
"Sian-ah." Hae Na melambaikan tangannya, wajahnya terlihat begitu ceria seolah dia memenangkan sebuah lotre. Padahal yang dilakukannya saat ini hanyalah menemui temannya, Lee Sian.
Sian ikut melambai. Hae Na berlarian kecil menghampiri temannya itu.
"Sian-ah." Hae Na menghamburkan diri memeluk Sian. Mereka berjingkrakkan, dan berputar-putar seperti adegan dalam drama India.
"Bagaimana kau bisa ke sini?" Tanya Sian.
"Mudah saja, aku naik mobil."
Sian menghela napas, "bukan itu maksudku," katanya.
Hae Na tertawa, dia rindu sekali dengan respon Sian yang seperti itu, "aku hanya bergurau. Aku ke sini karena kebetulan rumah temanku dekat dengan kampusmu, jadi sekalian mampir saja. Kau tahu? Kampusmu ini bagus sekali, lebih bagus dari kampusku," kata Hae Na.
"Ya begitulah," Sian menyahuti dengan lembut.
"Seok Jin yang membayar untuk semesterannya, 'kan?"
Pertanyaan itu wajar, mengingat yang Hae Na tahu, Seok Jin dan Sian sudah menikah. Namun, Sian merasa tertohok mendengarnya.
"Itu...,"
"Tentu saja dia yang harus membayarnya! Dia kan suamimu!" Tukas Hae Na, menyela perkataan Sian.
Sian hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Hae Na. Meskipun tertohok, dan merasa tersinggung, tapi Sian tidak bisa marah pada Hae Na karena itulah kebenarannya.
"Eoh, ada apa dengan tanganmu?" Tanya Hae Na ketika dia menyadari perban di pergelangan tangan kiri Sian.
"Eoh, ini...,"
"Lee Sian."
Sian dan Hae Na kompak menoleh sang empunya suara berat itu, Ji Min Hyuk. Teman sekelas Sian.
"Oh Min Hyuk-ssi, ada apa?"
"Sejong memintamu datang ke kelas kesenian," kata Min Hyuk. Sian baru teringat akan janjinya pada Sejong, atau sebenarnya, Sian memang tidak pernah menjanjikan apapun, hanya saja dia merasa besyukur atas apa yang Sejong lakukan untuknya pagi ini.
"Oh iya, terimakasih banyak, Min Hyuk-ssi."
"Oke." Min Hyuk melangkah pergi meninggalkan Sian dan Hae Na.
"Kelas kesenian? Bukankah kau mahasiswa Ilmu Matematika? Ada urusan apa di kelas kesenian?" Hae Na terheran-heran. Sian juga bingung, kenapa Sejong memintanya ke sana.
"Entahlah. Kau mau ikut?"
"Tentu saja. Tapi, siapa Sejong?"
__ADS_1
"Hanya teman sekelasku."
Mereka melangkah menuju ke gedung D, fakultas kesenian dan kebudayaan Korea. Kemudian, mereka masuk ke ruangan 7 lantai 2.
"Owwwww yeppo." Mereka mendengar sorak sorai dari semua orang yang ada dalam ruangan tersebut ketika masuk, seolah kedatangan mereka di sambut. Namun, sorak sorai itu tertuju pada Sejong, yang berpose di tengah kelas dengan bertelanjang dada, memerlihatkan perut sixpacknya yang terlihat sangat seksi dengan sedikit keringat di tubuhnya. Saat ini, pria itu sedang menjadi objek lukisan dari para mahasiswa seni yang mayoritas adalah wanita.
"Astaga, siapa pria itu? Dia seksi sekali," kata Hae Na, terpukau dengan tubuh indah Sejong.
Sejong melirik Sian, membuat wanita itu tertegun. Dia mengingat kembali gurauan yang dikatakannya pada Sejong, saat itu dia hanya ingin Sejong berhenti mengganggunya, karena itu, secara asal dia mengatakan menyukai pria seksi. Dia gila! Dia sungguh melakukan apa yang kukatakan.
Hae Na memerhatikan arah tatapan Sejong yang tertuju pada Sian.
"Apa dia yang bernama Sejong itu?" Terka Hae Na.
"Dia gila," gumam Sian.
"Sepertinya dia menyukaimu."
Spontan, Sian menoleh pada Hae Na, "jangan asal bicara!" Tukasnya. Kemudian dia keluar dari ruangan tersebut, diikuti oleh Hae Na.
