
Sian menatap langit-langit kamar dengan airmata yang menggenang dimatanya. Dia merasakan kepalanya seperti akan pecah, meskipun tubuhnya belakangan ini menjadi mati rasa, dan keluh.
"Kau belum tidur?" Tanya ayahnya.
Sian menoleh, airmata yang menggenang itu jatuh sempurna di pelipisnya.
"Kenapa menangis? Apakah ada yang sakit?" Tanya ayahnya, terdengar begitu perhatian.
"A-ayah, kepalaku sakit sekali, dan tubuhku terlalu lelah untuk bisa kugerakkan," lirihnya.
"Jangan khawatir, ada dokter Eum di sini," kata ayahnya.
Sian mengalihkan pandangannya pada wanita bernama Eum Ji Eun itu.
"Dokter Eum, kapan Do Hyun akan sadar? Kau bilang itu tidak akan lama, tapi sampai sekarang...,"
"Sian-ah, kau terlalu banyak pikiran. Mungkin itulah penyebab kenapa kepalamu sakit. Aku juga sering merasakan sakit dikepala saat banyak pikiran," kata Ji Eun. Kemudian, dia mengeluarkan suntikkan dari dalam tasnya. "Suntikkan ini bisa membuatmu tenang." Dia menusukkan jarum suntik itu di pergelangan tangan Sian, dan tak butuh waktu lama, obat dalam suntikkan itu berhasil membuat Sian tertidur.
"Yaa! Diagnosa macam apa itu? Kepalanya sakit karena banyak pikiran?! Bodoh!" Bentak ayah Sian.
Ji Eun mendengus kesal, "kau pikir mudah berakting sebagai dokter, hah? Banyak istilah aneh yang membuat lidahku sepertinya terbelit!"
"Jika bukan karena wajahmu mirip dengan dokter Cha Yoon Ju, aku pasti tidak akan memperkerjakan pecandu narkoba sepertimu!" Tukas ayah Sian.
Karena kemiripannya dengan dokter terkenal bernama Cha Yoon Ju. Ayah Sian, Lee Sung Kyun. Memang memperkerjakan Ji Eun, yang seorang apoteker dan kemudian menjadi pecandu narkoba sejak setahun lalu. Hal itu dilakukan Sung Kyun lantaran Changmi mengatakan bahwa gelagat Changkyun mulai aneh, seperti sedang mencurigai mereka. Untuk menghilangkan kecurigaan itu, Sung Kyun menyewa Ji Eun, agar mertuanya, dan adik iparnya tersebut dapat melihat betapa Sung Kyun merawat anak-anaknya dengan baik hingga memanggil dokter ke rumah.
"Meskipun aku seorang pecandu narkoba, tapi aku tidak akan pernah melakukan ini pada anakku sendiri kelak!" Sindir Ji Eun.
__ADS_1
Mata Sung Kyun memerah, dia menarik kerah baju Ji Eun, dan mencengkramnya dengan kuat, "kau yakin tidak akan melakukannya? Kau yakin, sampah sepertimu tidak akan melakukan ini saat kau akan mendapat uang ratusan juta won dengan melakukannya, huh?!" Sung Kyun menghempaskan Ji Eun, membuat wanita itu tersungkur dilantai. "Aku membayarmu bukan untuk mengeritikku! Bekerjalah yang benar!"
Ji Eun berdiri dengan usahanya sendiri. Kemudian, dengan perasaan marah dia keluar dari kamar Sian dan Do Hyun.
Sung Kyun menghela napas panjang, mencoba menekan emosinya. Ditatapnya kedua anaknya itu tanpa sedikitpun rasa iba, ataupun bersalah.
"Kalian sudah lama berbakti pada ibu kalian, kini, saatnya kalian berbakti padaku!"
Investasi yang Seok Jin berikan sebenarnya sudah cukup untuk menutupi sebagian besar hutang Sung Kyun. Namun, sebagai manusia biasa, hati nurani Sung Kyun terlahap habis oleh keserakahan, dia tetap mengingin kan uang asuransi tersebut.
♡♡♡
Changkyun menatap pintu kamar Sian dan Do Hyun dengan penuh kegelisahan. Sudah hampir satu bulan dia tidak pernah lagi melihat Sian keluar dari sana. Bahkan melalui ayahnya, Sian mengajukan cuti kuliah. Sedangkan Do Hyun..., tidak pernah terdengar oleh Changkyun bahwa dia telah sadar dari komanya, meskipun mereka berada dibawah atap yang sama.
