Drama

Drama
CUT


__ADS_3

Seok Jin menundukkan kepalanya. Sedangkan Sian mulai terkekeh melihatnya.


"Kau lucu sekali," gumam Sian, membuat Seok Jin mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu penuh tanya.


"Lucu?"


"Eoh. Lucu sekali mengetahui bahwa kau diperdaya oleh mantanmu itu," goda Sian. "Itulah sebabnya manusia diperintahkan menjalani hidupnya dengan baik, karena karma itu berlaku."


"Yaa apa maksudmu? Karma?" Tanya Seok Jin tak terima.


"Eoh, karma! Kau playboy kacang yang sering menyakiti hati wanita!"


Seok Jin mendengus kesal, "tapi aku begitu karena..., lupakan saja!" Tukas Seok Jin. "Dan anehnya kau pernah bilang kalau playboy itu adalah pesona seorang pria!" Sindirnya, membuat Sian membulatkan matanya.


"Apa? Kapan aku bilang begitu?"


"Saat smp, jangan pura-pura lupa!"


Sian mencoba mengingat perkataannya saat itu, dan kemudian..., "ahh, saat itu aku masih terlalu muda, kau tahu? Anak muda biasanya mengatakan sesuatu yang membuatnya terlihat keren."


Seok Jin ternganga, dia tidak pernah tahu bahwa itu yang Sian pikirkan selama ini.


"Bodoh sekali," gumamnya.


"Apa?" Tanya Sian, tak mendengar apa yang Seok Jin gumamkan.


"Bukan apa-apa," sahut Seok Jin.


"Sekarang bagaimana?" Tanya Sian.


"Apanya?" Seok Jin balik bertanya.


"Antara kau dan Jere."


Seok Jin menghela napas dalam-dalam, "seperti yang kau dengar tadi, aku akan biarkan dia mengurus segalanya. Biar bagaimanapun, orang-orang akan menganggapku buruk jika aku yang mulai mengurus perceraian kami."


"Jadi..., kau sungguh akan bercerai dengannya, 'kan?" Tanya Sian hati-hati.


"Kenapa? Kau mau bertanya apakah lamaranku tahun lalu masih berlaku, eoh?" Goda Seok Jin, membuat Sian merona dan salah tingkah.


"E-eihh yang benar saja!" Tukasnya. "Turunkan aku di sana," titahnya. Perlahan Seok Jin menepikan mobilnya.


"Turun di sini? Tapi ini masih jauh dari rumahmu," kata Seok Jin.


"Ini sudah dekat, kau pulang sana!" Tukasnya. Kemudian, dia keluar dari mobil Seok Jin.


"Dia menyebalkan! Daripada bertanya seperti itu bukankah lebih baik jika dia mengulangi lamarannya, huh?" Gumam Sian, "atau mungkin, lamaran itu memang sudah tidak berlaku?" Sian menggelangkan kepalanya, "ahhh masa bodoh! Aku tidak mau memikirkannya lagi!"


♡♡♡


Sian terlihat murung, dan itu mengundang teman-temannya untuk menggodanya.


"Sejak Changkyun pergi kau jadi sering terlihat murung," goda Sera.


"Aku...,"


"Kau pasti merindukannya, 'kan?" Belum selesai Sian bicara, Minhyuk sudah menyelanya.


"Eihhh ini seperti drama menyedihkan yang kutonton tiap akhir pekan," Yana menimpali.


Sian menghela napas panjang, "terserah kalian saja," gumamnya.


Tak lama setelahnya, ponsel Sian di dalam tas berdering.


"Ya, sepertinya ponselmu berdering," tegur Minhyuk, "mungkin itu Changkyun," lanjutnya.


"Entahlah, aku malas mengangkatnya," sahut Sian.


"Kalau begitu boleh aku yang mengangkatnya?" Tanya Minhyuk.


"Ya terserah saja."


Minhyuk membuka tas Sian, dan mengeluarkan ponsel Sian dari sana.


"Eoh, ini sungguh Changkyun!" Seru Minhyuk. Kemudian dia menerima panggilam masuk dari Changkyun di ponsel Sian.


