Drama

Drama
Take 38


__ADS_3

Seok Jin menggenggam erat tangan Sian, sembari berharap wanita yang sedang terbaring tak berdaya itu segera terbangun.


"Lee Sian, kumohon kembalilah. Kumohon," bisiknya.


"Tuan, proses kremasi tuan Do Hyun akan segera dimulai," kata Hyun Woo dari ambang pintu.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," sahut Seok Jin. Dia beranjak dari tempatnya, "Jangan pergi terlalu jauh, kembalilah," bisiknya di telinga Sian, sebelum dia melepaskan genggaman tangannya, dan pergi.


♡♡♡


"Do Hyun-ah, menurutmu kapan kita akan keluar dari hutan ini?" Tanya Sian, terdengar seperti keluhan.


"Entahlah. Terus saja berjalan," sahut Do Hyun.


"Tapi aku mulai lelah, haruskah kita beristirahat didekat sungai tempatku mengambil air untukmu? Barangkali orang-orang dari pedesaan pergi ke sana untuk mendapatkan air," saran Sian.


"Kau mau kembali ke sana? Aku tidak mau!" Tukas Do Hyun.


"Kenapa?"


"Beruntung jika memang penduduk desa datang ke sana dan menyelamatkan kita, tapi bagaimana jika kita tidak beruntung? Bagaimana jika ternyata penduduk desa tidak tahu mengenai sungai itu dan tidak pernah datang?" Tegas Do Hyun. "Sudahlah, ayo kita lanjutkan saja perjalanan melelahkan ini. Ayo." Do Hyun mengulurkan tangannya pada Sian.


Sian menghela napas berat, dia menerima uluran tangan Do Hyun, dan mulai melangkah bersamaan.


Mereka terus berjalan, sampai akhirnya.


"Noona, lihat itu!" Do Hyun berseru, menunjuk ke arah cahaya yang begitu terang di ujung jalan mereka.


"Eoh, cahaya! Do Hyun-ah, kita selamat!" Seru Sian.


"Ayo." Do Hyun mempererat genggaman tangannya pada sang kakak. Mereka berjalan menuju cahaya itu dengan perasaan bahagia, berpikir bahwa di balik cahaya itu mereka akan menemukan jalan keluar dari hutan ini.


"Lee Sian!"


Langkah Sian seketika terhenti, begitupun dengan Do Hyun.


"Ada apa?" Tanya Do Hyun.


Sian mengedarkan pandangannya, "aku mendengar seseorang memanggilku."


Do Hyun menghela napasnya, "ayolah, noona. Kau selalu bilang begitu selama kita di sini."


"Tapi, aku sungguh...,"


"Lee Sian! Kumohon jangan pergi!"


Sian terkejut, "kau dengar? Suara itu nyaring sekali!" serunya.


Do Hyun terdiam, dan mencoba untuk mendengarkan apa yang kakaknya dengarkan. Namun, nihil. Dia tidak dapat mendengar apapun selain hembusan angin yang menggoyangkan pepohonan.


"Serius! Aku tidak dengar apapun," sahut Do Hyun.


"Sian-ah, kembalilah. Jangan pergi seperti ini."


Sian terus mendengar suara itu, seolah-olah suara itu adalah rekaman yang diputar dikepalanya.


"Aku sungguh mendengarnya, Do Hyun-ah. Suara itu rasanya berasal dari sana," kata Sian, sembari menunjuk arah yang berlawanan dari dari cahaya terang yang berada dihadapan mereka.


Do Hyun menatap ke arah jari Sian menunjuk. "Tapi itu terlalu jauh, aku sudah lelah, noona. Tidak bisakah kita pergi ke arah cahaya itu saja?" Tanya Do Hyun.

__ADS_1


Sian masih menatap kearah sumber suara itu. Hati kecilnya ingin untuk melangkah ke sana. Namun, dia kembali menatap adiknya, melihat betapa pucat dan lelahnya wajah adiknya.


"Sebenarnya aku juga sudah lelah," kata Sian. "Ayo." Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju cahaya terang itu.


♡♡♡


Ibu Do Hyun menangis tersedu-sedu ketika melihat proses kremasi Do Hyun di mulai. Peti mati di mana anaknya terbaring itu, perlahan memasuki tempat pembakaran.


"Do Hyun-ah," isaknya.


Seok Jin menundukkan kepalanya, tak kuat melihat pemandangan dari balik kaca pemisah ruangan antara ruang kremasi dan ruang tunggu.


Selama tiga jam proses itu berlangsung. Kini Do Hyun telah menjadi abu. Sang ibu yang hatinya hancur tak sanggup melangkahkan kakinya untuk melakukan upacara perpisahan untuk putranya tersebut.


