
Seok Jin dengan setia menunggui Sian. Setiap pulang bekerja ataupun kuliah, dia selalu bergantian dengan ibu Sian untuk menjaga wanita itu.
Dia menggenggam erat tangan Sian, sembari memohon di dalam hati agar sang pencipta dapat menyembuhkan wanita dihadapannya.
"Tuan," panggil Hyun Woo yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Ada apa?"
"Begini...," Hyun Woo merasa tak enak hati untuk mengatakan kendati kedatangannya. Namun, dia tetap harus mengatakannya mengingat hal itu bersangkutan dengan perusahaan. "Cabang perusahaan kita di Helsinki, kembali bermasalah."
Seok Jin menghela napas berat, "lalu kenapa kau tidak ke sana dan mengurusnya, huh?!" Tanya Seok Jin.
"Masalahnya...,"
"Masalahnya adalah kau harus menangani itu sendiri," sela ibu Seok Jin yang baru saja datang dan masuk ke ruangan itu dengan gelagat angkuhnya.
"Ibu?" Gumam Seok Jin.
"Kudengar masalah yang terjadi di Helsinki bersangkutan dengan klien VIP kita, kau tahu, jika kau memerintahkan Hyun Woo ke sana alih-alih dirimu, klien pasti akan berpikir kau meremehkan mereka. Karena itu, kau harus datang ke sana dan menyelesaikannya sendiri!" Tukas sang ibu.
"Tapi aku tidak bisa. Aku...,"
"Jangan jadikan wanita itu sebagai alasan! Kau harus tahu di mana skala prioritasmu berada! Ada ribuan tulang punggung keluarga yang bekerja di perusahaan kita, apa kau mau mebebankan konsekuensinya pada wanita itu, jika semua tulang punggung itu kehilangan pekerjaan mereka, huh?!" Tukas sang ibu, membuat Seok Jin berpikir masak-masak. Di tahu tanggungjawabnya. Namun, dia merasa berat jika harus meninggalkan Sian dan juga ibunya yang masih berduka atas kepergian Do Hyun.
"Aku akan menjaganya," kata sang ibu, membuat Seok Jin, dan juga Hyun Woo terperangah.
"Heh?"
"Ehmm," sang ibu berdehem. "A-aku bukan orang yang ingkar janji, akan kujaga dia sampai kau menyelesaikan tugasmu di sana," lanjutnya, terdengar begitu canggung. Pada dasarnya ibu Seok Jin memanglah wanita yang baik, hanya saja kekayaan membuatnya seperti dinding besar yang begitu kokoh, dan angkuh.
Seok Jin tersenyum kecil, dia menghampiri ibunya dan memeluknya dengan erat, "gomawo, eomma."
Sang ibu tertegun, ini kali pertama Seok Jin memeluknya setelah keluarga mereka diangkat derajat sosialnya. Dengan hati berbunga-bunga, sang ibu membalas pelukkan Seok Jin.
♡♡♡
"Eoh tidak apa-apa, aku bisa melakukannya," kata ibu Sian, tak enak hati melihat ibu Seok Jin memandikan Sian.
"Tidak apa-apa, aku sudah janji pada Seok Jin untuk melakukannya," katanya. Dia membereskan bekas mandi Sian. Kemudian, dengan telaten dia memakaikan pakaian pada Sian. Membuat ibu Sian makin tak enak hati.
"Kalian sudah baik sekali pada kami, aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya," kata ibu Sian.
"Cukup dengan berikan putrimu pada putraku," kata ibu Seok Jin, terdengar seperti gumaman.
__ADS_1
"Ehh?" Tanya ibu Sian tak paham.
"Bukan apa-apa."
Ibu Seok Jin meraih ponselnya dari atas meja kecil di samping tempat tidur Sian. Dia mengambil gambar Sian dengan ponselnya, kemudian mengirimkannya pada Seok Jin.
"Apakah Seok Jin sudah membalas pesanmu?" Tanya ibu Sian.
Sudah empat hari ini Seok Jin memang tidak membalas pesan ibunya, bahkan meskipun sang ibu menyertakan foto Sian.
"Belum, kurasa dia masih sibuk merayu para klien vip itu. Kau tahu? Orang kaya terkadang aneh dan menyusahkan," julid ibu Seok Jin tanpa sadar bahwa dirinya juga orang yang seperti itu.
"Oh iya, tentang kelanjutan kasus suamimu...," ibu Seok Jin diam barang sejenak, merasa tak enak untuk melanjutkannya. Namun, dia juga merasa perlu untuk memberitahun ini. "Kurasa ini akan menjadi kasus beku. Keberadaan suamimu sulit untuk ditemukan, baik diploma maupun detektif swasta, mereka tak kunjung menemukannya, maaf."
