Drama

Drama
Take 43


__ADS_3

Rasanya sulit sekali untuk menelan ludah. Bodohnya aku karena mau diperintahkan ibu untuk datang ke tempat ini.


"Kudengar kalian bercerai dengan tenang, tapi kenapa kau datang ke sini? Ini agak menggangguku!" Kata wanita itu penuh penekanan. Dari perkataannya, aku rasa Seok Jin dan ibunya tidak memberitahukan kebenaran dibalik pernikahan palsu kami.


Saat ini aku berada di apartment Seok Jin, latar pertama kami memulai drama aneh itu. Tujuanku ke sini hanya satu, mengembalikan uang Seok Jin yang diberikannya padaku untuk membayar kuliahku selama satu tahun ini. Aku tidak akan mengembalikan pembayaran yang dia lakukan sebelumnya, karena itu memang upahku sebagai pemeran utama di dramanya. Namun, setelah perjanjian itu berakhir, aku merasa tidak benar jika dia masih membayar kuliahku, karena itu ibuku mengajukan pinjaman di bank untuk mengembalikan uang Seok Jin. Tapi, alih-alih bertemu Seok Jin, aku justru disambut oleh isterinya yang tidak ramah. Mungkin karena dia berpikir aku mantan isteri Seok Jin. Tapi, bukankah itu masa lalu? Jika dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Seok Jin pernah menikah —walau hanya bohongan— maka seharusnya dia tidak menikahi Seok Jin.


"Hanya urusan sepele. Aku...,"


"Jika sepele, maka sebaiknya kau tidak perlu datang ataupun menghubunginya! Jangan mencoba mencari alasan untuk bertemu dengannya lagi!"


"Apa maksudmu?!"


"Intinya aku tidak suka padamu!" Tukasnya. "Kau seperti para mantan isteri diluaran sana, yang mencoba untuk merangkak kembali pada mantan suaminya!"


Aku mendengus kesal, merasa sangat tersinggung dengan perkataannya.


"Kau...,"


"Lee Sian?" Perkataan Seok Jin membungkamku.


Aku menoleh padanya yang berdiri diambang pintu, sepertinya dia baru pulang dari bekerja, karena dia memakai jas, dia selalu memakai jeans dan hoodie jika pergi ke kampus. Setidaknya itulah yang kuingat tentangnya.


Aku beranjak dari tempatku, menghampiri Seok Jin yang masih berdiri diambang pintu.


"Aku ingin memberikan ini padamu," kataku, sembari memberikan amplop berisikan uang tunai yang ibuku berikan untuk mengganti uang Seok Jin. "Terimakasih banyak, Seok Jin-ah. Dan juga selamat atas pernikahanmu." Aku membungkuk padanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan apartmentnya.


"Oughh kenapa ibu harus mengambil uang tunai? Kenapa tidak langsung ditransfer saja ke rekeningnya! Oughhhh dadaku sakit," dengusku. Aku hendak menyebrang jalan ketika seseorang menahan pergelangan tanganku.


Aku menoleh, dan mendapati Seok Jin orangnya.


"Ini apa?" Dia menanyakan prihal amplop berisi uang tersebut.


"Uangmu!" Tukasku.


"Uangku? Uang apa? Aku...," dia terdiam barang sejenak, kemudian menghela napas panjang, "maksudmu ini uang kuliahmu?"


"Eoh! Kau tidak perlu lagi membayar kuliahku, mengingat kita tidak lagi memiliki hubungan apapun yang mengharuskanmu bertanggungjawab padaku!" Tukasku.


"Ehh?" Dia memasang wajah tak mengerti.


Entahlah! Aku juga tidak mengerti mengapa saat ini aku sangat kesal!


"Aku pergi dulu!" Tukasku.


♡♡♡


"Apa yang kau katakan padanya?" Tanya Seok Jin agak membentak.


Jere memasang wajah andalannya, sedih. Kemudian menjawab, "kau kasar sekali! Kau tidak ingat bahwa aku sedang mengandung anakmu?"