"Ahjumma!" Seok Jin membantu wanita paruh baya itu melangkah, juga ikut membawa guci berisikan abu Do Hyun.


Mereka berjalan hingga ke tempat upacara. Melakukan serangkaian upacara perpisahan untuk Do Hyun bersama dengan kerabat dan teman-teman sekolah Do Hyun. Mereka semua datang setelah mendengar kabar dari Seok Jin tentang kepergian Do Hyun. Seok Jin berpikir bahwa bagaimanapun Do Hyun pasti ingin berpamitan dengan semua temannya.


Satu persatu, kerabat dan teman-teman Do Hyun meletakkan bunga Krisan di depan foto Do Hyun. Mereka juga mengungkapkan kesedihan dan berpamitan pada Do Hyun.


"Do Hyun-ah, selamat tinggal. Aku tidak tahu kalau kau akan pergi secepat ini," isak Kang Jae, teman terbaik Do Hyun.


"Pergilah ke tempat yang indah Do Hyun-ah," kata teman-temannya yang lain.


Sang ibu menangis sesegukkan di sudut ruangan. Sedangkan Seok Jin mewakili wanita paruh baya itu untuk menerima belasungkawa dari para tamu.


"Do Hyun-ah," isak sang ibu. "Maafkan ibu, sayang. Ibu harap kau bahagia di sana."


"Tuan," panggil Hyun Woo. Dia menghampiri Seok Jin dan berbisik di telinga Seok Jin. "Tuan, nona Sian sedang dalam kondisi kritis, sekarang dokter sedang berjuang untuk menstabilkan keadaannya."


Seok Jin tertohok, dia menoleh pada ibu Sian barang sejenak, "tolong gantikan aku, jaga Ahjumma, jangan sampai dia tahu tentang ini. Itu akan menghancurkannya."


Seok Jin pergi dari ruangan itu, dan berlari menuju kamar rawat Sian. Di sana dia melihat dokter sedang melakukan CPR terhadap Sian, dan sesekali menggunakan alat kejut untuk mengembalikan detak jantungnya. Seok Jin yang hanya menjadi penonton yang merasa sangat cemas, terus berdoa di dalam hatinya. Mengharapkan wanita dihadapannya akan kembali padanya. Hingga akhirnya dia mendengar suara menakutkan dari layar monitor sambungan dari elektroda, dia melihat ke arah layar monitor itu yang kini memerlihatkan garis horizontal.


"Lee Sian!" Teriak Seok Jin. Sedangkan dokter terus menggunakan alat kejut terhadap Sian.


"Lee Sian! Kumohon jangan pergi!" Dia mulai terisak.


"Perawat Kim, tolong bawa dia keluar dari sini!" Titah sang dokter, dia merasa terganggu dengan keberadaan Seok Jin.


Seok Jin dikeluarkan dari ruangan itu. Kini dia hanya bisa menatap Sian dengan cemas dari balik kaca pemisah antara ruangannya dan ruangan Sian.


"Sian-ah, kumohon. Aku mohon jangan pergi," lirihnya. Bertepatan dengan itu, dokter mengakhiri tindakkannya, dia dan para perawat kini tertunduk di dekat ranjang Sian. Membuat Seok Jin resah.


"Ada apa?! Apa yang terjadi?!" Tanya Seok Jin ketika dokter dan para perawat keluar dari kamar rawat Sian.


Sang dokter menghela napas panjang. "Terjadi serangan jantung, kami...,"


"Jangan katakan apapun jika itu hanya berita buruk!" Sela Seok Jin. "Aku membayar bukan untuk mendengar berita buruk keluar dari mulut kalian!" Seok Jin masuk ke dalam kamar rawat Sian, menatap wanita itu dari samping ranjangnya.


"Sian-ah, kembalilah. Jangan pergi seperti ini."


♡♡♡


"Sebenarnya aku juga sudah lelah," kata Sian. "Ayo." Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju cahaya terang itu.


Hanya tinggal satu langkah lagi bagi mereka untuk masuk ke cahaya terang itu. Namun, Do Hyun menghentikan langkahnya, membuat langkah Sian ikut berhenti karena mereka masih bergandengan tangan.


"Ada apa?" Tanya Sian.

__ADS_1


"Kalau dipikir-pikir, bagaimana kalau kita berpencar di sini?" Usul Do Hyun.


"Berpencar?"


"Eoh," jawab Do Hyun sekenanya. "Aku akan mengalah padamu, dan masuk ke cahaya ini sebagai gantinya. Sedangkan kau bisa pergi ke arah suara yang memanggilmu berasal."


