
Sian memerhatikan setiap wajah wanita yang melewati pintu apartment Seok Jin.
Tidak ada, wanita itu tidak ada di antara mereka, ataukah dia tidak datang? Bisik hati Sian.
"Siapa pelakunya?" bisik Seok Jin.
"Eoh?" Sian tersadar dari fokusnya.
"Yang melukaimu, siapa orangnya?" Tanya Seok Jin.
Sian menggeleng. Seraya berkata, "tidak ada. Wanita itu tidak di sini."
Seok Jin menghela napas, sebenarnya ada sedikit kekhawatiran di hatinya ketika mendengar penyebab dari luka di tangan Sian.
"Kau yakin?" Seok Jin mencoba meyakinkan.
"Eoh," jawab Sian sekenanya.
Di sisi lain, Jere dan Dong Hyi hanya bisa mengulum rasa kecewanya. Mereka menelisik setiap sudut apartment Seok Jin, dan mendapati nuansa pengantin baru di dalamnya. Mereka mulai memupuk rasa percaya bahwa Seok Jin memang telah bertaubat dari keplayboyannya dengan menikahi Sian.
"Bagaimana ini, unni? Seok Jin sunbae sungguh sudah menikah," lirih Jere, dia segera menghapus airmatanya yang hampir jatuh.
Dong Hyi terdiam, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Namun, nasihat sang kakak masih melekat di kepalanya. Dong Hyi-ie, berhentilah mengejar pria itu, dia sudah berkeluarga, kau tahu kan rasanya saat sebuah keluarga hancur karena keegoisan orang lain? Kita pernah merasakannya, Dong Hyi.
Dong Hyi memang terlahir dari keluarga broken home, ayah dan ibunya bercerai saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar, dan penyebabnya adalah orang ketiga dari sang ayah.
"Dong Hyi-ah, Kurasa Seok Jin sungguh sudah berubah, dia tidak sedang mengarang sebuah drama. Kau bisa lihat, 'kan, semua yang ada di sini?" Ungkap Jia. Wanita yang merupakan senior Seok Jin di kampus, dan juga mantan kekasih Seok Jin.
"Benar! Kurasa kita harus berhenti mengganggu mereka, Dong Hyi-ah," Su Hyu menimpali.
Benar! Kita bisa membedakan rumah seorang single dan seorang yang hidup bersama orang lain, itu sangat mudah untuk dilakukan. Rencana Seok Jin nampaknya sukses besar. Para wanita itu mulai memupuk kepercayaan mereka.
"Kalau begitu ayo pergi," usul Dong Hyi. Mereka menghampiri Sian dan Seok Jin yang kini sedang berada di dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka.
"Seok Jin-ah," panggil Dong Hyi.
"Eoh, ada apa?" Tanya Seok Jin.
"Kami mau pulang."
"Pulang? kenapa?" Tanya Seok Jin, ada banyak rasa puas di hati Seok Jin ketika melihat air muka para wanita itu. Aku memang hebat dalam membuat drama. Seru Seok Jin dalam hatinya.
"Benar, kenapa pulang? Aku baru saja akan membuatkan minuman," Sian menimpali.
Dong Hyi tersenyum kecil, "gomawo, tapi tidak perlu. Kami sungguh harus pergi," kata Dong Hyi.
"B-benar, kami harus p-per..., hks hks hks," Jere tak kuasa menahan tangisnya. Dia lekas pergi meninggalkan apartment Seok Jin. Meninggalkan orang-orang yang menatap kepergiannya dengan heran.
"Kami pamit," kata Dong Hyi. Dia hendak pergi ketika Seok Jin menahan tangannya.
"Tunggu,"kata Seok Jin.
"Apa?"
"Kau tidak akan mengganggu kami lagi, 'kan?" Tanya Seok Jin.
"Kami bukan wanita gila yang suka mengganggu rumah tangga orang!" Tukas Ryu Ui.
__ADS_1
Dong Hyi, menghempaskan tangan Seok Jin dari tangannya, "Ryu Ui benar, kami bukan wanita seperti itu! Dan untukmu...," kini Dong Hyi beralih pada Sian, "maaf karena sudah membuntutimu beberapa hari ini, dan membuatmu tak nyaman."
