Drama

Drama
Take 36


__ADS_3

Sian menelusuri jalan, mencari pemukiman penduduk untuk dirinya meminta bantuan. dia mulai terhuyung, sudah lelah dan merasa kakinya terasa akan patah. Sampai akhirnya.


"O-oh a-ahjussi." Dia memanggil seorang pria paruh baya yang sedang berjalan. Menghampiri pria paruh baya itu dengan terhuyung-huyung.


"A-ahjussi, tolong aku," pintanya memelas.


Pria paruh baya itu terkejut, "kau tidak apa-apa?"


"T-tolong aku, a-adikku, tolong, dia di sana sendirian, aku...," Sian mulai rancu, bukan hanya tubuhnya yang sakit dan lelah, tapi pikirannyapun sama lelahnya. Dia menghirup napas dalam-dalam, mencoba untuk menstabilkan nada bicaranya.


"Di sana, bukit itu, di sana, adikku." Sian tersungkur di jalan beraspal. Membuat pria paruh baya itu khawatir.


"Nona, kau tidak apa-apa? Kau mau bilang apa?" Tanya pria itu tak paham.


"Tidak apa-apa, di sana, adikku." Sekuat tenaga Sian mencoba untuk berdiri, pria itu membantunya. Sian menggenggam tangan pria paruh baya itu dengan erat, kemudian menuntun pria itu, "ayo, ikut. Adikku di sana." Sian berjalan dengan sisa-sisa kekuatannya, pandangannya mulai kabur, dan terkadang sedikit gelap. Namun, Sian tetap menahannya. Dia membawa pria paruh baya itu sampai ke adiknya.


"Itu dia, tolonglah, ahjussi. Kumohon."


Pria paruh baya itu menatap iba padanya, dia hendak memapah tubuh Do Hyun ketika menyadari sesuatu.


"O-hh, ahhhhhhh." Pria paruh baya itu menjatuhkan tubuh Do Hyun, membuat Sian terkejut dan segera menghampiri adiknya.


"Yaa ahjussi, kenapa kau jatuhkan dia, eoh?" Tegurnya. Dia memandang Do Hyun dengan cemas, "kau tidak apa-apa, 'kan? Apa ada yang sakit?"


Pria paruh baya itu kini menatap Sian dengan ngeri.


"Y-yaa, anak muda, apa yang sebenarnya terjadi, e-eoh? Dia...,"

__ADS_1


"Dia baik-baik saja!" Tukas Sian, agak kesal pada pria paruh baya itu.


"Bukan begitu, hanya saja...," pria paruh baya itu terdiam barang sejenak, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, hendak menghubungi warga di sekitar tempat tinggalnya, ketika Sian menepis ponsel itu.


"Yaa!"


"Jika tidak mau membantu, maka sebaiknya pergi saja!" Tukas Sian. Pria paruh baya itu menatap Sian dengan perasaan ngeri. Dia berlari meninggalkan Sian, untuk memberitahukan warga tentang apa yang baru saja dilihatnya.


Sian menatap kepergian pria itu dengan resah, dia segera menggendong tubuh Do Hyun dipunggungnya, "kita harus pergi dari sini, kurasa paman itu akan kembali dan membuat masalah denganmu," kata Sian. Dia hendak pergi ketika melihat ponsel pria tadi yang sebelumnya jatuh ketika dia menepisnya.


"Ini...,"


♡♡♡


"Halo," Kata Seok Jin, setelah dia menerima panggilan masuk di ponselnya.


"S-seok Jin-ah."


"Lee Sian?"


"S-seok Jin-ah." kini Seok Jin mendengar isakkan dari orang yang meneleponnya.


"Lee Sian, ini kau, 'kan? Kau di mana? Katakan padaku!"


Sian terisak, "aku tidak tahu, aku takut sekali, Seok Jin-ah. Aku...,"


Sambungan teleponnya terputus, Seok Jin kian resah, "yaa! Lee Sian?! Lee Sian!"

__ADS_1


♡♡♡


Sian memeluk tubuh dingin Do Hyun dengan erat. Dia menangis, terus menangis seolah dia memiliki pasokan airmata yang sangat banyak.


"Apakah menurutmu Seok Jin akan menemukan kita?" Lirihnya. "Apakah dia akan menyelamatkan kita?"


Sian mulai terisak, "aku takut sekali Do Hyun-ah, sangat takut." Sian mempererat pelukkannya pada Do Hyun. "Tidak bisakah kau bangun, Do Hyun-ah? Aku sangat takut."


FLASHBACK ON


*Ibu Changkyun sudah menyadari bahwa Do Hyun sudah tidak lagi bernyawa. Remaja 17 tahun itu telah meninggal dunia. Terkadang manusia lebih kejam daripada binatang ketika ingin menlindungi sesuatu, begitulah yang dilakukan ibu Changkyun. Demi menyelamatkan Changmi dari masalah besar, dia membuang Sian dan Do Hyun ditengah hutan, untuk menghapus jejak kejahatan yang dilakukan putrinya dan menantunya terhadap Do Hyun dan Sian.


"Maafkan aku, tapi biarkan yang hidup melanjutkan kehidupannya," tukasnya, ketika dia melemparkan tubuh Do Hyun dari mobil. Kemudian, dia pergi begitu saja.


Sian tersadar setelahnya, dia menghampiri Do Hyun, mencoba untuk memeriksanya ketika dia sadar bahwa jantung adiknya tak lagi berdetak.


Sian menatap adiknya dengan pandangan nanar, "yaa Lee Do Hyun, bangun! Bangun!" Lirihnya. Dia terus memanggil-manggil nama adiknya, menguncang-guncangkan tubuh dingin dan lebam itu. Dia meraung-raung ketika menyadari bahwa dia melakukan sesuatu dengan hasil nihil.


"Bangun! Kumohon, Do Hyun-ah, kumohon bangunlah. Jangan tinggalkan aku, kumohon," isaknya. Dia memeluk erat tubuh Do Hyun, sangat erat.


"Jangan begini, jangan pergi dengan cara seperti ini, kumohon."


**FLASHBACK OFF***


"Seok Jin-ah, kumohon, cepatlah datang," Suara Sian terdengar sangat parau, dan perlahan dia memejamkan matanya yang basah. Dia lelah, selama berhari-hari dia terus menggendong tubuh adiknya yang sudah tak bernyawa, dan mulai mengeluarkan sebuah cairan. Dia tahu adiknya telah tiada. Namun, dia tidak ingin memercayainya. Dan tak pernah ingin mempercayainya.


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2