Drama

Drama
Take 12


__ADS_3

Sian merasa pening. Luka dikepalanya sepertinya meninggalkan efek samping. Dia memutuskan untuk duduk sejenak sebelum berangkat kuliah.


"Kau mau kuliah?" Tanya Seok Jin yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Eoh," jawab Sian sekenanya.


Seok Jin memandangi Sian yang sedang memegang kepalanya, "kenapa? Kepalamu sakit?"


"Tidak apa-apa, aku pergi dulu," kata Sian, dia beranjak dari tempatnya, hendak pergi ketika Seok Jin berlari menghampirinya dan menahan tangannya.


"Eoh?" Sian menoleh, menatap Seok Jin penuh tanya, "ada apa?"


"Sebaiknya kau istirahat, lukamu sepertinya memberi efek," katanya.


"Tidak bisa, hari ini ada ujian materi," jawab Sian.


"Kau bisa ikut di kelas lain, 'kan? Sebaiknya kau istirahat saja hari ini! Tukas Seok Jin.


"Tidak mau! Lagipula tidak ada Do Hyun di sini."


"Lalu apa masalahnya?"


Sian menghela napas, "berarti hanya ada kau dan aku di sini, kau paham?" Sian menekankan. Sian berpikir bahwa aktivitas yang akan terjadi bila hanya ada mereka berdua adalah berkelahi, jika ada Do Hyun, setidaknya mereka tidak akan adu mulut. Sian terlalu pening untuk mengikuti aktivitas bawaan itu, makanya, dia lebih memilih kuliah dari pada di rumah bersama Seok Jin.


"Jika aku pergi, kau akan istirahat?"


"Tentu saja!" Gurau Sian. Namun, sepertinya Seok Jin menganggapnya serius.


"Kalau begitu aku pergi. Jangan lupa untuk istirahat," katanya, sebelum dia pergi keluar, meninggalkan Sian yang menatap bingung kepergiannya.


"E-eoh, dia s-sungguh pergi?"


Seok Jin duduk di lobby apartmentnya, dia tidak punya tujuan hari ini. Hari ini tidak ada jadwal kuliah, tidak ada jadwal rapat, dan tidak ada jadwal bertemu klien, dia juga terlalu malas untuk jalan-jalan karena cuaca panas musim ini.


"Haaahhh, berapa lama aku harus di sini?" Tanyanya pada diri sendiri. Seok Jin memejamkan matanya, mencoba untuk mengistirahatkan diri ketika mendengar suara Sian.


"Kau di sini?"


Seok Jin membuka matanya, dan mendapati Sian berdiri di hadapannya.


"Eoh? Bukankah kau mau istirahat?" Tanya Seok Jin, agak terkejut dengan kehadiran Sian.


"Itu..., aku hanya bercanda," kata Sian kaku.


"Maksudnya?" Seok Jin tak paham apa yang hendak Sian sampaikan padanya.


"Maksudnya, kau tidak perlu pergi, aku hanya bercanda saat bilang akan istirahat jika kau pergi," katanya, tanpa menatap wajah Seok Jin. Ada perasaan gengsi didirinya untuk mengatakan itu. Dia takut jika Seok Jin salah paham, maka dari itu dia melanjutkan, "aku begini bukan karena hal-hal aneh, aku begini karena merasa tak enak saja, itu kan apartmentmu."


"Tidak apa-apa, lagipula aku memang ingin mencari udara segar," kata Seok Jin, berbohong.


"Udara segar? Di sini?" Tanya Sian sembari mengedarkan pandangannya di lobby apartment.


"A-aku...," Seok Jin memutar otaknya, mencari jawaban yang tidak akan membebani Sian apalagi membuatnya berpikir aneh-aneh, "aku sedang menunggu tamanku, aku akan pergi cari angin dengannya," lanjutnya.


"Begitukah?" Sian menyakinkan.


"Iya, sudah sana masuk! Kau kan harus istirahat!" Tukas Seok Jin.


Sian mengangguk, dia hendak masuk ketika Seok Jin berkata, "lagipula bagaimana mungkin aku rela keluar dari apartmentku hanya demi kau?! Cih, mustahil kan?!"


"Benar juga, aku lupa kalau kau orang yang seperti itu," katanya. "Kalau begitu bye!" Tukasnya, sembari mengangkat tangan kanannya, seolah mengejek Seok Jin.

__ADS_1


"Eishhh wanita itu benar-be..., hah lupakan saja," Seok Jin mencoba untuk memakluminya. Dia kembali memejamkan matanya, hingga akhirnya lambat laun dia sungguh tertidur.


♡♡♡


"Di mana Seok Jin?" Segera setelah menginjakkan kaki di rumah mewahnya usai menghadiri pameran di Dubai, Kang Ji Hyo, ibu Seok Jin, langsung menanyai hal itu pada pelayannya.


