Drama

Drama
Take 17


__ADS_3

"Aku tidak tahu alasannya, tapi mereka mulai mengikutiku sejak sebulan yang lalu. Aku sering terlambat pulang untuk mengecoh mereka, agar mereka tidak tahu tempat tinggalku, karena aku takut kalau-kalau mereka mengganggu ibu dan kakakku. Hingga suatu hari, secara kebetulan..., hyung meminta noona untuk tinggal bersama," jelas Do Hyun, dia mengambil napas dan kemudian melanjutkan, "kupikir akan aman jika tinggal di sini, mengingat penjagaannya sangat ketat. Tapi..., mereka tidak berhenti mengikutiku, bahkan mereka mengikutiku hingga ke sekolah, karena itu aku memutuskan tidak pergi ke sekolah untuk menghindari mereka sekaligus mencari tahu siapa mereka, dan..., untuk melakukannya aku menjual barang-barangku, dan juga laptop noona untuk membayar detekrif swasta, untuk mencari tahu siapa yang mengikutiku. Tapi...," Do Hyun mendengus kesal, "tapi mereka justru menipuku, mereka hilang bagai di telan bumi, sialan!" Umpatnya.


"Seharusnya kau membicarakan ini pada kami, dengan begitu kita bisa mencari solusinya bersama. Kau tahu? Bukan hanya kau yang diikuti dan diteror, tapi kakakmu juga!" Tukas Seok Jin.


Mata Do Hyun membulat, "apa?!"


"Awalnya kupikir itu ulah salah satu mantanku, tapi karena kau juga mengalaminya, dapat disimpulkan bahwa orang itu pasti berhubungan dengan keluargamu, atau kenalan keluargamu, atau siapapun yang berkaitan dengan kalian. Cobalah mengingat, adakah orang yang memiliki dendam pada keluargamu?" Tanya Seok Jin, agak mendesak.


Do Hyun terdiam, dan berpikir. Dia tidak bisa memikirkan siapapun karena hampir semua orang yang dikenalnya adalah orang baik kecuali paman Jung Jae Han, penjual kepiting asam manis yang tidak pernah memberikan diskon.


"Sepertinya tidak ada. Apakah ada cara untuk mengetahui siapa mereka?" Risau Do Hyun.


"Aku akan meminta bantuan orang-orangku. Tapi, untuk saat ini, pastikan kau dan Sian tidak keluar sendirian, paham? Kita tidak tahu seberapa berani mereka bertindak terhadap kalian," Kata Seok Jin.


"Baiklah, hyung. Tapi..., bisakah kau merahasiakan ini dari kakakku? Maksudku, dia mungkin akan...,"


"Aku juga tidak berniat memberitahunya, dia akan semakin khawatir jika tahu kau juga di teror," sela Seok Jin.


Do Hyun memandangi Seok Jin barang sejenak, dia merasa ada sesuatu dalam diri Seok Jin yang berbeda dari cerita kakaknya.


"Apa?" Tanya Seok Jin ketika menyadari pandangan Do Hyun terhadapnya.


"Hyung, kau berbeda dari yang diceritakan kakaku," katanya.


"Berbeda apanya? Memangnya kakakmu bercerita apa saja tentangku?" Seok Jin nampak antusias.


"Kakakku bilang, kalian sering sekali bertengkar," jawabnya.


"Ahh, jadi itu yang dia katakan, kukira apa." Seok Jin nampak kecewa.


"Tapi..., aku tidak pernah melihat kalian bertengkar, yang ada adalah aku melihat betapa perhatiannya hyung pada kakakku," Do Hyun melanjutkan. "Kau seperti suami sungguhannya."


"Y-yang b-benar saja, k-kau kan tahu kami hanya bersandiwara, perhatianku padanya ini hanya tuntutan peran!" Tukas Seok Jin. "Sudahlah, aku mau istirahat," katanya, kemudian beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Dia hendak keluar dari kamar ketika Do Hyun memanggilnya, "hyung."


"Apa?!" Tanya Seok Jin agak kesal.


"Kau mau ke mana? Inikan kamarmu," Do Hyun mengingatkan. Seok Jin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, benar! Inikan kamarku! Bodoh! Rutuknya dalam hati.


Do Hyun terkekeh, dia beranjak dari tempatnya, "kalau begitu aku pergi dulu, samat malam, hyung," katanya, kemudian melewati Seok Jin yang berdiri di ambang pintu.


"Eoh iya, hyung. Aku tidak tahu sejak kapan kau terlalu mendalami peranmu, tapi pastikan untuk tidak terluka," lanjutnya.


"Apa maksudnya, hah? Kau meledekku?!" Tanya Seok Jin.


