Drama

Drama
Take 25


__ADS_3

Hyera akan menutup toko bunganya ketika dia mendengar suara yang sangat dikenalinya.


"Ahjumma!"


Dia menoleh pada sang empunya suara, dan mengembangkan sebuah senyuman saat melihat Hae Na yang berlarian menghampirinya.


"Eoh, Bae Hae Na," sapanya.


"Sudah mau tutup?" Tanya Hae Na.


"Eoh."


"Kalau begitu ayo aku bantu," katanya, sembari membantu Hyera menarik tralis tokonya.


"Sudah lama juga tidak bertemu denganmu, kabarmu baik?" Tanya Hyera.


"Iya, sangat baik," seru Hae Na.


Hyera, ibu Sian. Menatap curiga pada Hae Na.


"Jadi kau sudah move on dari Jay?"


"Aaahhh ahjumma," Hae Na merajuk. "Aku sudah move on darinya sejak lama! Dia tidak pantas di tangisi!"


"Bagus sekali, kita memang harus kuat sebagai wanita," kata ibu Sian, sembari mengunci tralis tokonya. "Tapi, ada apa kau ke sini?"


"Oohh itu, aku mau memberikan ini pada Sian, tapi aku tidak tahu tempat tinggalnya sekarang," keluh Hae Na. Sembari menyerahkan tiga buah undangan pada ibu Sian.


"Ini tiket drama musikal?"


"Iya. Pacarku akan tampil di sana, karena itu, bibi, Sian, dan Do Hyun jangan sampai tak datang."


"Iya, tentu saja aku akan datang, aku mau melihat orang yang berhasil membuatmu Move On dari Jay," goda ibu Sian. Membuat Hae Na tersipu malu.


"Aaahhh bibi~"


"Oh iya, memangnya Sian tidak memberitahumu di mana asramanya? Sampai kau harus jauh-jauh ke sini," Ibu Sian mempertanyaan pernyataan Hae Na sebelumnya, saat dia mengatakan tidak tahu timpat Sian tinggal sekarang.


Hae Na menautkan alisnya, "asrama? Maksud bibi apartment?"


"Apartment? Bae Hae Na, kau tidak sopan! Kau sedang mengejekku, eoh? Bagaimana bisa Sian tinggal di sana, di saat aku bahkan tidak bisa mengirimi uang bulanan untuknya!" Tukas ibu Sian, agak tersinggung dengan perkataan Hae Na, dan itu membuat Hae Na bingung.


"Aku tidak mengejek, bi. Aku hanya bingung saja, kupikir dia tinggal bersama Seok Jin," Hae Na membela diri.


Ibu Sian menautkan alisnya, "maksudmu Han Seok Jin? Teman sekelasnya yang playboy itu? Kenapa Sian harus tinggal dengan orang seperti itu?!"


Ibu Sian memang cukup mengenal Seok Jin, lantaran Sian sering berada di sekolah dan kelas yang sama dengannya, serta, Sian juga sering menceritakan tentang Seok Jin pada ibunya.


"Kenapa tidak boleh? Mereka kan sudah menikah," sahut Hae Na, membuat ibu Sian terkejut dan matanya membulat.


"Apa maksudmu? Kenapa mereka menikah? Bagaimana mungkin mereka menikah? Kapan aku merestuinya?!"


Melihat airmuka ibu Sian, Hae Na yakin bahwa dia salah bicara. Apa Seok Jin dan Sian menikah tanpa restu dari orang tua? Pikirnya.


"A-aku..., t-tidak tahu," Hae Na tergagap. Dia berpikir bahwa jika benar Seok Jin dan Sian menikah tanpa restu, berarti dirinya telah membuat kesalahan besar dengan memberitahu ibu Sian.


"Kalau tidak tahu, kenapa asal bicara?" Tanya ibu Sian. Wanita 45 tahun itu memang cukup sensitive jika berbicara menyangkut kedua anaknya.

__ADS_1


"Itu aku...,"


"Eoh, Bae Hae Na, kebetulan sekali bertemu di sini," sapa Runa. Dia baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya bersama teman-temannya di toko kue beras milik Jong Rok, teman ibu Sian.


Hae Na nampak gugup, biar bagaimanapun dia ingin melindungi Sian.


"E-eoh, R-Runa-ah."


Runa melirik ibu Sian, agak berpikir sampai kemudian, "Sian eomma? (Ibu Sian?)" Serunya.


"Siapa?" Tanya ibu Sian.


"Aku Runa, anda tidak ingat aku?"


Ibu Sian berpikit barang sejenak, mencoba untuk mengingat. Namun, "tidak!" Tukasnya.


"Runa, sebaiknya kita...,"


"Bagaimana kabar Sian? Kami harap dia mau memaafkan kami, karena sepertinya Seok Jin sangat marah pada kami," kata Runa, menyela perkataan Hae Na.


Hae Na mencoba untuk menutup mulut Runa. Namun, wanita itu kesal karena Seok Jin menarik investasi di perusahaan ayahnya sejak kejadian itu, karena itu dia mencoba untuk membahasnya bersama ibu Sian.


"Seok Jin? Kenapa kalian terus menghubungkan anakku dengan Seok Jin?"


Mendengar respon seperti itu, Runa merasa yakin bahwa ada sesuatu dibalik pernikahan Seok Jin dan Sian. Apa mereka menikah tanpa mendapat restu? Pikirnya, sama seperti yang Hae Na pikirkan, dan itu membuatnya sengaja ingin terus membahas masalah pernikahan Seok Jin dan Sian di hadapan ibu Sian.


