
Perlahan pria itu menghampiriku, duduk dihadapanku. Tubuhku sempat gentar. Namun, aku sadar bahwa aku berada di posisi di mana seharusnya akulah yang membuatnya gentar.
"Aku sempat tak percaya saat opsir Han bilang putriku ingin menemuiku," katanya, dia tersenyum kecil, dan itu membuat tubuhku rasanya sakit.
"Kau tersenyum?!" Tegurku. "Tidak tahu malu!"
Perlahan senyuman pria paruh baya yang pernah kusebut sebagai ayah itu, memudar. "Sian-ah, ayah...,"
"Aku datang ke sini tidak berharap mendengar permintaan maafmu! Aku ke sini untuk memaksamu menandatangani ini!" Tukasku, sembari menyerahkan dokumen resmi dari pengadilan terkait pemutusan hubungan keluarga secara hukum dengan orang ini, Lee Sung Kyun.
"Ini...,"
"Setidaknya itulah yang bisa kau lakukan untukku!" Selaku.
"Tapi, Sian...,"
"Tandatanganilah!" Titahku. "Lagipula memang cuma hal itu yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahanmu!"
"Baiklah jika itu maumu." Kulihat Lee Sung Kyun membubuhkan tandatangannya di kertas itu. Hatiku merasa lega melihatnya, seakan-akan batu besar telah diangkat dari atas tubuhku.
Aku menarik kertas itu setelah dia selesai menandatangani. Aku hendak pergi ketika aku teringat sesuatu, "ahh iya, aku lupa. Beberapa hari lalu Perusahaan asuransi jiwa mengirimkan uang asuransi kematian Do Hyun. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan sudi menggunakan uang yang didapatkan dari hasil pengorbanan adikku! Jadi, semua uang itu sudah kukirimkan ke tabungan penjaramu. Bersenang-senanglah di sini dengan semua uang itu!" Tukasku. "Ahh benar! Satu hal lagi, lusa adalah hari peringatan untuk Do Hyun, hanya ingin kau mengingat tanggalnya, agar kau dapat melihat kembali bagaimana kejamnya caramu merebut dia dariku!"
Aku melangkah pergi, keluar dari ruang kunjungan dengan perasaan lega. Rasanya sedikit menenangkan mengetahui kini diriku tidak pagi memiliki ikatan dengan pria jahat itu.
"Sian-ah."
Suara itu!
Aku menoleh dan mendapati Changkyun sedang berdiri di belakangku.
"K-kau kenapa bisa di sini?" Tanyanya agak tergagap. Ini memanglah kunjungan pertama dan terakhirku pada Lee Sung Kyun, kedepannya, aku hanya akan melanjutkan hidupku dengan baik, agar Do Hyun tidak mencemaskanku di sana.
"Hanya ingin menyampaikan sesuatu padanya," jawabku. "Kau akan mengunjungi kakakmu?"
"Eoh," jawabnya agak ragu, mungkin merasa tak enak padaku jika menyebutkan kakaknya.
Sejujurnya, aku memang sempat membenci Changkyun setelah apa yang terjadi. Namun, aku sadar bahwa diapun juga korban dalam peristiwa ini. Aku mendengar bahwa ibunya bunuh diri, dan demi menebus kesalahan kakaknya, Changkyun sering datang ke columbarium Do Hyun, dia membersihkannya, dan setiap tiga hari dia mengganti bunga krisan di dalam unit columbarium Do Hyun dengan yang baru. Aku mengetahui ini setelah tidak sengaja melihat Changkyun melakukannya, dan setelah kutanyakan pada penjaga columbarium, dia mengatakan bahwa Changkyun lebih sering datang ke sana dibandingkan dengan siapapun.
Tapi biar begitu, hubungan kami tidak akan pernah bisa kembali, bahkan sekarangpun aku sudah merasa tak nyaman berada di dekatnya.
"Kalau begitu aku pamit dulu," kataku. Aku hendak pergi ketika Changkyun menahan tanganku.
"Mari bicara," katanya.
♡♡♡
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Changkyun.
"Sudah lebih baik," jawabku. Kugenggam erat cangkir kopiku, mengharapkan kehangatan dari sana. Entah kenapa aku selalu merasa kedinginan tiap kali orang lain bertanya tentang kabarku. Karena sebenarnya aku tidak lebih baik dari satu tahun lalu. "Bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?" Tanyaku.
Changkyun menundukkan kepalanya barang sejenak, kemudian dia menyeruput latte dihadapannya. Melihat itu membuatku merasa bahwa dia juga tidak lebih baik setelah kejadian itu.
"Aku sedang mencoba untuk baik-baik saja," katanya. "Kau tahu? Ingatan tentang satu tahun lalu terlalu jelas tergambar di kepalaku, aku...,"
__ADS_1
"Kau benar, tapi yang hidup tetaplah harus melanjutkan hidup, 'kan?" Selaku. Changkyun menatapku dengan tatapan sendu. "Maaf karena terlambat mengatakan ini padamu, tapi, kau tidak perlu merasa bersalah, karena nyatanya itu bukan salahmu. Kau juga tidak perlu terus merawat columbarium Do Hyun. Kau bisa berhenti sekarang, dan melanjutkan kehidupanmu, Changkyun-ah."
"Kau...,"
"Aku tahu semuanya, tentangmu yang setiap hari merawat columbarium adikku, dan tentangmu yang mendapatkan kesempatan pertukaran mahasiswa ke Helsinki. Pergilah, Changkyun. Ini adalah kesempatanmu melanjutkan hidup."
Aku mendengar dari beberapa temanku di kampus tentang terpilihnya Changkyun untuk program pertukaran mahasiswa di Helsinki, Finlandia. Dan aku juga tahu, alasannya berat untuk menerima tawaran yang sangat dieluh-eluhkan oleh mahasiswa lain itu adalah karena rasa bersalahnya atas kejadian tahun lalu.
Changkyun menundukkan kepalanya, "aku sungguh malu, Sian-ah. Maafkan aku."
"Jangan minta maaf. Seharusnya akulah yang minta maaf karena membuatmu merasa terbebani oleh kesalahan yang bukan kesalahanmu," kataku. "Kau layak terbebas dari rasa bersalah itu."
Perlahan Changkyun menaikkan kepalanya, dia menatapku dengan sendu, "terimakasih, dan maaf, Sian-ah. Suatu hari, ketika kita telah terbebas dari beban ini, kuharap kita dapat berteman."
"Tidak perlu menunggu selama itu. Sekarangpun, bagiku kau telah menjadi temanku, Changkyun-ah." Setidaknya inilah yang patut kulakukan untuk membebaskannya dari rasa bersalah. Lagipula aku berniat melanjutkan hidupku, karena itu aku harus mengakhiri segala hal buruk yang pernah terjadi.
♡♡♡
Aku dan ibu meletakkan setangkai bunga krisan di unit columbarium Do Hyun. Hari ini adalah hari peringatan kematian Do Hyun, meskipun sebenarnya aku dan ibu sering sekali ke sini walaupun bukan hari peringatannya.
"Semalam ibu memimpikanmu, ibu lihat kau sangat bahagia, ibu senang melihatnya, Do Hyun-ah," kata ibuku, sembari membelai pasu Do Hyun.
Tidakkah kau curang, Do Hyun-ah? Kau tidak pernah muncul dalam mimpiku! Apa kau mengabaikanku?! Keluhku. Aku berhenti bermimpi tentang Do Hyun sejak satu tahun lalu, kini, sekalipun dia tidak pernah singgah dimimpiku meski barang sejenak.
"Ayo pulang," ajak ibuku.
Kami hendak pergi, ketika ibu Seok Jin datang bersama dengan seorang wanita yang sekiranya seumuran denganku, dan sepertinya aku pernah melihat wanita itu, entah di mana.
"Kalian sudah mau pulang?" Tanya ibu Seok Jin.
"Tentu saja," jawab ibu Seok Jin, dia meletakkan sebuket bunga krisan di unti columbarium Do Hyun, kemudian, bersama wanita itu, dia menundukkan kepalanya untuk berdoa.
"Sudah lama aku tidak melihat Seok Jin, dia baik-baik saja?" Tanya ibuku selesainya ibu Seok Jin berdoa.
"Ya, syukurnya dia baik-baik saja. Dia hanya sedang sibuk mengurus perusahaan dan juga...," ibu Seok Jin melirik wanita di sampingnya, "dia, dan bayinya," lanjutnya.
Membuatku tertohok. Bayi? Apa maksudnya? Mungkinkah...,
"Perkenalkan, dia menantuku, Jere."
Perkataan ibu Seok Jin membuatku merasa..., entahlah, semuanya bercampur aduk, aku tidak tahu perasaan mana yang paling mendominasi. Ini mungkin sebuah perasaan yang seharusnya tidak kurasakan mengingat aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Seok Jin, dan juga lamarannya yang pernah kutolak. Tapi kenapa aku merasa seperti ini?
