
"Aku pulang," seruku. Aku melangkah masuk ke apartment dengan riang ketika melihat wajah murung Do Hyun yang sedang duduk di ruang tamu, langkahku menjadi lemah.
"Kau kenapa? Bukankah kau bilang akan pergi dengan Seok Jin?" Tanyaku cemas.
Dia hanya mengabaikanku, dan beranjak dari tempatnya, kemudian masuk ke kamar.
"Ya Lee Do Hyun." Aku mengikutinya, dan mendapati dia sudah terbaring di ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, membuatku cemas.
Aku menghampirinya, dan duduk di tepi ranjangnya, "kau tidak apa-apa? Kau sakit? Atau teman-temanmu merundungmu lagi? Lee Do Hyun...,"
"Aku hanya lelah. Selamat malam noona," katanya. Seolah tidak mau berbicara denganku.
Aku yakin sekali bahwa pasti ada sesuatu yang salah. Aku keluar dari kamarnya, kemudian mengambil ponselku dari dalam saku jeansku untuk menghubungi Seok Jin.
"Oh, Seok Jin-ah...,"
"Aku sedang sibuk, nanti saja kalau mau bicara." Dia menutup teleponku, bahkan sebelum aku mengatakan apa yang ingin kukatakan.
"Sebenarnya mereka kenapa? Bukankah mereka pergi bersama untuk bersenang-senang? Tapi kenapa sepertinya mereka menjadi aneh?" Aku bergumam sendirian, dan memutuskan untuk pergi ke kamarku.
Di sana, aku menjatuhkan diriku di atas ranjang, menatap langit-langit kamarku dengan berbagai pikiran yang berputar di kepalaku.
Apakah ada sesuatu yang salah? Apakah masalah perundungan yang dialami Do Hyun semakin memburuk? Apakah dia mengalami trauma? Apakah dia ingin berhenti sekolah?
Kepalaku rasanya hampir pecah. Aku merasa menyesal, alih-alih mendampingi adikku, aku justru membiarkan diriku terlena oleh undangan makan malam ibu Changkyun hingga membiarkan Seok Jin yang berusaha keras menghibur Do Hyun, yang di mana seharusnya aku ada di sampingnya.
"Aishhh, Lee Sian, kau bodoh!" Rutukku.
Drrttt drrttt drrttt
Aku melirik tasku, yang sebelumnya kulempar ke atas ranjang, tepatnya di sampingku. Kurogoh tasku, dan mengeluarkan ponselku dari sana. Seperti dugaanku, ponselku memang bergetar. Ada panggilan masuk dari Hae Na.
"Eoh, Bae Hae Na, ada apa?" Tanyaku ketika panggilan masuknya kuterima.
"Kau sudah dengar tentang acara reuni tahun ini?"
Aku menghela napas panjang. Saat ini pukul 8 malam, di saat orang-orang mencoba untuk beristirahat, Hae Na justru ingin membicarakan soal acara reuni yang tidak pernah menarik untukku. Sejak lulus sma, aku tidak pernah sekalipun menghadiri acara reuni, bukan hanya karena ingin menghindari Seo Hyun. Namun, aku merasa malu, karena di antara semua teman smaku, hanya aku yang saat itu tidak kuliah.
"Iya, aku tidak sengaja bertemu Runa, dan dia memberitahukan hal itu padaku."
"Kau akan datang?"
"Entahlah, aku belum pernah sekalipun menghadiri acara reuni sma kita, jadi rasanya canggung jika kali ini aku datang," jawabku.
"Tapi kau harus datang. Reuni kali ini diadakan sekaligus untuk merayakan pernikahanmu dan Seok Jin."
"O-oh, benarkah?" Aku menjadi tak enak,hati setelah mendengarnya. Ini hanya kebohongan bagiku dan Seok Jin. Namun, bagi orang-orang yang berada di sekitar kami, ini adalah sungguhan.
"Kau harus datang, ya?"
