
Kulirik jam di dinding, sudah pukul 10 malam, baik Do Hyun maupun Seok Jin, belum ada satupun dari mereka yang memerlihatkan batang hidungnya. Untuk Seok Jin, aku bisa memakluminya, dia harus kuliah sembari bekerja, jadi pulang malam sudah terasa lumrah untuknya, tapi Do Hyun? Kelas pendalaman materi baru akan dimulai bulan depan, jadi tidak ada alasan baginya untuk pulang malam. Aku jadi semakin yakin bahwa ada sesuatu yang Do Hyun sembunyikan! Dan bodohnya aku belum sempat bertanya padanya, alasan apa yang dia pakai untuk mendapatkan izin dari ibu untuk tinggal denganku?
"Aku pulang."
"Eoh, kau sudah pu...,"
"Aku lelah, mau istirahat!" Katanya. Membuatku menelan kembali apa yang hendak kukatakan padanya. Dia memang terlihat sangat lelah, dan itu dibuktikan dari bagaimana dia menyeret kakinya hingga ke kamarnya.
Aku kembali duduk di sofa, kali ini hanya tinggal menunggu kepulangan Do Hyun, dan inilah yang membuatku sangat khawatir. Aku sudah mencoba menghubunginya sejak dari jam 7. Namun, dia tidak mengangkatnya.
"Do Hyun-ah, kau kemana?" Risauku. Aku melirik ponselku, berharap kalau-kalau ada pesan masuk darinya. Namun, nihil. Hanya ada pesan dari Changkyun, dan Hae Na di sana.
Aku memutuskan untuk kembali menghubungi Kang Jae, teman Do Hyun. Sebelumnya aku memang sudah menghubunginya, tapi Kang Jae juga tidak menjawabnya.
Suasana terasa begitu sunyi ketika dering panggilan keluar melantun ditelingaku. Cukup lama aku mendengarkannya, sampai akhirnya...,
"Ohh, Kang Jae-ah!" Seruku saat Kang Jae menerima teleponku.
"Ada apa Sian noona?"
"Kang Jae-ah, kau di mana? Apakah bersama Do Hyun?" Tanyaku cemas.
"Aku di rumah. Do Hyun? Bukankah dia sedang sakit? Dia sudah dua minggu tidak masuk sekolah setelah mengirimkan surat sakit."
"Apa?!" Aku terkejut. Jantungku berdegub cepat usai mendengar perkataan Kang Jae. Do Hyun-ah, kau..., sebenarnya ada apa?
"Noona, adakah sesuatu yang salah?"
"E-eoh, bukan apa-apa. Aku hanya khawatir saja karena Do Hyun tidak bisa kuhubungi," jawabku, berbohong. Aku tidak mungkin menjatuhkan adikku di depan orang lain, meskipun aku sangat terkejut sekalipun pada kenyataan bahwa Do Hyun sudah tidak masuk sekolah selama itu.
"Benar juga, saat ini noona tinggal di asrama," kata Kang Jae. "Mungkin Do Hyun sedang istirahat, kenapa tidak mencoba menghubungi ahjumma?"
Itulah yang Kang Jae tahu. Kenapa? Kenapa Do Hyun tidak menceritakan soal dia ikut tinggal denganku? Biasanya Do Hyun cukup terbuka pada Kang Jae. Dia pasti sedang ada masalah. Tebakku.
"O-ohh, akan kuhubungi, terimakasih, Kang Jae-ah," kataku, sebelum menutup telepon.
Aku berlari menuju kamar Seok Jin, mengetuk pintu kamarnya dengan tergesah-gesah, sampai akhirnya dia membukakan pintu, dan menampilkan wajah kesalnya.
"Berisik! Kenapa kau...,"
"Seok Jin-ah, Do Hyun belum pulang, aku mencoba menghubunginya, tapi dia tidak mengangkatnya. Aku juga sudah menghubungi temannya, dan dia bilang sudah dua minggu Do Hyun tidak masuk sekolah, aku harus bagaimana?" Jelasku, dengan segala perasaan suram yang menggerogoti logika dan hatiku.
