Drama

Drama
Take 20


__ADS_3

"Kupikir kau tidak akan datang," kata Hae Na. Saat ini kami sedang menuju lokasi diadakannya reuni sma kami. Setelah gagal menghibur Do Hyun dan Seok Jin dengan menonton drama musikal, aku memutuskan untuk pergi ke acara reuni, untuk sekedar merefresh diri.


"Aku hanya bosan di rumah," kataku.


"Bagaimana dengan Seok Jin? Dia datang?"


"Tidak, dia sedang sibuk!" Ya, dia sibuk mengistirahatkan dirinya! Umpatku dalam hati.


"Sibuk di hari minggu? Wahhh dia pria yang bekerja keras. Sungguh membanggakan melihat Seok Jin berubah karena dirimu, temanku."


Aku hanya diam, malas untuk menyahuti perkataan itu.


Hae Na memarkirkan mobilnya di depan restoran Tiongkok.


"Ini tempatnya?" Tanyaku.


"Eoh, ayo masuk."


Aku dan Hae Na masuk ke restoran bersama, di sana banyak wajah-wajah dari masa smaku yang kukenal. Mereka tersenyum padaku, seolah menyambut kedatanganku.


"Sian-ah, kami pikir kau tidak akan datang," seru beberapa orang.


"Di mana Seok Jin?"


"Dia sedang sibuk," jawabku.


"Ah sayang sekali. Kalau begitu duduklah dulu," Yohan memersilahkan.


Aku dan Sian duduk di bagian tengah bangku panjang yang teman-temanku duduki. Di depanku ada Runa, Im Soul, Jae Ha, dan lainnya.


"Lee Sian, ini kali pertamamu datang ke acara ini, 'kan?" Tanya Jae Ha.


"Eoh," sahutku.


"Kalau begitu bersenang-senanglah."


Dalam acara ini kami membicarakan banyak hal, dan kami juga banyak tertawa. Ada sedikit rasa sesal dalam diriku mengingat aku selalu menghindari acara ini.


"Sian-ah, kudengar kau kuliah di POSTECH, benarkah?" Tanya Jae Ha.


"Iya," jawabku sekenanya.


"Keren sekali, kau bisa masuk ke universitas swasta paling top di sini," kata Jae Ha, sembari menenggak wine nya.


"Tentu saja, dia punya Seok Jin sekarang. Jangankan kuliah, jika dia mau, Seok Jin bisa membelikannya bangunan 24 lantai," Im Soul menimpali. Aku tidak tahu apakah dia bergurau atau memang sinis terhadapku. Aku tidak bisa membedakannya karena dia sedang mabuk.


"Dia Cinderlella," kata Hae Na. Membuat kami tertawa.


"Lebih tepatnya dia wanita jalang yang beruntung!" Im Soul berkata dengan keras. Dan itu membuatku tertegun. Begitupun dengan yang lainnya.


"Yaa, bicara apa kau?! Sembarangan sekali!" Omel Hae Na.


"Abaikan saja, dia sedang mabuk," kata Runa.


Semua temanku menyetujui kalau saat ini Im Soul memang sedang mabuk. Namun, tetap saja perkataannya menyakitiku. Bahkan sekarang aku kesulitan menelan salivaku.


"Ya Lee Sian, hiraukan saja," kata Yohan, sembari tersenyum.


"Hiraukan?!" Im Soul berdiri dari duduknya, dan menggebrak meja dengan keras. "Yaa! Bukankah kalian sepakat menyebutnya seperti itu, hah?! Kalian bilang Seok Jin tidak pernah meniduri pacar-pacarnya meskipun memiliki banyak pacar. Jadi kalian berpikir bahwa jalang ini pasti memberikan kencan plus plus pada Seok Jin, dan mungkin saja terjadi 'kecelakaan' hingga Seok Jin terpaksa menikahinya!"


Perkataan Im Soul sungguh membuatku tertohok, terlebih lagi ketika dia menyebutkan 'kalian' itu berarti semua orang yang ada di sini memikirkanku dengan cara sehina itu.


"Yaa Im Soul, jaga ucapanmu!" Hae Na marah, begitupun dengan beberapa orang lainnya.