"A-akan kutanyakan pada Seok Jin, a-aku harus minta izinnya dulu." Tentu saja aku harus mendapat persetujuan Seok Jin untuk datang, mengingat kebohongan ini kami lakukan bersama, jadi untuk menyelaraskannya kami harus kompak dalam mengambil keputusan.
"Eihhhh dasar isteri penurut," gurau Hae Na.
Jika saja Hae Na tahu tentang perjanjianku dan Seok Jin, aku pasti sudah memarahinya karena bergurau seperti itu.
"O-oh, Hae Na-ah, sudah dulu ya, kurasa Seok Jin sudah pulang," kataku, ketika kudengar suara beep kunci pintu. Aku menutup telepon Hae Na, dan lekas beranjak dari ranjangku guna menghampiri Seok Jin.
"Seok Jin-ah," seruku. "Ada yang mau aku tanyakan padamu."
"Tidak bisa nanti saja?" Kata Seok Jin, sembari melangkah menuju kamarnya, dengan aku yang terus mengekorinya.
"Tidak bisa! Ini tentang Do Hyun, dia...,"
"Hah!" Seok Jin mendesah, membuatku terdiam seketika.
Seok Jin berdiri di ambang pintu kamarnya, menatapku dengan wajah yang nampak lelah. "Daripada mengkhawatirkan Do Hyun, bukankah lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu terlebih dahulu? Kau..., hah," dia kembali mendesah. "Lupakan saja. Sebaiknya kau tidur."
Dia menutup pintu kamarnya tepat di depan wajahku. Aku sedikit terluka dengan sikapnya dan merasakan banyak kekhawatiran. Sebenarnya mereka pergi ke mana? Dan apa yang terjadi? Pikirku.
♡♡♡
__ADS_1
"Kau terlihat sedih, apakah ada yang terjadi?" Tanya Changkyun. Membuatku tersadar dari lamunanku.
"E-eoh, tidak ada apa-apa," sahutku.
Changkyun menampilkan senyuman, "jangan bohong, aku bisa melihat segalanya dari matamu. Ceritalah, aku ingin membantumu," katanya dengan lembut.
Aku menghela napas berat, "sebenarnya, aku sedang memikirkan adikku. Baru-baru ini aku tahu bahwa adikku sedang dirisak di sekolah, tapi aku tidak bisa melakukan apapun," akhirnya aku tidak kuat untuk menahan segala kerisauanku seorang diri.
"Di risak?"
"Eoh. Temanku bilang aku tidak perlu ikut campur karena itu dapat melukai harga diri adikku sebagai pria. Tapi..., aku tidak bisa berhenti gelisah. Lagipula dia belum sepenuhnya menjadi pria. Maksudku, dia hanya anak-anak bagiku."
Changkyun tersenyum, dia membelai puncak kepalaku, membuatku tertegun dengan lakunya.
"Lucu sekali," katanya, membuat darahku kini berdesir.
"L-lucu?"
"Eoh," sahutnya. "Kau mungkin tidak tahu, tapi anak kecilpun punya harga diri yang akan mereka lindungi. Aku pernah membaca buku psikologi anak, dan beberapa dari mereka tidak mau menceritakan tentang perisakan yang dialaminya bukan karena takut, melainkan demi mempertahankan harga diri mereka di hadapan teman, orangtua, dan diri mereka sendiri. Jadi jangan meremehkan anak kecil."
"Cukup dukung dia, dan percaya. Paham?" Katanya, membuatku sedikit tenang.
"Akan aku coba."
"Harus!" Kulihat Changkyun merogoh tasnya, dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari sana, "ini untukmu dan adikmu," katanya. Sembari memberikan amplop itu padaku.
"Ini apa?" Tanyaku.
"Tiket konser drama musikal. Tadinya aku ingin menontonnya bersamamu, tapi akan lebih baik jika kau menontonnya dengan adikmu, untuk menghiburnya," kata Changkyun. Aku hanya bisa terpesona dengan laku manisnya. Dia bagaikan malaikat yang kehilangan sayapnya, baik sekali.
