
Changkyun tak henti-hentinya mengirimkan pesan suara pada ibunya. Sudah hampir satu bulan ibunya tidak memberinya kabar. Rasa cemas, khawatir, resah, dan bimbang menjadi satu dalam diri Changkyun.
"Eomma, sebenarnya kau di mana?" Risaunya, ketika pintu rumahnya terketuk.
Changkyun segera beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu, berpikir bahwa orang dibalik pintu itu adalah ibunya. Namun...,
"C-Changmi N-noona? Kau...,"
Changkyun terkejut saat Changmi tiba-tiba berlutut dihadapannya.
"Maafkan aku, Changkyun-ah, ini salahku," isaknya.
Changkyun hanya diam ditempatnya, dia bingung dengan apa yang harus dilakukannya, apakah memaafkan kakaknya, ataukah harus mengenyahkan kakaknya dari pandangannya. Semua yang dilakukan kakaknya telah terekam sempurna dikepala Changkyun, dan itu tidak mudah untuk dihapus olehnya.
"Sudah terlambat bagimu untuk meminta maaf, kau tahu apa yang terjadi pada sian dan adiknya karena keserakahanmu, huh?! Mereka...,"
"Karena itulah aku kembali, aku ingin menebus kesalahanku, Changkyun-ah. Agar aku bisa mengantarkan ibu ke peristirahatannya," sela Changmi, membuat Changkyun menautkan alisnya.
"Apa maksudmu?!"
"Ibu, ibu telah meninggal," isak Changmi.
Changkyun tertegun, "tidak mungkin! Bagaimana bisa kau mengatakan hal sekejam itu, huh?! Ibu bilang dia hanya sedang pergi untuk menghibur diri, dia tidak mungkin...," Changkyun mencoba untuk menahan emosinya. "Sebaiknya kau pergi dari sini!" Titahnya, kemudian dia menutup pintu rumahnya tepat di hadapan Changmi.
"Changkyun-ah, maafkan aku. Maafkan aku," dia masih terisak.
FLASHBACK ON
"Ini rumah kita?" Tanya Changmi dengan perasaan gembira saat melihat rumah indah yang akan ditinggalinya di Swiss.
"Tentu saja, ayo masuk," ajak Sung Kyun.
Changmi melangkahkan kakinya masuk ke rumah indah itu dengan gembira tanpa peduli bahwa rumah dihadapannya itu adalah hasil darinya menyakiti orang lain.
"Oh iya, jangan lupa untuk membuang ponsel lamamu, untuk berjaga-jaga saja," kata Sung Kyun.
"Eoh, baiklah," jawab Changmi. Dia melangkah masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar, terkesima dengan design interior ruangan itu.
"Ini akan menjadi kamarku," gumamnya. Dia melangkahkan kakinya dengan Riang mengelilingi ruangan itu.
"Ternyata hidup senang itu sangat mudah," serunya, ketika dia teringat perkataan suaminya untuk membuang ponselnya.
"Ah benar!" Dia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan ponselnya dari sana. Dia hendak menghancurkan ponsel itu sebelum membuangnya, ketika dilihatnya ada pesan suara dari nomor ibunya.
"Ibu?" Gumamnya, karena penasaran, dia membuka pesan suara itu.