"Apa yang kau lihat?" Tanya ibunya.
"Sian tidak akan senang jika kita masuk. Kita...,"
"Aku hanya ingin tahu keadaannya dan adiknya," sela Changkyun.
Ibunya menghela napas panjang, "terakhir kali ibu masuk ke sana, Sian nampak sedih, dan adiknya..., dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan sembuh."
Changkyun semakin khawatir, dia merasakan ada hal aneh yang terjadi di dalam sana. Apalagi ketika Changmi mengatakan bahwa ibunya dan Changkyun tidak boleh lagi memasuki kamar itu, dengan alasan bahwa Sian tidak mau melihat anggota keluarga Changmi. Hanya Lee Sung Kyun, dan juga dokter yang dipanggilnya setiap minggu untuk memeriksa keadaannya, yang diperbolehkan Sian masuk ke kamarnya.
"Ibu tidak merasakan ada yang aneh?" Tanya Changkyun.
"Aneh? Ibu pikir Sian hanya terlalu syok dengan semua ini. Dia tinggal bersama keluarga dari wanita yang merebut kebahagiaan keluarganya, jadi kita tidak bisa mengganggap sikapnya aneh! Ibu bisa memakluminya jika dia tidak ingin melihat kita menginjakkan kaki di kamarnya!" Tukas ibu Changkyun. Sebenarnya, sama seperti Changkyun. Sang ibu juga amat sangat kecewa pada Changmi ketika mengetahui kenyataan bahwa anaknya adalah gundik yang merebut seorang suami, dan seorang ayah dari keluarga lain.
__ADS_1
Changkyun terdiam, dia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Kenapa lama sekali? Dia bilang itu akan sebentar. Bisik hati Changkyun.
"Ibu, aku mau pergi sebentar," katanya, kemudian bergegas pergi meninggalkan ibunya yang kini melangkah masuk ke kamarnya.
♡♡♡
Dari balik jendela mobil, Seok Jin memandang penuh gelisah rumah mewah di hadapannya. Dia ingin sekali masuk ke rumah itu, dan melihat keadaan dari dua orang yang sudah satu bulan ini sangat dirindukan, sekaligus dikhawatirkannya.
Dalam satu bulan itu, Seok Jin telah melakukan berbagai cara untuk mengetahui kabar Sian dan Do Hyun. Mulai dari menghubungi Sian dan Do Hyun yeng ternyata ponselnya sudah tidak aktif. Kemudian, meminta orang-orang suruhannya untuk berjaga di sekolah Do Hyun, dan kampus Sian, kalau-kalau mereka terlihat di sana. Namun, semuanya nihil. Sian dan Do Hyun seolah hilang tanpa jejak.
"Jika saja kita memiliki tali hubungan. Jika saja aku sungguh suamimu, maka..., aku pasti akan masuk ke sana dan membawamu pergi." Gumam Seok Jin. Dia mengacak rambutnya, frustasi dengan keadaan yang menjepit perasaannya dengan kegelisahan dan kekhawatiran.
Tok tok tok
Seok Jin terperanjat kaget ketika melihat Changkyun di balik jendela mobilnya.
"Aishh mengagetkan saja!" Desis Seok Jin. Kemudian dia menurunkan jendela mobilnya.
"Kupikir kau penjahat," kata Changkyun.
"Katakan saja apa maumu?!" Tukas Seok Jin, membuat Changkyun tersenyum kecil.
"Bukankah seharusnya aku yang berkata begitu? Mau apa kau seharian ini mengawasi rumahku?"
Seok Jin mendesah, "hanya ingin melihat keadaan Sian dan Do Hyun. Apa mereka baik-baik saja? Kudengar sebelumnya Do Hyun masuk rumah sakit, dia sakit apa?" Tanya Seok Jin berturut-turut. Dia memandang Changkyun penuh harap. "Tolong jaga mereka, lindungi mereka dari...,"
"Sepertinya kau mengetahui sesuatu," Sela Changkyun. "Aku mungkin tidak mengenalmu, tapi kita harus membicarkan ini."
__ADS_1
TO BE CONTINUE