
Seok Jin mendengus kesal melihat tingkah Do Hyun. Meski selalu bertengkar dengan Sian, tapi Seok Jin sadar bahwa ada perbedaan cukup signifikan antara Sian dan adiknya tersebut. Setidaknya Sian orang yang teratur dan tertib! Dengus Seok Jin dalam hatinya.
Seok Jin duduk di samping Do Hyun yang sedang menonton acara yang tidak bisa Seok Jin mengerti sama sekali, Spongebob Squarepants.
"Kau tidak sekolah?" Tanya Seok Jin.
"Today is saturday," jawab Do Hyun sekenanya. Kemudian, dia sumpal kembali mulutnya dengan kudapan, dan itu membuat Seok Jin jengkel, apalagi ketika remah-remah dari kudapan itu berjatuhan di karpet mahalnya. Ouggghhhh! Menyebalkan! Umpat Seok Jin. Dia ingin sekali marah. Namun, tidak bisa dia lakukan, dia mengingat dengan jelas bahwa Sian menyebutkan betapa ringannya mulut adiknya. Seok Jin takut jika dia tidak men-sevices Do Hyun dengan baik, maka kebohongannya akan dibongkar.
"Memangnya hari sabtu sekolah libur?" Tanya Seok Jin, menahan kekesalannya.
Sekelibat Do Hyun melirik Seok Jin, "hari ini hyung libur kuliah, 'kan?" Do Hyun balik bertanya.
"Tentu saja," jawab Seok Jin.
"Kalau begitu sama saja denganku."
Dengan segala kerendahan hati yang dipaksakan, Seok Jin mencoba mengalah. Dia beranjak dari tempatnya, kemudian masuk ke kamarnya, dan menjatuhkan diri di atas ranjang.
"Ougggghhh menyebalkan sekali, aku bisa stress jika begini terus," Seok Jin mengeluh. Dikeluarkannya ponsel dalam saku celananya. Berurusan dengan Do Hyun membuatnya rindu pada Sian.
♡♡♡
Sian mendengus kesal, hari ini Seok Jin terlalu sering menghubunginya, dan dia merasa terganggu karenanya.
"Sebenarnya siapa yang menghubungimu?" Tanya Min Hyuk.
"Bukan siapa-siapa, ayo lanjutkan," kata Sian. Saat ini, Sian, Min Hyuk, Changkyun, Sera, dan Yana sedang mengerjakan tugas untuk mata kuliah statistik. Bukan tugas kelompok, hanya saja mereka sengaja membuat kelompok belajar untuk saling sharing referensi.
"Tapi, Sian-ah, sebenarnya apa hubunganmu dengan Sejong? Kalian berpacaran?" Tanya Yana. Keempat temannya memandang penuh tanya, terutama Changkyun. Sejak masa orientasi, dia memang sudah menyukai Sian. Namun, karena Sejong selalu mendekati Sian, Changkyun merasa tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
"Pacaran? Tentu saja tidak! Secara kebetulan Sejong selalu ada tiap aku kesulitan, karena itu aku...,"
"Kau membiarkannya mendekatimu?" Sela Sera.
"Yaa! Jaga bicaramu, Sian pasti merasa berterimakasih karena Sejong selalu ada di saat terdesak!" Bela Changkyun, membuat Sera mengeryit.
"Aku kan hanya bertanya," sahut Sera.
"Sudahlah lupakan saja, pembicaraan ini tidak penting!" Tukas Sian.
Mereka kembali membuka referensi.
Satu jam berlalu, Sian pamit untuk pulang pada teman-temannya.
"Semuanya, aku duluan," kata Sian. Dia hendak beranjak dari tempatnya ketika Changkyun ikut beranjak dan berkata,
"Mau pulang bersama? Aku juga mau pulang. "
Teman-temannya yang lain memerhatikan Changkyun.
"Pulang? Bukankah kau bilang mau...," Changkyun segera menutup mulut Min Hyuk. Sebenarnya, Changkyun sudah janji pada Min Hyuk untuk membantunya mengerjakan portofolio. Namun, sepertinya, pulang bersama Sian lebih penting daripada janji tersebut.