"Hanya itu?! Lalu bagaimana dengan luka di tangannya? Kau tidak akan meminta maaf untuk itu?!" Seok Jin sarkastik.
Dong Hyi tertegun, begitupun dengan tiga wanita lainnya. Mereka saling menatap.
"Luka? Apa maksudnya?" Tanya Dong Hyi.
"Jangan belagak tak tahu, pasti salah satu dari kalian menyuruh seseorang untuk mencelakainya, 'kan?! Tuduh Seok Jin. Sian hanya diam, dan memerhatikan wajah marah Seok Jin.
Kenapa dia begitu marah? Tanya Sian dalam hatinya.
"Yaa! Han Seok Jin, kami tahu kami salah, tapi kami tidak pernah melakukan hal lain selain mengikuti dia! Aku tidak pernah meminta orang lain mencelakainya. Dasar gila!" Umpat Dong Hyi. Kemudian dia pergi dari apartment Seok Jin, diikuti oleh yang lainnya.
Seok Jin terdiam barang sejenak.
"Kalau bukan mereka, lalu siapa?" Gumam Seok Jin. "Yaa, Lee Sian. Apakah kau punya musuh?" Tanyanya.
Sian mencoba mengingat, "tidak ada. Lagipula apa kau yakin mereka tidak sedang berbohong?"
"Aku tahu siapa Dong Hyi, bila dia sekesal itu berarti bukan dia orangnya. Sedangkan Su Hyu, Jia, dan Ryu Ui. Mereka terlalu kompetitif untuk bisa melakukan itu," jelas Seok Jin, membuat Sian terperangah dengan pemahaman Seok Jin tentang mantan-mantannya.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang menangis tadi? Mungkin dia yang melakukannya," terka Sian.
Seok Jin berpikir barang sejenak, "apa mungkin? Jere memang sedikit aneh, tapi..., Jere terlalu manja untuk bisa memikirkan hal seperti itu seorang diri."
Sian mendengus, dia meraih tasnya yang sengaja dia letakkan di bawah meja untuk menghindari kecurigaan para wanita itu.
"Mau ke mana?" Tanya Seok Jin.
"Pulang!" Tukasnya.
"Masa bodoh! Aku mau pulang!" Tuka Sian. Dia hendak pergi ketika Seok Jin menahan tangannya.
"Kau marah?" Tanya Seok Jin.
"Tidak, aku hanya kesal!"
"Kesal kenapa?"
Sian mendengus, "karena kau lebih memercayai mereka daripada aku! Kau pikir aku berbohong saat bilang aku dicelakai oleh mantanmu, huh?!"
"Bukan tidak memercayaimu, hanya saja tidak mungkin mereka sampai seperti itu, aku kenal betul mereka," Seok Jin menjelaskan. Namun, penjelasan itu justu membuat Sian tambah kesal.
"Terserah!" Sian melangkah pergi, diikuti oleh Seok Jin.
"Yaa, Lee Sian, tunggu." Seok Jin terus mengikuti Sian.
"Aku kesal! Jangan ikuti aku!"
"Tunggu dulu, aku...," Seok Jin terdiam, begitupun dengan Sian. Mereka bagaikan patung ketika berpapasan dengan Su Hyu.
"Kalian mau ke mana?" Tanya Su Hyu.
"Bagaimana denganmu, kau mau ke mana?" Tanya Seok Jin kaku.
"Ahh, saat di lobby aku bertemu dengan sepupuku, ternyata dia juga tinggal di sini. Maka dari itu, aku akan menemuinya," jelas Su Hyu. "Oh iya, dia tinggal tepat di sebelahmu."
__ADS_1
Sian dan Seok Jin saling menatap, seolah berbicara melalui tatapan.
*Bagaimana ini?
Mana aku tahu! Jika begini tidak ada pilihan selain kau tinggal bersamaku.
Lalu bagaimana dengan ibuku?
Setidaknya kau harus lakukan ini bila tidak ingin ibumu di ganggu*.
"Kalian kenapa?" Tanya Su Hyu. Membuat Sian dan Seok Jin berhenti saling menatap.
"Bukan apa-apa," kata Sian. "Kami harus pergi, sampai jumpa lagi." Sian menarik Seok Jin dengan terburu-buru.
♡♡♡
"Bukankah biaya kos-kosan di dekat kampus mahal?" Tanya sang ibu.