\="Changmi-ah, putriku. Kau harus tahu betapa ibu sangat menyayangimu. Ibu tahu bahwa ibu tidak pernah bisa membahagiakanmu, sehingga kau sering terluka, maafkan ibu, Changmi-ah. Jadi ibu rasa hanya ini yang bisa ibu lakukan untukmu. Ibu membuang segala nurani ibu saat meninggalkan kedua anak itu di hutan, semua itu demi dirimu. Ibu pikir semua hanya akan menjadi angin lalu. Namun, sulit untuk ibu menerima apa yang ibu lakukan pada mereka, sungguh ibu tidak sanggup menerima kenyataan betapa jahatnya ibu! Anak yang lebih muda telah tiada, seharusnya ibu mengantarkannya ke tempat peristirahatan yang layak. Namun, ibu meninggalkan mereka di hutan. Ibu sungguh benci dengan diri ibu yang seperti itu. Namun, dengan jahatnya ibu tetap berpikir untuk melindungimu. Kini, Ibu merasa tidak akan pernah sanggup lagi menginjakkan kaki di dunia ini. Beban yang kau sebabkan terlalu berat untuk ibu tanggung, hingga ibu bertanya-tanya, bagaimana bisa kau bersikap sedemikian rupa di saat ibu bahkan sudah menggila karena kesalahan itu? Ibu tidak pernah menuntut apapun darimu, Changmi-ah, tapi, hiduplah dengan baik. Ibu akan memohon maaf pada mereka jika bertemu mereka di alam sana nanti."\=
Changmi meneteskan airmatanya, dia segera berlari keluar dari ruangan itu, dan kemudian berpapasan dengan Sung Kyun di ambang pintu.
"Ada apa?" Tanya Sung Kyun ketika melihat airmata Changmi.
"Ibuku, dia..., kurasa dia mencoba untuk bunuh diri!" Risaunya.
Sung Kyun terkekeh, "ibumu? Yaa itu tidak mungkin! Kita berdua tahu orang seperti apa ibumu, bahkan dia takut melihat darah, jadi tidak mungkin!"
"Tapi...,"
"Sudahlah, Changmi. Kita baru saja sampai, jangan merusak momen bahagia ini!" Tukas Sung Kyun, membuat Changmi terdiam.
Sung Kyun masuk ke sebuah ruangan, meninggalkan Changmi yang masih berpikir, mungkinkah ini hanya gurauan ibu?
♡♡♡
Memiliki rumah mewah dan uang berlimpah. Nyatanya tak membuat Changmi tenang. Dia masih memikirkan pesan suara yang ditinggalkan ibunya.
Perlahan dia beranjak dari ranjangnya, takit kalau-kalau geraknya membuat sang suami terjaga dari tidurnya.
Changmi pergi ke ruang tamu, dia menghubungi seseorang.
"Halo, Jung Soo?" Katanya ketika panggilannya diterima oleh temannya, Jung Soo.
"Changmi?"
__ADS_1
"Iya, ini aku, Changmi."
"Ada apa? Apa ada masalah lagi dengan cctv di rumahmu?" Tanyanya. Jung Soo memang seorang ahli IT, dia juga bekerja di perusahaan cctv ternama di Korea, dan dia jugalah yang memasangkan cctv di rumah Changmi saat itu.
"Oh bukan! Aku sudah tidak tinggal di sana. Aku menghubungimu untuk meminta bantuan. Bisakah kau melacak seseorang untukku?" Tanya Changmi, agak berbisik, supaya sang suami tidak mendengarnya.
"Melacak seseorang? Siapa?" Jung Soo balik bertanya.
"Ibuku, apakah kau bisa melakukannya?"
"Memangnya ada apa dengan ibumu? Jika kau merasa ada yang salah, kenapa tidak menghubungi polisi saja?"
Changmi mendengus kesal, "berhentilah bicara! Aku akan bayar mahal untuk ini!" Tukasnya.
"Baiklah kalau memang kau akan membayar mahal. Kirimkan saja nomor ponsel ibumu, aku akan melacaknya."
Changmi mengakhiri teleponnya, kemudian melalui pesan dia mengirimkan nomor ibunya pada Jung Soo.
"Sedang apa?"
Suara berat itu membuat Changmi terperanjat kaget. Dia menoleh pada sang empunya suara, "o-oh, bukan apa-apa. A-aku hanya sedang mencari udara segar saja," katanya, tergagap.
"Ah begitu. Cepatlah kembali setelah selesai," titah Sung Kyun.
♡♡♡
Sudah satu minggu. Namun, Changmi belum juga mendapat kabar dari Jung Soo.
"Kau kenapa? Belakangan kau,kelihatan resah?" Tanya Sung Kyun, sembari menyantap daging steak sebagai makan malamnya. "Jangan terlalu cemas, kita tidak akan bisa untuk ditangkap!"