"Tapi...," Seok Jin terdiam, dia luluh tiap kali Jere mengungkit tentang anak dalam kandungannya.


Satu tahun lalu, tepatnya satu minggu setelah lamarannya ditolak oleh Sian. Seok Jin yang tengah dilanda kecewa pergi untuk bersenang-senang di bar. Dia tidak ingat apapun yang terjadi, tapi tiga minggu setelahnya Jere mendatanginya, dan berkata bahwa dia sedang mengandung anak Seok Jin. Seok Jin yang tidak bisa menerima kenyataan itu, memerlakukan Jere dengan buruk, hingga akhirnya anak dalam kandungan Jere meninggal dunia. Jere hendak menuntut Seok Jin. Namun, ibu Seok Jin berhasil meredam amaran Jere dengan mengikuti kemauannya, yaitu Seok Jin menikahinya. Kini, setelah satu tahun, Jere kembali hamil. Takut kejadian lampau terulang, Seok Jin mulai menahan egonya, dan mencoba untuk bersikap baik pada Jere.


"Aku mau istirahat, " kata Seok Jin. Kemudian dia pergi ke kamarnya.


♡♡♡


Aku tidak tahu kenapa aku berada di sini, tapi nuraniku sungguh ingin menemuinya untuk sekedar mengucapkan perpisahan kecil padanya.


"Aku tidak menyangka kau datang," kata Changkyun, sembari mengalihkan pandangannya padaku.


Hari ini adalah hari keberangkatannya ke Finlandia. Aku, Minhyuk, dan Sera datang ke bandara untuk melihatnya sebelum pergi.


"E-eoh, aku ingin mengucapkan selamat jalan padamu, dan hati-hati di sana," kataku.


"Ehm." Minhyuk berdehem. "Hah, jadi beginilah akhir kisah kalian," guraunya, yang mengundang tawa Sera.


"Sayang sekali, kalian bahkan belum memulai apapun," sahut Sera.


Changkyun menatapku dengan risau, sedangkan aku hanya tersenyum kecil. Menurutku begini lebih baik, di mana orang-orang tidak tahu pada apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Aku bersyukur karena kasus satu tahun lalu dilakukan secara tertutup oleh polisi. Setidaknya, hal itu membuat Changkyun tidak terluka lebih parah atas sesuatu yang bahkan tidak dilakukannya.


"Iya, sayang sekali," gurauku, dan aku bisa melihat senyum kecil Changkyun setelahnya. Kurasa kami perlahan mulai terbebas dari kejadian kelam itu.


"Changkyun-ah, jangan lupa hubungi kami," kata Sera dan Minhyuk.


"Tentu saja. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Changkyun, dan kemudian dia pergi melewati pintu ...


"Kalau begitu ayo pulang," ajak Minhyuk.


"Ayo," sahutku.


"Tunggu dulu, aku mau ke toilet," kata Sera.

__ADS_1


Minhyuk mendengus, "hah, ya sudah, cepat!" Tukasnya.


Sera melingkarkan tangannya pada pergelangan tanganku, "ayo," katanya, sembari menyeretku ikut dengannya.


"Tunggu di sini!" Titahnya, sebelum dia masuk ke bilik dalam kamar mandi. Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam dengan kelakuan Sera yang suka semaunya.


"Hah, terkadang dia menyebalkan!" Gumamku.


"Maaf." Seseorang menyentuh bahuku. Aku menoleh, dan mendapati wajah tak asing yang melakukannya.


Dia tersenyum kecil, "benar! Kau Sian, 'kan? Isteri Seok Jin?" Serunya.


Aku mencoba mengingatnya, dan..., ah, iya. Sekarang aku ingat siapa Jere, dia dan wanita dihadapanku saat ini adalah salah satu dari para wanita yang datang ke apartment Seok Jin untuk memastikan apakah kami sungguh menikah atau tidak.


"Ah, aku ingat kau. Lama tidak bertemu," kataku.