Seok Jin terlihat khawatir, dia terdiam barang sejenak.
"Kau sudah menghubungi ibumu? Mungkin dia pulang ke rumah."
"Tidak! Sore tadi aku menghubungi ibuku, dan dia bertanya tentang kabar Do Hyun, jadi pasti bukan di rumah ibuku," kataku.
"Kalau begitu ayo kita cari."
♡♡♡
__ADS_1
Dalam mobil, Sian tidak bisa memikirkan apapun selain rasa cemas yang lambat laun semakin menggerogotinya.
"Kita pasti akan menemukannya, bersabarlah," kata Seok Jin, mencoba untuk menenangkan wanita di sampingnya.
Sebelumnya, Seok Jin juga sudah meminta bantuan dari Hyun Woo dan beberapa bawahannya untuk mencari Do Hyun.
"Ini salahku, jika saja aku lebih perhatian padanya, pastinya tidak akan seperti ini. Aku sudah curiga bahwa dia sedang memiliki masalah, tapi aku tidak mencoba untuk mencari tahu apa itu? Ini salahku." Sian mulai terisak, mata lecinya memerah dan basah.
"Jangan bilang begitu, tenanglah, aku yakin Do Hyun baik-baik saja. Kau harus ingat betapa pintarnya adikmu itu menghadapi sekelilingnya," Seok Jin mencoba untuk menenangkan.
Sembari menyetir, Seok Jin semakin mempertajam pengelihatannya, kalau-kalau dia menangkap sosok Do Hyun.
"Seok Jin-ah, berhenti!" kata Sian. Membuat mereka terguncang karena Seok Jin secara mendadak menginjak rem.
"Ada apa? Kau melihatnya?" Tanya Seok Jin.
"Tidak, tapi Do Hyun sering ke sini untuk membuat vlog, mungkin dia ada di sekitar sini. Seok Jin-ah, ayo berpencar!" Tukas Sian. Tanpa menunggu jawaban Seok Jin, wanita itu keluar dari mobil, dan mulai mencari Do Hyun.
"Yaa Sian-ah!" Panggil Seok Jin. Dia merasa risau jika berpisah dengan Sian, mengingat wanita itu masih rentan oleh teror.
Sian terus berlari, kian menjauh hingga akhirnya Seok Jin tidak memiliki pilihan lain selain menjalankan usul Sian untuk berpencar mencari Do Hyun di sekitar taman Aeogae.
Seok Jin terus mencari sampai getar ponsel di saku celananya menghentikannya.
"Eoh Hyun Woo, bagaimana? Kau menemukannya?" Tanya Seok Jin.
"Belum, tuan."
"Lalu kenapa menghubungiku? Cari terus!" Titah Seok Jin.
♡♡♡
Sian menghentikan langkahnya barang sejenak ketika dia menangkap sosok berjaket hitam dengan tudung melalui pantulan kaca sebuah toko. Mungkinkah wanita itu lagi? Tanyanya dalam hati. Namun, Sian mengeryitkan keningnya ketika menyadari bahwa bukan hanya satu melainkan dua sosok berjaket hitam yang mengikutinya. Dia juga mendapati bahwa kedua sosok itu membawa tongkot pemukul.
Sebenarnya siapa mereka? Apa mau mereka?!
Sian melanjutkan langkahnya dengan perasaan was-was, dia terus memilih jalan yang setidaknya cukup ramai orang-orang berlalu-lalang. Namun, tiba saatnya jalanan yang Sian lewati sepi, meskipun banyak toko yang buka. Sian merasa menyesal karena memilih jalan itu daripada dua jalan lainnya di pertigaan tadi.
Sian memutuskan untuk berlari. Jantungnya berdegub sangat kencang, dan keringat jagung membasahi keningnya, padahal saat ini angin malam cukup dingin.
Kumohon, siapapun, tolong aku.
"Akhh," Sian memekik, dirinya tersungkur di jalan karena sebuah batu. Kakinya terkilir, dan lututnya memar. Dia menangis, bukan karena rasa sakit di kakinya melainkan rasa takut yang menggerogotinya.