"Dia memang menyukaimu, aku yakin! Kalau tidak, kenapa dia memintamu datang? Dia pasti sengaja melakukannya agar kau melihat pesonanya itu," Hae Na mengoceh. "Wahhh Seok Jin pasti tidak senang jika mengetahui ini."
Sian menghentikan langkahnya, dia mendengus, dan menatap Hae Na dengan sedikit rasa kesal, "kalau begitu jangan beritahu dia tentang ini, paham?"
Bukan tanpa maksud, tapi Sian tidak ingin jika Seok Jin mengetahui bahwa ada pria yang menyukainya, kemudian demi menjaga kebohongan mereka, Seok Jin menjadi protektif terhadap kehidupan kampus Sian.
"Hae Na-ah. Bisakah kita berhenti membahas ini? Aku tidak mungkin menjadi brengsek seperti Seok Jin," pinta Sian.
Hae Na membulatkan matanya, "eoh, kau memanggil suamimu brengsek?"
Sian tertegun, dia tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan. Aishhh.
"M-maksudku..., eoh, bagaimana dengan Jinan? Apa kau masih menghubunginya?" Sian mengalihkan pembicaraan.
Hae Na memasang wajah curiga, "kau sengaja mengalihkan pembicaraan, 'kan? Dasar!" Cetusnya. Sepersekian detik kemudian, Hae Na menampilkan senyum gummynya, "aku lupa memberitahumu, aku dan Jinan Sunbae, kami sudah berpacaran," serunya.
"Waahhh selamat," sahut Sian, terdengar terpaksa.
"Kapan-kapan, ayo kita double date."
Sian hanya tersenyum kecil, dan tak lama setelahnya, ponsel di dalam saku jeansnya bergetar. Sian mengeluarkannya, dan mendapati nama Seok Jin sebagai panggilan masuk.
"Seok Jin?" Tanya Hae Na.
"Eoh," jawab Sian. Kemudian, dia mengangkat panggilan masuk itu.
"Ada apa?" Tanyanya lembut, tidak seperti biasanya. Mungkin karena ada Hae Na di dekatnya.
__ADS_1
"Kau sudah selesai? Aku ada di depan kampusmu,"
"Baiklah, aku akan ke sana."
Sian mengakhiri panggilan itu.
"Ada apa?" Tanya Hae Na.
"Seok Jin menjemputku. Aku duluan ya Hae...,"
"Aku ikut!" Sela Hae Na. Membuat Sian tidak bisa berkata-kata selain membiarkannya ikut menemui Seok Jin.
"Yaa kau...," Seok Jin hendak membentak Sian. Namun, dia mengurungkannya ketika melihat Hae Na mengekorinya.
"Eoh, Bae Hae Na, lama tidak bertemu," sapa Seok Jin, basa basi.
"Benar, sudah lama sekali. Sebenarnya, Seok Jin-ah, aku ingin protes padamu! Kenapa kau tidak mengundang siapapun ke acara pernikahanmu, huh?!"
"Itu...,"
"Hae Na-ah, ada yang harus kulakukan bersama Seok Jin. Lain kali ayo minum bersama," sela Sian. Kemudian dia mendorong Seok Jin masuk ke mobil.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Seok Jin, sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Jalan saja, cepat!" Tukas Sian. Dia membuka jendela mobil, dan berpamitan pada Hae Na sebelum Seok Jin melajukan mobilnya.
♡♡♡
Seok Jin tidak bisa membohongi dirinya, bahwa dia mengakui betapa manisnya Sian saat ini. Wanita yang terbiasa memakai jeans dan kemeja itu, kini terlihat bak Kate Middleton yang selalu elegan.
"Kenapa? Kau terpesona melihatku?" Tukas Sian, membuat Seok Jin salah tingkah.
"Y-yaa, mana mungkin begitu!"
"Baguslah, karena aku tidak akan bertanggungjawab jika kau sampai menyukaiku!" Tukas Sian.
"Cih! Tidak akan! Jangan terlalu percaya diri!" Seok Jin membantah. "Ngomong-ngomong, ada apa dengan tanganmu?"
Sian mendengus, "ini ulah para mantanmu!"
"Mwo?" Seok Jin terkejut.
"Sebaiknya kita berhasil hari ini, agar para wanita itu berhenti mengganggu kita!"
Tak lama setelah Sian mengatakan itu, bel apartment Seok Jin berbunyi.
"Itu pasti mereka. Ingatlah, dan beritahu aku wajah orang yang melukaimu, paham?" Kata Seok Jin, kemudian dia membuka pintu apartmentnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE