
"Sudah kukatakan untuk membawakan bukti sebelum berulah! Kau..., hahh." Jang So Ram mendesah. "Kalau sudah begini, kita harus bagaimana, huh?"
"Kenapa kau bertanya padaku? Kau adalah pengacaranya!" Tukas Seok Jin.
Jang So Ram menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan di atas meja, dia mendekatkan wajahnya pada Seok Jin, "kau tahu? Hanya ada dua cara bagimu untuk lolos dari ini. Pertama, bayar denda dan bertahan selama beberapa bulan di balik jeruji. Kedua, memohon maaf pada pelapor untuk mencabut tuntutannya!"
"Cih! Aku tidak sudi meminta maaf pada penjahat sepertinya!"
So Ram mendengus kesal, "sudah kukatakan untuk berbicara dan bertindak jika kau memiliki bukti! Lihatlah yang terjadi sekarang, huh?!" Bentak So Ram.
Setelah diintrogasi, polisi memutuskan untuk menjadikan Seok Jin tersangka atas penerobosan dan pencemaran nama baik. Sedangkan Sung Kyun dibebaskan begitu saja karena kurangnya bukti atas perkataan Seok Jin.
"Itu kenyataannya! Dia memang mencoba untuk...,"
"Apa?! Mencoba untuk apa?!" Sela ibu Seok Jin, yang baru saja datang.
So Ram membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. "Nona besar."
Sang ibu menghampiri Seok Jin, melayangkan tamparan ke wajah Seok Jin.
#prakkkkk
Seok Jin tertegun, dia memegang bekas tamparan ibunya.
"Aku sudah mendengar semuanya! Beraninya kau menghancurkan masa depanmu hanya demi wanita itu, hah?!" Bentak sang ibu.
"Wanita itu?" Gumam Seok Jin. Dia menoleh pada ibunya, menatap sang ibu dengan mata memicing, "wanita itu berkali-kali membantuku, dia...,"
"Dia membantumu karena kau membayarnya! Jadi kenapa harus repot mengurusi urusannya, hah?! Jika ayahnya segila itu, maka biarkan saja! Tidak perlu peduli!"
"Eomma!"
Sang ibu mengalihkan pandangannya dari Seok Jin, dia kemudian menatap So Ram.
"Mari kita selesaikan ini dengan tenang, berikan perlapor berapapun yang dia minta untuk mencabut tuntutannya!" Tukas sang ibu.
"Eomma!" Bentak Seok Jin.
"Sebagai pebisnis seharusnya kau tahu, bahwa membuang seseorang yang sudah tidak berguna itu perlu!" Tukas sang ibu, membuat Seok Jin memandangnya dengan perasaan tidak percaya.
"Eomma! Bagaimana bisa eomma mengatakan hal seperti itu terhadapnya, eoh? Dia...,"
__ADS_1
"Dia orang yang membuatmu harus berada di ruang introgasi yang pengap dan kotor ini! Aku tidak akan biarkan dia membuatmu terseret lebih jauh dalam masalah ini!" Tukas ibunya, kemudian dia mengalihkan kembali pandangannya pada So Ram, "segera kerjakan apa yang kuperintahkan!"
Sang ibu hendak pergi ketika Seok Jin berkata dengan lirih, "dia lebih dari sekedar wanita yang kubayar untuk membantuku, bu. Dia, juga adiknya. Mereka..., sangat berharga untukku."
Sang ibu menoleh, mendapati sang anak yang tertunduk dan memasang wajah sedih. Ada sedikit perasaan yang membuat sang ibu terusik melihat itu. Sesuatu yang bisa di sebut sebagai batin antara anak dan orangtuanya.
"Ibu tahu? Ada beberapa bantuan yang mereka berikan tanpa bisa kubalas dengan uang, karena hal itu hanya bisa tersampaikan ke dalam perasaan jika dilakukan dengan tulus, bukan karena imbalan," lirih Seok Jin, dia mengangkat kepalanya yang tertunduk, dan menatap ibunya dengan mata yang basah dan memerah. "Saat mereka mengkhawatirkanku, bertanya kapan aku pulang? Apakah aku sudah makan? Apa yang kulakukan? Kemudian, saat mereka mencoba untuk peduli dengan masalahku, bertanya apakah ada yang bisa mereka bantu untuk meringankannya? Saat mereka membuatku tersenyum, dan saat mereka memberiku kehangatan yang tidak pernah lagi kurasakan semenjak ibu peduli dengan seni dan tingkat sosial. Mereka menggantikan ibu untuk melakukannya. Tahukah ibu apa yang kurasakan? Aku..., aku sangat bahagia, aku bisa merasakan ketulusan mereka, dan itu membuatku seperti seseorang yang paling beruntung bisa merasakan kehangatan itu." Air yang menggenang dimatanya itu perlahan mengalir dikedua pipinya. Sang ibu tertegun, begitupun dengan So Ram. Ini pertama kali bagi mereka melihat momen itu. Bahkan saat Seok Jin mengalami cedera ligamen hingga harus berhenti dari club basebalk, dia tidak sedikitpun meneteskan airmata.