"Karena mereka memang berhubungan. Tidak mungkin, 'kan, bibi tidak tahu kalau Seok Jin dan Sian sudah menikah?" Runa memprovokatori.


"Yaa! Runa!" Tegur Hae Na.


"Yaa Bae Hae Na! Apa itu benar?!" Ibu Sian murka. Perasaan marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Dia dikecewakan anak yang dia banggakan, merasa tak dianggap karena mendengar hal seintim ini dari orang lain, bukan dari mulut anaknya sendiri.


♡♡♡


#prakkk


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kiriku.


"I-ibu."


Aku tertegun, dan kehilangan kata-kataku. Bagaimana ibuku bisa ke sini? Apa dia tahu tentang pernikahan palsuku dan Seok Jin?


Mata ibuku memerah, dan basah. Dia juga terlihat sangat marah. Ini kali pertama aku melihat ibuku seperti ini. Aku yakin, ibuku pasti mengetahui sesuatu.


"Jadi begini caramu membalasku, huh?! Bertahun-tahun aku membesarkanmu, tapi kau bahkan tidak menganggapku ada! Anak kurang ajar!" Hardik ibuku. Airmataku menggenang, aku takut sekali mendengar perkataan ibuku tadi.


"Ibu, aku...,"


"Apakah ayahmu tahu tentang pernikahanmu?! Kau hanya memberitahunya, tapi tidak memberitahuku, hah?!"


"Ibu, tidak seperti itu. Tidak mungkin aku...,"


"Kau berlagak seolah ada dipihakku, tapi kau bahkan hanya memberitahukan prihal pernikahanmu pada ayahmu! Pengkhianat!" Ibuku membentak.


Airmataku tak kuasa kutahan lagi.


"Tidak! Aku tidak mungkin seperti itu, bu!" Jeritku, dengan suara yang mulai terdengar sangau. "Aku sangat menyayangimu, bu. Aku bahkan merelakan banyak hal untuk bisa bersamamu, jadi tidak mungkin aku melakukan itu padamu."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu? Bagaimana kau bisa menikah tanpa restuku ataupun ayahmu?! Bagaimana bisa?! Kau...,"


"Ini hanya kebohongan, bu!" Tukasku.


"Apa maksudmu?"


Kucoba untuk menahan isakku, "seperti drama pagi hari yang ibu lihat, begitulah hubunganku dengan Seok Jin. Ibu pikir aku sepintar itu untuk mendapat beasiswa di Universitas sebagus itu, eoh?"


Mata merah dan basah itu masih terpasang di wajahnya, dan itu membuat hatiku terasa sakit. Aku tidak pernah menduga bahwa wajah marah di selimuti kecewa itu akan terpasang di wajah ibuku karena diriku.


"Jadi maksudmu, kau...,"


"Seok Jin meminta bantuanku, dengan imbalan dia akan membiayai kuliahku sampai selesai, bu."


Kulihat wajah tertohok ibuku. Airmata yang ditahannya meleleh di kedua pipinya yang tirus.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini, eoh? Di mana harga dirimu?!"


"Ini bukan berarti aku menjual diriku, bu! Aku masih tetap memegang erat harga diriku. Ini sama haknya dengan pekerjaan paruh waktu," jelasku.


"Itukah yang kau pikirkan saat menerima tawaran Seok Jin? Kau...,"


Ponsel dalam genggamanku bergetar, menampilkan nama Do Hyun sebagai panggilan masuk.


"Ini Do Hyun," kataku, dan segera menerima panggilan masuk itu. Sejak tadi, aku memang menunggu kabar darinya.


"Do Hyun-ah," seruku.


"Apa anda wali dari siswa Lee Do Hyun?"


"Ada apa?"


"Siswa Lee Do Hyun...,"


♡♡♡


Aku dan ibu berdiri di dekat ranjang Do Hyun. Dokter bilang ada darah yang menggumpal di kepala Do Hyun akibat benturan di kepala yang menyebabkan penyumbatan aliran oksigen ke otaknya, sehingga dia harus mendapatkan tindakan khusus.


Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga Do Hyun seperti ini, tapi aku mengira bahwa ini adalah ulah dari orang-orang yang merundungnya.


"Kasihan sekali kalian," gumam ibuku. Namun, masih dapat terdengar olehku. Saat di jalan menuju rumah sakit, aku menceritakan segalanya pada ibuku, mulai dari pernikahan palsuku, sampai masalah perundungan yang dialami Do Hyun. Saat itu, ibuku hanya diam, dan mendengarkan. Aku tahu kalau dia pasti terpukul dengan ceritaku. Tapi, aku tidak bisa berbohong dihadapan ibuku, sehingga aku tidak punya pilihan lain selain menceritakannya.


"Ibu, kami...,"


"Kau harus menipu sekelilingmu untuk bisa kuliah, dan Do Hyun berakhir seperti ini karena aku tidak becus merawat kalian, memalukan sekali!"


"Ibu, ini tidak...,"


"Sepertinya, akan lebih baik jika kalian ikut dengan ayah kalian."


Aku tertegun, "ibu!"


"Aku akan menandatangani surat tuntutan yang ayahmu kirimkan."


"Ibu!"


Ibuku pergi begitu saja, meninggalkanku dan Do Hyun.

__ADS_1


"Ibu!" Panggilku. Namun, semua sia-sia, ibuku telah menghilang di balik lift.


TO BE CONTINUE


__ADS_2