Dengan perasaan bahagia, Sian menerima ajakkan Changkyun. Sebenarnya, cinta Changkyun bukanlah cinta yang bertepuk sebelah tangan, Sian juga menyukai pria itu sejak masa orientasi, dan dia menyadari bahwa Changkyun selalu memerhatikannya. Hal itulah yang membuat Sian sedikit kesal pada Sejong, karena Sejong selalu mendekatinya, dia jadi tidak memiliki kesempatan untuk menjadi lebih dekat pada Changkyun.
FLASHBACK ON
Masa Orientasi
*Sian tergesa-gesa, mencari di mana letak toilet. Ada penyesalan dalam dirinya karena memakan ramen buatan Do Hyun untuk sarapan pagi ini, sekarang, perutnya sakit bukan main, dan dia hanya di beri waktu 15 menit untuk ke toilet oleh senior pembimbingnya.
"Aishhh sial sekali!" Umpat Sian, wajahnya mengeryit, manahan panggilan alam yang mendesak untuk keluar dari tubuhnya.
"O-ohh." Seperti memenangkan lotre, Sian terharu saat melihat papan toilet di daun pintu. Dia segera berlari masuk ke sana.
Di sana Sian mengeluarkan segala yang harus dikeluarkan, hingga dia merasa lega, dan perutnya tak lagi sakit.
"Hahhh, syukurlah," gumamnya. Dia hendak membersihkan diri ketika sadar bahwa tidak ada tissue toilet di sana.
"Eohh, bagaimana ini?" Risaunya, sampai kemudian dia mendengar suara toilet di siram dari bilik sebelah.
"Eoh, adakah orang di sana?" Tanya Sian. Orang itu tak berbicara, dia hanya mengetuk kayu pemisah antara biliknya dan bilik Sian.
"Begini, aku kehabisan tissue toilet, jika kau punya banyak...," belum selesai Sian bicara, orang itu melemparkan segulung tissue toilet dari bawah.
"Ohh, terimakasih banyak."
Selesainya Sian membersihkan diri, dia hendak keluar dari biliknya, ketika orang dari bilik samping berkata agak pelan, "jangan keluar dulu, ada orang di luar."
Mata Sian membulat ketika mendengar suara berat orang dibilik sebelah.
"K-kau pria? K-kenapa bisa a-ada di sini?" Tanya Sian gugup.
"Sebenarnya ini toilet pria," sahut orang itu.
__ADS_1
Sian benar-benar malu. Dia mengigit bibir bawahnya, merutuki dirinya yang terlalu ceroboh sampai-sampai salah masuk toilet, 'Lee Sian, kau bodoh sekali!' Rutuknya dalam hati.
"Kalau begitu, aku akan keluar untuk berjaga-jaga. Akan kuberitahu jika sudah aman," katanya.
"T-terimakasih banyak," kata Sian gugup.
Selang beberapa menit, pintu bilik Sian terketuk, "sudah aman, kau bisa keluar sekarang," kata orang itu.
Sian malu bukan main untuk bisa melangkah keluar. Namun, ancaman dari senior pembimbingnya tak bisa dia abaikan, dia tidak boleh terlambat kembali ke tempatnya.
"Akhhh," Sian memekik ketika pria di luar biliknya melemparkan sebuah hoodie dari atas bilik.
"Pakailah itu jika kau malu, aku duluan." Setelah mengatakan itu, pria tersebut melangkah pergi meninggalkan Sian.
Sian menatap hoodie itu, ada tulisan kecil pada bagian dada kanan hoodie itu.
"Min Changkyun?" Sian menggumamkan tulisan itu.
♡♡♡
Berkat pria dalam toilet tadi, Sian dapat kembali ke tempatnya tepat waktu.
"Aku akan mulai melakukan presensi, bagi mahasiswa yang tidak ada ketika dipanggil, kami, selaku pembimbing akan memberikan hukuman!" Tukas Kang Eun Woo. Ketua pembimbing di ruang 5.
Satu-persatu Eun Woo memanggil nama para mahasiswa baru, hingga tiba saatnya...,
"Min Changkyun?" Panggil Eun Woo.
Sian terperanjat, 'dia berada di sini?' Pikir Sian.
Seorang pria memakai kemeja navi, dengan 2 kancing bagian atas dibiarkan terbuka, berdiri dan menyahuti panggilan Eun Woo.
"Hadir," sahut pria itu.
Sian menatapnya, dan tak lama kemudian, pria bernama Changkyun itu membalas tatapan Sian, dia tersenyum kecil pada Sian yang kini wajahnya merona. Niatnya, Sian fokus terhadap kuliahnya dan tidak memulai atau mencari sebuah romansa. Namun, entah kenapa Changkyun berhasil mengubah niat Sian, dia..., menyukai pria itu karena laku baik yang diberikannya.
♡♡♡
Changkyun merasa menyesal karena secara tak sengaja menubruk seorang wanita hingga membuatnya tersungkur.
"Oh, maafkan aku, aku tidak sengaja," sesal Changkyun, sembari membantu wanita itu berdiri.
"T-tidak a-apa-apa." Wanita itu terdengar meringis, membuat Changkyun khawatir.
Changkyun memungutnya.
"Lee Sian," Changkyun menggumamkan tulisan disampul catatan itu.
Dengan niat baik, Changkyun mengejar Sian, hendak mengembalikan catatan tersebut ketika dia melihat Sian memasuki toilet pria.
"Oohh jangan...," Changkyun terlambat mencegahnya. Namun, dia tetap mengikutinya untuk menjaga wanita itu kalau-kalau ada pria yang memasuki toilet.
"Eoh, adakah orang di sana?" Changkyun serba salah saat Sian bertanya dari bilik sebelah, dia takut membuat wanita itu malu. Karena itu dia hanya mengetuk kayu pemisah antara bilik mereka.
"Begini, aku kehabisan tissue toilet, jika kau punya banyak...," tanpa mendengarkannya sampai selesai, Changkyun segera melemparkan segulung tissue toilet.
Changkyun hendak keluar seusai membantu Sian. Namun, beberapa pria memasuki toilet, sehingga dia kembali masuk ke bilik, "jangan keluar dulu, ada orang di luar," katanya, memperingatkan Sian.
"K-kau pria? K-kenapa bisa a-ada di sini?"
Ada perasaan tak enak untuk memberitahu Sian. Namun, Changkyun tak punya pilihan lain, "sebenarnya ini toilet pria," katanya.
"Kalau begitu, aku akan keluar untuk berjaga-jaga. Akan kuberitahu jika sudah aman," Changkyun melanjutkan.
Changkyun beranjak dari tempatnya, kemudian berjaga-jaga di toilet kalau-kalau ada yang masuk. Setelah memastikan keadaan aman, Changkyun mengetuk pintu bilik Sian, "sudah aman, kau bisa keluar sekarang," katanya.
Changkyun sadar bahwa Sian pasti malu untuk keluar, karena itu dia membuka hoodienya dan melemparkannya untuk Sian.
"Pakailah itu jika kau malu, aku duluan." Katanya. Kemudian dia pergi.
Di ruangan 5, ketika Changkyun dipanggil untuk presensi, dia tanpa sengaja mendapati Sian yang sedang menatapnya. Changkyun tersenyum, dia merasa wanita itu cukup manis.
**FLASHBACK OFF***
♡♡♡
"Kalau begitu kami duluan," kata Sian. Kemudian dia dan Changkyun meninggalkan perpustakaan bersama.
Dalam perjalanan menuju halte bus. Changkyun berusaha untuk mendekatkan diri pada Sian.
"Sian-ah, kau sudah mengerjakan tugas analisis?"
"Belum. Kau sudah?"
__ADS_1
Changkyun tersenyum, "belum, kau mau mengerjakannya bersamaku?"
"Boleh, aku akan ajak yang lainnya...,"
"Jangan!" Cegah Changkyun, membuat Sian terkejut, hingga terdiam.
Changkyun mulai gugup, dia juga agak terkejut dengan ucapannya yang reflek sendiri.
"M-maksudku..., emmm..., ibuku tidak suka jika aku mengundang terlalu banyak orang ke rumah, karena itu...,"
"Kalau begitu kita berdua saja," kata Sian. Sebenarnya, Sian juga menginginkan hal itu. Namun, dia ingin melihat respon Changkyun.
Changkyun tersenyum, "bagaimana jika besok? Aku akan menjemputmu, kau kirimkan saja alamat rumahmu."
"Baiklah." Sian tersipu.
"Kalian dari mana?" Entah kebetulan, entah di sengaja, atau ada skenario tertentu sampai-sampai mereka berpapasan dengan Sejong.
Langkah mereka terhenti hanya demi meladeni pertanyaan Sejong.
"Sejong? Kau...,"
"Apakah penting untuk memberitahumu?" Changkyun menyela. Sejak dia tahu Sejong dan Sian tidak berpacaran, tidak ada alasan baginya untuk menyerah.
Sejong tersenyum kecil. Namun, matanya memicing pada Changkyun, "sebenarnya, aku bertanya pada Sian, bukan kau!"
"Dan pertanyaan itu juga tidak harus Sian jawab mengingat kau bukanlah siapa-siapa untuknya!" Tukas Changkyun dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Begitu juga denganmu, kau bukan siapa-siapa untuknya hingga bisa menjadi juru bicaranya!"
Keduanya saling adu tatap, seolah tak ada yang mengalah, mereka terus seperti itu, sampai...,
"Intinya kalian berdua bukan siapa-siapanya, 'kan?!" Seok Jin datang dan menegaskan hal itu pada Changkyun dan Sejong. Keduanya mengalihkan tatapan mereka padanya yang kini melangkah menghampiri Sian.
"Yaa! Inikah alasanmu mengabaikan teleponku, huh?! Karena pria-pria tidak penting ini?!" Tanya Seok Jin.
"Itu..., aku...,"
"Ayo pulang!" Seok Jin meraih tangan Sian dan hendak menuntunnya ketika Sejong menahannya.
"Lalu siapa kau? Apa kau seseorang yang penting untuknya?!" Ada kebencian di sorot mata Sejong terhadap Seok Jin. Sedangkan Changkyun, dia menatap Sian seolah meminta penjelasan dari wanita itu.
"Aku ini..., emmmpphh."
Secepat kilat tangan Sian menutup mulut Seok Jin.
"Dia teman SMA ku dulu, aku lupa karena sudah janji dengannya untuk membantu mengerjakan tugas magangnya," kata Sian. Dia merasa gugup sekaligus risau jika sampai Seok Jin mengungkapkan identitas mereka di hadapan Changkyun.
Seok Jin menghempaskan tangan Sian dari mulutnya, "yaa kau...," dan Sian kembali menutupnya.
"Kami pergi dulu," kata Sian, sembari menyeret Seok Jin. Minggalkan Sejong dan Changkyun yang kini menatap kepergiannya.
♡♡♡
"Ishhhh!" Seok Jin menghempaskan tangan Sian, "kenapa kau menutup mulutku, hah?!"
"Ada perlu apa sampai kau ke kampusku?" Sian mengalihkan pembicaraan.
Seok Jin mendengus kesal, "kampusmu? Waahhh, kau menjadi hebat setelah bisa kuliah di kampus sebagus ini dengan uangku!" Hardik Seok Jin.
"Uangmu? Bukankah itu adalah uangku?! Kau membayarku karena kesepakatan kita!" Tukas Sian. Sian memang benar-benar benci ketika Seok Jin mengungkit prihal uang kuliah di hadapannya.
"Cih! Kau menjadi sangat berani, kau...,"
"Akhhh," Sian memekik kesakitan.
Seok Jin terkejut, dia mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang wanita berhoodie hitam sedang berdiri tak jauh dari mereka. Seok Jin yakin, bahwa wanita itulah yang melemparkan batu pada Sian, hingga melukai pelipisnya.
"Yaa!" Dengan cepat Seok Jin berlari. Namun, tiba-tiba saja mobil audi hitam datang, dan wanita itu segera masuk ke sana.
"Yaa!" Seok Jin terus mengejarnya. Namun, mobil itu melaju terlalu cepat daripada larinya.
"Sial!" Umpatnya. Kemudian, dengan perasaan khawatir dia kembali pada Sian.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya cemas.
Sian melepaskan tangannya dari pelipisnya, dilihatnya ada noda darah pada tangannya.
Mata Seok Jin membulat saat melihat darah segar mengalir dari pelipis Sian.
"Astaga, Sian-ah, ayo." Seok Jin memapah Sian, membawanya ke mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka.
"Bersabarlah dengan sakitnya, aku akan segera membawamu ke rumah sakit."
__ADS_1
TO BE CONTINUE