"Ayolah! Jangan munafik! Bahkan Seo Hyun yang sempurna seperti itu bisa Seok Jin selingkuhi, tapi kenapa dia malah menikahi jalang ini, hah?! Pasti ada sesuatu, dia pasti memberikan tubuhnya pada Seok Jin!" Im Soul terus berceloteh, sedangkan orang-orang di sini mencoba untuk menghentikannya.


"Soul-ah, hentikan! bicaramu keterlaluan!" kata Runa, perkataannya mungkin terdengar seperti sedang membelaku. Namun, aku bisa melihat dengan jelas senyum puas di wajahnya.


Dia kah yang merencanakan ini? Tapi apa salahku padanya? Kenapa dia memusuhiku seperti ini?


"Sian-ah, jangan menyimpannya dalam hati. Soul memang menjadi agak lancang ketika mabuk," Jae Ha mengakui kelancangan mulut Soul. Tapi aku sudah terlanjur dipermalukan, aku hancur, seperti ada batu besar yang menimpaku.

__ADS_1


Jika sebelumnya aku menyesal karena terus menerus menghindari acara ini. Kini, aku menyesal karena telah datang ke acara reuni yang bagiku hanya kedok untuk mengolok-olokku.


Aku ingin sekali menangis ketika aku mendengar suara yang amat kukenali, "kau di sini? Kenapa tidak menungguku?"


"E-eoh, S-Seok Jin-ah." Orang-orang berseru.


Aku menatap Seok Jin dengan mata pedih karena mencoba untuk menahan airmataku. Seok Jin membelai kepalaku dengan lembut, sembari melengkungkan senyuman di wajahnya


"Seok Jin-ah," lirihku.


♡♡♡


"Seok Jin-ah," lirih Sian. Sekuat tenaga Sian menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Dia benar-benar terluka atas perkataan Soul.


"Tidak apa-apa, sudah ada aku di sini," Seok Jin berbisik, kemudian dia duduk di samping Sian.


"Makan dan minumlah sepuas kalian, aku yang akan membayar," katanya. Membuat orang-orang disekelilingnya berseru, dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa tadi.


"S-seok Jin-ah, Sian bilang kau sedang sibuk. K-kenapa tiba-tiba...,"


"Sesibuk apapun, jika Sian pergi ke suatu tempat, maka aku akan mendatangi tempat itu," Seok Jin menyela perkataan Runa, dan mengundang siulan dari teman-temannya.


"Eihhhhh Seok Jin-ah!" Seru teman-temannya.


Seok Jin tertawa, kemudian secepat kilat tawanya berubah menjadi smirk menakutkan, "tapi..., aku amat sangat tidak senang dengan apa yang tidak sengaja kudengarkan tadi."


Seruan teman-temannya kini berubah menjadi keheningan. Mereka semua saling menatap, seolah ingin saling menyalahkan, dan tidak ingin disalahkan.


Sian menundukkan kepalanya, dia sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya. Dalam diam dia menangis, dan berkali-kali menghapus airmata itu.


Seok Jin menatap Im Soul dengan mata memicing, "bagaimana bisa kau berkata sehina itu di saat kau tidak tahu apapun, huh?"


"I-itu...,"


"Tolong maklumi dia, dia sedang mabuk," Runa menyela perkataan Im Soul, untuk membungkamnya atas fakta bahwa tindakkannya hari ini adalah karena pengaruh Runa. Runa tidak menyukai kenyataan bahwa hidup Sian begitu beruntung hingga bisa menikah dengan Seok Jin, tinggal di rumah mewah, kuliah di universitas elit, serta menggunakan barang-barang branded. Karena itulah Runa memprovokatori teman-temannya dengan isu seperti itu. Namun, yang paling terpengaruhi adalah Im Soul, anggota klub penggemar Seok Jin. Ditambah lagi Im Soul mabuk, sehingga membuat kecemburuannya pada Sian meletup-letup.


"Aku tidak bisa memaklumi siapapun yang merendahkan isteriku!" Tukas Seok Jin, dia menenggak habis wine yang disuguhkan untuk Sian. "Hanya sekedar menegaskan pada kalian! Tapi aku sangat mencintai wanita ini! Sangat mencintainya sampai pada titik di mana aku merasa akan gila jika mengingat betapa tidak layaknya aku untuk wanita sebaik dan selembut dia! Jadi, berhentilah wara-wiri sembari menyebarkan berita tidak masuk akal seperti itu, paham?!"


Dalam mobil, Sian hanya terus menghapus airmatanya yang terus menetes.


