Drama

Drama
Take 29


__ADS_3

"Jadi, apa yang mau kau katakan?" Tanya Seok Jin, bersamaan dengan kekhawatiran yang kian menutupi dirinya.


"Akulah yang ingin menanyakan itu. Katakanlah apa yang mau kau katakan. Apa yang kau ketahui? Aku harus melindungi mereka dari apa..., apakah dari kakak iparku?" Changkyun balik bertanya.


Seok Jin mengalihkan pandangannya kuluar jendela, mencoba menghindari tatapan Changkyun.


"Katakanlah, aku juga harus tahu apa yang kau ketahui," kata Changkyun lebih lanjut.


Seok Jin menghela napas panjang, kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Changkyun, "aku tidak yakin akan memberitahukan ini padamu, ini..., lupakan saja. Aku hanya ingin tahu keadaan mereka, itu saja." Seok Jin merasa tak yakin, karena orang dihadapannya mungkin saja terlibat dalam skenario Lee Sung Kyun, ayah Sian dan Do Hyun. Mengingat pria dihadapannya adalah adik dari gundik ayah Sian.


"Itu adalah takdir!"


"Eoh?"


"Kenyataan bahwa aku adalah adik dari gundik ayahnya, itu adalah takdir!" Tukas Changkyun. "Jika kau tidak yakin untuk memberitahukan padaku hal yang kau ketahui karena takdir itu, maka kau tidak perlu mencemaskannya. Karena aku..., takdir jugalah yang membuatku mencintai Sian."


Seok Jin terdiam, perkataan Changkyun seolah menjawab kecurigaan dalam hatinya. Dia dapat melihat ketulusan dan kesedihan di mata Changkyun. Dari situ Seok Jin menyadari bahwa pria dihadapannya pasti juga sangat terluka dengan kenyataan yang terjadi.


"Semua ini tentang uang asuransi Sian dan Do Hyun!" Tukas Seok Jin, membuat Changkyun menatap penuh tanya padanya.


"Maksudnya?"


"Selama berbulan-bulan, baik Sian maupun Do Hyun, keduanya terus di teror. Bahkan seringkali orang yang menerornya sampai berani melukai mereka. Awalnya kami berpikir bahwa itu ulah para mantan pacarku. Namun, setelah kuselidiki itu adalah ulah..., ayah mereka. Do Hyun berpikir bahwa ayahnya melakukan itu untuk bisa mengambil kembali hak asuhnya terhadap Sian dan Do Hyun. Namun, kenyataan yang terjadi adalah...," Seok Jin mengambil napas, kemudian melanjutkan, "ayah mereka melakukan itu demi uang asuransi. Sian dan Do Hyun, mereka sudah diasuransikan selama sepuluh tahun, dan itu bukanlah jumlah sedikit. Ayah mereka memiliki hutang yang cukup besar, maka dari itu...,"


"Tapi dia tetaplah ayahnya, mana mungkin bisa dia..., ini tidak masuk akal!" Changkyun menyuarakan ketidakpercayaannya.


"Tapi itulah yang terjadi. Tapi kurasa sekarang sudah tidak apa-apa, aku berinvestasi cukup besar diperusahaannya, jadi kurasa hutangnya mungkin sudah lunas, dan...,"


"Tidak!" Sela Changkyun. "Jika itu memang kenyataannya, maka seharusnya semua sudah baik-baik saja, tapi..., semuanya menjadi semakin buruk, kurasa ini tidak hanya tentang hutangnya!"


Seok Jin terbelalak, "apa maksudmu?!"


"Kurasa...,"


Changkyun terdiam ketika ponsel dalam genggamannya berdering, dia melihat ke layar ponselnya, dan mendapati nama Hoo Seok sebagai panggilan masuk. Dia menatap Seok Jin barang sejenak, sebelum akhirnya menerima panggilan itu.


"Hoo Seok-ah, kenapa lama sekali, eoh?" Tanya Changkyun agak kesal. Satu bulan lalu, dia meminta Hoo Seok, temannya yang merupakan seorang senior apoteker untuk memeriksa kandungan dalam cairan dibotol yang Changkyun temukan saat itu.


"Maafkan aku, Changkyun-ah, ada perollingan wilayah kerja, karena itu aku tidak sempat mengabarimu."


"Kau sudah menemukannya?" Tanya Changkyun. Seok Jin hanya memerhatikan dengan perasaan harap-harap cemas.


"Boleh kutahu di mana kau mendapatkan cairan itu? Maksudku, bahkan apotekerpun tidak mau bermain-main dengan cairan itu," kata Hoo Seok, membuat Changkyun merasa sangat cemas.


"Memangnya apa itu?"


"Itu adalah cairan Ricin, racun alami hasil ekstraksi biji minyak jarak. Racun ini menghambat kemampuan tubuh untuk membuat protein dengan menghambat sel untuk merakit asam amino yang diperlukan. Efek racunnya memang lamban, orang yang mengkonsumsinya akan mengalami kelumpuhan pada sel motorik, kemudian akan menyebabkan shock, jika tidak segera ditangani, maka..., akan berujung kematian." Jelas Hoo Seok, "apa ada seseorang yang kau kenal yang tak sengaja mengonsumsi cairan ini? Jika iya, maka sebaiknya cepat diobati!"

__ADS_1


Changkyun shock, dia menjatuhkan ponselnya ke lantai, membuat Seok Jin merasa semakin khawatir.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang salah?"