"Bukan begitu, aku hanya masih cemas pada ibuku."
Sung Kyun mendengus kesal, dia meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja dengan keras, "kau memikirkan sesuatu yang sia-sia!" Hardiknya.
"Sia-sia? Dia ibuku, bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu padanya, huh?!" Bentak Changmi.
"Kau membentakku?!"
"Tidak bolehkah aku melakukannya?!"
#prakkkk
Tamparan keras Sung Kyun mendarat di wajah Changmi, membuat wanita itu tercengang.
"Jangan berlagak dihadapanku hanya karena aku pernah lebih memilihmu daripada anak dan isteriku!" Tukas Sung Kyun penuh dengan penekanan. Dia kemudian beranjak dari tempatnya, masuk ke kamarnya dengan menutup keras pintu dari kayu mahoni tersebut.
Changmi masih tercengang, tidak disangkakan olehnya bahwa dia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sung Kyun.
Ponsel yang dia letakkan di atas meja berdering. Dia segera melupakan kejadian tadi dengan mengangkat panggilan masuk dari Jung Soo.
"Jung Soo-ah!" Serunya. "Bagaimana? Kau sudah menemukan ibuku? Dia baik-baik saja?" Cecarnya.
Jung Soo meragu. Namun, dia tidak bisa menutupi apapun karena Changmi membayarnya mahal untuk informasi itu.
"Begini, Changmi-ah. Aku menemukan barang-barang ibumu di dekat tebing pantai Hwanyang. Dia..., dia meninggalkan kedua sepatunya di sana, kau tahu maksudku? Dia..., kurasa dia melompat ke lautan," jelas Jung Soo dengan perlahan.
Changmi tertohok, dia kesulitan menelan salivanya. Di Korea, meninggalkan sepatu di sebuah tempat yang tinggi, adalah tanda dari pemilik sepatu itu untuk berpamitan pada dunia.
"T-tidak mungkin, ibuku..., ibuku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu!" Suara Changmi mulai parau.
"Sebenarnya..., saat ini..., aku meminta bantuan dari tim penyelam untuk memeriksa ke bawah sana kalau-kalau ibumu...," seketika Jung Soo terdiam.
"Jung Soo-ah, ada apa?!" Tanya Changmi cemas.
"C-Changmi-ah..., mereka..., menemukan ibumu. Dia..., dia sungguh...," lagi-lagi Jung Soo terdiam.
Changmi merasa ada yang menimpa dirinya, begitu berat dan keras. Tangannya mulai lunglai, dan tanpa sengaja dia menjatuhkan ponselnya dari tangannya.
"T-tidak mungkin!" Gumamnya.
♡♡♡
Changmi memutuskan untuk kembali ke Korea setelah mendapatkan kabar dari Jung Soo. Dia tidak mengatakan apapun pada Sung Kyun, dan hanya pergi begitu saja. Saat ini, dia sudah sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jung Soo mengatakan bahwa jenazah ibunya dia bawa ke rumah sakit Universitas Seoul.
__ADS_1
Butuh waktu dua jam lebih bagi Changmi untuk sampai di tempat tujuannya. Dia segera keluar dari taksi, dan mulai berlari menuju ruang jenazah. Di depan ruangan itu, dia bertemu dengan Jung Soo.
"Changmi-ah," panggil Jung Soo.
"D-di mana ibuku?" Tanya Changmi tergagap.
"Di dalam," jawab Jung Soo.
Changmi segera masuk ke ruangan itu. Dia melihat ibunya sudah terbujur kaku, dengan kondisi tubuh yang membengkak.
"I-ibu?" Lirihnya.
Jung Soo menghela napas panjang, "dia ditemukan dengan kondisi kedua kaki terikat dengan batu besar. Sepertinya dia berniat untuk tidak di temukan, dan membiarkan jasadnya di makan oleh hewan-hewan laut, beruntung kita bisa menemukannya sebelum itu terjadi," jelas Jung Soo.
Changmi tersungkur, kedua kakinya melemas, dan dia mulai menangis tersedu-sedu. "Ibu~" isaknya.
