Drama

Drama
Take 23


__ADS_3

"Hari ini Changkyun menyatakan cintanya padaku!" Seruku.


"Apa?!" Secara bersamaan Seok Jin dan Do Hyun terkejut.


Aku tersipu malu, "dia bilang rasa sukanya padaku bukan gurauan." Dan terus tersenyum seolah senyum ini tidak bisa kuenyahkan dari wajahku.


#brakkk


Aku terperanjat kaget ketika Seok Jin mendebrak meja.


"Yaa! Han Seok Jin, kau mengagetkanku!" Tegurku.


"Bukankah sudah kukatakan?! Aku membiayai kuliahmu bukan untuk membiarkanmu bermain-main! Tapi untuk belajar! Lagipula kau punya perjanjian denganku, apa kau tak malu jika orang lain melihatmu bersama pria lain di saat mereka tahu kau itu isteriku, hah?!" Dia membentakku. Ini pertama kalinya dia seperti ini, biasanya yang dia lakukan hanyalah mengejekku, menyindir, dan menghardik, dia belum pernah membentakku seperti ini.


Kulihat Do Hyun menepuk-nepuk punggung Seok Jin, dan dia berkata dengan cara yang menurutku lebih bijak dari pada Seok Jin.


"Hyung, jangan seperti ini. Kita bisa membicarakannya baik-baik."


"Wanita ini tidak bisa diajak bicara baik-baik. Dia bodoh, dan tidak tahu apapun! Dia...,"


"Terus saja! Terus hina aku! Inilah Seok Jin yang sebenarnya, kau tidak pantas menjadi sosok yang perhatian!" Umpatku. Aku hendak beranjak dari tempatku ketika teringat sesuatu, "ah iya! Kau bilang aku bodoh dan tidak tahu apapun, huh?! Kaulah yang tidak tahu apapun! Manusia kikir!"


"Yaa!"


Aku tidak memerdulikan ocehannya, dan terus melangkah menuju kamarku. Kubanting pintu kamarku, kemudian menjatuhkan diriku di atas ranjang.


"Aku bodoh? Aku tidak tahu apapun?" Aku mendengus, "dialah yang tidak tahu apapun! Dia menyebalkan! Bodoh! Dia...," airmataku menetes, meluncur melalui pelipisku.


"Dia..., dia bahkan membuatku tidak bisa menjawab pertanyaan Changkyun," lirih Sian.


FLASHBACK ON


"*Seperti rasa sukaku padamu, itu bukan gurauan!" Tukas Changkyun. Membuatku terperangah.


"K-kau...,"


"Kau mau berkencan denganku?"


Jantungku berdegub amat keras, hingga rasanya mampu untuk memantul keluar dari tempatnya.


"Tentu aku...," aku terhenti ketika mengingat kejadian kemarin, di mana Seok Jin menjadi bahan olok-olok para mantannya karena aku. Mereka secara tak sengaja melihatku bersama Changkyun, dan mulai menghardik Seok Jin dengan mengatakan bahwa aku berselingkuh sebagai tanda karma masa kelam Seok Jin yang sering mempermainkan wanita.


Aku memang sering bertengkar dengan Seok Jin, tapi aku tidak berada di tingkat SANGAT BENCI , hanya ditingkat BENCI padanya. Namun, biarpun begitu, masih banyak rasa terimakasih untuknya di dalam diriku. Secara tak sadar, aku menerima banyak bantuan dari Seok Jin, dan aku tidak mau dia kehilangan muka karena lakuku.


"C-Changkyun-ah."


"Eoh?" Changkyun memandangku dengan wajah penuh harap. Akupun begitu, aku sangat berharap bisa bersamanya. Namun...,


"Aku...,"


"Aku tidak memintamu menjawabnya sekarang," sela Changkyun. Dia merengkuh kedua bahuku, "jawablah saat kau sudah yakin, emm?"


Aku semakin terpesona padanya, dia benar-benar peka terhadap sekelilingnya, dan begitu perhatian. Aku melihat adanya setitik harapan untuk hubungan kami.


**FLASHBACK OFF***


"Aku menceritakannya karena itu berita bahagia, tapi responnya seperti itu, menyebalkan! Kalau tahu begini, kubiarkan saja dia kehilangan muka di depan semua mantannya! Biar dia tahu rasa!" Gumamku.


