
Kutatap gambar diriku di foto. Aku tidak pernah menduga bahwa aku akan menyia-nyiakan gaun secantik itu untuk menipu orang lain. Satu hari setelah Seok Jin mendeklarasikan statusku dengannya pada Seo Hyun, dia memutuskan untuk membuat foto pernikahan palsu kami, yang di dalamnya hanya ada aku, dia, dan Do Hyun. Itu dilakukan untuk meyakinkan para wanita yang menggilainya itu.
"Ini tidak adil! Apa alasanmu tidak memberitahuku tentang ini?!" Hae Na protes. Aku tidak pernah memberitahu Hae Na soal ini, karena kurasa tak perlu. Pasti Seo Hyun lah yang memberitahunya, mengingat dia adalah orang pertama yang mengetahui hal tersebut.
Sialnya! Aku tidak menemukan jawaban yang bagus untuk pertanyaan Hae Na. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku hanya berpura-pura menjadi isteri Seok Jin, secara aku sudah mulai belajar dengan sangat giat untuk ujian masuk Universitas, dan ini adalah kesempatanku, aku tidak mau kehilangannya! Meskipun aku harus menjadi sangat egois untuk Seo Hyun. Kejadian di lobby apartment Seok Jin beberapa hari lalu adalah saat di mana aku tahu perasaan Seo Hyun yang sesungguhnya pada si Playboy kacang itu. Saat itu aku bisa saja menjelaskan keadaan yang sebenarnya, mengingat Seo Hyun adalah temanku. Namun, kalian tahu apa yang kupikirkan saat itu? Aku merasa tidak layak menderita demi menghapus airmata Seo Hyun. Aku memprioritaskan diriku, dan gilanya, aku merasa puas! Seolah airmata Seo Hyun adalah dongkrak yang mengangkat semua bebanku. Gila bukan? Tapi itulah yang sungguh aku rasakan, meskipun ada banyak penyesalan saat aku melakukannya. Namun, sedikit rasa puas dalam hatiku mampu menutupi rasa sesal itu. Jika orang berpikir aku jahat. Ya benar! Aku juga merasa seperti itu! Aku merasa sama brengseknya dengan Seok Jin yang memanfaatkanku untuk mengenyahkan Seo Hyun!
Aku masih terdiam, otakku masih bekerja untuk menemukan jawaban yang bagus, yang tidak akan membuat Hae Na curiga. Namun..., sulit! Pertanyaan ini beda levelnya dengan pertanyaan yang Hae Na ajukan lima menit lalu, saat dia baru datang ke rumahku. "Kau sungguh sudah menikah dengan Seok Jin?" Saat dia menanyakan itu, seperti kata Seok Jin, aku hanya harus menunjukkan foto pernikahan palsu kami.
"Mungkinkah karena Seo Hyun?" Hae Na menerka. Dia membulatkan matanya, dan merengkuh kedua bahuku cukup keras. "Inikah alasanmu menghindari Seo Hyun? Aku bertanya-tanya kenapa kau menghindarinya sejak hari kelulusan, sekarang semua sudah jelas! Itu karena kau menjalin hubungan dengan Seok Jin, 'kan? Daebbak! Bagaimana mungkin aku tidak menyadari itu."
Jika saja aku punya jawaban yang lebih bagus dari itu, aku pasti akan menentangnya, tapi jawaban itu sungguh menalar dalam logika, dan sulit menandinginya.
Aku tersenyum kecil menanggapi opininya, "kau menebaknya dengan benar, Hae Na. Aku harap kau bisa memaklumi, mengapa aku sampai tidak memberitahumu tentang ini," aku menimpali.
"Tapi haruskah begitu? Maksudku, Seo Hyun sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Seok Jin, jadi kau tidak harus sampai menyembunyikan ini apalagi menghindarinya, Sian-ah."
Ya! Itulah yang orang tahu tentang Seo Hyun. Orang-orang mengira semua perasaan dan kenangan yang tercipta telah berakhir bersamaan dengan berakhirnya hubungan mereka. Namun..., andai saja mereka melihat apa yang kulihat, dan tahu apa yang aku ketahui tentang faktanya.
"Tetap saja aku merasa tidak enak. Karena itu, Hae Na. Mungkin akan serba salah bagimu, tapi kuharap kau tidak mencoba untuk memertemukanku dengan Seo Hyun lagi," pintaku. Sejujurnya aku kian merasa tak nyaman terhadap Seo Hyun setelah kejadian di lobby waktu itu.
__ADS_1
Hae Na tampak berpikir, sebelum akhirnya dia mengiyakan permintaanku.
"Tapi, kapan kau dan Seok Jin menikah?"
Pertanyaan itu kembali membuat otakku bekerja keras. Aku tidak tahu harus menjawab apa, "i-itu..., emm...,"
"Kenapa kalian diluar?" Pertanyaan dari suara yang sangat tidak asing bagiku itu, mengejutkanku.
Aku melongok pada wanita paruh baya yang berada tepat di belakang Hae Na. Itu ibuku, bagaimana ini? Aku tidak tahu tentang Seok Jin, tapi yang jelas aku hanya memberitahu Do Hyun tentang kesepakatanku dan Seok Jin. Aku tidak akan memberitahu ibuku, karena aku tahu dia tidak akan membiarkanku menerima kesepakatan aneh seperti itu.
"Eoh, ahjumma, anda pulang cepat hari ini," kata Hae Na.
"Iya, hari ini toko sepi sekali, karena itu ahjumma memutuskan untuk menutupnya lebih awal," sahut ibuku. "Tapi, kenapa kalian di luar? Jika sedang membicarakan hal seru, sebaiknya di dalam saja, sambil menyeruput teh hangat."
"Tidak boleh!" Selaku terhadap Hae Na.
Hae Na nampak bingung. Namun, aku tetap mendorongnya pergi sembari berkata, "eomma, kami pergi dulu."
"Yaa, Lee Sian, berhenti mendorongku!"
__ADS_1
Tak kuindahkan perkataan Hae Na. Lebih baik dia yang merajuk karena kuperlakukan seperti ini daripada aku harus menerima murka ibuku jika tahu soal pernikahanku dan Seok Jin.
♡♡♡
Seok Jin mewaspadai sekelilingnya kalau-kalau dia bertemu pria besar dan menakutkan yang selama satu bulan ini menerornya.
"Aishhh aku bisa gila jika terus begini!" Dengusnya.
Dia membenarkan topi serta kacamata hitamnya, berharap penyamarannya itu dapat melindunginya dari mata elang sang peneror.
"Eoi Han Seok Jin!"
Seok Jin bergedik, dia sangat mengenali suara itu. Suara berat dan keras itu adalah suara yang selalu terngiang di kepalanya selama sebulan, suara sang peneror.
Aishhh, sial! bagaimana bisa si gendut itu menemukanku?! Rutuknya dalam hati.
Seok Jin menolehkan pandangannya, dia tertegun karena kali ini pria besar itu mengajak tiga orang temannya yang sama besarnya seperti dia.
"H-hyungnim," suara Seok Jin bergetar. Tapi biar begitu, dia masih bisa menggunakan kakinya dengan baik, terbukti dari bagaimana dia berlari sekarang.
__ADS_1
"YAA! HAN SEOK JIN!"
TO BE CONTINUE