"Kenapa kau cengeng sekali?" Tanya Seok Jin.


Sian menolehkan pandangannya pada pria itu, "cengeng? Kau tahu kan apa yang dia katakan padaku? Itu melukai harga diriku!" Rengek Sian, membuat Seok Jin salah tingkah ketika wanita itu mulai menangis kencang.


"Y-yaa, j-jangan menangis, diamlah," pinta Seok Jin dengan cemas.


"Hks hks hks, dia bilang aku jalang. Itu sangat menyakitkan, hks hks hks," isak Sian dengan sesegukkan.


Seok Jin menghapus airmata Sian dengan ibu jarinya. Seraya berkata, "berhentilah menangis, lagipula Soul sedang mabuk, dia bisa mengatakan hal rancu. Kenapa dipikirkan sekali?"


"Tapi tetap saja penghinaan itu ditujukan padaku, aku kesal!" Sian terus merengek.


Seok Jin menghela napasnya, "sebenarnya ini salahmu, kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau pergi ke acara reuni?!" Tegur Seok Jin.


"Itu karena kau dan Do Hyun terus mengeritikku!" Protes Sian, membuat Seok Jin nampak menyesal, dia kembali menghapus airmata Sian dengan ibu jarinya


"Maaf, aku tidak bermaksud mengeritikmu. Do Hyun juga tidak bermaksud. Kami hanya lelah. Maaf ya?"


Sian menepis tangan Seok Jin dari wajahnya, "tidak mau! Aku masih kesal padamu!"


Seok Jin mendengus, dia benar-benar tak habis pikir pada dirinya sendiri yang sering mentolerir sikap Sian.


"Sebaiknya aku diam saja," gumamnya.


"Kenapa diam saja? Ayo pulang!" Titah Sian. Saat ini mereka memang masih berada di pekerangan restoran tempat reuni mereka tadi.


"Tidak bisa. Tadi aku minum wine, jadi tidak boleh menyetir."


"Lalu kenapa kau minum wine itu?!" Bentak Sian.


"Ya kau...," Seok Jin terdiam, dan mendesah. Dia memilih untuk mengalah pada Sian. Meskipun sebenarnya dia ingin sekali menyumpal mulut wanita itu dengan sesuatu. "Aku akan melepon Hyun Woo, jadi bersabarlah."

__ADS_1


"Berapa lama aku harus bersabar, eoh? Kau tidak tahu aku sedang kesal? Kenapa menyuruhku bersabar!" Sian terus memprotes, membuat Seok Jin kehabisan kesabarannya.


"Diamlah, hari ini kau berisik sekali!"


"Lalu sampai kapan aku harus bersabar? Aku...,"


Sian tercengang ketika Seok Jin secara tiba-tiba mengecup bibirnya.


"S-setidaknya d-diamlah sampai Hyun Woo datang," kata Seok Jin, gugup. Jantungnya berdegub amat keras. Sebenarnya, kecupan itu adalah tindakkan reflek yang Seok Jin lakukan karena dia merasa gemas dengan ocehan Sian.


Aku pasti gila! Gila! Aishh seharusnya aku tidak meminum wine itu! Rutuk Seok Jin dalam hatinya.


♡♡♡


Sian segera memasuki kamarnya ketika sampai di apartment Seok Jin. Mengundang tanda tanya pada Do Hyun yang melihatnya.


"Dia kenapa?" Tanya Do Hyun.


Seok Jin kesulitan menelan salivanya. Dia tidak bisa mengatakan pada Do Hyun bahwa dia baru saja mengecup bibir kakaknya tersebut.


"K-kurasa d-dia masih k-kesal pada kita," kata Seok Jin tergagap. "Do Hyun-ah, aku masuk dulu." Secepat kilat Seok Jin masuk ke kamarnya, dan menutup rapat pintu kamarnya tersebut.


"Aishhhhhhh! Kenapa aku melakukan itu? Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Rutuk Seok Jin pada dirinya sendiri.


Dia terus merutuki dirinya, sampai ketika dia merasakan ponsel di dalam saku celananya bergetar. Dia mengeluarkan ponsel itu, dan mendapati nama Hyun Woo sebagai panggilan masuk.


"Ada apa?" Tanya Seok Jin ketika dia menerima panggilan masuk tersebut.


