
Di ruang tamu, Sian tertunduk, sedangkan Seok Jin memandang kearah lain, menghindari tatapan ibunya yang terlewat tajam.
Sang ibu mengedarkan pandangannya, berkali-kali dia mendengus kesal saat mendapati barang-barang pasangan dalam apartment ini. Seok Jin memang sengaja tidak mendekorasi ulang barang-barangnya, takut kalau-kalau para wanita itu kembali datang untuk bertamu. Apalagi saudara Su Hyu tinggal tepat di samping mereka, maka ada kemungkinan Su Hyu akan datang kembali ketika berkunjung ke saudaranya.
"Bagaimana mungkin kalian bisa menikah tanpa persetujuan dariku, hah?!"
Sian makin tertunduk, sedangkan Seok Jin kini kesulitan menelan salivanya. Pada dasarnya, Seok Jin sedang memikirkan jawaban bagus, jika dia menatap ibunya maka akan bertambah sulit baginya menemukan jawaban, tatapan ibunya terlalu mengganggu karena begitu tajam.
#brakkkkk
Sang ibu mendebrak meja di hadapannya, membuat Sian dan Seok Jin terperanjat kaget.
"Katakan!" Tukasnya.
"Aku pulang," seru Do Hyun.
Sian dan Seok Jin menatap kedatangan Do Hyun dengan wajah panik mereka. Ibu Seok Jin menoleh, menatap sang empunya suara yang terdengar riang itu.
Do Hyun nampak bingung ketika melihat isyarat Sian dan Seok Jin yang tidak bisa dia mengerti. Padahal, isyaratnya sangat mudah, mereka menggunakan tangan mereka untuk menyuruh Do Hyun pergi.
"Siapa lagi ini?!" Tanya ibu Seok Jin, ketus.
Do Hyun mengedepankan kedua tangannya ke depan, dan membungkukkan tubuhnya 90 derajat sebagai bentuk penghormatan pada ibu Seok Jin, "halo, aku Lee Do Hyun," katanya.
"Do Hyun? Siapa kau? Dan kenapa kau ada di sini?!"
"Tadi sudah kukatakan, bukan? Aku Lee Do Hyun. Aku di sini karena sudah pulang sekolah, jika belum, tentunya aku masih di sekolah, bukankah begitu?" Jawab Do Hyun santai.
Sian menggigit bibir bawahnya, menahan semua rutukan yang tertuju untuk adiknya di dalam hati. Do Hyun tidak pernah merubah sikapnya meskipun dalam keadaan genting, dia selalu bergurau.
"Yaa!" Bentak ibu Seok Jin, membuat ketiga orang itu terperanjat kaget.
"Astaga ahjumma, kau mengagetkanku," kata Do Hyun. Membuat ibu Seok Jin semakin kesal.
"Kau...,"
"Dia adikku," sela Sian, dia takut jika ibu Seok Jin akan melontarkan kata-kata kasar pada adiknya.
Ibu Seok Jin mengalihkan pandangannya pada Sian, "adikmu?"
"I-iya," jawabnya gugup.
Kini pandangan sang ibu beralih pada Seok Jin, "yaa! Han Seok Jin, jadi kau tinggal di sini untuk bisa hidup bersama para gelandangan ini, huh?!" Ibu Seok Jin membentak, membuat Sian tertegun.
"Gelandangan? Maksud ahjumma, kami?" Tanya Do Hyun menegaskan.
"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan kalian, hah?!"
__ADS_1
"Wahhhhhh...," Do Hyun mendengus kesal, "memangnya siapa ahjumma, hingga menilai kami sebagai gelandangan, hah?!"
"Aku ibunya!" Tukas ibu Seok Jin, sembari menunjuk Seok Jin.
"Ahh, jadi begitu. Baiklah, noona, ayo kita pergi, kita tinggalkan tempat ini! Tidak perlu mengkhawatirkan Seok Jin hyung lagi, biarkan saja dia di teror seperti waktu itu!" Tukas Do Hyun.
"Apa? Teror?" Tanya ibu Seok Jin.
Do Hyun tersenyum dalam hati, dia berhasil memancing ibu Seok Jin dengan perkataannya.
"Ahjumma tidak tahu? Putra ahjumma itu diteror oleh kakak dari mantan pacarnya!" Tukas Do Hyun.
"Apa?!"
"Ahjumma mau mendengar cerita lengkapnya?" Tanya Do Hyun.
"Iya, ceritakan!"
"Tapi ahjumma harus minta maaf atas perkataan ahjumma tadi! Bagaimana bisa malaikat seperti kami di sebut gelandangan?!" Kata Do Hyun. Sian dan Seok Jin hanya diam dan memerhatikan.
Ibu Seok Jin berdehem, dia ingin tahu, tapi rasanya sulit untuk melontarkan permintaan maaf. Sedangkan Do Hyun masih setia menunggu permintaan maaf ibu Seok Jin.
"S-sorry, i'am regret." Kata ibu Seok Jin, kaku.
"I'am can't speaking english," sahut Do Hyun, mempermainkan ibu Seok Jin. Sejak dulu, Do Hyun memang tidak pernah membiarkan orang lain menindas dirinya, bahkan meskipun itu gurunya di sekolah sekalipun.
"Maaf," kata ibu Seok Jin.
"Tunggu dulu! Kenapa banyak sekali mantan di cerita ini?" Sela ibu Seok Jin.