Sian ternganga, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Mengalah apanya, huh?! Selangkah lagi kita akan sampai di cahaya itu, tapi untuk pergi ke arah suara itu berasal, aku harus kembali menelusuri jalanan itu! Tidak mau!" Tukas Sian.


"Eihhh jangan begitu. Aku tahu kau penasaran dengan siapa yang memanggilmu, 'kan? Aku hanya kasihan padamu jika setelah kita memasuki cahaya ini, kau menjadi penasaran dan menyesal. Lebih baik periksa saja, sana."


"Tidak mau!" Tukas Sian. "Jika ingin memeriksanya, kenapa kita tidak kembali bersama dan memeriksanya. Kenapa harus aku yang kembali dan memeriksanya?! Menyebalkan!"


"Karena hanya kaulah di sini yang memiliki rasa penasaran paling tinggi, aku yakin sekarang di dalam kepalamu itu pasti dipenuhi pertanyaan siapa orang yang memanggilmu. Aku yakin itu!" Tukas Do Hyun. Sebenarnya memang benar bahwa sejak tadi kepala Sian dipenuhi oleh pertanyaan itu. Namun, dia tidak mau meninggalkan adiknya seorang diri, karena itu dia terus mengikuti adiknya.


"Tidak! Aku sudah tidak penasaran lagi!" Tukas Sian.


"Semakin kau menyangkalnya, semakin aku tahu bahwa kau penasaran," kata Do Hyun. "Periksalah. Jangan khawatirkan aku. Aku memang tidak tahu apa yang ada di balik cahaya ini, tapi aku akan pastikan untuk memberimu kabar."


Sian terdiam, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat sedih. "Do Hyun-ah." Dia menghamburkan diri memeluk adiknya dengan erat.


"Kenapa?" Tanya Do Hyun bingung.


"Entahlah, aku hanya ingin memelukmu saja," jawab Sian amat pelan. Namun, masih dapat terdengar oleh Do Hyun.


Do Hyun membalas pelukkan kakaknya dengan sama eratnya. "Pastikan untuk memberiku kabar juga setelah kau sampai di sana, mengerti?"


"Eoh." Sian melepaskan pelukkannya dari Do Hyun. "Kalau begitu aku akan pergi untuk memeriksanya."


Sian melambaikan tangannya, begitupun dengan Do Hyun. Sian hendak melangkah pergi ketika Do Hyun memanggilnya.


"Noona."


"Apa?" Tanya Sian.


"Hanya ingin kau tahu, bahwa aku sangat menyayangimu, yaa meskipun aku sering membuatmu kesal, maaf ya."


Sian tersenyun kecil, "sudah kumaafkan sebelum kau mengatakannya."


"Gomawoyo, noona."


Sian hendak pergi ketika dia teringat untuk menanyakan sesuatu, "eoh iya, bagaimana cara kita untuk mengabari satu sama lai...," Sian terdiam, ketika dia menoleh dan Do Hyun tidak ada lagi di tempatnya, begitupun dengan cahaya terang itu. Keduanya menghilang begitu saja.


"Do Hyun-ah," panggil Sian. Dia mengedarkan pandangannya.


"Do Hyun-ah!" Dia mulai berteriak. "Yaa Lee Do Hyun!" Kini dia terisak, entah mengapa dia merasakan sakit yang luar biasa dalam hatinya, seolah-olah hatinya ditimpa oleh batu bertubi-tubi.


"Yaa Lee Do Hyun! Kau di mana?!"


♡♡♡


"Sian-ah, kembalilah. Jangan pergi seperti ini," lirih Seok Jin.


"Terjadi serangan jantung, kami sempat kehilangan dia. Namun, sekarang kondisinya kembali stabil," kata dokter yang menangani Sian. "Sebenarnya hal yang mustahil untuknya bertahan jika mengingat kadar cairan Ricin yang ada dalam tubuhnya. Bahkan hanya dua kali mengkonsumsi cairan Ricin bisa menyebabkan efek sakit yang luar biasa, yang berujung pada kematian. Dia pasti menahan semua rasa sakit itu dengan keinginan hidup yang kuat. Atau mungkin ada yang membuatnya untuk bertahan selama ini."


Seok Jin menghela napas lega. Dia sudah sangat khawatir ketika dokter mengatakan bahwa mereka sempat kehilangan Sian.


Seok Jin menggenggam erat tangan Sian, "kerja bagus, Sian. Kau memang wanitaku yang sangat hebat. Aku mencintaimu," bisiknya.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2