
Periode semester ganjil telah dimulai. Ini adalah hari pertama Sian kuliah setelah dia mendapatkan surat pengumuman penerimaan dari Universitas Jungang dua minggu lalu.
Bersamaan dengan para pekerja kantoran, dan beberapa siswa sekolah serta kuliah. Sian harus berdesak-desakkan di dalam bus. Pendingin ruangan tidak dapat dirasa sejuknya, dan oksigen seakan menipis. Sayangnya, Sian harus terus berada di dalam bus tersebut selama 1 jam lebih, mengingat jarak antara rumah dan kampusnya sejauh itu.
"O-ohh," Sian terkejut saat tubuhnya terdorong sangat keras dari belakang, hampir membuatnya menimpa penumpang yang duduk di hadapannya.
"Mian (maaf)," kata wanita yang mendorongnya tersebut. Wanita itu berwajah cantik. Namun, terlihat tidak ramah.
Sian mencoba untuk memaklumi wanita itu, mengingat kondisi dalam bus yang memang berdesakkan, dia hanya melupakan kejadian tersebut dengan memasang senyuman, seolah mengatakan 'tidak apa-apa'.
"Ohhh." Sian kembali terdorong, lagi-lagi karena wanita itu. Dia menoleh, menatap wajah wanita itu yang terlihat tidak bersalah.
Masih mencoba untuk memakluminya , Sian lagi-lagi mencoba melupakan kejadian tersebut.
Entah karena apa, tapi wanita di belakang Sian mencoba untuk mendorongnya lagi, ketika seorang pria menahan tangannya, dan berkata, "tidakkah kau merasa itu keterlaluan?"
Sian menoleh, juga beberapa orang dalam bus. Mereka menoleh pada pria dan wanita yang sedang adu tatapan tajam tersebut.
Dia..., Sian mengingat pria itu dengan jelas. Pria yang mengganggunya saat ujian masuk Universitas tiga minggu lalu. Hwang Sejong.
Sejong menghempaskan tangan wanita itu, "penumpang yang lain juga menderita, tapi mereka tidak sampai mendorong penumpang lainnya!" Tukas Sejong, membuat wanita itu merasa kesal hingga malu, dan memilih untuk pindah ke sisi lain.
Dia melakukan itu untuk aku? Sian menatap Sejong dengan haru. Namun, secepat kilat dia mengalihkan tatapannya dari pria yang tigapuluh centimeter lebih tinggi darinya itu.
Sejong menggeser tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Sian, dia tersenyum menatap wanita itu.
"Aku baru saja membantumu," Sejong berbisik dengan bangga, membuat Sian salah tingkah. Inginnya Sian berterimakasih. Namun, dengan sikap Sejong yang seperti itu, dia enggan melakukannya.
"Oh, begitu," sahut Sian sekenanya, tanpa menatap Sejong yang masih setia menampilkan senyuman.
"Iya, begitu," kata Sejong. "Aku senang bisa berada satu bus denganmu."
Sian hanya diam, tidak ada niatan untuk menanggapi perkataan itu.
"Kau tinggal di mana? Mungkin kedepannya kita bisa jalan ke kampus bersama," kembali Sejong berkata. Namun, Sian tetap diam.
"Kau tahu? Banyak kejahatan yang terjadi di kendaraan umum, yang paling banyak adalah di subway. Karena itu, kau memerlukan bantuan orang lain untuk melindungimu dari kejahatan itu."
Sian diam. Entah apa yang mendasarinya, tapi Sian merasa tersindir dengan ucapan Sejong, seolah-olah pria itu sedang menuntut ucapan terimakasih darinya.
"Yang kau alami tadi adalah kejahatan kecil," lanjut Sejong.
Sian menoleh pada Sejong, "kejahatan? Dia hanya tidak sengaja mendorongku, jangan berlebihan!" Tukasnya. Dia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, "baiklah, terimakasih banyak karena tadi sudah membantuku, puas?"
"Aku tidak mengharapkan ucapan terimakasihmu."
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah kau sedang menyindirku?!" Terka Sian.
Sejong tersenyum, "tidak, aku berkata seperti itu untuk mengajakmu pergi dan pulang kuliah bersama, agar aku bisa melindungimu dari orang-orang yang seperti wanita tadi."
Sian tercengang, dia menggelengkan kepalanya, "gila!"
Aku harap, aku tidak berada di kelas yang sama dengannya!
♡♡♡
"Sudah kukatakan untuk tidak mengejarku lagi!" Tukas Seok Jin, sembari menghempaskan tangan Dong Hyi dari pergelangan tangannya.
"Kau bohong soal pernikahanmu!" Tukas Dong Hyi.
"Cih! Sok tahu!" Seok Jin hendak pergi ketika Dong Hyi berkata,
"Aku tahu, karena Jere sedang mengikuti wanita itu! Jere bilang dia tinggal di rumah yang berbeda denganmu!"
Seok Jin tercengang, sejak kapan dia dan Jere menjadi dekat? Pikir Seok Jin.