Sudah satu minggu sejak aku membantunya, kenapa malah orang lain yang menghubungiku?! Han Seok Jin keterlaluan! Tahu begini aku tidak akan,membantunya bebas dari mantannya yang picik itu! Umpat Sian dalam hatinya.


"Changkyun-ah," seru Minhyuk, Sera, dan Yana.


"Eoh? Kenapa kau yang menjawabnya? Di mana Sian?"


Minhyuk melirik Sian, "dia sedang murung sekarang, sepertinya karena terlalu merindukanmu," seru Minhyuk. Sera dan Yana terkekeh, tapi Sian hanya menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya.


Changkyun terkekeh juga, "aku ingin bicara dengannya, tolong berikan teleponnya pada Sian."


"Sian-ah, Changkyun ingin bicara. Sepertinya dia juga merindukanmu," goda Minhyuk.


Sian segera merebut ponselnya dari Minhyuk, membuat teman-temannya makin yakin bahwa alasan Sian murung adalah karena merindukan Changkyun.

__ADS_1


"Eoh, Changkyun-ah." Sian beranjak dari tempatnya, dan pergi meninggalkan kelas.


"Kau baik-baik saja?"


"Eoh," jawab Sian sekenanya. "Bagaimana kabarmu?"


"Lebih baik dari sebelumnya. Aku menghubungimu untuk memberitahukan sesuatu."


"Sesuatu? Apa?"


"Ada kursi kosong untuk mahasiswa pertukaran, jika kau mau kau bisa mengajukan diri. Kudengar jika mengikuti program ini, persyaratan untuk beasiswa akan dipermudah."


Sian membulatkan matanya, "benarkah?"


"*Iya. Jika mau, aku akan merekomendasikanmu, kau hanya perlu mengajukan diri."


Aku bertanya-tanya bagaimana caranya membayar kuliahku semester depan, dan kurasa ini adalah jalan keluarnya, benarkan*?


♡♡♡


Rasa lelah menjalar ke seluruh tubuh Sian. Dengan lunglai dia berjalan menuju rumahnya yang sudah berada di depan mata, ketika...,


"Eoi, Lee Sian."


Suara tak asing itu mengalihkan pandangan Sian.


"Seok Jin? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Sian.


"Hanya ingin mengatakan sesuatu padamu," jawabnya.


"Apa?"


"Itu, aku mau memberikan ini padamu." Seok Jin menyodorkan sebuah amplop cokelat berukuran hvs pada Sian. Tanpa prasangka, Sian menerima amplop itu.


"Ini apa?"


"Baca saja, kau akan mengerti maksudnya."


Sian hendak membuka amplop itu ketika ponselnya berdering, dia segera mengangkatnya.


"Eoh, Changkyun-ah," serunya, wajahnya terlihat sumringah, dan itu membuat Seok Jin cemburu.


Dia masih berhubungan dengan pria itu? Memangnya dia tidak ingat siapa kakak dari pria itu, huh? Dia tidak dendam? Seharusnya dia dendam! Gerutu Seok Jin dalam hatinya.


"Iya, aku akan segera mengirimkan berkasnya," kata Sian pada Changkyun. "Dah, Changkyun. Aku akan menghubungimu nanti." Dia menutup teleponnya, mengundang tanda tanya besar bagi Seok Jin.


"Kau masih berhubungan dengannya?" Tanya Seok Jin agak ketus.


"Tidak apa-apa," sahut Seok Jin. "Apa yang kalian bicarakan? Aku sempat mendengar kau berkata berkas, berkas apa maksudnya?"


"Ah, itu, Changkyun memberitahuku bahwa ada kursi kosong untuk mahasiswa pertukaran di Finlandia," kata Sian, dengan wajah sumringah. "Changkyun bilang, jika mengikuti program ini, maka persyaratan beasiswa akan dipermudah, karena itu aku...,"


"Kau akan pergi?" Sela Seok Jin, pria itu terlihat sangat kecewa, matanyapun terlihat berkaca-kaca, dan itu membuat Sian terdiam.


"K-kau menangis?" Tanya Sian hati-hati, takut menyakiti perasaan Seok Jin.


"Tidak! Memangnya kau lihat ada airmata yang jatuh ke pipiku!" Tukas Seok Jin. Airmatanya memang belum menetes, tapi itu menggenang di kedua matanya, dan siap untuk meluncur dikedua pipinya.


"Tapi, matamu...,"


"Mataku memang berair!" Selanya. "Aku pergi dulu!" Seok Jin melangkah pergi, melewati Sian yang berada di hadapannya.


"Keterlaluan! Kenapa dia senang sekali menarik ulur perasaanku?! Dia terus saja pergi saat aku mencoba untuk serius padanya!" Seok Jin menggerutu.


"Mencoba serius? Apa maksudnya?" Tanya Sian, yang ternyata mengekori Seok Jin.


Seok Jin terperanjat kaget. "Aishhh kau mengagetkanku!" Umpatnya, ketika dia menoleh pada Sian yang berada di belakangnya.


"Jadi, apa maksudnya? Apa mungkin kau ke sini untuk...," Sian menatap Seok Jin dengan tatapan yang seolah-olah sedang mengolok-olok.


"Y-yaa! J-jangan berpikiran macam-macam, aku ke sini bukan untuk melamarmu, aku ke sini hanya untuk memberikan surat ceraiku yang sudah diresmikan!" Seok Jin tergagap.


"Aku tidak bilang kau mau melamarku, kapan aku mengatakannya? Dan lagi, kenapa kau memberikan surat ceraimu padaku?" Tanya Sian, menggoda Seok Jin. Padahal kenyataannya memang itulah yang Sian pikirkan.


"I-itu..., itu..., ah lupakan saja! Aku mau pergi saja!" Tukasnya.


Seok Jin hendak pergi ketika Sian menarik tangannya, "tunggu."


"Ada apa lagi?" Tanya Seok Jin agak malas.


Sian menangkup wajah Seok Jin, dan mendekatkan wajah tirus itu pada wajahnya, membuat pria itu merona.


"Y-yaa, L-Lee Sian, kau...,"


*cupp.


Dengan begitu lembut Sian mengecup bibir Seok Jin, membuat darah pria itu berdesir.


"S-sian-ah, kau...,"

__ADS_1


"Bukankah kita berdua bodoh? Aku lelah terus bermain kode-kodean denganmu. Han Seok Jin, sebenarnya aku menyukaimu, aku tidak bisa memastikan kapan itu bermula, tapi aku terus merindukanmu saat kau tidak ada dihadapanku. Aku juga menyesal telah menolak lamaranmu, tapi..., saat itu aku terlalu sedih atas kepergian Do Hyun, aku...,"


"Menikahlah denganku, Sian-ah, aku akan bertanggungjawab penuh atas kebahagiaanmu," sela Seok Jin. Dia memang berencana melamar Sian setelah memerlihatkan surat cerainya pada wanita itu. Itu semua sudah tergambar dalam skenarionya.


Sian tersenyum, dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Seok Jin.


"Tapi bagaimana dengan program pertukarannya? Yang kutahu program itu hanya meloloskan mahasiswa yang belum menikah, apakah kita harus menunda pernikahan kita sampai kau menyelesaikan program itu? Tapi..., aku takut jika kau berubah pikiran," kata Seok Jin, seperti sedang merengek.


Sian tertawa keras. "Itukah yang membuatmu tadi tiba-tiba pergi?"


"Kau tertawa?"


"Astaga, Seok Jin-ah, kau lucu sekali," tawa Sian, sembari membelai wajah Seok Jin.


"Aku serius, aku takut jika kau berubah pikiran dan akhirnya menolak lamaranku!" Rengek Seok Jin.


Sian menahan menghentikan tawanya, "siapa sih yang bilang kalau aku ikut program itu, emm?"


"Kan tadi kau yang bilang."


"Aku?" Sian menunjuk dirinya. "Kapan?"


"Tadi, saat aku bertanya padamu."


Sian diam barang sejenak dan berpikir, kemudian dia mendesah, "kurasa kita harus mulai berbicara dengan lugas dan jelas satu sama lain. Kita selalu sering salah paham karena perkataan tak jelas kita."


"Maksudnya?"


"Aku memang tertarik dengan keuntungan setelah mengikuti program itu, tapi aku sadar diri, aku tidak cukup pintar untuk mengikuti program itu, karena itu aku menawarkannya pada Yana, dan sekarang aku sedang membantunya mengurus berkas-berkasnya. Kau tahu? Yana membayarku cukup banyak hanya karena aku membantunya," jelas Sian, dan itu membuat Seok Jin menghela napas panjang.


"Aaahhhh kupikir kau... aishh wanita itu mengejutkanku," desah Seok Jin, membuat Sian tertawa.


"Aku tidak akan pergi darimu, Seok Jin-ah. Karena kurasa aku tidak akan sanggup menahan kerinduan yang akan disebabkan dari perpisahan itu."


Seok Jin terdiam, dan terharu mendengar perkataan Sian, hatinya seolah dibalut selimut yang hangat.


"Lagipula kau itu kan mantan playboy, aku tidak bisa menjamin kalau kau tidak akan macam-macam dengan wanita lain kalau aku pergi," tukas Sian, membuat segala perasaan haru Seok Jin hancur.


"Yaa! Kau...,"


*cuppp.


Seok Jin terdiam saat Sian kembali mengecup bibirnya.


"Hanya bercanda. Aku tahu kau sangat tergila-gila padaku. Kumaklumi sih, mengingat aku sangat cantik dan mempesona," kata Sian dengan percaya diri.


Seok Jin menghela napas panjang, dia tidak menyangka wanita dihadapannya bisa sepercaya diri itu.


"Bisakah aku menarik kembali lamaranku? Kurasa aku tidak akan sanggup hidup dengan wanita menyebalkan ini," gumam Seok Jin.


"Yaaa jangan begitu, akui saja kalau kau memang tergila-gila padaku."


"Tidak! Kapan aku tergila-gila padamu? Cih."


Sian terdiam, "kau mendecih padaku?" Tanyanya agak menbentak.


Seok Jin salah tingkah, "b-bukan begitu, aku hanya bercanda, aku tidak bermaksud...,"


*cuppp


Seok Jin tercengang ketika Sian kembali mengecup bibirnya.


"Aku juga bercanda," kata Sian dengan riang.


Seok Jin menghela napas panjang, "wahhh kau mulai berani main fisik denganku, eoh?"


"Apa tidak boleh?"


"Boleh saja, tapi tanggung akibatnya!" Tukas Seok Jin. Dia mengangkat tubuh Sian, dan membawanya ke dalam mobilnya.


"H-heh, kau mau apa?" Tanya Sian mulai panik.


"Memberimu balasan." Seok Jin menyeringai, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sian secara perlahan. Sian mulai memejamkan matanya, dan menunggu kecupan Seok Jin ketika dia mendengar suara tawa Seok Jin.


"Hahahaha lucu sekali. Yaa Lee Sian, kenapa kau memejamkan mata, eoh? Apa kau mengharapkan hal yang kotor?" Goda Seok Jin, membuat Sian malu.


"Kau menyebalkan. Kau bilang mau membalasku!"


"Memang, tapi tidak sekarang. Nanti, setelah kita menikah. Aku tidak mau merusak kehormatanmu, sesuai janjiku aku akan menjagamu," kata Seok Jin. Dia mengeluarkan kotak kecil dari dasbor mobilnya. Membuka kotak kecil berisi cincin berlian itu dihadapan Sian. Seraya berkata, "aku lupa memberikan ini padamu, jadi akan kuulangi permintaanku. Lee Sian, menikahlah denganku."


Sian menitihkan airmata, entah kenapa laku Seok Jin terhadapnya membuatnya terharu.


"Iya, aku mau," jawabnya.


Seok Jin tersenyum, dipakaikannya cincin itu dijari manis Sian, kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukkannya.


"Terimakasih karena telah menerima tawaranku untuk menjadi pemeran utama wanita dalam hidupku, Sian-ah. Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu menghormatimu."


Kau tahu apa itu cinta? Cinta adalah sebuah drama yang berasal dari skenario tuhan. Aku sangat menyukai drama ini, di mana tuhan menjadikanku dan Seok Jin sebagai peran utamanya. Meskipun drama ini hanya sebuah drama percintaan yang monoton, tapi aku suka alurnya.

__ADS_1


THE END


__ADS_2