"Kau...,"
"Bahkan jika aku harus berada dibalik jeruji. Aku tidak akan pernah meminta maaf ataupun mengemis bantuan dari orang jahat yang memperlakukan dua orang berhargaku seperti itu!" Tukas Seok Jin, airmata terus berjatuhan di kedua pipinya.
Sang ibu merasa ada sesuatu yang seakan memukul hatinya dengan keras, rasanya begitu sakit dan menyesakkan. Dia menghela napas panjang, "kau tidak punya bukti untuk itu!" Tukas sang ibu, bertingkah kuat daripada yang sebenarnya dia rasakan.
"Ayah pernah bilang, bahwa tidak akan ada asap tanpa api. Aku yakin ada bukti kuat untuk setiap hal yang kukatakan, kita hanya perlu mencarinya. Ibu, kumohon."
♡♡♡
"Selagi mereka melepaskan kita, sebaiknya kita segera pergi dari negara ini sebelum mereka menyelidiki perkataan presdir bodoh itu lebih dalam!" Titah Changmi.
Sung Kyun berpikir barang sejenak, "tapi aku masih tidak bisa menerima ini! Aku harus tahu di mana dia menyembunyikan Sian dan Do Hyun?!"
"Bisakah kita bicara?" Tanya ibu Seok Jin, yang didampingi oleh Jang So Ram.
"Jika kau ingin berunding tentang anakmu, maka...,"
"100 juta won, apa itu cukup?" Sela ibu Seok Jin. Membuat Sung Kyun kesal.
"Wahhhh, 100 juta won? Yaa putramu mencuri sesuatu yang sangat berharga, 100 juta won?" Sung Kyun terkekeh.
"Sesuatu yang berharga? Apa itu? Aku tidak yakin kau punya barang yang harganya hingga 100 juta won!" Kata ibu Seok Jin, sarkastik.
"Yaa! Kau...,"
"Kalau begitu katakan berapapun yang kau mau untuk membuat segelanya menjadi tenang?!"
Sung Kyun mendengus kesal, dia hendak menghajar wanita dihadapannya ketika Changmi menahannya, dan berkata, "satu miliar won, dengan begitu kami akan anggap putramu tidak pernah memasuki rumah kami!"
Sung Kyun menatap Changmi, seolah bertanya apa yang sedang wanita itu lakukan.
"Sebaiknya kita ambil kesempatan ini untuk pergi dan hidup tenang di Swiss!" Bisik Changmi. Dia mengambil pensil alisnya, dan kertas dari buku catatan kecilnya dari dalam tas, kemudian dia menuliskan nomor rekeningnya di sana.
__ADS_1
"Ini nomor rekeningku," katanya, sembari menyerahkan kertas itu.
Ibu Seok Jin tersenyum kecil, "kau lebih berpikiran luas daripada suamimu," katanya, sembari menerima kertas dari Changmi. "Akan kukirimkan ketika kita menandatangani perjanjiannya."
"Baiklah." Changmi menuntun Sung Kyun pergi begitu saja.
"Si ******** itu! Jika perkataan Seok Jin benar, maka dia pasti seorang psikopat!" Gumam ibu Seok Jin.
"Nona besar, bagaimana dengan permintaan tuan Seok Jin?" Tanya So Ram.
"Akan kupikirkan ketika dia keluar dari ruangan pengap itu!"
♡♡♡
Changkyun membuka matanya perlahan. Sekali-kali mengerjab untuk membiasakan kedua mata itu dengan cahaya yang membias masuk melalui jendela.
"Changkyun-ah, kau sudah sadar?" Tanya orang di sampingnya.
Changkyun menoleh, dengan pengelihatan yang masih samar-samar dia menatap orang itu.
"Aku di mana?" Tanyanya.
"Rumah lama kita."
"Rumah lama kita?"
"Eoh."
Perlahan pengelihatannya yang samar-samar mulai jelas dan tajam, dia dapat melihat wajah pucat sang ibu yang menatapnya khawatir.
"Ibu?"
"Ohhh syukurlah, aku senang sekali kau sudah sadar. Syukurlah, Changkyun-ah." Sang ibu menghamburkan diri memeluk tubuh Changkyun. Sudah dua hari dia menunggu putranya tersadar. Dia sudah sangat cemas dan risau kalau-kalau putranya tidak kembali sadar.
"Changkyun-ah, siapa yang melakukannya? Sung Kyun kah?"
"Itu...," Changkyun terdiam ketika dia mengingat sesuatu, "ibu! Bagaimana dengan Sian dan Do Hyun, apakah mereka...,"
"Sebenarnya...,"
TO BE CONTINUE
__ADS_1