"Bukan meledek, aku hanya mengingatkan karena kau telah mau mendengarkan ceritaku. Kakakku saat ini sedang jatuh cinta. Hyung, tahu? Ada dua orang di dunia ini yang tidak bisa kau dekati. Pertama orang yang membenci, dan kedua..., orang yang sedang jatuh cinta. Keduanya dibutakan, hingga mereka tidak bisa melihat siapapun yang ada di sekitar mereka. Jadi, kuharap hyung berhenti terlalu terbawa dalam peran hyung, mengerti?" Do Hyun menasehati. Sebelum akhirnya dia pergi ke kamarnya. Meninggalkan Seok Jin yang kini terdiam.


Benar! Sebenarnya sejak kapan aku terlalu mendalami peranku? Apakah sejak Sian terluka? Saat itu aku memang sangat mengkhawatirkannya. Ataukah, saat dia diperebutkan oleh pria-pria itu? Aku memang agak kesal saat melihatnya. Atau, apakah saat dia mengadu tidak bisa menghubungi Do Hyun? Aku memang bersimpati padanya saat itu. Atau...,


Seok Jin terus bertanya-tanya kapan tepatnya dia mulai merasa begitu memerhatikan Sian. Namun, dia tidak menemukan jawaban pasti dari pertanyaan itu. Tanpa Seok Jin sadari, sebenarnya perasaan itu sudah ada sejak lama, bahkan sebelum drama yang dia ciptakan dimulai. Namun, dia terlalu sering menyangkalnya hingga perasaan itu tertutupi oleh begitu banyak alasan.


Seok Jin bilang, Do Hyun dirudung di sekolah, sehingga dia terpaksa memalsukan surat sakit agar tidak sekolah. Aku ingin mempermasalahkan ini pada pihak sekolah. Namun, Seok Jin bilang ikut campur keluarga korban bullying hanya akan menambah penderitaan korban. Seok Jin bilang, benteng pertahanan terbaik untuk korban bullying adalah diri mereka sendiri. Aku tidak yakin apakah aku bisa memegang perkataan Seok Jin? Aku hanya tidak ingin Do Hyun semakin menderita, karena itu aku berhenti meributkannya.


"Kau tidak kuliah?" Pertanyaan Seok Jin menyadarkanku dari lamunan.


"Seok Jin-ah, kenapa Do Hyun menceritakan hal itu padamu, bukan padaku?" Sebenarnya aku cukup sedih dengan hal ini, aku merasa Do Hyun lebih memercayai orang lain daripada aku.


"Kau tidak akan mengerti, tapi menceritakan hal seperti itu di depan wanita, pasti akan melukai harga dirinya."


"Begitukah?"


"Eoh, sama halnya saat wanita membicarakan berat badannya, bukankah memalukan?" Seok Jin mencoba menganalogikannya, dan itu cukup membuatku paham.


"Tapi, apa kau yakin ini tidak perlu dilaporkan? Aku sangat mengkhawatirkan Do Hyun," risauku.


"Seperti kataku, kita biarkan Do Hyun mengatasinya sendiri, yang harus kita lakukan hanyalah mendukungnya."

__ADS_1


Benar kata Seok Jin. Sekhawatir apapun aku terhadap adikku, semua kembali pada dirinya sendiri. Aku tidak bisa menjaganya selama 24 jam setiap hari.


"Baiklah kalau begitu," kataku. Kuraih tasku dari meja belajar.


"Mau kuliah?"


"Eoh, aku pergi du...,"


"Ayo kuantar," selanya. Aku menatapnya, belakangan ini aku merasa Seok Jin sering memberikan perhatian padaku. Aku jadi khawatir jika dia..., ahh lupakan saja, tidak mungkin, 'kan?


"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku menawarkannya karena..., karena...,"


"Aku tidak bilang apapun," selaku.


"O-ohh b-begitukah? Aku hanya memberitahumu," katanya, terdengar kaku.


"Tidak perlu repot, aku akan berangkat bersama temanku."


"Siapa? Pria itu?" Dia nampak terkejut, dan aku menjadi bingung.


"Pria itu? Siapa maksudnya?" Aku balik bertanya.


"Bukan apa-apa!" Tukasnya. Kemudian pergi dari ambang pintu kamarku.


"Aneh," gumamku. Aku hendak keluar ketika Seok Jin kembali berdiri di ambang pintu kamarku, membuatku terperanjat kaget.


"Yaa! Kau mengagetkanku!"


"Yaa! Lee Sian, aku membiayai kuliahmu bukan untuk membiarkanmu main-main tapi untuk belajar! Paham?!" Tukasnya, kemudian dia pergi begitu saja. Entah apa yang merasukinya hingga berkata seperti itu?


"Seolah-olah dia membayarnya dengan cuma-cuma! Dasar orang kikir!"


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2