"Iya, sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu? Apa Seok Jin masih nakal?" Tanyanya, berbisik.


Mendengar perkataannya membuatku yakin bahwa wanita ini tak tahu kalau aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Seok Jin.


"Entahlah, kau bisa bertanya pada isteri barunya," jawabku.


"Heh? Kalian bercerai?"


Aku tersenyum kecil, sebagai jawaban atas pertanyaannya.


"Kenapa? Apa penyakit playboy Seok Jin kambuh lagi? Dia mempermainkanmu? Waahhh pria itu benar-benar menyebalkan, aku pikir dia sudah berubah! Haruskah aku meminta kakakku untuk menakut-nakutinya lagi?"


"E-eoh t-tidak perlu, k-kami bercerai karena merasa sudah tidak cocok lagi. S-Seok Jin sudah berubah kok," kataku agak gugup. Aku ingat sekarang nama wanita ini. Dia Dong Hyi, adik dari pria besar yang dulu pernah meneror Seok Jin. Aku ingat itu setelah dia membahas kakaknya.


"Begitukah?"


"E-eoh," jawabku.


Dia menghela napas, "hah, kupikir penyakitnya kambuh lagi, syukurlah," desahnya. Kemudian dia menepuk punggungku, seolah mencoba menenangkanku, "tapi aku turut bersedih atas perceraianmu. Pasti sulit mengerti Seok Jin, 'kan? Kuharap isterinya yang sekarang mampu melakukannya, agar playboy itu... ehmm, maksudku agar Seok Jin tidak berkeliaran lagi untuk menyakiti para wanita."


"Sebenarnya aku agak terkejut kau tidak mengetahui hal ini. Maksudku, isteri Seok Jin yang sekarang adalah temanmu. Dia pernah datang bersamamu ke apartment saat itu."


"Heh? Siapa? Aku tidak tahu!" Tukasnya, agak terkejut.


"Seingatku namanya Jere," jawabku.


Dia nampak tertegun, "Jere?"


"Tapi...,"


"Sian-ah, ayo. Aku sudah selesai!" Seru Sera, yang baru saja keluar dari bilik.


"Eoh, ayo," sahutku. Aku mengalihkan pandangan pada Dong Hyi. Seraya berkata, "kalau begitu aku pergi dulu."


♡♡♡


Seok Jin sedikit gugup. Tapi, tetap rasa bahagianya paling mendominasi dirinya. Namun, biar bagaimanapun, dia tidak bisa menunjukkan kebahagiaan itu, mengingat sekarang dia sudah dimiliki oleh wanita lain.


"Sudah menunggu lama?" Tanya Sian yang baru saja datang dan duduk dihadapannya.


"E-eoh, tidak. Aku juga baru sampai," katanya. Bohong! Kenyataannya dia sudah menunggu kedatangan Sian sejak tadi.


"Syukurlah, aku pikir aku membuatmu menunggu."


"Tidak. Tapi, kenapa tiba-tiba kau menghubungiku?" Tanya Seok Jin.


Sian mendecih dan bergumam, "tiba-tiba apanya? Sejak dulu aku terus mencoba menghubunginya, tapi kau yang sulit dihubungi."


Alasan Seok Jin sulit dihubungi oleh Sian adalah karena Sian selaku menghubunginya di waktu tak tepat, seperti saat ponsel Seok Jin kehabisan daya, dan lain sebagainya. Karena itu mereka tidak pernah berjodoh untuk saling menghubungi.


"Apa?" Tanya Seok Jin, yang samar-samar mendengar gumaman Sian.


"Bukan apa-apa," tukas Sian. "Aku hanya ingin bertemu denganmu."


Seok Jin mengedarkan pandangannya, "bertemu denganku? Di sini? Di PUB ini?" Tanya Seok Jin agak terkejut. Saat ini mereka memang berada di dalam PUB.