"Tuan muda sudah cukup lama tinggal di apartment, sekitar enam bulan lalu," jawab Seo In Soo, pria berusia setengah abad yang merupakan kepala pelayan di rumah keluarga Han.


Hyun Woo, yang merupakan asisten Seok Jin, langsung menundukkan kepalanya ketika mendengar In Soo mengadukan prihal Seok Jin yang tinggal di apartment.


"Apa?! Dia sudah meninggalkan rumah selama itu?! Tapi kenapa tidak ada yang memberitahuku?!" Tegur Ji Hyo.


Sebenarnya, hanya Hyun Woo yang tahu segala tentang Seok Jin. Bukan tanpa alasan, tapi Seok Jin sangat memercayai Hyun Woo. Namun, secara tak sengaja Seo In Soo memergoki Hyun Woo mengantar Seok Jin ke sebuah apartment mewah di Sindaebang, dan begitulah cara In Soo tahu mengenai kepindahan Seok Jin ke apartment, saat sebelumnya yang dia tahu adalah tuan mudanya tersebut jarang pulang ke rumah karena kesibukkannya, mulai dari tugas kuliah, dan tugas di kantor.


Ji Hyo menandang Hyun Woo dengan pandangan mengintimidasi, "yaa! Antar aku ke tempatnya!" Titahnya, dan segera dipatuhi oleh Hyun Woo.


"I-iya."


♡♡♡


Dia bilang akan pergi dengan temannya mencari angin, kenapa masih di sini? Tanya Sian dalam hatinya. Sian tidak dapat beristirahat, bahkan meskipun kepalanya sangat pening. Karena itu dia memutuskan untuk kuliah, lagipula belum terlambat baginya jika jalan sekarang. Namun, saat akan pergi, dia melihat Seok Jin yang tertidur di sofa lobby apartment.


Sian menghampiri Seok Jin, dan membangunkan pria yang sedang tertidur pulas itu, "yaa Han Seok Jin, bangun!"


Sian menepuk-nepuk pergelangan tangan Seok Jin, hingga akhirnya pria itu bangun.


"E-eoh, Sian-ah, kenapa kau di sini?" Tanya Seok Jin terdengar seperti racauan —mungkin efek bangun tidur.


"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau di sini? Bukankah kau bilang akan pergi dengan temanmu?"


"Itu...," Seok Jin memutar otaknya mencari jawaban, dan tak lama kemudian dia menemukannya, "temanku tidak bisa di hubungi, mungkin dia terjebak macet atau..., yaa begitulah, memang sudah kebiasaannya hilang saat hari H perjanjian."


"Begitukah?"


"Ya tidak bagaimana-bagaimana, aku hanya bertanya saja," kata Sian.


"Kau belum jawab pertanyaanku, kau mau ke mana?" Tanya Seok Jin.


"Kuliah," jawab Sian sekenanya.


"Eoh? Bukankah kau bilang mau istirahat?!" Ada nada marah di perkataan Seok Jin, pria itu hanya tak habis pikir, kenapa Sian tetap mau kuliah meskipun sedang sakit.


"Aku tidak bisa beristirahat, aku...,"


"Kenapa? Kau bilang akan beristirahat jika aku pergi! Kau tahu betapa bosannya aku berada di sini sedari ta...," Seok Jin segera menghentikan perkataannya saat menyadari apa yang baru saja dia katakan, sial, mulut murahan ini benar-benar menyebalkan! Rutuknya sembari menggigit bibir bawahnya.


Sian terkekeh, "waahh jadi kau sampai tidur di sini karena aku, eoh?" Goda Sian. Membuat Seok Jin salah tingkah.


"Tidak! Aku..., eihhhh jangan terlalu percaya diri! Mana mungkin aku menyukaimu!" Tukas Seok Jin.


"Menyukaimu? Aku tidak bilang begitu," Sian terus menggoda Seok Jin.


"M-maksudku..., aku..., ahh masa bodoh!" Tukasnya. Kemudian dia masuk ke unit apartmentnya, meninggalkan Sian yang kini tertawa puas hingga lupa bahwa kepalanya pening sedari tadi.


"Eihhh, menyebalkan sekali! Belakangan ini dia jadi berani padaku, sial!" Umpat Seok Jin. Dia hendak masuk ke unit apartmentnya ketika seseorang memanggilnya.


"Yaa Han Seok Jin!"


Suara itu?! Seok Jin sangat mengenali suara itu. Perlahan dia memurar tubuhnya menghadap sang empunya suara, dan..., benar saja tebakkannya, itu suara ibunya.


Hyun Woo sialan! Umpat Seok Jin, dia berpikir Hyun Woo yang memberitahu ibunya karena memang hanya Hyun Woo lah yang tahu bahwa Seok Jin tinggal di apartment.