"Tuan, sebenarnya ada yang ingin kusampaikan. Tapi, aku ragu."


"Katakan saja, kenapa harus ragu? Apakah ini hal serius?"


"Ini tentang permintaan tuan waktu itu."


"Maksudmu tentang ayah Sian, kenapa?" Tanya Seok Jin agak mendesak.


"Aku menemukan bahwa...,"


♡♡♡


Seok Jin tersedak minuman yang diminumnya saat melihat Sian keluar dari kamarnya. Pria itu salah tingkah. Kecupannya pada bibir Sian tempo hari masih tersimpan aman dikepalanya, membuatnya malu.


Dia memalingkan wajahnya, untuk menghindari kontak dengan Sian.


"Noona, hyung, aku berangkat sekolah dulu...,"


"Eoh, Do Hyun-ah, ayo aku antar," seru Seok Jin. Dia bergegas pergi dengan menyeret Do Hyun keluar.


"Memangnya hyung tidak pergi bekerja?" Tanya Do Hyun.


"Kerja, ini sekalian mengantarmu ke sekolah," kata Seok Jin. Sebenarnya Seok Jin bekerja jam 10 pagi. Namun, dia tidak bisa membayangkan berada di rumah bersama Sian setelah kejadian tempo hari.


"Oh iya, hyung. Bagaimana tentang ayahku? Apa hyung sudah tahu alasan ayahku melakukannya?" Tanya Do Hyun sesampainya mereka di mobil Seok Jin.


Seok Jin diam barang sejenak. Sebenarnya dia sudah mengetahui alasan ayah Sian dan Do Hyun meneror kedua anaknya tersebut hingga sampai di titik mencelakai. Namun, Seok Jin merasa bibirnya keluh, dan hatinya tidak memiliki niatan untuk memberitahukan alasannya pada Do Hyun. Meskipun dia telah menjanjikan hal tersebut padanya.


"Belum, Do Hyun-ah. Saat aku sudah tahu, aku akan segera memberitahumu."


"Begitukah?" Do Hyun nampak kecewa. "Kurasa ayah melakukan ini supaya kami kembali padanya."


"Benarkah?"


"Kurasa begitu. Sebenarnya, hak asuh kami dimenangkan oleh ayah, tapi kami tidak mau dan memilih kabur ke rumah ibu. Saat itu ayah tidak melakukan apapun untuk mengambil kami kembali dari ibu selain menegaskan bahwa dia tidak akan membiayai hidup kami. Namun, entah kenapa baru-baru ini ayah mengajukan tuntutan pada ibuku atas hak asuh kami. Jadi kurasa dia sengaja meneror kami agar ibu kami khawatir dan membiarkan kami di asuh oleh ayah."


Seok Jin hanya diam dan tersenyum ketir.


Semalam, Hyun Woo memberitahukan segalanya tentang ayah Sian dan Do Hyun pada Seok Jin. Di mana ayah Sian dan Do Hyun saat ini sedang terlilit hutang yang sangat besar. Dan rumah mewah yang hari itu dilihat Seok Jin adalah jaminan atas hutangnya tersebut. Untuk membayar hutangnya, sang ayah tega mencelakai Sian dan Do Hyun demi mendapatkan uang asuransi mereka. Sebelum bercerai dari ibu Sian dan Do Hyun. Ayah Sian dan Do Hyun mengasuransikan semua anggota tubuh kedua anaknya tersebut. Itulah alasan kenapa ayah mereka menuntut hak asuh anak setelah dia mengabaikan mereka demi kebahagiaan tersendiri, semua itu agar dia lebih mudah mengajukan penarikan uang asuransi ketika Sian dan Do Hyun terluka. Namun, yang paling membuat Seok Jin bergedik adalah saat Hyun Woo mengatakan bahwa ayah Sian dan Do Hyun akan mendapatkan uang asuransi yang sangat banyak apabila Sian maupun Do Hyun koma, mengidap penyakit langka, dan yang paling ekstream adalah meninggal. Karena itulah tanpa diketahui Sian dan Do Hyun, Seok Jin meminta beberapa orang suruhannya untuk mengawasi mereka dari kejauhan, agar tidak terlalu mengganggu privasi mereka.


Sekarang semuanya sudah sangat jelas bagiku. Sial! Bagaimana bisa ada orangtua sekejam itu?! Rutuk Seok Jin dalam hatinya.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2