Jung Soo menghampiri Changmi, menepuk-nepuk pundak wanita itu untuk menenangkannya, "yang kuat, Changmi-ah."
"Ini salahku! Salahku!" Isak Changmi.
♡♡♡
Changmi melangkah memasuki kamar Sian. Dia merasa lega ketika sebelumnya tanpa sengaja dia mendengar bahwa kondisi Sian mulai membaik.
"Kau sembuh dengan cepat," gumam Changmi. Dan tak lama setelah perkataannya, Sian membuka matanya.
Dia menatap Changmi dengan perasaan was-was, mengingat segala apa yang telah wanita dihadapannya itu lakukan.
"K-kau...,"
"Maafkan aku, Sian-ah. Maafkan aku," lirih Changmi. Dia berlutut, membuat Sian tercengang.
"Aku tahu bahwa aku tidak pantas menerima maaf darimu, apalagi setalah apa yang terjadi pada Do Hyun, aku...,"
"Do Hyun? Di mana Do Hyun?" Sela Sian, dia mulai merasa panik ketika mendengar nama adiknya.
"Dia...,"
"Antar aku padanya! Aku ingin bertemu dengannya!" Titah Sian.
"Tapi...,"
"Antar aku! Saat ini aku tidak membutuhkan maafmu, yang kubutuhkan hanyalah bertemu dengan adikku!" Tukas Sian.
Changmi perlahan berdiri, dia menghampiri Sian dengan perasaan kecewa. "Mari kubantu," kata Changmi, sembari membantu Sian untuk beranjak dari ranjangnya.
♡♡♡
Sian menatap Changmi dengan mata memerah dan berkaca-kaca. "Aku bilang antar aku bertemu Do Hyun, kenapa kau membawaku ke sini?! Kenapa, kau mau aku segera mati, huh?!" Bentak Sian ketika Changmi membawanya ke sebuah unit columbarium nomor 31, di mana terdapat plat nama Do Hyun, serta foto dan pasu abu Do Hyun.
Changmi menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, Sian. Maafkan aku," isaknya.
"SUDAH KUKATAKAN! AKU TIDAK BUTUH PERMINTAAN MAAFMU! BAWA AKU PADA DO HYUN!!!" Sian menjerit, matanya kian memerah, dan mulai berkaca-kaca. Sedangkan Changmi masih terisak.
"Maafkan aku, sungguh. Maafkan aku."
"JANGAN MINTA MAAF!" Bentak Sian. Dia mencengkram kerah baju Changmi, dengan airmata yang mulai mengalir di kedua pipinya, Sian berkata dengan lirih, "bawa aku bertemu Do Hyun!"
Sian tersungkur di kaki Changmi, "bawa aku pada adikku," dia mulai menangis sesegukkan. "Kumohon, bawa aku padanya. Kenapa kau malah membawaku ke sini?"
Changmi ikut menangis, dia benar-benar telah tercerahkan setelah kematian ibunya. Dalam pesan suara terakhir yang dikirimkan ibunya, disebutkan bahwa sang ibu ingin di istirahatkan setelah Changmi menebus kesalahannya pada Sian dan Do Hyun.
"Ku mohon maafkan aku," isaknya. "Aku akan menebus segala dosaku, aku akan menebusnya."
Sian menengadahkan kepalanya menatap Changmi. "Bagaimana kau menebusnya, huh? Apa kau akan mengembalikan adikku?!"
"Sian-ah, aku...,"
"Jika caramu menebusnya adalah dengan mengakui segala kejahatanmu di hadapan polisi, maka lakukanlah! Tapi camkan ini! Bahkan sampai aku matipun, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Tukas Sian. "Sekarang enyahlah dari pandanganku. PERGI!!!"
FLASHBACK OFF
Changkyun menangis tersedu-sedu ketika melihat ibunya mulai di kremasi. Begitupun dengan Changmi.
__ADS_1
Tepat setelah proses kremasi dan upacara pemakaman ibunya selesai. Changmi pergi menuju kantor polisi.
TO BE CONTINUE