"Eoii." Seseorang menepuk bahunya, membuat Sian menjerit sekeras-kerasnya.
"Ahhhhhhhhhhhhhhhh...,"
"Hei noona, ini aku." Do Hyun menunjukkan wajahnya pada Sian, membuat wanita itu tanpa basa-basi dia memeluknya dengan begitu erat.
"Do Hyun-ah~" ringisnya.
__ADS_1
Do Hyun nampak terkejut sekaligus cemas terhadap kakaknya, dia membalas pelukkan Sian sama eratnya, "noona, ada apa? Apa ada sesuatu?"
Sian mulai menangis, "hks hks, aku takut sekali."
"Sekarang tidak perlu takut, ada aku," kata Do Hyun.
Sian melonggarkan pelukkannya, menengadah untuk melihat wajah adiknya, "aku mencarimu, kau ke mana saja, huh?" Tanyanya sesegukkan.
Do Hyun diam barang sejenak, "itu..., aku...,"
"Sian-ah!" Seok Jin berlari kencang menghampiri Sian dan Do Hyun.
"Apa yang terjadi? Kalian tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya..., akhhh," Sian memekik ketika mencoba untuk berdiri.
"Noona, naiklah ke punggungku," kata Do Hyun. Namun, dengan cepat Seok Jin mencegahnya.
"Jangan! Biar aku saja yang membawanya, kau pasti lelah," katanya. Ada sorot tertentu di mata Seok Jin saat menatap Do Hyun, seolah dia mengetahui rahasia yang Do Hyun sembunyikan selama sebulan ini.
"Ayo, Sian-ah," kata Seok Jin. Kemudian, dengan perasaan tak enak hati, Sian naik ke punggung Seok Jin.
"Kau yang menawarkannya, jadi jangan protes jika aku agak berat," bisik Sian. Membuat Seok Jin melengkungkan sebilah senyuman.
"Ini bukan agak, tapi sangat berat," sahutnya.
"Beratnya 51 kg," Do Hyun menimpali.
"Hehh?! Dia seberat itu?" Goda Seok Jin.
"Yaa hentikan! Tidak sopan!"
"Iya," jawab Seok Jin dan Do Hyun bersamaan.
Suasana menakutkan tadi telah terminimalisir oleh gurauan kedua pria itu, dan Sian mensyukurinya.
♡♡♡
Perlahan Seok Jin menurunkan Sian ke atas ranjang. Wanita sudah tertidur sejak di dalam mobil, dan baik Seok Jin maupun Do Hyun, tidak ada yang tega membangunkannya, karena itu Seok Jin kembali menggendongnya.
"Hyung, aku...,"
"Jangan di sini, kita bicarakan di kamarku," sela Seok Jin. Membuat Do Hyun yakin bahwa Seok Jin telah mengetahui rahasianya.
♡♡♡
"*Masalahnya...,"
"Apa? Cepat katakan! Aku harus kembali mencari Do Hyun!"
"Aku menemukan bahwa bukan hanya nona Sian yang diteror, tapi tuan Do Hyun juga. Aku mengetahui ini saat mencarinya. Seorang ahjumma pemilik warung hotteok yang sering tuan Do Hyun kunjungi mengatakan bahwa beberapa minggu belakangan tuan Do Hyun terlihat aneh, dan saat dia bertanya padanya, tuan Do Hyun berkata bahwa dia merasa ada yang mengikutinya. Pemilik warung menyuruhnya untuk melapor pada polisi, tapi sepertinya tidak dilakukan." Jelas Hyun Woo. "Tuan, sepertinya ini bukan ulah para mantan tuan, mungkin...,"
__ADS_1
'Mungkin ulah seseorang yang berhubungan dengan Sian dan Do Hyun. Tapi siapa?' Sian bukan tipe orang yang handal dalam mencari musuh. Sedangkan Do Hyun..., sial! Aku tidak bisa memikirkan siapapun!' Gumam Seok Jin dalam hatinya*.
TO BE CONTINUE