Aku terlalu bahagia atas permintaan Changkyun sehingga tidak bisa menyembunyikannya dari Seok Jin dan Do Hyun. Sekarang, aku jadi menyesal membagi cerita yang rupanya hanya kabar gembira untukku, tapi tidak untuk mereka, menyebalkan!"


♡♡♡


"Haruskah kita memberitahu, noona? Aku khawatir jika...,"

__ADS_1


"Bagaimana cara kita memberitahunya? Sian-ah, pria yang kau sukai adalah adik dari gundik ayahmu. Haruskah begitu?" Seok Jin menyela, membuat Do Hyun terdiam.


"Sejak dulu dia selalu menyukai pria yang tidak tepat. Bodoh sekali!" Gumam Seok Jin.


Ponselnya bergetar di atas meja. Segera Seok Jin meraihnya, dan mengangkat panggilan masuk itu.


"Ada apa?"


"Tuan, ada masalah pada cabang kita di Helsinki."


Seok Jin menautkan alisnya, "masalah? Masalah apa?"


"Ada beberapa data kita yang bocor ke perusahaan lawan. Aku sudah meminta tim audit untuk memeriksanya."


"Kerja bagus, kalau begitu aku akan ke sana untuk ikut memeriksa. Lanjutkan kerjamu," titah Seok Jin sebelum dia menutup telepon Hyun Woo.


"Ada apa, hyung?" Tanya Do Hyun.


"Ada sedikit masalah di perusahaanku, mungkin aku akan pergi ke Helsinki selama beberapa hari," kata Seok Jin, sembari mengeluarkan tas jinjingnya dari dalam lemari, dan memasukkan beberapa pakaian ke sana.


♡♡♡


Meskipun hanya memiliki toko bunga yang kecil, dan pendapatannya juga tidak besar. Ibu Sian tetap mensyukurinya. Setidaknya dia bisa hidup bahagia bersama anak-anaknya, meskipun terkadang anak-anaknya sering membuatnya pusing karena pertengkaran mereka.


"Pesanan bunga tulip lagi?" Tanya Bok Som, pemilik bar yang berada di ujung jalan. Dia, dan beberapa pemilik toko lainnya memang sering mengunjungi toko bunga ibu Sian untuk menghilangkan penat mereka disela-sela berniaga.


"Iya," jawab ibu Sian, Im Hyera.


"Kenapa banyak sekali yang memesan tulip? Padahal bunga lili lebih bagus," sahut Jong Rok, pemilik toko kue beras.


"Kau tidak tahu karena selalu membuat kue beras. Bunga tulip itu sedang tren," kata Hyera.


"Tapi, Sian eomma (ibu Sian), bagaimana kuliah anakmu?" Tanya Kwak Hoon, pemilik kedai ramen.


"Kau tidak tahu? Anaknya mendapat beasiswa di POSTECH. Hebat, 'kan?" Kata Kwak Hoon.


"Kidengar Universitas itu adalah Universitas swasta bergengsi. Anakmu pasti pintar," Bok Som menimpali.


Hyera mendesah, "tapi tetap saja aku merasa bersalah padanya. Aku harus membuatnya berjuang seorang diri."


"Eihhh kau tidak sepantasnya menyesal, kau harusnya bersyukur karena setidaknya dia bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri," tegur Jong Rok. "Anakku sudah sebesar itu, tapi masih saja menyusahkanku."


"Lalu bagaimana dengan Do Hyun? Apa dia sudah selesai dengan karya ilmiahnya?" Tanya Kwak Hoon.


Do Hyun memang mengatakan pada ibunya, bahwa dia ikut dengan kakaknya untuk mengerjakan karya ilmiahnya, karena itu sang ibu memberinya izin untuk ikut dengan Sian.


"Sian bilang, Do Hyun sudah hampir selesai mengerjakannya," jawab Hyera.


"Tapi, aku baru tahu kalau asrama kampus memperbolehkan mahasiswanya membawa keluarga."


"Iya, aku juga. Anak dari pamanku juga pernah tinggal di asrama kampus, jangankan tinggal, untuk berkunjungpun ada batas waktunya," Bok Som menimpali perkataan Kwak Hoon.