FLASHBACK ON
*Dong Hyi memutuskan untuk mengikuti Seok Jin yang kini bisa berlenggang dengan nyaman seperti biasanya, setelah terbebas dari teror Kang Dong Ho. Dia bersembunyi di balik dinding pemisah antara lobby dan lorong kampus.
Dari sana, Dong Hyi bisa melihat Jere menghampiri Seok Jin.
"Iya," jawab Seok Jin sekenanya.
"Sunbae." Jere menggenggam tangan Seok Jin, membuat langkah lelaki itu terhenti.
"Apa?"
Sejenak Jere terdiam, hingga perlahan dia berkata, "tentang rumor yang beredar, apakah itu benar? Sunbae sudah menikah?"
"Eoh, kenapa memangnya?" Tukas Seok Jin, membuat mata Jere berkaca-kaca.
"Ania! Dong Hyi sunbae pasti sengaja menyebarkan rumor itu untuk menyingkirkan semua saingannya, 'kan? Rumor itu tak benar, 'kan?" Jere tak terima.
Seok Jin mendengus, "terserah saja kau mau percaya atau tidak, lagipula bukan urusanku!" Tukasnya, kemudian dia pergi meninggalkan Jere yang kini menangis.
Melihat itu, Dong Hyi segera keluar dari persembunyiannya, dan menghampiri Jere.
"Bagaimana jika kita bekerja sama?" Dong Hyi menawarkan.
Jere menghapus airmatanya, dan menatap Dong Hyi dengan ketidaksukaan.
__ADS_1
"Aku tidak sudi bekerja sama denganmu! Kaulah orang yang menyebarkan rumor itu!"
Dong Hyi mendesis, "itu bukan rumor, Seok Jin memang sudah menikah! Itulah yang dikatakan oppaku."
"Oppa-mu?" Jere mengeryit.
"Aku meminta oppa-ku untuk meneror Seok Jin, karena aku belum bisa menerima dia mentigakan aku. Tapi, tiba-tiba dia bilang sudah menikah, sehingga kini keadaannya berbalik, oppa-ku memarahiku, dan memintaku untuk tidak menjadi perusak rumah tangganya," jelas Dong Hyi. "Bukankah kabar pernikahannya begitu mendadak? Kau tidak percaya, 'kan? Aku juga tidak!" Lanjut Dong Hyi
Jere berpikir barang sejenak. Perkataan Dong Hyi ada benarnya, semua begitu mendadak, belum lama sebelum kabar pernikahan Seok Jin beredar, pria itu kepergok makan siang bersama dengan seorang wanita seksi di gangnam.
"Karena itu, ayo kita kerja sama. Jika dia membohongi kita, maka ayo kita teror dia seumur hidup!" Ajak Dong Hyi.
Dan tanpa berpikir lama, Jere mengiyakan ajakkan itu.
**FLASHBACK OFF***
"Yaa! Jangan ganggu dia! Kau tidak tahu hukuman untuk pengganggu privasi orang lain sepertimu, hah?!" Seok Jin memperingatkan.
Dong Hyi mendecih, "cih! Lalu, apakah kau tahu hukuman untuk seseorang yang melakukan kebohongan publik sepertimu, hah?!"
Kebohongan publik? Berlebihan sekali! Umpat Seok Jin dalam hati.
"Aku tidak berbohong, kalau kau dan Jere, ataupun semua wanita yang pernah menjalin hubungan denganku, tidak percaya dengan berita ini, maka datanglah ke apartmentku, aku akan buktikan pada kalian semua!" Tantang Seok Jin.
Sejenak Dong Hyi tercengang, jika dia berbohong, kenapa dia seberani ini? Pikirnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan datang dengan yang lainnya!" Tukas Dong Hyi, sebelum dia pergi meninggalkan Seok Jin yang kini bisa bernapas lega.
"Aishhh, wanita itu sungguh menakutkan!"
♡♡♡
Sian menggigit bibir bawahnya ketika melihat Sejong berada di kelas yang sama dengannya.
Kenapa harus sekelas dengannya?! Keluhnya.
"Kemarilah, hanya kursi ini yang tersisa," kata Sejong. Mereka memang datang terlambat karena bus yang mereka tumpangi mengalami gangguan mesin, sehingga mereka harus menunggu bus berikutnya untuk ke kampus.
Mau, tak mau! Sian harus duduk di kursi yang Sejong rekomendasikan, tepat di sampingnya.
"Kita satu bus, satu kelas, dan duduk berdekatan, tidakkah kau berpikir ini takdir?" Tanya Sejong, membuat Sian menghela napas panjang. Kenapa aku harus bertemu dengannya? Menyebalkan sekali!
"Untuk menyempurnakan takdir, bisakah kau memberitahuku apa yang kau sukai? Aku akan melakukannya untukmu," kembali Sejong berkata.
Ada sedikit pemikiran usil di kepala Sian, "jika kukatakan aku suka pria seksi, apa kau akan menunjukkannya padaku, eoh?" Tantang Sian. Wanita itu tertawa keras di dalam hatinya, dia berpikir bahwa tidak mungkin pria di hadapannya saat ini akan melakukan yang dikatakannya.
__ADS_1
Rasakan! Tukas Sian dalam hatinya.
TO BE CONTINUE