Do Hyun menghela napas panjang, "karena tema dari cerita ini adalah mantan..., ahjumma tolong dengarkan dulu sebelum bertanya, oke?"
"Baiklah."
"Bukan hanya kakak dari mantannya yang menerornya, tapi para wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Seok Jin hyung juga ikut andil dalam teror itu. Oleh karena itu, terciptalah sebuah skenario di kepala Hyung yang sedang dalam keadaan terdesak. Sebuah pernikahan kontrak. Hyung berpikir bahwa status pernikahannya akan menghentikan teror itu. Dan saat itu, satu-satunya malaikat baik hati yang mau menolongnya, hanyalah kakakku, Lee Sian. Dan sekarang..., teror itu sudah tidak ada," bagaikan narator dalam film-film, begitulah cara Do Hyun menjelaskan. Dia menghapuskan imbalan yang Seok Jin berikan kepada kakaknya sebagai syarat dalam perjanjian mereka. Do Hyun hanya ingin melindungi kakaknya dari persepsi buruk.
"Para wanita? Maksudmu, anakku playboy?"
"Eoh, kakakku memanggilnya playboy kacang. Karena dia sangat laris di kalangan wanita, seperti kacang merah yang laris diperjualbelikan, apalagi jika sudah menjadi olahan," jawab Do Hyun dengan santainya.
Ada sedikit penyesalan di wajah ibu Seok Jin ketika dia menatap Sian.
"Jadi kau telah membantu putraku?" Kali ini ibu Seok Jin menurunkan nada bicaranya.
"Kan tadi sudah kukatakan," sahut Do Hyun. "Tapi ahjumma tahu? Orang yang tinggal di sebelah adalah saudara dari salah satu mantan Seok Jin hyung. Kurasa dia sengaja tinggal di sana untuk memata-matainya."
"Apa?!"
__ADS_1
Sian dan Seok Jin masih memerhatikan.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau memanggil adikmu si mulut murahan," bisik Seok Jin.
"Syukurlah, akhirnya ada yang melihat apa yang kulihat," sahut Sian, berbisik.
"Tapi dia hebat, kurasa ibuku terpedaya," lanjut Seok Jin. Kemudian mereka berdua menghela napas bersamaan.
♡♡♡
Berkat mulut murahan Do Hyun, ibu Seok Jin kini menjadi bagian dari drama yang Seok Jin ciptakan. Meskipun jarang ada untuk Seok Jin, tapi sang ibu tetaplah takut jika Seok Jin kembali di teror, karena itu dia membiarkan drama itu terus berlanjut.
"Kurasa aku layak dapat hadiah untuk apa yang telah kulakukan," tegur Do Hyun.
"Bukan hanya hadiah, kau layak dapat penghargaan, dasar mulut murahan!" Gumam Sian. Sangat pelan, hingga tak ada yang bisa mendengarnya.
"Memang apa yang kau inginkan?" Tanya Seok Jin, membuat Do Hyun sumringah.
"Sebenarnya aku butuh kamera untuk membuat vlog, apakah aku boleh meminjam kameramu itu?" Tanya Do Hyun, sembari menunjuk kamera Seok Jin yang ada dalam lemari kaca di bawah televisi.
"Pakailah," kata Seok Jin.
"Kenapa kau membutuhkan itu? Bukankah kau punya kamera sendiri?" Sian menyahuti.
"Itu...," sejenak Do Hyun terdiam. "Hanya ingin menggunakan kamera yang lebih bagus saja," lanjutnya. "Aku ke kamar dulu."
Dia mengambil kamera Seok Jin, kemudian masuk ke kamar tamu yang selama ini dia gunakan saat tinggal di apartment Seok Jin.
Sian memandangnya dengan curiga, dia merasa ada yang salah dengan Do Hyun belakangan ini. Mulai dari sepatunya yang hilang, kemudian ponselnya yang juga hilang, dan laptop Sian yang dipinjamnya, yang entah kenapa tidak pernah dikembalikan oleh Do Hyun. Juga, uang jajan tambahan yang selalu Do Hyun minta pada Sian, padahal Do Hyun selalu dapat uang bulanan dari ibunya.
Apa ada yang merisaknya? Pikir Sian.
"Sian-ah," panggil Seok Jin, membuat Sian tersadar dari lamunannya.
"Apa?"
"Tentang wanita yang menerormu, kurasa itu bukan Seo Hyun," katanya, perlahan.
"Bukan Seo Hyun? Eoh maksudku...., maksudnya..., kapan aku bilang bahwa itu ulah Seo Hyun?" Kata Sian, mencoba untuk tidak menunjukkan kecurigaannya pada Seo Hyun.
"Sudahlah, aku tahu kau juga mencurigainya, karena itu aku mencaritahu, dan ternyata bukan dia. Seo Hyun bahkan juga diancam oleh wanita itu."
"Di ancam? Kenapa?"
"Akan kuceritakan nanti, setelah kau istirahat. Lukamu itu pasti meninggalkan efek, aku melihatmu beberapa kali memegangi kepala ketika meladeni ibuku," kata Seok Jin.
Sian terdiam, hari ini Seok Jin terlihat sangat perhatian padanya, dia bahkan rela tidur di lobby untuk membiarkannya beristirahat seorang diri di apartment.
__ADS_1
Apakah mungkin Seok Jin...,
TO BE CONTINUE