Hyera terdiam, dia baru memikirkan hal itu sekarang, "tapi Do Hyun bilang, kampus kakaknya itu berbeda. Mungkin karena kampus kenamaan," jawabnya dengan bangga. Membuat teman-temannya mengangguk setuju.


"Kau sudah mengunjunginya?" Tanya Jong Rok.


"Sian bilang itu tidak perlu. Lagipula mereka terkadang mengunjungiku."


♡♡♡


"Dia mau ke mana?" Tanya Sian pada Do Hyun, ketika dia melihat Seok Jin pergi dengan membawa tas.


"Helsinki, ada masalah di cabang perusahaannya," jawab Do Hyun.

__ADS_1


"Hidupnya memang penuh masalah," gumam Sian, sembari menenggak air minum yang ada di tangannya.


Do Hyun menoleh pada kakaknya, dengan tatapan penuh tanya dan kekhawatiran, dia berkata, "noona, kau serius dengan ucapanmu tadi?"


Sian mendesah, "kau juga mau memarahiku?!" Sian merengut, dia meletakkan gelasnya di meja dengan cukup keras. "Kau tidak perlu cemas, Do Hyun-ah. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku tahu, aku bisa kuliah karena uang Seok Jin, karena itu aku menggunakan kesempatan ini dengan sangat baik. Selama ini aku belajar dengan sungguh-sungguh di kampus. Jadi jangan cemas!"


Do Hyun menghela napas berat, "bukan begitu, tapi...,"


"Mengatakan bahwa Changkyun menyukaiku bukan berarti kami berpacaran, 'kan? Aku juga tahu diri, aku tahu bahwa banyak orang yang kini menganggapku sebagai isteri Seok Jin, jadi aku akan melakukan tugasku itu dengan baik sampai perjanjian ini selesai!" Tukasnya.


"Jadi maksudmu, kau tidak berpacaran dengan pria itu?"


"Tidak! Aku mengatakan itu pada kalian karena aku tidak bisa menutupi kebahagiaanku di tembak oleh Changkyun!"


"Syukurlah," Do Hyun merasa lega mendengarnya. Membuat Sian menatapnya tidak percaya.


"Makan lama kau mirip dengan Seok Jin! Jangan terlalu dekat dengannya!"


Sian melangkah masuk ke kamarnya. Dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Seharusnya dia menjadi adik Seok Jin! Bukan adikku!" Keluh Sian.


Alih-alih mengeluh, jika saja Sian mengetahui kebenaran bahwa pria yang disukainya adalah adik dari gundik ayahnya, maka dia pasti akan sangat hancur, dan menangis sepanjang malam.


♡♡♡


Hyera akan menutup toko bunganya ketika dia mendengar suara yang sangat dikenalinya.


"Ahjumma!"


Dia menoleh pada sang empunya suara, dan mengembangkan sebuah senyuman saat melihat Hae Na yang berlarian menghampirinya.


"Eoh, Bae Hae Na," sapanya.


"Sudah mau tutup?" Tanya Hae Na.


"Eoh."


"Kalau begitu ayo aku bantu," katanya, sembari membantu Hyera menarik tralis tokonya.


"Sudah lama juga tidak bertemu denganmu, kabarmu baik?" Tanya Hyera.


"Iya, sangat baik," seru Hae Na.


Hyera, ibu Sian. Menatap curiga pada Hae Na.


"Jadi kau sudah move on dari Jay?"


"Aaahhh ahjumma," Hae Na merajuk. "Aku sudah move on darinya sejak lama! Dia tidak pantas di tangisi!"


"Bagus sekali, kita memang harus kuat sebagai wanita," kata ibu Sian, sembari mengunci tralis tokonya. "Tapi, ada apa kau ke sini?"


"Oohh itu, aku mau memberikan ini pada Sian, tapi aku tidak tahu tempat tinggalnya sekarang," keluh Hae Na. Sembsri menyerahkan tiga buah undangan pada ibu Sian.


"Ini tiket drama musikal?"


"Iya. Pacarku akan tampil di sana, karena itu, bibi, Sian, dan Do Hyun jangan sampai tak datang."


"Iya, tentu saja aku akan datang, aku mau melihat orang yang berhasil membuatmu Move On dari Jay," goda ibu Sian. Membuat Hae Na tersipu malu.


"Aaahhh bibi~"


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2