"S-Sian-ah. A-aku mungkin memang sangat senang karena bisa melihatmu, tapi tetap saja aku kini telah menjadi milik orang lain. Aku...,"


"Aihhhh orang ini benar-benar!" Desis Sian. "Yaa! Kau pikir aku sedang mencoba menggodamu, huh?! Aku mengajakmu ke sini untuk membantumu."


"Membantuku? Maksudnya?"


"Tunggulah."


Selama beberapa menit mereka hanya diam dan menunggu di tengah hiruk-pikuk manusia yang sedang bersenang-senang dilantai dansa. Hingga akhirnya.


"Di sana," kata Sian, sembari menunjuk seorang wanita yang sedang dirangkul mesra oleh seorang pria.

__ADS_1


Seok Jin membulatkan matanya, "Jere?" Gumamnya.


Jere dan pria itu masuk ke sebuah ruangan. Sian segera beranjak dari tempatnya dengan menggenggam tangan Seok Jin.


"Ayo," serunya. Dia menuntun Seok Jin ke sebuah ruangan tepat di sebelah ruangan Jere dan pria tadi.


Seok Jin hendak beranjak, berniat untuk menghampiri Jere ketika Sian menahannya.


"Jangan! Jangan pergi. Di sini saja. Dong Hyi bilang pemilik Pub berbohong tentang ruangan private yang kedap Suara. Jadi diamlah di sini, dan dengarkan bualan konyol isterimu yang selalu dia lontarkan tiap kali ke sini," jelas Sian.


"Dong Hyi?"


FLASHBACK ON


"*kalau begitu aku pergi dulu," kata Sian. Dia hendak pergi ketika Dong Hyi menahannya.


"Tunggu! Bisakah kita bicara?" Tanya Dong Hyi.


Sian menangkap keseriusan dari wajah Dong Hyi, maka dari itu dia meminta Sera untuk pergi lebih dulu.


"Ada apa?" Tanya Sian setelah Sera pergi.


"Hari ini aku akan pergi ke Brazil untuk sertifikasi, aku akan di sana selama dua tahun, dan mungkin akan terlambat bagi Seok Jin saat itu, maka dari itu, bisakah kau sampaikan ini pada Seok Jin untukku?" Tanya Dong Hyi, membuat Sian menautkan kedua alisnya.


"Apa maksudnya? Apa ada sesuatu yang serius?"


"Begini, aku tidak tahu kalau Jere benar-benar serius pada perkataannya. Tapi, ada sebuah PUB yang temanku rekomendasikan, aku pernah beberapa kali ke sana dan ternyata Jere adalah pelanggan tetap di sana. Dia sering membual tentang Seok Jin di sana, dia bilang dia akan balas dendam dengan membuat Seok Jin menikahinya."


"Bagaimana kau tahu kalau dia membual? Apa orang-orang di PUB yang mengatakannya?" Tanya Sian, mencoba meyakinkan pernyataan Dong Hyi.


"Bukan begitu, masalahnya, kurasa pemilik PUB berbohong saat mengatakan bahwa ruangan private kedap suara. Nyatanya aku mendengar dengan jelas ketika Jere dan pria yang datang bersamanya itu membicarakan tentang Seok Jin," jelas Jere.


"Apa rencananya?" Kini Sian mulai cemas.


"Aku tidak yakin, aku tidak pernah lama di sana," kata Dong Hyi. "Kau bisa datang ke PUB itu, kurasa Jere masih sering membual bersama pria itu. Kau tahu? Setelah Jere tahu bahwa kalian menikah, sikapnya pada Seok Jin mulai berubah, dia seperti siap menghancurkan Seok Jin kapan saja, jadi aku rasa dia...,"


"Aku akan memeriksanya, beritahu aku di mana tepatnya PUB itu*."


FLASHBACK OFF


Pria itu, Nam Joon. Melumat bibir Jere dengan bringas, seolah-olah bibir tipis wanita itu adalah obat candu.


"Ehmmm," jere mendesah, sembari mendorong pelan Nam Joon. Dia kehabisan napas, karena itu dia menghentikan Nam Joon sebelum aktifitas pria itu berkelanjutan.