"Seok Jin sudah menikah?" Tanya ibuku. "Kenapa tidak mengundang kami?"
"Maaf, tapi ada beberapa masalah, makanya kami tidak mengundang siapapun."
"Ah begitu. Mungkin sudah terlambat, tapi selamat ya," kata ibuku.
"Iya, terimakasih. Oh iya, bagaimana kabarmu, Sian?"
"E-eoh?" Pertanyaan ibu Seok Jin mengejutkanku.
"Kenapa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak konsen saja," jawabku. "Kabarku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu," sahutnya. "Kalau begitu aku pergi dulu, kami harus pergi memeriksa kandungannya."
Ibu Seok Jin dan wanita bernama Jere itu pergi. Bagaimana bisa semua terjadi secepat ini? Aku bahkan masih belum bisa melupakan lamaran Seok Jin yang kutolak, tapi dia..., semua berjalan begitu cepat.
♡♡♡
"Belakangan ini kau lebih sering mengajakku bertemu, padahal sebelumnya kau terus-menerus menghindariku."
Aku hanya bisa terkekeh mendengar perkataan Seo Hyun. Benar adanya bahwa belakangan ini aku memang lebih sering mengajak Seo Hyun keluar daripada Hae Na. Bukan tanpa alasan, aku hanya merasa bahwa bicara dengan Seo Hyun membuatku setidaknya lebih tenang mungkin karena menurutku dia bijak dalam bertutur.
"Kau tidak suka?" Tanyaku.
"Bukan begitu, aku hanya..., merasa senang bahwa kita bisa seperti dulu," katanya, sembari tersenyum kecil, dan itu membuatku merasa bersalah.
"Maaf telah menghindarimu karena asumsi bodohku," sesalku.
"Eh, jangan bilang begitu. Aku mengatakannya karena memang aku senang, jangan merasa terbebani, mengerti?"
"Eoh," sahutku. Aku minum teh hijau yang kupesan, jika saja toleransi alkoholku tinggi pasti aku akan memesan vodka, agar setidaknya untuk saat ini aku bisa melupakan kenyataan tentang Seok Jin.
"Tapi apa masalahnya?" Tanya Seo Hyun, membuatku tersenyum. Sejak dulu, sama sepertiku, Seo Hyun selalu hebat dalam menerka. Aku bahkan tidak mengatakan apapun saat mengajaknya bertemu.
"Masalah? Tidak ada," jawabku.
"Ayolah, kau tidak hebat dalam berbohong. Katakan saja, apa masalahnya? Aku tahu kau mengajakku bertemu untuk bercerita."
"Bukan sesuatu yang penting."
"Maksudmu Seok Jin?"
Sekarang aku bisa mengerti kenapa Seok Jin sering salah tingkah tiap kali aku menerka apa yang sedang disembunyikannya, karena sekarangpun, aku meradakannya. Terkaan Seo Hyun sungguh tepat sasaran.
"Kau bertemu dengannya?" Tanya Seo Hyun, sembari menyeruput minuman pesanannya. "Apa dia melamarmu lagi?"
"Cih!" Kutenggak habis teh hijauku. Melamar? Dia bahkan sudah beristeri! Umpatku dalam hati.
"Kenapa? Kau akan menolaknya lagi? Saat itu kau menolaknya karena katamu dia melamar di saat yang tidak tepat, tapi sekarang kau tidak punya lagi alasan untuk menolaknya," kata Seo Hyun. "Jika kau berniat menolaknya lagi, maka bolehkah aku mendekatinya?"
"Yaa!"
"Aku hanya bercanda," sahut Seo Hyun. "Jadi kau akan menerima lamarannya kali ini?"
Mendengar perkataan Seo Hyun membuatku mendapati bahwa diriku menyesal pernah menolak lamaran Seok Jin, tapi..., maksudku..., bukankah memang tidak tepat dia melamarku ketika aku masih dalam keadaan berduka atas kepergian adikku? Aku..., entahlah, aku tidak tahu lagi.
"Dia..., sudah menikah," kataku, sembari memainkan gelas bekas tehku.
"Apa?!"
Aku tersenyum kecut, "bukankah semuanya sudah terlambat?" Gumamku.
"Sian-ah."
__ADS_1
"Ayo pulang," ajakku.
TO BE CONTINUE