__ADS_1


"Ibu tidak pernah mendengarmu meminta izin ataupun mengizinkanmu tinggal di luar rumah, 'kan?!" Tukas ibunya.


"Mungkin karena ibu terlalu sibuk, sehingga sulit sekali di hubungi," sindir Seok Jin, dia memang sesekali mencoba untuk menghubungi ibunya karena rindu. Namun, sang ibu tidak pernah mengangkatnya, karena itulah Seok Jin merasa tidak ada gunanya tinggal di rumah bersama sang ibu yang tidak pernah dia lihat lebih dari sekali dalam satu bulan, itu hanya menyakiti hatinya. Baginya, lebih baik tinggal sendirian, sehingga dia benar-benar tidak akan melihat ibunya, dan merasa terluka.


"Yaa! Han Seok Jin! Ibu tidak mau tahu, kau harus ada di rumah saat makan malam nanti!" Titah sang ibu.


"Ada ataupun tidak, ibu tidak akan pernah memerhatikannya. Ayolah, bu. Akui saja, kita bahkan tidak pernah bertemu lebih dari sekali dalam sebulan, jadi apa yang ibu permasalahkan dengan aku tinggal di sini?" Seok Jin menyahuti dengan tegas, dan itu membuat ibunya tampak marah.


"Tentu saja itu masalah! Kau adalah pemilik perusahaan elektronik terbesar di asia, ibu tidak ingin kau hidup bebas dan dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak baik!"


Seok Jin mendecih, "cih! Jadi semua hal yang ada di sekelilingku tidak baik? Sedangkan semua hal tidak berguna yang ibu lakukan itu adalah hal baik?"


"Yaa Han Seok Jin!"


"Ibu, jalani saja hidup ibu seperti biasanya, yang hanya memerhatikan karya seni bodoh itu, dan wara-wiri dengan para wanita yang kerjanya hanya bisa menghabiskan uang suami...,"


#plakk


Tamparan keras sang ibu mendarat di wajah Seok Jin, membuat lelaki itu tercengang.


"Beraninya kau...,"


"Seok Jin-ah."


Seok Jin dan ibunya menoleh pada Sian yang sedang berlari kecil menghampiri Seok Jin.


"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya. Sembari menyentuh bekas tamparan di pipi Seok Jin.


Ibu Seok Jin terperangah melihat itu, "siapa dia?" Tanya ibu Seok Jin.


Sian menoleh, dan memasang wajah marah, "aku? Aku isterinya, kenapa?!" Jawabnya tegas, membuat Seok Jin terkejut bukan main, hingga matanya terbuka amat lebar.


"Ya," bisik Seok Jin. Namun, Sian tidak mendengarnya.


"Dengar ya, ahjumma, aku tidak tahu alasanmu menamparnya, tapi yang kau lakukan tadi akan kupermasalahkan di jalur hukum!" Tukas Sian, membuat Seok Jin semakin gelisah. Dia sengaja meminta asistennya untuk tutup mulut terkait pernikahan palsunya. Namun, dengan lantang Sian mengatakannya, tepat di depan wajah ibunya.


Aishhh wanita gila ini!!! Umpat Seok Jin.


"Ya, Lee Sian," bisik Seok Jin.


Sian menoleh, dan balik berbisik, "tenang saja, aktingku semakin membaik sejak menghadapi kakak mantan pacarmu. Hanya ingin memberitahumu, karena aktingku bagus, tolong pinjamkan aku laptopmu, oke? Temanku bilang ujian materinya menggunakan laptop."


"Kenapa kau berakting sekarang, huh?" Bisik Seok Jin.


"Memangnya kenapa? Bukankah dia ibu dari mantan pacarmu? Karena itu kau ditampar olehnya, 'kan?"


"Aishhh bodoh, dia ibuku?" Bisik Seok Jin.


"Heh, ibumu?!" Sian menyeru, dan itu terdengar sangat jelas di telinga Ibu Seok Jin.


"Benar, dia adalah anakku, dan aku adalah ibunya!" Tukas ibu Seok Jin.


Seketika tubuh Sian lunglai, dia tidak tahu lagi harus bagaimana, bahkan untuk menelan saliva pun terasa sulit.


Kenapa? Kenapa bisa ibu Seok Jin seperti ini? Saat itu ibunya gendut dan lebih tua dari ini, tapi kenapa seiiring berjalannya waktu, ibu Seok Jin terlihat semakin muda dan cantik? Risau Sian dalam hatinya.


Sian telah salah paham, wanita yang selama ini datang ke acara-acara di sekolahnya sebagai wali Seok Jin adalah isteri dari Seo In Soo, kepala pelayan di rumah Seok Jin.


Matilah kita!


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2