"Changkyun-ah, ini..., aku tidak tahu harus bagaimana, tapi terimakasih banyak."
"Iya. Bersenang-senanglah dengan adikmu di sana, oke?" Katanya, sembari membelai puncak kepalaku, lagi.
♡♡♡
Aku membeli satu tiket konser drama musikal lagi untuk Seok Jin. Bukan tanpa alasan, aku merasa bersyukur sekaligus khawatir padanya. Bersyukur karena dia mau menjadi tempat bercerita adikku. Khawatir karena perubahannya belakangan ini, serta sepertinya dia sedang ada masalah yang membuatnya menjadi agak sensitive.
"Aku juga tidak suka. Aku ingin pulang dan tidur saja," Seok Jin menimpali.
Sejak keluar dari apartment, mereka memang sudah memprotes ajakanku. Tapi aku tetap memaksa mereka untuk ikut, lagipula ini bukan semata-mata untukku melainkan untuk menghibur mereka.
"Berhentilah mengeluh, memangnya kalian tidak lelah mengeluh terus, eoh?"
"Ayolah, noona, ini hari libur, biarkan kami istirahat," Do Hyun tak berhenti mengeluh.
"Memangnya kalian tidak bosan menghabiskan akhir pekan hanya dengan tidur-tiduran di rumah?"
"Tidak!" Tukas mereka bersamaan.
Aku mendengus kesal. Tidak ada pilihan lain bagiku selain menyeret mereka. Tidak akan ada habisnya jika mendengar keluhan mereka.
Setibanya di gedung konser, aku segera menyeret kedua pria ini ke ruangan di mana konser diadakan.
Kami duduk di baris keenam dari panggung.
Do Hyun dan Seok Jin bersandar malas di kursi mereka. Benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya pada konser ini.
Beberapa menit kemudian, lampu perlahan padam, hanya menyisakan sorot lampu yang hanya menyoroti seorang wanita berpakaian romawi di atas panggung.
"Tentang apa ini?" Tanya Seok Jin agak sinis.
"Gnomeo and Juliet."
"Romeo and juliet!" Do Hyun menimpali dengan sama sinisnya seperti Seok Jin.
"Kau tidak lihat bennernya? Judulnya Gnomeo and Juliet," sahutku.
"Sejak kapan itu diubah? Yang benar Romeo and Juliet!" Sahut Do Hyun.
"Benar, Do Hyun-ah. Yang aku tahu juga Romeo and Juliet, bukan Gnomeo!" Seok Jin menimpali.
__ADS_1
Aku menghela napas dan membuangnya secara perlahan dan berulang-ulang, mencoba untuk menenangkan diriku yang sepertinya akan tersulut emosi karena laku kedua pria ini.
"Mari kita diam dan lihat saja!" Kataku dengan penuh penekanan.
Selama beberapa menit, kami menonton drama musikal itu dalam kesunyian. Sampai pada akhirnya Seok Jin melontarkan pertanyaan yang sepertinya akan menjadi perdebatan lagi di antara kami.
"Sang wanita memakai pakaian romawi, kenapa prianya memakai pakaian koloni? Ini pembodohan!"
"Sejak tadi aku juga tidak mengerti! Ini membosankan," Do Hyun menimpali.
Lagi-lagi aku harus mencoba untuk menenangkan diriku. Jika terus seperti ini, ini bukan menjadi liburan untuk merilekskan diri, melainkan sebaliknya.
"Apa kalian tidak bisa menonton dalam diam?" Tukasku, berbisik, mengingat orang-orang disekeliling kami mencoba untuk mengkhayati cerita.
"Eihhhh tidur di rumah sepertinya lebih menyenangkan," kata Seok Jin, memprovokatori.
"Ya, itu lebih menyenangkan," lagi-lagi Do Hyun menimpali.
Aku tidak tahan lagi. Segera aku beranjak dari tempatku, dan keluar dari ruangan ini!
"Ya Lee Sian!"
Aku terus berjalan hingga keluar gedung, berdiri di depan gedung untuk menunggu taksi yang lewat.
