sedikit terharu, mengingat Sian dan dirinya selalu bertengkar.
"Hanya butuh 15 ribu won," lanjut Sian.
"Heh?"
♡♡♡
Seok Jin menyesal karena sempat terharu dengan pertanyaan Sian. Nyatanya wanita itu membawanya ke klinik dekat rumahnya, dan parahnya lagi, biaya pengobatannya hanya 7 ribu won, tapi Seok Jin membayar pada Sian sebanyak 15 ribu won.
"Bukankah ini keterlaluan? Biayanya hanya 7 ribu Won!"
"Eihh, jangan kikir! Uang 15 ribu Won tidak ada artinya untukmu," tukas Sian.
Seok Jin menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya. Wanita ini memang menyebalkan! Rutuknya dalam hati.
"Ngomong-ngomong, pria-pria menakutkan tadi siapa?"
"Bukan urusanmu!" Tukas Seok Jin.
"Eihhh, tanpa kau beritahupun, kurasa aku tahu siapa mereka."
"Yang benar? Kalau begitu katakan!"
"Pria yang memberiku kartu nama ini, pasti dia kakak dari wanita yang kau sakiti hatinya. Dia pasti tidak terima disakiti olehmu hingga melibatkan kakaknya, iya, 'kan?" Terka Sian. "Dan untuk bagian Seo Hyun, aku tidak yakin dia adalah kekasihnya tapi kurasa pria itu sangat menyukai Seo Hyun, tapi Seo Hyun..., dia tergila-gila padamu. Kalau dalam pribahasa, hubunganmu dengan lelaki itu adalah sudah jatuh, tertimpa tangga pula."
Seok Jin ternganga, bagaimana bisa dia tahu? Pikirnya. Sebenarnya, alasan Seok Jin ingin bertobat dari keplayboyannya adalah karena Kang Dong Ho. Sejak Seok Jin ketahuan selingkuh oleh Dong Hyi, adik Dong Ho. Dong Hyi yang tidak terima, meminta bantuan kakaknya untuk meneror Seok Jin. Di tambah lagi, Dong Ho tergila-gila pada Seo Hyun, membuatnya semakin gencar meneror Seok Jin.
Sian membanggakan dirinya ketika melihat airmuka Seok Jin, "tidak perlu terkesima, aku ini memang pintar!"
"Cih! Aku tidak terkesima!" Seok Jin membela diri.
"Aku jadi ingin tertawa," kata Sian, terdengar seperti mengejek.
"Tertawa karena apa?!"
"Karena perkataanmu waktu itu," Sian mengingatkan. "Saat itu kau bilang, kau melakukan kebohongan ini, karena kau bosan dengan semua wanita yang mengejarmu. Tapi, kurasa bukan itu alasannya. Kau melakukan kebohongan ini untuk melindungi dirimu dari kakaknya mantanmu, 'kan?! Kau takut, 'kan?! Karena itu kau berbohong telah menikah denganku agar kakaknya mantanmu itu berhenti menerormu! Dengan pikiran bahwa dia tidak akan mengusik rumah tangga orang! Dan kemudian, secara kebetulan kakaknya mantanmu menyukai Seo Hyun, karena itu kau menggunakanku sebagai partner kebohonganmu, karena kau tahu bahwa Seo Hyun akan berhenti terobsesi padamu bila kau menikahi temannya! Luar biasa, ada bagusnya juga kau di teror, sehingga kau tidak akan lagi menyakiti hati para wanita diluar sana!"
Seok Jin tertegun. Analisis Sian sungguh luar biasa tepatnya. Itulah drama yang sedang dikerjakan Seok Jin saat ini. Jika dia sepintar ini, seharusnya dia gunakan otaknya itu untuk mengikuti jalur beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi! Umpat Seok Jin.
"Ahh masa bodoh! Aku mau pulang!" Tukas Seok Jin.
"Oke, hati-hati dijalan. Jangan melirik wanita lain, kau harus ingat kalau sekarang aku punya pendukung," ejek Sian, sembari memerlihatkan kartu nama Kang Dong Ho.
Sial!
__ADS_1
TO BE CONTINUE