Ibu Sian menghela napas panjang, dia duduk di tepi ranjang putrinya, sembari memijat kaki putrinya, dia berkata, "bagiku, yang terpenting untukku sekarang adalah kesembuhan putriku. Aku tidak ingin kehilangannya seperti aku kehilangan putraku," lirih ibu Sian, membuat ibu Seok Jin merasa iba dan menepuk-nepuk bahu ibu Sian.
"Pasti sangat sulit, 'kan? Aku juga berharap dia segera sembuh dan bisa memanggilmu ibu lagi."
♡♡♡
Benar-benar melakukan apa yang dia janjikan. Ibu Seok Jin merawat Sian dengan baik.
"Jika dilihat-lihat kau cukup manis, mungkin itulah alasan mengapa putraku menyukaimu," gumamnya sembari membasuh tangan Sian dengan handuk.
"Cepatlah bangun, jangan menyusahkan putraku dengan membuatnya cemas." Ibu Seok Jin hendak beranjak dari tempatnya untuk membereskan bekas mandi Sian, ketika samar-samar dia mendengar...,
Ibu Seok Jin terbelalak, "k-kau sudah sadar?" Tanyanya.
"L-Lee D-Do H-Hyun."
Ibu Seok Jin segera menekan tombol di dekat meja kecil samping ranjang Sian. Tombol yang berfungsi untuk memanggil perawat.
Tak lama kemudian seorang perawat datang, "ada yang bisa kubantu?"
"Dia sadar, dia sudah sadar. Dia meracaukan sesuatu," seru ibu Seok Jin.
Sang perawat segera keluar untuk memanggil dokter, dan kemudian dengan teliti dokter itu memeriksanya.
♡♡♡
"Yaa!" Seru ibu Sian yang baru saja datang. "Kau serius dengan yang kau katakan di telepon?" Tanyanya.
Ibu Seok Jin mengangguk yakin sabagai jawaban dari pertanyaan itu, "iya! Sekarang dokter sedang memeriksanya."
__ADS_1
"Ouhhh syukurlah, syukurlah," gumam ibu Sian.
Tak lama kemudian dokter telah menyelesaikan pemeriksaannya terhadap Sian. Wajah sang dokter terlihat cerah, seolah membawa kabar gembira tentang Sian.
"Bagaimana?" Tanya ibu Sian dan ibu Seok Jin bersamaan.
"Syukurlah, keadaannya mulai membaik secara signifikan, sistem sensorik dan motoriknya juga sudah mulai bekerja dengan baik, kini kita hanya perlu menunggu dia sadar untuk melakukan pemeriksaan lanjut," jelas sang dokter, membuat kedua wanita paruh baya itu senang bukan main.
"Putriku, akhirnya~" seru ibu Sian.
"Iya, aku sudah sangat cemas kalau-kalau Seok Jin menjadi frustasi karena Sian yak kunjung sem...," ibu Seok Jin langsung terdiam ketika orang-orang di dekatnya menatapnya bingun. "A-aku sangat bersyukur Sian sudah sadar." Dia mengubah alur perkataannya. Padahal dia sangat senang karena dengan sadarnya Sian, Seok Jin tidak akan merasa tertekan lagi.
"Aku akan menghubungi Seok Jin dulu," kata ibu Seok Jin, sebelum dia pergi untuk menyampaikan kabar gembira ini pada Seok Jin.
Ibu Sian hendak membelai Sian ketika ponselnya berdering dan dia pergi keluar untuk mengangkatnya, takut kalau-kalau percakapannya akan mengganggu istirahat purtinya.
Kini, Sian hanya seorang diri dalam kamar ketika seorang wanita berbaju navi menghampirinya.
"Kau sembuh dengan cepat," gumamnya.
Perlahan mata leci Sian terbuka. Dia tertegun ketika melihat wanita itu di hadapannya.
"K-kau...,"
♡♡♡
Seok Jin berlarian memasuki kamar rawat Sian. Ibunya dan ibu Sian kini terlihat resah.
"Eomma!"
"Seok Jin-ah, kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat sampai di sini, Sian sudah tidak ada," jelas ibunya.
Semua begitu mendadak, Seok Jin yang sedang dalam perjalanan pulang setelah kabar gembira yang di sampaikan ibunya siang tadi, tiba-tiba kembali dihubungi tentang kabar hilangnya Sian.
"Sudah periksa rekaman cctv?" Tanya Seok Jin.
"Sudah, tapi dia tidak terlihat di mana-mana."
Seeok Jin mencoba menenangkan dirinya, "aku akan pergi mencarinya. Eomma, tolong jaga ahjumma." Pinta Seok Jin pada ibunya.
"Baiklah."
Seok Jin mencari Sian ke setiap sudut rumah sakit, setelah dia rasa Sian tak di sana, dia mulai mencari diluar rumah sakit.
__ADS_1
Kenapa selalu seperti ini? Kenapa kau selalu menghilang tiap kali aku tidak ada di sampingmu? Lee Sian, kumohon. Kembalilah padaku.
TO BE CONTINUE