Sian memutar otakknya, mencari jawaban atas pertanyaan sang ibu. Seperti yang diketahui, sang ibu memang sangat hebat dalam menganalisis kebohongan Sian, tidak seperti Do Hyun yang selalu berhasil, terbukti dari bagaimana dia bisa membohongi sang ibu mengenai nilai ujiannya yang dia palsukan menjadi A, padahal kenyataannya hanya D.
"Noona tidak tinggal di kos-kosan, eomma. Tapi di asrama yang kampusnya sediakan," kata Do Hyun, sembari meletakkan makan malam di atas meja. Seperti yang diharapkan, Do Hyun lagi-lagi membantu Sian dengan mulut murahnya tersebut.
"Asrama? Jadi kau tidak perlu membayar apapun?" Kembali sang ibu bertanya.
"Itu...,"
"Ya tentu saja tidak, eomma. Sepeserpun noona tidak akan keluarkan, jadi eomma jangan khawatir. Iya, 'kan, noona?" Sela Do Hyun. Sebenarnya, Do Hyun sangat khawatir saat kakaknya mengatakan harus tinggal bersama Seok Jin. Maksudnya, seorang wanita dan pria tinggal bersama, tidak mungkin tidak ada yang terjadi.
"I-iya," Sian terbata.
Sang ibu meraih tangan Sian, membelainya dengan halus, "eomma sangat bangga padamu. Eomma harap kuliahmu lancar, dan kau bisa lulus tepat waktu."
Ada rasa bersalah dalam diri Sian ketika mendengar harapan tulus dari sang ibu.
"Tentu saja harus begitu!" Tukas Do Hyun, sembari menepuk keras punggung kakaknya, "harus begitu kan, noona!" Do Hyun menekankan.
"I-iya."
Dengan akhir sang ibu memercayainya. Sian, Do Hyun, dan ibu mereka mulai menikmati makan malam buatan Do Hyun yang seadanya. Sang ibu, dan Sian terlambat pulang, hingga Do Hyun berinisiatif untuk menggantikan mereka memasak.
Selesainya makan malam, Do Hyun menarik sang kakak ke kamarnya. Sebelum menutup pintu, dia memerhatikan sekeliling kalau-kalau ada sang ibu. Kemudian, dia menutup rapat pintu kamarnya.
"Yaa, noona! Kau serius akan tinggal dengan lelaki itu?!" Do Hyun berbisik.
"Mau bagaimana lagi? Aku...," Sian terdiam. Alasan Sian setuju untuk tinggal dengan Seok Jin adalah untuk menghindarkan ibu dan adiknya dari wanita yang melukai tangan Sian. Sian berpikir bahwa wanita itu bisa saja nekat mengganggu keluarganya. Dia belum menceritakan prihal luka di tangannya kepada Do Hyun, dan dia juga tidak memiliki niatan untuk memberitahunya. Dia takut kalau Do Hyun akan memintanya untuk mengakhiri kesepakatan dengan Seok Jin bila mengetahui asal dari luka tersebut.
"Apa?" Do Hyun menanti jawaban.
"Kau tidak perlu khawatir, tidak akan ada sesuatu yang akan terjadi pada kami, kau tahu, 'kan? Aku dan Seok Jin, kami musuh permanen!" Tukas Sian.
"Siapa yang tahu perasaan manusia? Detik ini kau bisa menjadi musuhnya, tapi di detik setelahnya, apakah kalian yakin tetap menjadi musuh?" Tukas Do Hyun. Dia merengkuh bahu kakaknya, menatapnya dengan khawatir, "aku mungkin mendukungmu untuk menjalani kesepakatan dengan Seok Jin hyung, tapi aku tidak akan mengizinkanmu tinggal dengannya, kecuali...,"
"Kecuali apa?"
"Kecuali aku ikut bersamamu!"
"Mwo?!" Sian terkejut. Masuk akal jika dia mengatakan akan tinggal di asrama, tapi Do Hyun..., apa yang akan dia katakan padanya jika ikut bersamanya?
__ADS_1
"Noona tidak perlu khawatir, aku akan merancang skenarioku sendiri untuk meminta izin pada ibu, oke?" Sahut Do Hyun, seolah dia dapat membaca pikiran kakaknya.
TO BE CONTINUE