Changkyun menatap Seok Jin dengan sedih. Bagaimana bisa kakakku melakukan ini? Bagaimana bisa dia...,


♡♡♡


"Yaa! Lee Sian, buka pintunya! Lee Sian!" Changkyun menggedor-gedor pintu kamar Sian dan Do Hyun. Sesekali dia mencoba mendobraknya. Namun, pintu itu terkunci dengan kuat.


"Yaa Lee Sian! Buka!" Teriak Changkyun.


"Yaa Min Changkyun! Apa yang kau lakukan, hah?!" Tegur Changmi.


Changkyun mendengus kesal, dia menoleh pada kakaknya, menatapnya dengan tatapan benci.


"Seharusnya aku yang tanya, APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!" Bentak Changkyun. "Kau gila! Aku tidak percaya bisa satu darah dengan wanita hina sepertimu!"


#prakkk


Tamparan keras Changmi mendarat di wajah Changkyun, membuat Changkyun tercengang.


"Kurang ajar sekali, apa maksudmu berkata seperti itu padaku, hah?!" Bentak Changmi.


"Wahh, sungguh tidak tahu malu!" Geram Changkyun, dia kembali menatap kakaknya, "aku tahu rahasiamu dan suamimu yang brengsek itu, Changmi-ssi! "


"Jangan belagak tak tahu, kau...,"


"Ada apa ini?" Tanya Lee Sung Kyun, yang baru saja pulang bekerja.


Changkyun memandangnya penuh amarah, "kalian iblis!"


Sung Kyun menoleh pada Changmi barang sejenak. Airmuka Changmi menandakan ada sesuatu yang darurat. "Di mana ibumu?" Tanya Sung Kyun.


"Sedang pergi ke sauna," jawab Changmi.


Sung Kyun melangkah ke sudut ruangan, mengambil tongkat golf yang dia letakkan di sana.


"Changkyun-ah, usia kita berbeda terlalu jauh, bukankah tidak sopan mengatakan hal seperti itu, eoh?" Kata Seok Jin dengan penuh penekanan. Dia berjalan perlahan menghampiri Changkyun, membuat tubuh pria yang berbeda 31 tahun darinya itu secara otomatis mundur perlahan.


"Bukannya tidak sopan, tapi itu adalah kenyataannya, kalian adalah...,"


#bukkkk


"Akhhh." Changkyun terjatuh di lantai ketika Sung Kyun mengayunkan tongkat golfnya ke kepala Changkyun, hingga menyebabkan darah segar mengalir dari sana.


Changkyun menyentuh kepalanya, dan mendapati darah segar di tangannya.

__ADS_1


"Aku pernah mendengar ini dari seseorang, bahwa diam itu lebih baik," kata Sung Kyun. Dia mengarahkan tongkat golfnya ke kepala Changkyun. Bersiap untuk mengayunkan lagi tongkat golfnya. Sedangkan Changkyun, kini ketakutan, tubuhnya bergetar di lantai yang terasa dingin.


"Lagipula kenapa kau menghina kami, jika kenyataannya kau juga menikmati uang itu. Kau pikir bagaimana caranya ibumu berobat jalan jika bukan dari uang asuransi itu, eoh?" Tukas Sung kyun.


"K-kalian g-gila...,"


"Tahanlah rasa sakitnya, Changkyun-ah."


#bukkkk


♡♡♡


Sian dapat mendengar suara gaduh dari luar kamarnya, dia juga dapat mendengar jelas ringisan Changkyun. Dia ingin sekali membuka pintu itu, dan melihat apa yang terjadi. Namun, Sian tidak memiliki daya untuk berjalan ke pintu, tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan kepalanya sangat sakit bagai ada ribuan jarum yang menusuknya.


"C-Changkyun-ah," lirih Sian. Matanya mulai sayu, hingga akhirnya tertutup rapat.


♡♡♡


Seok Jin terus memandangi layar ponselnya, menunggu kabar dari Changkyun. Changkyun bilang dia akan membawa Sian dan Do Hyun keluar dari rumah itu, serta meminta temannya untuk memgirimkan berkas terkait racun Ricin yang selama ini diberikan Sung Kyun dan isterinya pada Sian dan Do Hyun. Hal itu harus dilakukan jika ingin menangkap Sung Kyun, dan untuk menyelamatkan Sian dan Do Hyun. Namun, sudah dua jam lamanya Seok Jin menunggu kabar Changkyun. Pria itu tak kunjung menghubunginya.


Apa terjadi sesuatu padanya?


♡♡♡


Ibu Changkyun baru saja pulang setelah mengistirahatkan dirinya di sauna.


"Ibu sudah pulang?" Tanya Changmi.


"Eoh," jawab sang ibu sekenanya, kemudian duduk di sofa, "apa anak-anak Sung Kyun sudah makan malam?"


Changmi tersenyum, "tentu saja sudah."


"Syukurlah. Aku sangat khawatir pada mereka, pasti sangat sulit Sian untuk menerima kenyataan ini. Adiknya koma dan dia harus tinggal di sini bersama...," ibunya berhenti bicara. Dia menghela napas panjang kemudian hendak melangkah masuk ke kamarnya, ketika dia teringat, "bagaimana dengan Changkyun? Apa dia sudah makan malam?"


"Entahlah, dia bilang akan menginap di rumah temannya."


"Menginap?"


"Eoh?"


Sang ibu terdiam dan berpikir, "kenapa dia tidak memberitahuku?"


"Dia tadi ke sini sebelum berangkat, dan menyampaikan itu padaku," jawab Changmi.


"Baiklah kalau begitu." Sang ibu masuk ke kamarnya tanpa rasa curiga.


Di sisi lain. Sung Kyun sedang mengikat Changkyun yang tak sadarkan diri di gudang.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2