Bahkan aku membayar untuk ongkos taksi! Teganya mereka terus mengeritikku! Umpatku dalam hati.
"Noona," Do Hyun memanggilku.
"Apa?!" Sahutku sinis. Mereka menyebalkan!
"Mau ke mana? Pertunjukkannya belum selesai," kata Seok Jin.
Aku mendengus kesal, kuputar tubuh menghadap mereka, "tidak! Sudah berakhir untukku! Lagipula bukankah kalian bilang ingin tidur? Kalau begitu pulanglah! Kita berpisah di sini! Aku ingin pergi untuk menghibur diriku!" Cetusku.
"Kau marah?" Tanya Seok Jin. Membuatku untuk kesekian kalinya mendengus kesal.
"Tidak! Aku hanya kesal!"
"Kenapa kesal?" Kini Do Hyun bertanya.
Aku mengepal kuat tanganku, jika saja bermain kasar itu boleh, pasti aku sudah melayangkan kepalan tangan ini di wajah mereka!
"Hanya kesal saja! Kalian tahu? Aku mengajak kalian ke sini untuk menghibur kalian, karena belakangan ini kalian membuatku khawatir," tukasku.
"Khawatir kenapa?"
"Kenapa? Yaa!" Bentakku. "Kau pikir aku tidak khawatir ketika mendengar kau di rundung? Dan kau...," aku mengalihkan pandanganku pada Seok Jin, "aku sangat khawatir ketika melihat sikapmu yang tiba-tiba berubah terhadapku. Aku sering mendengar bila seseorang mendadak berubah, itu tandanya dia akan menemui ajalnya. Jadi bagaimana mungkin aku tidak khawatir, eoh?"
"Y-yaa, L-Lee Sian, pikiranmu itu sangat menakutkan, bagaimana bisa kau berkata begitu?" Tanya Seok Jin. Aku melihat sorot kecewa dimatanya. Sedangkan Do Hyun, entah apa alasannya, tapi aku melihatnya terkekeh.
"Karena itulah yang kudengar!" Tukasku.
♡♡♡
"Bukankah kakakmu itu menakutkan? Bagaimana bisa dia bilang aku akan segera menemui ajalku?!" Keluh Seok Jin.
Do Hyun menghampirinya, dan duduk di sampingnya, "aku kan sudah bilang, seseorang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta, dia tidak bisa melihat sekelilingnya, apalagi maksud dari perhatianmu terhadapnya," kata Do Hyun.
"M-maksud dari perhatianku? Yaa apa maksudnya, eoh?! Aku kan sudah bilang bahwa itu tuntutan peran!" Seok Jin membela diri.
Do Hyun hanya tersenyum kecil, "ya ya terserah saja." Biarpun dia lebih muda dari Seok Jin dan Sian, tapi nyatanya dia lebih peka terhadap hal-hal romansa seperti itu.
"Dia bisa saja memikirkan hal lain tentang perhatianku padanya, tapi kenapa malah berpikir aku akan menemui ajalku?!" Seok Jin bergumam pelan. Namun, masih dapat terdengar oleh Do Hyun.
"Tapi noonaku itu memang lucu, 'kan? Dia mengkhawatirkan kita tanpa tahu bahwa dirinyalah yang lebih mengkhawatirkan," risau Do Hyun.
Seok Jin menghela napas berat, "benar, dia seperti orang bodoh yang bergembira dalam kegelapan —maksudnya orang yang bergembira tanpa tahu apa yang terjadi disekelilingnya—"
"Aku tidak tahu akan seperti apa kakakku jika tahu orang yang menerornya adalah ayah kami sendiri, dan pria yang disukainya adalah adik dari wanita yang paling dibenci olehnya," desah Do Hyun. Membuat Seok Jin terdiam.
Mereka memang memutuskan untuk merahasiakan hal tersebut dari Sian. Bukan tanpa alasan, mereka hanya tidak ingin membuat Sian hancur.
__ADS_1
TO BE CONTINUE