"Kenapa dihentikan? Kau bilang kau harus hamil untuk mengikat pria itu, 'kan?" Tanya Nam Joon dengan napas memburu, birahinya masih pada puncaknya, dan dia ingin segera "menyantap" wanita di sampingnya tersebut.


"Iya, tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang, aku harus pulang," kata Jere.


"Pulang? Ditengah-tengah kesenangan ini? Ayolah, Jere. Kenapa?" Nam Joon tak terima.


"Aku mengatakan pada mereka akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan."


Mendengar itu, Nam Joon langsung tertawa terbahak-bahak. "Mereka percaya?"


"Tentu saja. Mereka sudah pernah membuatku keguguran, sekarang, tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tidak memercayaiku."


Nam Joon menghentikan tawanya, "ahhh kupikir konglomerat seperti mereka akan lebih teliti, ternyata mereka hanya orang bodoh. Mereka bahkan tak tahu bahwa anak yang satu tahun lalu kau kandung itu bukanlah anaknya, dan keguguran yang kau alami adalah ulahmu sendiri, bodoh sekali mereka!"


Sebenarnya, anak yang satu tahun lalu dikandung oleh Jere adalah anak Nam Joon, dia sengaja menjebak Seok Jin yang saat itu datang ke PUB dengan memberinya obat tidur, dan dibuatlah segala rekayasa yang membuat Seok Jin tak bisa berdalih bahwa anak dalam kandungan Jere adalah anaknya, dan Jere tidak kehilangan anaknya karena sikap kasar Seok Jin, melainkan karena dia mengkonsumsi alkohol dikala dia mengandung. Dan kali ini, Jere salah perkiraan, dia pikir dirinya hamil lagi. Nyatanya dia tidak hamil dan hanya mengaku-aku.


"Yaa begitulah. Pokoknya aku harus segera hamil, dan merekayasa semuanya seperti waktu itu!" Tukasnya.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan."


"Tidak sekarang, nanti! Kau bernafsu sekali!" Tukas Jere, dia membuka pintu ruangan itu, hendak pergi ketika dia mendapati Seok Jin telah berada dibalik pintu tersebut.


Jere tercengang, begitupun dengan Nam Joon.


"S-Seok Jin? Bagaimana bisa kau...,"


"Kau pikir aku bodoh? Tidak! Aku berencana melakukan tes DNA setelah anakmu lahir nanti, karena biar bagaimanapun, aku tidak pernah ingat telah menyentuhmu. Tapi, karena segalanya telah kau ungkapkan, kurasa hanya ada dua pilihan yang bisa kurundingkan denganmu!" Tukas Seok Jin, membuat Sian terdiam.


Dia tidak pernah menyentuh Jere? Pikirnya. Kenyataannya memang Seok Jin tidak pernah berhubungan intim dengan Jere. Setelah menikahpun, Seok Jin tidur di kamar yang terpisah dengan Jere. Seok Jin sebenarnya sudah curiga terhadap kehamilan Jere, begitupun dengan ibunya. Seok Jin hanya ingat bahwa dia terbangun di kamar Jere, tapi tak pernah ingat bahwa dia menyentuh wanita itu. Namun, Seok Jin dan ibunya mencoba untuk bersabar sampai anak yang Jere kandung lahir, untuk mengungkap segala kebenarannya.


"Aku tidak mau orang-orang mulai berasumsi bahwa aku menceraikanmu karena mendua, aku harus memastikan nama baikku aman, karena itu kaulah yang harus mengajukan surat cerai padaku, jika tidak, aku akan melaporkanmu ke polisi atas penipuan yang kau lakukan, pilihlah!" Tukas Seok Jin. "Aku tunggu jawabannya nanti malam."


"Tapi Seok Jin-ah...,"


"Ayo, Sian-ah." Seok Jin menggenggam tangan Sian, dan membawa wanita itu pergi dari PUB, meninggalkan Jere dan Nam Joon yang kini merasa gusar.


"Sialan!"


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2